Ternyata capek juga ya, duduk delapan jam di depan komputer. Lama-lama aku merasa bentuk wajahku ini menjadi kotak mengikuti bentuk monitor, jadi ketika di depannya aku seperti sedang bercermin. Ahhhh... aku mulai melantur rupanya. Tapi ini sudah menjadi bagian dari rutinitas harianku, berjuang demi sesuap nasi... Hahahahahaha... Mungkin kedengarannya terlalu berlebihan barangkali, namun kenyataannya memanglah demikian. Kini aku tengah mencoba peruntunganku di sebuah warung internet. Bukan sedang browsing, chatting atau downloading... tapi aku kini bertransformasi menjadi seorang customer service yang mesti memajang senyum setiap saat kepada tiap customer yang datang.
"Mau pakai, Mbak..."
"Silakan di bilik nomor 1, Mas."
Hihihihihihi... jangan berpikir yang macam-macam kalau membaca cuplikan percakapan barusan, karena mungkin Anda bisa sangat kecewa bila ternyata tak sesuai dengan apa yang ada di pikiran Anda hahahahaha.... Yup karena tidak ada hal yang macam-macam yang sedang terjadi antara aku dengan mas-mas itu, karena ternyata mas-mas itu datang untuk memakai akses internet sedangkan aku menunjukkan bilik yang bisa dipakai olehnya. Just it, no more!!
to be Continued :)
Puzzle 9
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 11, 2010
/
Comments: (1)
Semua kini tlah berubah... Manis menjadi asam, terang menjadi redup dan pagi berganti senja. Akankah kutemui esok hari canda tawamu, senyummu, tangismu, dan bayangmu di sampingku lagi??
Kini, aku sendirian... tak tahu kabar, tak tahu berita dan tak tahu seperti apa dirimu sekarang.
Yang aku pinta di hari ini adalah bisa kembali bersama-sama lagi, sedih bersama, tawa pun juga bersama. Kita mulai semuanya dari nol,,,,
Hanya tahun ini, aku tak bisa menghabiskan momen spesial bersamamu. Sedih??? Ya memang...
Itu yang kurasakan saat ini. Serasa ada salah satu tulangku terlepas dari persendianku.
Kini, aku sendirian... tak tahu kabar, tak tahu berita dan tak tahu seperti apa dirimu sekarang.
Yang aku pinta di hari ini adalah bisa kembali bersama-sama lagi, sedih bersama, tawa pun juga bersama. Kita mulai semuanya dari nol,,,,
Hanya tahun ini, aku tak bisa menghabiskan momen spesial bersamamu. Sedih??? Ya memang...
Itu yang kurasakan saat ini. Serasa ada salah satu tulangku terlepas dari persendianku.
Aku merindumu, aku menyayangimu dan aku mencintaimu...
Mungkin terkadang aku egois dan sesaat memikirkan kepentinganku sendiri untuk hidup dan cintaku. Tapi kenyataan yang menyadarkanku tentang cinta, cinta itu memberi dan mengasihi...
Selamat mengembara di dunia yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan....!!!
Mungkin terkadang aku egois dan sesaat memikirkan kepentinganku sendiri untuk hidup dan cintaku. Tapi kenyataan yang menyadarkanku tentang cinta, cinta itu memberi dan mengasihi...
Selamat mengembara di dunia yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan....!!!
Tersayat hatiku memandang deretan kata demi kata ini... Tangisku pun tak urung pecahlah akhirnya. Rasanya sudah lama sekali air mata ini tertahan di ragaku dan akhirnya tertumpah ruah juga membasahi pelataran pipiku. Tanpa dapat kuhindari, aku pun terisak pilu. Kurasakan rasa sakitnya, kurasakan pilu hatinya... karena begitu juga yang terjadi padaku. Rasa yang sama, sakit yang sama, rindu yang sama, keinginan yang sama... Aku tahu dengan benar, bagaimana rasanya? Jika aku masih bisa menyembunyikan semua rasaku di balik tawaku selama ini, namun sekarang aku tak cukup berdaya lagi... dan aku pun turut tergugu dalam pedih hatiku.
Meskipun aku tahu, hanya akan ada luka yang membekas... aku tak henti-hentinya membaca kembali bait demi bait untaian kata itu. Kelihatannya sangat sederhana tapi rasanya sangat menyakitkan. Sebuah ungkapan jujur dari sebuah hati, yang tak tersampaikan dengan sempurna. Sama denganku, bahkan dengan kata sekalipun aku tak sanggup menggambarkannya. Yang bisa kurasa hanya sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt yang mendera-dera di sekujur tubuh ini. Sakit yang belum juga terobati dan semakin sakit tatkala kuingat... aku tak juga temukan jalan untuk aku kembali. Dan kudapati derai air mata ini semakin deras terasa... bahkan kedua tanganku tak berhasil untuk menghentikannya.
Telah cukup lama kita terpisah di antara ruang dan dalam selipan sang waktu. Jika aku kini tak memperlihatkan diriku padamu, bukan karena aku tak ingin bersua denganmu sekedar melepas rindu dan berbagi kasih. Aku sangat menyayangimu, aku sangat mencintaimu dan aku pun ingin sekali berjumpa denganmu. Memelukmu, bercanda denganmu, memarahimu dan bercengkerama dalam cerita bersamamu, sungguh aku ingin sekali mewujudkannya... Andai rasa ini bisa menjangkau dengan leluasa, aku tak perlu tunggu esok datang, aku pasti akan datang menghampirimu detik ini juga, namun apa daya semua tak semudah yang dibayangkan. Langkah ini tertahan oleh rantai yang membelenggu. Raga ini tersembunyi di balik temaram kisah yang terajut. Aku sungguh tak berdaya untuk menjangkaumu. Bukan karena kau yang terlampau jauh di sana tapi karena sekat pemisah yang terbentang terlalu tebal memisahkan kita.
Perjalanan ini masih terasa abu-abu bagiku. Entah kapan aku akan sampai... aku pun tak pernah tahu. Namun bila telah datang saatnya nanti.... Aku tak peduli harus berapa banyak lagi air mata yang akan kukeluarkan dari dua bola mata ini, aku pasti akan berlari dan menyongsongmu dengan segera. Aku tak peduli setajam apa kerikil yang akan menusuk telapak kakiku, aku pasti akan menggapaimu dengan kedua tanganmu. Aku pun juga tak peduli seberapa terik sang mentari akan membakar kulitku, aku takkan pernah membiarkan dunia memisahkan kita. Tidak untuk semua itu, karena aku sungguh merindukanmu. Aku ingin semuanya segera berlalu, agar aku bisa menjalani kehidupan ini bersamamu.
Aku mohon nantikanlah aku di singgasanamu. Maafkanlah aku untuk semua yang tak bisa kulakukan, untuk semua sakit yang menghantammu, untuk semua rindu yang menghujam hatimu, aku mohon maafkanlah aku. Semoga aku bisa segera melihat senyummu kembali merekah di bibirmu, meski kau tak pernah tahu, aku tak pernah meluputkanmu sebentar saja dari tangkapan panca inderaku. Ya Tuhan, aku mohon jagalah dia di sana dalam rangkulan tangan-Mu agar dia senantiasa mendapatkan damai yang hanya datang dari padaMu. Amin.
AKU SANGAT MERINDUKANMU...
Aku sangat ingin meneriakkan kalimat ini kepadamu, agar kau tahu bahwa aku tak berbeda denganmu kini. Tersiksa oleh rasa yang tak bisa tersampaikan. Ya... sakitnya melebihi sembilu yang mengiris raga, lebih dari itu semua. Ketika aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan dan tak sanggup untuk merengkuhmu, ini adalah penyiksaan bagiku. Rasanya ingin melihatmu dari dekat tapi TAK BISA... Ingin sekali bercakap dan sekedar mendengar sepatah kata... namun itu juga TAK BISA. Tak tahan rasanya untuk menjabat tanganmu, tapi lagi-lagi AKU TAK BISA. Bayangkanlah... apa yang kurasakan saat ini? Hanya bisa menangis dan memimpikan semuanya itu menjadi nyata. Fyyyuuuuuhhhhhh.....!!!!!!!
Aku mungkin seorang pengecut, tapi biarpun demikian... pengecut seperti aku takkan rela membiarkan mereka menyakitimu sedikit pun. Aku takkan biarkan mereka membuatmu terluka hanya karena aku. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri, jika sampai itu terjadi. Dan akhirnya telah kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ini, meski dengan langkah gontai, meski dengan kaki pincang dan hati yang telah terkoyak-koyak. Aku harus menyelesaikan perjalanan ini, hingga aku berhasil mendapatkan kembali dunia yang telah terampas dari padaku. Tunggulah aku... dan semoga Tuhan sudi mendengarkan rintihan ini hingga akhirnya Dia tunjukkan padaku jalan untuk aku kembali pulang. (*)
Puzzle 8
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 06, 2010
/
Comments: (0)
Aku punya teman sekelas namanya Andra. Aku memang belum begitu akrab dengannya, karena kelas ini baru saja dimulai. Aku tahu namanya Andra karena teman-teman seringkali menyebut nama itu. Bukan karena dia keren atau ganteng, bukan karena dia banyak bicara dan juga bukan karena dia paling pintar di kelas, kalian pasti tidak menduga kalau dia menjadi cukup populer di kelas kami karena warna kulitnya yang cukup gelap jika dibandingkan dengan teman-teman cowokku yang lain. Ya memang seperti itulah kenyataannya, karena kulit gelapnya itu, Andra selalu dijadikan bahan ejekan oleh teman-teman. Namun aku salut sama dia karena meskipun dia selalu jadi bahan ejekan, dia tetap PD aja dan nggak minder sama sekali. Malah kadang dia menjadikan ejekan itu sebagai bahan lucu-lucuan. Coba kalau aku yang ada di posisinya, mungkin aku tidak akan berani masuk sekolah atau bahkan memilih untuk pindah ke sekolah lain.
Kalau aku lihat-lihat, Andra punya selera humor yang tinggi, sehingga apa yang dia bilang hampir selalu bisa membuat tertawa orang-orang di sekelilingnya. Mungkin itu salah satu kelebihan Andra, di luar konteks warna kulitnya yang gelap, yang menjadikannya memiliki banyak teman. Setiap istirahat, pasti selalu aja ada anak dari kelas lain datang untuk mencarinya, meski hanya sekedar untuk say hello atau mengajaknya ke kantin. Rasanya aku jadi iri sama dia, karena sampai hari ini aku merasa tak punya teman. Aku memang hampir hafal semua nama teman-teman sekelasku, tapi aku masih merasa asing dengan mereka semua. Paling-paling aku ngobrol sama Anna, teman sebangkuku, atau nggak sama Fariz, yang kebetulan rumahnya bersebelahan denganku. Selain mereka berdua, paling aku cuma sebatas tahu aja. Sama halnya dengan Andra, aku sampai sekarang belum pernah sekalipun ngobrol dengannya. Meskipun warna kulitku setingkat lebih terang dibanding Andra, justru aku yang merasa nggak PD kalau ngobrol sama Andra, karena di mataku Andra itu termasuk jajaran orang-orang eksekutif hahahahaha... habisnya dia terkenal sih.
Suatu hari, Andra duduk di sebelah Fariz sedangkan tempat duduk Fariz tepat di belakangku. Fariz itu doyan banget godain aku, anaknya emang suka iseng sih, jadi aku nggak terlalu kaget dengan polah tingkah Fariz.
"Ndra, kamu dah tahu belum kalau dia tetanggaku lho..."
Oh My God, penting nggak sih kalau hal itu diceritain sama Andra? Bener-bener kurang kerjaan deh si Fariz itu. Aku yang mendengar perkataan Fariz barusan pun, langsung menoleh ke arah Fariz dan memasang tatapan penuh keanehan. Dan ketika aku sedang melihat ke arah Fariz, tahu nggak apa yang Fariz lakukan? Dia malah ngedip-ngedipin matanya gitu ke arahku. Sumpah deh.... genit banget dan pengen rasanya aku ketawa ngakak setelah melihatnya. Aku pun berbalik ke posisi semula sembari menahan tawa, karena waktu itu pelajaran sedang berlangsung, makanya aku simpan dulu ketawa ngakak-ku. Tak berapa lama kemudian, aku dengar Andra menanggapi.
"Trus kenapa emangnya ?"
Syukurin kamu, Fariz. Tengsin nggak kamu sekarang. Hahahahahaha... Rasanya puas sekali dengar Andra berkata demikian. Aku bisa bayangkan gimana wajah Fariz setelah itu. Biar tahu rasa dia hahahahaha... Aku tahu Andra memang tidak serius mengatakan itu, dia pasti hanya berusaha membalas Fariz yang selama ini doyan sekali mengejeknya.
"Emang kamu nggak malu ya, punya tetangga kayak bocah ini ?"
Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku bicara sama Andra. Aku suka gaya bicara dia. Datar, spontan, bisa bikin KO lawan bicaranya tapi nggak terlihat kalau sedang mengejek, mungkin kalau aku anak gaul Jakarta, aku bakal bilang gini sama Andra, "Ndra, gue suka gaya lo..." Wakakakakakakakak... tapi di kota Sukowati ini, bahasa seperti itu dilarang untuk dipakai. Kami kan putra-putri Sukowati yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa. Jadi untuk yang bergaya metropolis, sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
Setelah itu obrolan kami pun menjadi nyambung. Aku, Fariz dan Andra balas membalas kata satu dengan kata yang lain, sampai-sampai pelajaran Sejarah yang cukup membosankan itu bisa kami lalui tanpa rasa kantuk sedikitpun. Dan sejak saat itulah aku menjadi senang ngobrol sama Andra. Ngobrolin apa aja yang penting bisa kami obrolkan. Akhirnya aku tahu kenapa Andra mempunyai banyak teman, karena dia tahu bagaimana cara menempatkan dirinya dalam pertemanan dengan sangat baik. Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan tentang Andra tapi aku malu karena kalau aku cerita bisa-bisa akan semakin kelihatan betapa kuper-nya aku ini. Tapi rasanya kok nggak afdol ya kalau aku nggak cerita, kayak ada yang belum lengkap gitu.
Baiklah ini adalah rahasiaku. Jadi tolong jaga rahasia ini baik-baik karena kalau sampai tersebar ke mana-mana, berarti kalian telah dengan sangat tega mempermalukan diriku. Semoga kalian mengerti. Jadi begini ceritanya, maaf ya suaraku harus aku pelankan sedikit biar nggak ada orang lain yang dengar tentang ini. Ehmm... jadi rahasia yang ingin aku ceritakan adalah aku dan Andra itu sebenarnya satu sekolah sejak kami SMP. Tuingggg... tuinggg.. tuinggg... Tapi meskipun begitu, aku dan dia baru kenal pas kelas 2 SMA ini. Hahahahaha... parah kan kuper-ku??? Jadi... ssssssssssssssttttttttt.... jangan bilang siapa-siapa ya!!!
Tapi aku kesal sekali sama salah satu teman Andra. Dia juga teman sekelasku. Dia sama-sama populer kayak Andra. Kalau Andra populer di kalangan murid cowok, nah si gunung es ini populernya di kalangan murid cewek. Nggak papa dong kalau aku sampai menyebutnya si gunung es, habis orangnya sok cool gitu, bener-bener beda banget sama Andra. Andra jauh lebih friendly dan menyenangkan dijadikan teman, nah kalau si gunung es ini boro-boro deh jadi teman, dekat sama dia aja ogah. Aku akan memilih untuk menjauh kalau di situ ada dia. Aku nggak peduli seganteng apapun dia, selama dia sok keren di mataku, so aku anggak sudi temenan sama dia. Apesnya lagi teman-teman sekelas memilih dia untuk jadi partnerku dalam posisi sekretaris di kepengurusan kelas. Rasanya aku seperti mendapatkan mimpi buruk, bisa bareng sama dia. Bagaimana mungkin kami bisa bekerja sama dengan baik sedangkan sikapnya aja angkuh dan nggak bersahabat seperti itu? Ya Tuhan... bakal jadi apa nantinya aku ini.
"Ndra, kamu udah lama kenal sama anak itu ?"
"Anak itu? Siapa ?"
"Itu tuh... Cowok yang soknya selangit itu. Kamu temenan sama dia udah berapa lama ?"
"Oh... maksud kamu si Bara ?"
"Emang ada yang lain selain anak itu ?"
Tawa Andra pun pecah setelah aku mengakhiri bicaraku. Aku jadi bingung sendiri melihatnya, sembari berusaha mencari bagian mana yang lucu sehingga bisa sampai membuat Andra tertawa puas seperti itu. Dan sayangnya, aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari pernyataan dan pertanyaanku tadi.
"Kok malah ketawa sih? Apanya yang lucu ?"
"Mau tahu apa yang lucu... kamu itu yang lucu."
Hahhhh... kok jadi aku yang lucu? Memangnya aku ini badut Ancol yang mengenakan segala aksesorisnya sehingga bisa membuat Andra mengatakan aku ini lucu. Ini yang lucu sebenarnya siapa sih, aku atau Andra? Benar-benar membingungkan.
"Memangnya kenapa sama si Bara? Dia ngapain kamu sampai kamu segitu bencinya sama dia ?"
"Emang aku tadi bilang kalau aku benci sama anak itu, sepertinya enggak deh. Kamu tuh yang ngada-ada."
"Anak kecil juga tahu kali, kalau dari nada bicara kamu yang sinis itu udah jelaslah kalau kamu ilfeel sama si Bara. Aku baru setahun sih kenal sama dia, itupun karena kita teman sekelas. Ehmm.. dan menurutku Bara nggak sejelek apa yang ada di pikiran kamu deh."
"Ya jelaslah kamu ngomongnya begitu, dia kan teman kamu. Mana mungkin kamu jelek-jelekin dia di depan aku. Kayaknya aku bertanya sama orang yang salah deh."
"Wakakakkakakakakakakak..."
"Udah STOP ketawanya... Nggak lucu."
"Aku jadi penasaran, kenapa sih emangnya segitu bencinya kamu sama dia. Perasaan aku belum pernah lihat kamu bicara sama dia."
"Bicara sih emang belum pernah..."
"Trus? Apa dong alasannya ?"
"Bete aja ngelihatin sikapnya yang sok itu..."
"Hemmm... itu sih karena kamu belum kenal aja sama dia. Tapi kalau kamu dah kenal, aku yakin pandangan kamu itu akan berubah 360 derajat."
"Oh ya ???"
"Yeeee.... nggak percaya dibilangin. Bara tuh emang anaknya kayak gitu. Luarnya aja kelihatan angkuh, sok cool atau apalah, tapi sebenarnya baik orangnya, hampir sama gilanya kayak tetangga kamu itu."
"Masak ?"
"Besok deh kalau kamu dah kenal dia... baru kasih komentar. Lha ini, bicara aja belum pernah udah men-judge orang seenaknya."
Tapi Andra ada benarnya juga sih, aku memang belum terlalu kenal sama anak itu. Aku juga belum pernah bicara sama dia, harusnya aku nggak langsung memvonis anak itu dengan berbagai macam tuduhan dan prasangka. Ya sudahlah... terserah aja dia mau ngapain, toh juga bukan urusanku. Ya kan? Eh tunggu tunggu... kok jadi ngomongin si gunung es itu sih, bukannya tadi aku mau nyeritain tentang Andra? Wah wah wah... kayaknya sedang kacau berat nih, lebih baik kita tinggalkan dulu deh keruwetan di sini. Okay? See you... (*)
Kalau aku lihat-lihat, Andra punya selera humor yang tinggi, sehingga apa yang dia bilang hampir selalu bisa membuat tertawa orang-orang di sekelilingnya. Mungkin itu salah satu kelebihan Andra, di luar konteks warna kulitnya yang gelap, yang menjadikannya memiliki banyak teman. Setiap istirahat, pasti selalu aja ada anak dari kelas lain datang untuk mencarinya, meski hanya sekedar untuk say hello atau mengajaknya ke kantin. Rasanya aku jadi iri sama dia, karena sampai hari ini aku merasa tak punya teman. Aku memang hampir hafal semua nama teman-teman sekelasku, tapi aku masih merasa asing dengan mereka semua. Paling-paling aku ngobrol sama Anna, teman sebangkuku, atau nggak sama Fariz, yang kebetulan rumahnya bersebelahan denganku. Selain mereka berdua, paling aku cuma sebatas tahu aja. Sama halnya dengan Andra, aku sampai sekarang belum pernah sekalipun ngobrol dengannya. Meskipun warna kulitku setingkat lebih terang dibanding Andra, justru aku yang merasa nggak PD kalau ngobrol sama Andra, karena di mataku Andra itu termasuk jajaran orang-orang eksekutif hahahahaha... habisnya dia terkenal sih.
Suatu hari, Andra duduk di sebelah Fariz sedangkan tempat duduk Fariz tepat di belakangku. Fariz itu doyan banget godain aku, anaknya emang suka iseng sih, jadi aku nggak terlalu kaget dengan polah tingkah Fariz.
"Ndra, kamu dah tahu belum kalau dia tetanggaku lho..."
Oh My God, penting nggak sih kalau hal itu diceritain sama Andra? Bener-bener kurang kerjaan deh si Fariz itu. Aku yang mendengar perkataan Fariz barusan pun, langsung menoleh ke arah Fariz dan memasang tatapan penuh keanehan. Dan ketika aku sedang melihat ke arah Fariz, tahu nggak apa yang Fariz lakukan? Dia malah ngedip-ngedipin matanya gitu ke arahku. Sumpah deh.... genit banget dan pengen rasanya aku ketawa ngakak setelah melihatnya. Aku pun berbalik ke posisi semula sembari menahan tawa, karena waktu itu pelajaran sedang berlangsung, makanya aku simpan dulu ketawa ngakak-ku. Tak berapa lama kemudian, aku dengar Andra menanggapi.
"Trus kenapa emangnya ?"
Syukurin kamu, Fariz. Tengsin nggak kamu sekarang. Hahahahahaha... Rasanya puas sekali dengar Andra berkata demikian. Aku bisa bayangkan gimana wajah Fariz setelah itu. Biar tahu rasa dia hahahahaha... Aku tahu Andra memang tidak serius mengatakan itu, dia pasti hanya berusaha membalas Fariz yang selama ini doyan sekali mengejeknya.
"Emang kamu nggak malu ya, punya tetangga kayak bocah ini ?"
Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku bicara sama Andra. Aku suka gaya bicara dia. Datar, spontan, bisa bikin KO lawan bicaranya tapi nggak terlihat kalau sedang mengejek, mungkin kalau aku anak gaul Jakarta, aku bakal bilang gini sama Andra, "Ndra, gue suka gaya lo..." Wakakakakakakakak... tapi di kota Sukowati ini, bahasa seperti itu dilarang untuk dipakai. Kami kan putra-putri Sukowati yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa. Jadi untuk yang bergaya metropolis, sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
Setelah itu obrolan kami pun menjadi nyambung. Aku, Fariz dan Andra balas membalas kata satu dengan kata yang lain, sampai-sampai pelajaran Sejarah yang cukup membosankan itu bisa kami lalui tanpa rasa kantuk sedikitpun. Dan sejak saat itulah aku menjadi senang ngobrol sama Andra. Ngobrolin apa aja yang penting bisa kami obrolkan. Akhirnya aku tahu kenapa Andra mempunyai banyak teman, karena dia tahu bagaimana cara menempatkan dirinya dalam pertemanan dengan sangat baik. Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan tentang Andra tapi aku malu karena kalau aku cerita bisa-bisa akan semakin kelihatan betapa kuper-nya aku ini. Tapi rasanya kok nggak afdol ya kalau aku nggak cerita, kayak ada yang belum lengkap gitu.
Baiklah ini adalah rahasiaku. Jadi tolong jaga rahasia ini baik-baik karena kalau sampai tersebar ke mana-mana, berarti kalian telah dengan sangat tega mempermalukan diriku. Semoga kalian mengerti. Jadi begini ceritanya, maaf ya suaraku harus aku pelankan sedikit biar nggak ada orang lain yang dengar tentang ini. Ehmm... jadi rahasia yang ingin aku ceritakan adalah aku dan Andra itu sebenarnya satu sekolah sejak kami SMP. Tuingggg... tuinggg.. tuinggg... Tapi meskipun begitu, aku dan dia baru kenal pas kelas 2 SMA ini. Hahahahaha... parah kan kuper-ku??? Jadi... ssssssssssssssttttttttt.... jangan bilang siapa-siapa ya!!!
Tapi aku kesal sekali sama salah satu teman Andra. Dia juga teman sekelasku. Dia sama-sama populer kayak Andra. Kalau Andra populer di kalangan murid cowok, nah si gunung es ini populernya di kalangan murid cewek. Nggak papa dong kalau aku sampai menyebutnya si gunung es, habis orangnya sok cool gitu, bener-bener beda banget sama Andra. Andra jauh lebih friendly dan menyenangkan dijadikan teman, nah kalau si gunung es ini boro-boro deh jadi teman, dekat sama dia aja ogah. Aku akan memilih untuk menjauh kalau di situ ada dia. Aku nggak peduli seganteng apapun dia, selama dia sok keren di mataku, so aku anggak sudi temenan sama dia. Apesnya lagi teman-teman sekelas memilih dia untuk jadi partnerku dalam posisi sekretaris di kepengurusan kelas. Rasanya aku seperti mendapatkan mimpi buruk, bisa bareng sama dia. Bagaimana mungkin kami bisa bekerja sama dengan baik sedangkan sikapnya aja angkuh dan nggak bersahabat seperti itu? Ya Tuhan... bakal jadi apa nantinya aku ini.
"Ndra, kamu udah lama kenal sama anak itu ?"
"Anak itu? Siapa ?"
"Itu tuh... Cowok yang soknya selangit itu. Kamu temenan sama dia udah berapa lama ?"
"Oh... maksud kamu si Bara ?"
"Emang ada yang lain selain anak itu ?"
Tawa Andra pun pecah setelah aku mengakhiri bicaraku. Aku jadi bingung sendiri melihatnya, sembari berusaha mencari bagian mana yang lucu sehingga bisa sampai membuat Andra tertawa puas seperti itu. Dan sayangnya, aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari pernyataan dan pertanyaanku tadi.
"Kok malah ketawa sih? Apanya yang lucu ?"
"Mau tahu apa yang lucu... kamu itu yang lucu."
Hahhhh... kok jadi aku yang lucu? Memangnya aku ini badut Ancol yang mengenakan segala aksesorisnya sehingga bisa membuat Andra mengatakan aku ini lucu. Ini yang lucu sebenarnya siapa sih, aku atau Andra? Benar-benar membingungkan.
"Memangnya kenapa sama si Bara? Dia ngapain kamu sampai kamu segitu bencinya sama dia ?"
"Emang aku tadi bilang kalau aku benci sama anak itu, sepertinya enggak deh. Kamu tuh yang ngada-ada."
"Anak kecil juga tahu kali, kalau dari nada bicara kamu yang sinis itu udah jelaslah kalau kamu ilfeel sama si Bara. Aku baru setahun sih kenal sama dia, itupun karena kita teman sekelas. Ehmm.. dan menurutku Bara nggak sejelek apa yang ada di pikiran kamu deh."
"Ya jelaslah kamu ngomongnya begitu, dia kan teman kamu. Mana mungkin kamu jelek-jelekin dia di depan aku. Kayaknya aku bertanya sama orang yang salah deh."
"Wakakakkakakakakakakak..."
"Udah STOP ketawanya... Nggak lucu."
"Aku jadi penasaran, kenapa sih emangnya segitu bencinya kamu sama dia. Perasaan aku belum pernah lihat kamu bicara sama dia."
"Bicara sih emang belum pernah..."
"Trus? Apa dong alasannya ?"
"Bete aja ngelihatin sikapnya yang sok itu..."
"Hemmm... itu sih karena kamu belum kenal aja sama dia. Tapi kalau kamu dah kenal, aku yakin pandangan kamu itu akan berubah 360 derajat."
"Oh ya ???"
"Yeeee.... nggak percaya dibilangin. Bara tuh emang anaknya kayak gitu. Luarnya aja kelihatan angkuh, sok cool atau apalah, tapi sebenarnya baik orangnya, hampir sama gilanya kayak tetangga kamu itu."
"Masak ?"
"Besok deh kalau kamu dah kenal dia... baru kasih komentar. Lha ini, bicara aja belum pernah udah men-judge orang seenaknya."
Tapi Andra ada benarnya juga sih, aku memang belum terlalu kenal sama anak itu. Aku juga belum pernah bicara sama dia, harusnya aku nggak langsung memvonis anak itu dengan berbagai macam tuduhan dan prasangka. Ya sudahlah... terserah aja dia mau ngapain, toh juga bukan urusanku. Ya kan? Eh tunggu tunggu... kok jadi ngomongin si gunung es itu sih, bukannya tadi aku mau nyeritain tentang Andra? Wah wah wah... kayaknya sedang kacau berat nih, lebih baik kita tinggalkan dulu deh keruwetan di sini. Okay? See you... (*)
Puzzle 7
Diposting oleh
Puzzle of Me
/
Comments: (0)
Aku terlahir di sebuah keluarga kecil. Ada ayah, ibu dan seorang kakak laki-lakiku. Bersama mereka, aku tinggal di petak kamar kecil sebuah rumah di suatu desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Rumah itu kepunyaan Mbah Kromo, begitu nenek tua itu biasa dipanggil orang-orang, termasuk ketika orang tuaku mengenalkannya padaku. Rumah Mbah Kromo dibentengi oleh kayu sebagai dindingnya, tapi kayu-kayu rumah itu sangat kokoh berdiri menopang atap-atap yang terbuat dari tanah liat. Dibilang sangat bagus, aku rasa tidak terlalu, malah cenderung lebih etnik kejawen dengan bentuk joglonya, tapi luasnya aku pikir belum ada yang menandingi. Mbah Kromo tinggal sendirian di rumah joglo itu, mungkin karena itu kali ya... beliau menerima aku bersama keluargaku untuk tinggal di rumahnya, menghuni salah satu kamar tidur yang tidak terlalu besar namun cukuplah untuk kami berempat.
Aku tak begitu dekat dengan Mbah Kromo itu, karena beliau galak, suka marah-marahin aku atau kakakku, seolah-olah beliau itu merasa berhak atas aku dan kakakku sebagai cucunya. Oleh karena itulah, aku dan kakakku lebih sering bermain di luar rumah ketimbang di rumah joglonya Mbah Kromo, takut dimarahi soalnya.
Ayahku lebih sering terlihat di rumah dibandingkan ibuku. Pagi-pagi aku lihat ibu sudah beranjak dari rumah dan baru terlihat lagi ketika hari hampir petang. Tiap ibu pergi, aku lihat beliau mententeng kain dan benang di tangannya, awalnya aku tak mengerti kenapa kain dan benang itu selalu memberatkan langkah ibu dari rumah dan setelah aku bertanya akhirnya aku tahu kalau ibu habiskan waktunya untuk bekerja di salah seorang juragan jahit yang tak jauh dari tempat tinggalku. Kalau ayahku, aku tidak tahu bekerja apa beliau, ibu hanya bilang kalau ayah belum mempunyai pekerjaan yang tetap, selalu berganti-ganti setiap harinya. Kadang hari ini bekerja seharian, kadang cuma setengah hari dan kadang malah sama sekali tidak bekerja, itulah yang ibu katakan padaku ketika mengartikan pekerjaan serabutan. Sering aku bertanya kenapa ayah dan ibu harus bekerja, kenapa tak habiskan waktu untuk menemani aku dan kakakku bermain di rumah saja, tapi dengan sabarnya ibu menjelaskan padaku kalau ayah ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk membeli beras, sayur, lauk pauk, baju, sabun mandi dan masih banyak yang lain hingga akhirnya aku, si kecil ini, sedikit lebih mengerti dunia orang dewasa.
Rumit sekali sepertinya kehidupan orang dewasa, sangat berbeda dengan keseharian aku dan kakakku. Tiap pagi setelah mandi, kami berdua sarapan, setelah itu kami pergi bermain dengan anak-anak tetangga seumuran kami, siangnya kami pulang untuk makan siang dan tidur siang, dan setelah bangun di sore hari, kami mandi dan bermain lagi sampai matahari tak kelihatan lagi di barat sana, barulah waktu itu kami pulang ke rumah untuk makan malam dan tidur. Begitu sederhana sekali hidupku dan kakakku, yang sangat berbeda dengan ayah ibuku. Hemmm... apakah nanti ketika aku menjadi dewasa, aku akan seperti ayah ibuku, menjalani kehidupan yang rumit dan tidak sederhana lagi?
"Nduk, kamu harus makan dulu cah ayu, nanti kan bisa main lagi. Ini sudah waktunya makan siang, ayo sekarang kamu ikut Ibu pulang."
Dengan tanpa memberiku sedikit kesempatan untuk berkata-kata, ibu langsung meraih tangan kananku dan ditariknya begitu saja keluar dari gerombolan teman-temanku. Begitu juga dengan kakakku, dia ikut diajak pulang sama ibu hanya saja ibu tidak menarik tangan kakakku seperti yang ibu lakukan padaku. Aku tahu hari sudah sangat siang dan waktu itu ibu memang sedang tidak pergi bekerja, makanya aku merasa jam mainku sedikit terganggu. Aku belum lapar, Ibu, aku masih ingin bermain, teman-temanku juga masih bermain dan mereka tidak pulang ke rumah untuk makan siang. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati waktu itu.
"Ya begitulah anak-anak kamu, Sri. Susah sekali kalau disuruh makan siang dan lebih susah lagi kalau sudah waktunya tidur siang."
Semakin menjengkelkan saja, Mbah Kromo ikut-ikutan mengadu sama ibu. Aku dan kakakku jadi makin empuk saja jadi sasaran kemarahan ibu. Kakakku sih kelihatannya cuek-cuek saja, beda dengan aku yang kentara sekali memperlihatkan kekesalanku, padahal aku yakin kalau sebenarnya kakakku juga sama kesalnya dengan aku, tapi kenapa ya dia terlihat biasa saja, apa karena dia laki-laki dan aku perempuan??? Entahlah... aku belum terlalu banyak ingin tahu tentang laki-laki ataupun perempuan, mungkin kapan-kapan saja aku cari tahunya, yang jelas siang ini aku kesal sekali. Disuruh pulang sama ibu saat aku masih asyik bermain dan parahnya lagi menu makan siang kali ini adalah sayur bayam dan wortel. Behhhhhhh... makanan yang paling aku benci, aku tidak suka, ibu, aku sudah sering mengatakannya pada ibu, tapi kenapa ibu selalu memberiku makanan itu?
"Nduk, bayam sama wortel itu baik untuk kesehatan kamu, biar kamu jadi sehat dan pintar."
Selalu saja jawaban seperti itu yang diucapkan ibu ketika aku berusaha untuk menolak makan makanan yang membuatku pengen muntah itu. Emangnya seberapa penting sih sehat atau pintar itu buat aku? Ibu tidak pernah menjelaskan hal itu padaku, jadi sah sah saja kalau aku merasa tidak butuh menjadi sehat dan pintar dengan syarat harus makan bayam atau wortel. Kalau aku boleh bilang, mungkin di dalam perutku ini ada daftar makanan yang tidak seharusnya aku makan, sedangkan bayam dan wortel itu termasuk di dalamnya, sehingga ketika aku mulai mengunyahnya seakan tertahan saja di dalam mulut dan ditolak mentah-mentah sama tubuhku.
"Nduk, jangan dimuntahkan dong...!!!!"
Nada bicara ibu mulai meninggi ketika melihat untuk kedua kalinya aku memuntahkan kunyahan bayam dan wortel keluar dari mulutku. Aku cuma bisa menangis sambil terus berusaha meyakinkan ibu kalau aku benar-benar tidak bisa memakan makanan itu, tapi ibu sepertinya tidak mau tahu, ibu terus menjejalkan makanan itu ke dalam mulutku. Hikzz... hikzz... hikzz...
"Kalau kamu tidak mau makan juga, ibu akan buatkan jamu buat kamu..."
Astaga... Jamu??? Makanan apalagi itu? Oh tidak... jamu itu kan makanan menyebalkan selanjutnya yang dibenci sama perutku, rasanya sangat pahit dan tidak enak. No no no no.... ampun ibu, ampun, aku tidak mau minum jamu, tapi aku juga tidak bisa melanjutkan makan bayam dan wortel. Tangisku semakin keras saja, mendengar kata jamu, melihat bayam dan wortel di hadapanku, hingga akhirnya ibu pun mulai merasa lelah untuk membujuk aku. Ibu beranjak dari sisiku dan entah ke mana beliau pergi, sedangkan aku masih melanjutkan tangisku. Aku tidak mau disalahkan apalagi dimarahi ketika aku tidak doyan sama bayam dan wortel seperti kakakku, itu bukan kemauan aku, aku sendiri juga tidak tahu kenapa perutku tidak bisa menerima makanan itu. Kenapa ibu tidak pernah mau mengerti? Kenapa ibu terus saja memaksaku?
Aku lihat ibu kembali datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Belum terlalu kelihatan di mataku, apa yang sedang ibu bawa. Namun semakin mendekat, semakin jelas bahwa ibu tengah memeram daun pepaya di dalam sebuah kain, yang aku tahu pasti rasanya pahit sekali dan itulah yang namanya jamu. Oh tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk.... Pada akhirnya peraman daun pepaya itu ibu jejalkan juga di mulutku tanpa ampun sedikitpun, meskipun tangisku semakin pecah dan keras membangunkan telinga-telinga yang mendengarnya. Terus menerus dijejalkan, dijejalkan dan semakin keras aku menangis, jamu sialan itu semakin masuk ke dalam mulutku. Ibu kenapa engkau begitu tega sama aku? Jamu itu sangat pahit, ibu, tolong hentikan siksaan ini untukku.
"Ibu tadi kan sudah bilang, kalau kamu makannya susah, ya udah kamu harus minum jamu ini. Ibu tidak mau kalau kamu sampai sakit gara-gara kamu tidak mau makan sayuran, Nduk."
Kakakku dan Mbah Kromo menyaksikan kejadian itu, tapi mereka hanya memandangiku saja, bahkan mereka tak beranjak sedikit pun dari tempat mereka berdiri untuk menolong aku. Jahaaaatttt... jaahhhaaaatt... hikzzz... hikzzz... hikzzz...
Aku lihat mata ibu berkaca-kaca waktu itu, tapi kenapa tidak sesuai dengan apa yang ibu lakukan padaku, yang seakan mengisyaratkan bahwa ibu tidak peduli dengan tangisku. Aku tidak mengerti kenapa ibu melakukan ini padaku, apa benar hanya karena tidak mau melihat aku sakit, lantas ibu tega berbuat seperti ini padaku? Ataukah ada alasan yang lain yang menjadikan ibu seperti terlihat terpaksa melakukan semua ini?
"Hei... ayo kita main lagi...!!!"
Aku cuma bisa memandangi temanku dan menggelengkan kepala menanggapi ajakannya baru saja. Aku masih takut kalau-kalau nanti ibu marah lagi sama aku dan menjejalkan jamu itu ke mulutku. Tidak... tidak... aku tidak mau, bahkan rasa pahitnya sampai sekarang saja masih terasa dan belum juga lepas dari kecap rasa lidahku. Air mataku menetes perlahan menyaksikan temanku berlalu dari hadapanku, sedang aku tidak bisa turut bermain bersama-sama dengan dia. Aku tengok ke belakang, ke arah dalam rumah... aku lihat kakakku sedang asyik main mobil-mobilannya sendiri, mobil-mobilan yang dibuat dari tangkai daun pisang. Siang hari itu pada akhirnya aku dan kakakku hanya di rumah saja.
"Kalian berdua.. ayo sekarang kalian tidur siang dulu...!!!"
Hemmm... belum selesai menghapus sisa air mata gara-gara bayam, wortel dan jamu pahit itu, aku sekarang harus segera berangkat tidur, menyebalkan sekali. Kebiasaan yang aku pikir semula lebih sederhana dari rutinitas orang dewasa, ternyata cukup membuatku tidak nyaman menikmati masa kecilku. Aku tidak ngantuk, kenapa aku harus tidur? Ini kan masih siang belum malam, kenapa aku selalu disuruh tidur? Sebenarnya apa sih yang dipikirkan orang dewasa itu tentang dunia anak kecil seperti aku ini? Tidak pernahkah mereka menjadi anak kecil dan hidup menjadi seorang anak kecil, sehingga begitu sulitnya mereka untuk mengerti duniaku, keinginanku sebagai seorang anak kecil?
Aku hanyalah anak kecil yang tidak terbiasa dengan aturan-aturan itu. Aku hanya ingin berekspresi sebebas mungkin menikmati masa kecilku. Aku tak cukup mengerti pemikiran orang dewasa tentang aku dan duniaku, aku hanya tak ingin dipaksa untuk menjadi dewasa terlalu cepat. Jika memang mereka pernah menjadi kecil seperti aku, aku minta perlakukanlah aku sesuai dengan masaku, dengan cara-cara yang mudah untuk aku mengerti sehingga bukan kekerasan atau kekasaran yang menyatukan duniaku dengan dunia orang dewasa. Aku hanya anak kecil, bagian kehidupan yang masih sangat dini dan belum banyak tahu tentang kehidupan. Aku menyadari hal itu... dan semoga orang-orang dewasa itu juga menyadari dirinya dengan penuh. (*)
Aku tak begitu dekat dengan Mbah Kromo itu, karena beliau galak, suka marah-marahin aku atau kakakku, seolah-olah beliau itu merasa berhak atas aku dan kakakku sebagai cucunya. Oleh karena itulah, aku dan kakakku lebih sering bermain di luar rumah ketimbang di rumah joglonya Mbah Kromo, takut dimarahi soalnya.
Ayahku lebih sering terlihat di rumah dibandingkan ibuku. Pagi-pagi aku lihat ibu sudah beranjak dari rumah dan baru terlihat lagi ketika hari hampir petang. Tiap ibu pergi, aku lihat beliau mententeng kain dan benang di tangannya, awalnya aku tak mengerti kenapa kain dan benang itu selalu memberatkan langkah ibu dari rumah dan setelah aku bertanya akhirnya aku tahu kalau ibu habiskan waktunya untuk bekerja di salah seorang juragan jahit yang tak jauh dari tempat tinggalku. Kalau ayahku, aku tidak tahu bekerja apa beliau, ibu hanya bilang kalau ayah belum mempunyai pekerjaan yang tetap, selalu berganti-ganti setiap harinya. Kadang hari ini bekerja seharian, kadang cuma setengah hari dan kadang malah sama sekali tidak bekerja, itulah yang ibu katakan padaku ketika mengartikan pekerjaan serabutan. Sering aku bertanya kenapa ayah dan ibu harus bekerja, kenapa tak habiskan waktu untuk menemani aku dan kakakku bermain di rumah saja, tapi dengan sabarnya ibu menjelaskan padaku kalau ayah ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk membeli beras, sayur, lauk pauk, baju, sabun mandi dan masih banyak yang lain hingga akhirnya aku, si kecil ini, sedikit lebih mengerti dunia orang dewasa.
Rumit sekali sepertinya kehidupan orang dewasa, sangat berbeda dengan keseharian aku dan kakakku. Tiap pagi setelah mandi, kami berdua sarapan, setelah itu kami pergi bermain dengan anak-anak tetangga seumuran kami, siangnya kami pulang untuk makan siang dan tidur siang, dan setelah bangun di sore hari, kami mandi dan bermain lagi sampai matahari tak kelihatan lagi di barat sana, barulah waktu itu kami pulang ke rumah untuk makan malam dan tidur. Begitu sederhana sekali hidupku dan kakakku, yang sangat berbeda dengan ayah ibuku. Hemmm... apakah nanti ketika aku menjadi dewasa, aku akan seperti ayah ibuku, menjalani kehidupan yang rumit dan tidak sederhana lagi?
"Nduk, kamu harus makan dulu cah ayu, nanti kan bisa main lagi. Ini sudah waktunya makan siang, ayo sekarang kamu ikut Ibu pulang."
Dengan tanpa memberiku sedikit kesempatan untuk berkata-kata, ibu langsung meraih tangan kananku dan ditariknya begitu saja keluar dari gerombolan teman-temanku. Begitu juga dengan kakakku, dia ikut diajak pulang sama ibu hanya saja ibu tidak menarik tangan kakakku seperti yang ibu lakukan padaku. Aku tahu hari sudah sangat siang dan waktu itu ibu memang sedang tidak pergi bekerja, makanya aku merasa jam mainku sedikit terganggu. Aku belum lapar, Ibu, aku masih ingin bermain, teman-temanku juga masih bermain dan mereka tidak pulang ke rumah untuk makan siang. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati waktu itu.
"Ya begitulah anak-anak kamu, Sri. Susah sekali kalau disuruh makan siang dan lebih susah lagi kalau sudah waktunya tidur siang."
Semakin menjengkelkan saja, Mbah Kromo ikut-ikutan mengadu sama ibu. Aku dan kakakku jadi makin empuk saja jadi sasaran kemarahan ibu. Kakakku sih kelihatannya cuek-cuek saja, beda dengan aku yang kentara sekali memperlihatkan kekesalanku, padahal aku yakin kalau sebenarnya kakakku juga sama kesalnya dengan aku, tapi kenapa ya dia terlihat biasa saja, apa karena dia laki-laki dan aku perempuan??? Entahlah... aku belum terlalu banyak ingin tahu tentang laki-laki ataupun perempuan, mungkin kapan-kapan saja aku cari tahunya, yang jelas siang ini aku kesal sekali. Disuruh pulang sama ibu saat aku masih asyik bermain dan parahnya lagi menu makan siang kali ini adalah sayur bayam dan wortel. Behhhhhhh... makanan yang paling aku benci, aku tidak suka, ibu, aku sudah sering mengatakannya pada ibu, tapi kenapa ibu selalu memberiku makanan itu?
"Nduk, bayam sama wortel itu baik untuk kesehatan kamu, biar kamu jadi sehat dan pintar."
Selalu saja jawaban seperti itu yang diucapkan ibu ketika aku berusaha untuk menolak makan makanan yang membuatku pengen muntah itu. Emangnya seberapa penting sih sehat atau pintar itu buat aku? Ibu tidak pernah menjelaskan hal itu padaku, jadi sah sah saja kalau aku merasa tidak butuh menjadi sehat dan pintar dengan syarat harus makan bayam atau wortel. Kalau aku boleh bilang, mungkin di dalam perutku ini ada daftar makanan yang tidak seharusnya aku makan, sedangkan bayam dan wortel itu termasuk di dalamnya, sehingga ketika aku mulai mengunyahnya seakan tertahan saja di dalam mulut dan ditolak mentah-mentah sama tubuhku.
"Nduk, jangan dimuntahkan dong...!!!!"
Nada bicara ibu mulai meninggi ketika melihat untuk kedua kalinya aku memuntahkan kunyahan bayam dan wortel keluar dari mulutku. Aku cuma bisa menangis sambil terus berusaha meyakinkan ibu kalau aku benar-benar tidak bisa memakan makanan itu, tapi ibu sepertinya tidak mau tahu, ibu terus menjejalkan makanan itu ke dalam mulutku. Hikzz... hikzz... hikzz...
"Kalau kamu tidak mau makan juga, ibu akan buatkan jamu buat kamu..."
Astaga... Jamu??? Makanan apalagi itu? Oh tidak... jamu itu kan makanan menyebalkan selanjutnya yang dibenci sama perutku, rasanya sangat pahit dan tidak enak. No no no no.... ampun ibu, ampun, aku tidak mau minum jamu, tapi aku juga tidak bisa melanjutkan makan bayam dan wortel. Tangisku semakin keras saja, mendengar kata jamu, melihat bayam dan wortel di hadapanku, hingga akhirnya ibu pun mulai merasa lelah untuk membujuk aku. Ibu beranjak dari sisiku dan entah ke mana beliau pergi, sedangkan aku masih melanjutkan tangisku. Aku tidak mau disalahkan apalagi dimarahi ketika aku tidak doyan sama bayam dan wortel seperti kakakku, itu bukan kemauan aku, aku sendiri juga tidak tahu kenapa perutku tidak bisa menerima makanan itu. Kenapa ibu tidak pernah mau mengerti? Kenapa ibu terus saja memaksaku?
Aku lihat ibu kembali datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Belum terlalu kelihatan di mataku, apa yang sedang ibu bawa. Namun semakin mendekat, semakin jelas bahwa ibu tengah memeram daun pepaya di dalam sebuah kain, yang aku tahu pasti rasanya pahit sekali dan itulah yang namanya jamu. Oh tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk.... Pada akhirnya peraman daun pepaya itu ibu jejalkan juga di mulutku tanpa ampun sedikitpun, meskipun tangisku semakin pecah dan keras membangunkan telinga-telinga yang mendengarnya. Terus menerus dijejalkan, dijejalkan dan semakin keras aku menangis, jamu sialan itu semakin masuk ke dalam mulutku. Ibu kenapa engkau begitu tega sama aku? Jamu itu sangat pahit, ibu, tolong hentikan siksaan ini untukku.
"Ibu tadi kan sudah bilang, kalau kamu makannya susah, ya udah kamu harus minum jamu ini. Ibu tidak mau kalau kamu sampai sakit gara-gara kamu tidak mau makan sayuran, Nduk."
Kakakku dan Mbah Kromo menyaksikan kejadian itu, tapi mereka hanya memandangiku saja, bahkan mereka tak beranjak sedikit pun dari tempat mereka berdiri untuk menolong aku. Jahaaaatttt... jaahhhaaaatt... hikzzz... hikzzz... hikzzz...
Aku lihat mata ibu berkaca-kaca waktu itu, tapi kenapa tidak sesuai dengan apa yang ibu lakukan padaku, yang seakan mengisyaratkan bahwa ibu tidak peduli dengan tangisku. Aku tidak mengerti kenapa ibu melakukan ini padaku, apa benar hanya karena tidak mau melihat aku sakit, lantas ibu tega berbuat seperti ini padaku? Ataukah ada alasan yang lain yang menjadikan ibu seperti terlihat terpaksa melakukan semua ini?
"Hei... ayo kita main lagi...!!!"
Aku cuma bisa memandangi temanku dan menggelengkan kepala menanggapi ajakannya baru saja. Aku masih takut kalau-kalau nanti ibu marah lagi sama aku dan menjejalkan jamu itu ke mulutku. Tidak... tidak... aku tidak mau, bahkan rasa pahitnya sampai sekarang saja masih terasa dan belum juga lepas dari kecap rasa lidahku. Air mataku menetes perlahan menyaksikan temanku berlalu dari hadapanku, sedang aku tidak bisa turut bermain bersama-sama dengan dia. Aku tengok ke belakang, ke arah dalam rumah... aku lihat kakakku sedang asyik main mobil-mobilannya sendiri, mobil-mobilan yang dibuat dari tangkai daun pisang. Siang hari itu pada akhirnya aku dan kakakku hanya di rumah saja.
"Kalian berdua.. ayo sekarang kalian tidur siang dulu...!!!"
Hemmm... belum selesai menghapus sisa air mata gara-gara bayam, wortel dan jamu pahit itu, aku sekarang harus segera berangkat tidur, menyebalkan sekali. Kebiasaan yang aku pikir semula lebih sederhana dari rutinitas orang dewasa, ternyata cukup membuatku tidak nyaman menikmati masa kecilku. Aku tidak ngantuk, kenapa aku harus tidur? Ini kan masih siang belum malam, kenapa aku selalu disuruh tidur? Sebenarnya apa sih yang dipikirkan orang dewasa itu tentang dunia anak kecil seperti aku ini? Tidak pernahkah mereka menjadi anak kecil dan hidup menjadi seorang anak kecil, sehingga begitu sulitnya mereka untuk mengerti duniaku, keinginanku sebagai seorang anak kecil?
Aku hanyalah anak kecil yang tidak terbiasa dengan aturan-aturan itu. Aku hanya ingin berekspresi sebebas mungkin menikmati masa kecilku. Aku tak cukup mengerti pemikiran orang dewasa tentang aku dan duniaku, aku hanya tak ingin dipaksa untuk menjadi dewasa terlalu cepat. Jika memang mereka pernah menjadi kecil seperti aku, aku minta perlakukanlah aku sesuai dengan masaku, dengan cara-cara yang mudah untuk aku mengerti sehingga bukan kekerasan atau kekasaran yang menyatukan duniaku dengan dunia orang dewasa. Aku hanya anak kecil, bagian kehidupan yang masih sangat dini dan belum banyak tahu tentang kehidupan. Aku menyadari hal itu... dan semoga orang-orang dewasa itu juga menyadari dirinya dengan penuh. (*)
Puzzle 6
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 05, 2010
/
Comments: (0)
YES... Akhirnya kesampaian juga bisa kuliah di kota Pelajar ini. JOGJA, I'm Coming.....!!!! Aku akan menghabiskan hari-hariku di kotamu, semoga kau mau bersahabat denganku dan semoga kau mau mengukir kisah yang indah bersamaku sampai pada waktu yang tak terbatas.
"Kamu tidur di kosku aja ya? Aku sendirian nih..."
"Bukannya nanti, pada akhirnya kamu juga akan sendiri, Da..."
"Iya, tapi bukan untuk sekarang. Aku butuh beradaptasi dulu dengan lingkunganku. Ayolah... nanti lain kali gantian aku yang tidur di kontrakan kamu. Okay ?"
Aku kurang terlalu pandai untuk mengatakan sebuah penolakan meski dengan cara yang lebih halus sekalipun. Hingga yang terjadi adalah aku kembali menurutkan keinginan sahabatku yang satu ini, Arda namanya. Kami sama-sama melanjutkan pendidikan di kota Gudeg ini, tapi tidak satu kampus. Aku rasa kampus Arda jauh lebih bersahabat dalam hal biaya, dibandingkan dengan kampusku. Padahal aku pernah mendengar dari guruku waktu di SMA dulu, kalau kampusku yang sekarang ini adalah Kampus Kerakyatan. Kalau diartikan secara eksplisit, dengan membaca julukannya saja pasti semua orang akan langsung tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang berpihak kepada rakyat. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, mereka sama sekali tak berpihak pada kami, para rakyat, malah lebih cenderung memeras kami secara halus. Aku sendiri juga tidak begitu tahu bagaimana kondisi di singgasana pemerintahan sana, namun yang aku tidak habis pikir, apakah negeri ini terlalu 'pelit' untuk menyisihkan lembaran-lembaran rupiahnya untuk kami agar kami bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan kami untuk mempertahankan negeri ini kelak dari penjajah era modern. Tapi ya sudahlah, suaraku terlalu kecil untuk bisa terdengar sampai ke telinga raja di negeri ini, jadi mau tidak mau aku pun harus merelakan merasa dijajah oleh bangsa sendiri.
"Kamu dapat jatah berapa untuk seminggu ?"
Hehehehe... aku tertawa dalam hati. Pertanyaan Arda tidak terlalu sulit untuk dijawab, hanya tinggal menyebutkan deretan angka saja maka semua menjadi beres. Namun kenapa leherku seperti mendadak tercekik begini ya, seolah-olah pita suara dalam tubuhku memerintahku untuk tidak bersuara saat itu. Sehingga daripada aku harus bertengkar dengan seluruh pasukan organ di tubuhku, lebih baik aku mengalah saja.
"Ya sudahlah... Nggak usah dijawab saja, tapi semisal nanti uang sakumu ternyata tidak cukup untuk seminggu, kamu jangan sungkan-sungkan ya bilang sama aku. Aku masih punya tabungan yang bisa digunakan waktu darurat. Ya kita ini kan sama-sama hidup di perantauan, jauh dari orang tua. Satu-satunya keluarga ya teman kan? Makanya kita sebisa mungkin saling membantu."
Rupanya ini toh alasan Arda bertanya seperti tadi kepadaku. Aku nggak nyangka ternyata Arda begitu baik padaku, sehingga dia menawarkan bantuan bahkan sebelum aku memintanya. Syukurlah ternyata Tuhan memberikan aku seorang sahabat yang baik seperti Arda di tempat yang bagiku masih sangat baru ini. Terima kasih Tuhan, semoga senantiasa mengalir berkat dariMu untuk sahabatku, Arda. Amin.
Hari-hari kami lalui bersama. Suka duka juga kami lewati berdua. Kami adalah dua orang sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain, juga saling menyemangati dan menguatkan. Andaikan salah seorang dari kami adalah seorang lelaki, mungkin kami sudah menjadi pasangan yang sangat romantis. Namun sayangnya tidaklah demikian, karena kami berdua adalah sesama hawa yang sedang mengikat tali persahabatan. Setiap hari jika tidak ada jam kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kos Arda, sekedar melepas lelah di sana atau bercerita omong kosong pun jadilah. Kadang kami berdua sampai tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk obrolan tentang film kesukaan kami berdua atau grup band favorit kami. Hahahaha... memang sempat terpikir bahwa kami kadang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal tapi itu bisa menyenangkan kami. Kami juga sama-sama penggila harga miring apalagi gratisan, benar-benar anak kuliahan banget deh. Jadi, setiap kami jalan-jalan ke tempat belanja yang sangat terkenal di kota Jogja, Malioboro, sudah pasti yang kami serbu adalah tempat yang menawarkan diskon atau potongan harga. Sedangkan kalau yang di emperan toko sepanjang jalan Malioboro, hanya penjual yang boleh ditawarlah yang akan kami hampiri. Yang jelas, kami berdua super irit, super ekonomis dan selektif sekali kalau sudah menyangkut soal harga.
"Eh kamu udah tahu kosnya Riyo belum ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Pasti kosnya Riyo juga tak jauh dari sini dong, kenapa nggak suruh Riyo-nya ke sini aja, kan seru kalau rame-rame."
Ah... sepertinya ide Arda boleh juga tuh untuk dicoba, lagian aku juga sudah lama tak bertemu dengan Riyo. Dengan tanpa perlu berpikir panjang lagi, sebuah pesan singkat pun akhirnya kukirimkan ke telepon genggam milik Riyo. Sambil menunggu balasan dari Riyo, aku mulai terhanyut dalam lamunan. Aku sudah mulai membayangkan kalau-kalau nanti aku akan ketemu dengan Riyo. Alangkah bahagianya jika aku bisa mengobati kerinduanku ini. Tapi aku bingung, kira-kira kalau nanti aku ketemu Riyo, apa yang harus aku katakan padanya. Aku harus mulai memikirkan akan bicara apa nanti sama Riyo dan aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hei... kamu kenapa sih kok kelihatannya bingung gitu? Gimana, Riyo udah balas belum ?"
Malu rasanya karena ternyata Arda menyadari kebingunganku saat itu. Aku, Arda dan Riyo berasal dari kota yang sama, kami juga berasal dari SMA yang sama. Jadi tidak aneh rasanya kalau Arda pun cukup mengenal Riyo dengan baik. Apalagi Arda itu kalau sudah bicara, susah sekali dihentikan ataupun disela... kalau diibaratkan sebagai kereta, mungkin dia lebih mirip dengan kereta api express yang super cepat barangkali. Hahahahahaha.... tapi dia punya kelebihan yang selalu membuat iri banyak cewek, termasuk aku salah satunya.Ya.... apalagi kalau bukan parasnya yang cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Kalau aku disandingkan dengan dia, behhhhhh.... seperti langit dan bumi. Langit kan cerah tuh nah sedangkan bumi (tanah) itu kan gelap. Begitulah kira-kira atau kalau mengambil salah satu iklan di televisi, kami berdua mungkin seperti saudara kembar yang sedang mengiklankan hand & body lotion, trus ada kata-kata iklannya sebagai berikut,
"Kulit Shanti tak seputih Shinta.........."
Dan memang kuakui, aku tak memiliki kulit putih seperti yang dimiliki Arda. Wajahku juga sangat pas-pasan, tapi sekarang ini aku lebih beruntung dibandingkan Arda, karena aku punya Riyo, sedangkan Arda masih sendiri. Kadang aku merasa aneh juga melihat Arda, begitu banyak cowok yang mendekatinya tapi tak satupun mampu menarik hatinya. Seperti apa sih cowok yang dicari Arda?
"Yah sayang sekali... Riyo nggak bisa datang ke sini sekarang."
"Lho memangnya kenapa ?"
"Ternyata tempat tinggal Riyo tuh jauh dari sini, Da. Dia seharian ini sudah capek sekali di kampus, makanya sekarang dia mau istirahat. Lagian nanti malam dia harus membantu saudaranya di Laundry, soalnya dia nggak enak kalau nggak ikut bantu-bantu. Dia kan sekarang ini masih numpang di rumah saudaranya itu. Jadi ya mau gimana lagi."
"Kenapa Riyo nggak kos sendiri aja sih, kan lebih leluasa mau ngapa-ngapain."
"Dulu sih Riyo juga pernah bilang mau kos sendiri, tapi ibunya meminta dia untuk tinggal di tempat saudaranya itu buat sementara aja. Kata ibunya sih, nggak enak sama saudaranya itu, karena dia pernah menawarkan Riyo untuk tinggal bersamanya."
Rasanya kecewa juga tidak bisa ketemu dengan Riyo sore itu, tapi aku harus berusaha mengerti keadaan Riyo saat ini. Kalau aku di posisi Riyo, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Saat ini Riyo memang tidak sebebas aku yang bisa ke sana kemari dengan leluasa, karena Riyo harus menjaga perasaan saudaranya itu. Yah.. mungkin memang belum waktunya saja untuk ketemu, lain kali pasti bisa ketemu. Tapi kalau dipikir-pikir.... lain kalinya itu kapan ya? Gimana kalau aku keburu tidak bisa menahan rasa rinduku? Apa yang akan aku lakukan? Ehmmm... kalau cuma mendengar suaranya di telepon saja, sepertinya itu belum cukup untuk mengobati rasa rinduku yang kronis suatu saat nanti. Kalau begitu biarkan saja deh, nanti biarlah menjadi urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah aku masih bisa menjaga hati ini untuknya meskipun aku dan Riyo terpisah oleh jarak dan waktu. (*)
"Kamu tidur di kosku aja ya? Aku sendirian nih..."
"Bukannya nanti, pada akhirnya kamu juga akan sendiri, Da..."
"Iya, tapi bukan untuk sekarang. Aku butuh beradaptasi dulu dengan lingkunganku. Ayolah... nanti lain kali gantian aku yang tidur di kontrakan kamu. Okay ?"
Aku kurang terlalu pandai untuk mengatakan sebuah penolakan meski dengan cara yang lebih halus sekalipun. Hingga yang terjadi adalah aku kembali menurutkan keinginan sahabatku yang satu ini, Arda namanya. Kami sama-sama melanjutkan pendidikan di kota Gudeg ini, tapi tidak satu kampus. Aku rasa kampus Arda jauh lebih bersahabat dalam hal biaya, dibandingkan dengan kampusku. Padahal aku pernah mendengar dari guruku waktu di SMA dulu, kalau kampusku yang sekarang ini adalah Kampus Kerakyatan. Kalau diartikan secara eksplisit, dengan membaca julukannya saja pasti semua orang akan langsung tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang berpihak kepada rakyat. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, mereka sama sekali tak berpihak pada kami, para rakyat, malah lebih cenderung memeras kami secara halus. Aku sendiri juga tidak begitu tahu bagaimana kondisi di singgasana pemerintahan sana, namun yang aku tidak habis pikir, apakah negeri ini terlalu 'pelit' untuk menyisihkan lembaran-lembaran rupiahnya untuk kami agar kami bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan kami untuk mempertahankan negeri ini kelak dari penjajah era modern. Tapi ya sudahlah, suaraku terlalu kecil untuk bisa terdengar sampai ke telinga raja di negeri ini, jadi mau tidak mau aku pun harus merelakan merasa dijajah oleh bangsa sendiri.
"Kamu dapat jatah berapa untuk seminggu ?"
Hehehehe... aku tertawa dalam hati. Pertanyaan Arda tidak terlalu sulit untuk dijawab, hanya tinggal menyebutkan deretan angka saja maka semua menjadi beres. Namun kenapa leherku seperti mendadak tercekik begini ya, seolah-olah pita suara dalam tubuhku memerintahku untuk tidak bersuara saat itu. Sehingga daripada aku harus bertengkar dengan seluruh pasukan organ di tubuhku, lebih baik aku mengalah saja.
"Ya sudahlah... Nggak usah dijawab saja, tapi semisal nanti uang sakumu ternyata tidak cukup untuk seminggu, kamu jangan sungkan-sungkan ya bilang sama aku. Aku masih punya tabungan yang bisa digunakan waktu darurat. Ya kita ini kan sama-sama hidup di perantauan, jauh dari orang tua. Satu-satunya keluarga ya teman kan? Makanya kita sebisa mungkin saling membantu."
Rupanya ini toh alasan Arda bertanya seperti tadi kepadaku. Aku nggak nyangka ternyata Arda begitu baik padaku, sehingga dia menawarkan bantuan bahkan sebelum aku memintanya. Syukurlah ternyata Tuhan memberikan aku seorang sahabat yang baik seperti Arda di tempat yang bagiku masih sangat baru ini. Terima kasih Tuhan, semoga senantiasa mengalir berkat dariMu untuk sahabatku, Arda. Amin.
Hari-hari kami lalui bersama. Suka duka juga kami lewati berdua. Kami adalah dua orang sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain, juga saling menyemangati dan menguatkan. Andaikan salah seorang dari kami adalah seorang lelaki, mungkin kami sudah menjadi pasangan yang sangat romantis. Namun sayangnya tidaklah demikian, karena kami berdua adalah sesama hawa yang sedang mengikat tali persahabatan. Setiap hari jika tidak ada jam kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kos Arda, sekedar melepas lelah di sana atau bercerita omong kosong pun jadilah. Kadang kami berdua sampai tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk obrolan tentang film kesukaan kami berdua atau grup band favorit kami. Hahahaha... memang sempat terpikir bahwa kami kadang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal tapi itu bisa menyenangkan kami. Kami juga sama-sama penggila harga miring apalagi gratisan, benar-benar anak kuliahan banget deh. Jadi, setiap kami jalan-jalan ke tempat belanja yang sangat terkenal di kota Jogja, Malioboro, sudah pasti yang kami serbu adalah tempat yang menawarkan diskon atau potongan harga. Sedangkan kalau yang di emperan toko sepanjang jalan Malioboro, hanya penjual yang boleh ditawarlah yang akan kami hampiri. Yang jelas, kami berdua super irit, super ekonomis dan selektif sekali kalau sudah menyangkut soal harga.
"Eh kamu udah tahu kosnya Riyo belum ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Pasti kosnya Riyo juga tak jauh dari sini dong, kenapa nggak suruh Riyo-nya ke sini aja, kan seru kalau rame-rame."
Ah... sepertinya ide Arda boleh juga tuh untuk dicoba, lagian aku juga sudah lama tak bertemu dengan Riyo. Dengan tanpa perlu berpikir panjang lagi, sebuah pesan singkat pun akhirnya kukirimkan ke telepon genggam milik Riyo. Sambil menunggu balasan dari Riyo, aku mulai terhanyut dalam lamunan. Aku sudah mulai membayangkan kalau-kalau nanti aku akan ketemu dengan Riyo. Alangkah bahagianya jika aku bisa mengobati kerinduanku ini. Tapi aku bingung, kira-kira kalau nanti aku ketemu Riyo, apa yang harus aku katakan padanya. Aku harus mulai memikirkan akan bicara apa nanti sama Riyo dan aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hei... kamu kenapa sih kok kelihatannya bingung gitu? Gimana, Riyo udah balas belum ?"
Malu rasanya karena ternyata Arda menyadari kebingunganku saat itu. Aku, Arda dan Riyo berasal dari kota yang sama, kami juga berasal dari SMA yang sama. Jadi tidak aneh rasanya kalau Arda pun cukup mengenal Riyo dengan baik. Apalagi Arda itu kalau sudah bicara, susah sekali dihentikan ataupun disela... kalau diibaratkan sebagai kereta, mungkin dia lebih mirip dengan kereta api express yang super cepat barangkali. Hahahahahaha.... tapi dia punya kelebihan yang selalu membuat iri banyak cewek, termasuk aku salah satunya.Ya.... apalagi kalau bukan parasnya yang cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Kalau aku disandingkan dengan dia, behhhhhh.... seperti langit dan bumi. Langit kan cerah tuh nah sedangkan bumi (tanah) itu kan gelap. Begitulah kira-kira atau kalau mengambil salah satu iklan di televisi, kami berdua mungkin seperti saudara kembar yang sedang mengiklankan hand & body lotion, trus ada kata-kata iklannya sebagai berikut,
"Kulit Shanti tak seputih Shinta.........."
Dan memang kuakui, aku tak memiliki kulit putih seperti yang dimiliki Arda. Wajahku juga sangat pas-pasan, tapi sekarang ini aku lebih beruntung dibandingkan Arda, karena aku punya Riyo, sedangkan Arda masih sendiri. Kadang aku merasa aneh juga melihat Arda, begitu banyak cowok yang mendekatinya tapi tak satupun mampu menarik hatinya. Seperti apa sih cowok yang dicari Arda?
"Yah sayang sekali... Riyo nggak bisa datang ke sini sekarang."
"Lho memangnya kenapa ?"
"Ternyata tempat tinggal Riyo tuh jauh dari sini, Da. Dia seharian ini sudah capek sekali di kampus, makanya sekarang dia mau istirahat. Lagian nanti malam dia harus membantu saudaranya di Laundry, soalnya dia nggak enak kalau nggak ikut bantu-bantu. Dia kan sekarang ini masih numpang di rumah saudaranya itu. Jadi ya mau gimana lagi."
"Kenapa Riyo nggak kos sendiri aja sih, kan lebih leluasa mau ngapa-ngapain."
"Dulu sih Riyo juga pernah bilang mau kos sendiri, tapi ibunya meminta dia untuk tinggal di tempat saudaranya itu buat sementara aja. Kata ibunya sih, nggak enak sama saudaranya itu, karena dia pernah menawarkan Riyo untuk tinggal bersamanya."
Rasanya kecewa juga tidak bisa ketemu dengan Riyo sore itu, tapi aku harus berusaha mengerti keadaan Riyo saat ini. Kalau aku di posisi Riyo, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Saat ini Riyo memang tidak sebebas aku yang bisa ke sana kemari dengan leluasa, karena Riyo harus menjaga perasaan saudaranya itu. Yah.. mungkin memang belum waktunya saja untuk ketemu, lain kali pasti bisa ketemu. Tapi kalau dipikir-pikir.... lain kalinya itu kapan ya? Gimana kalau aku keburu tidak bisa menahan rasa rinduku? Apa yang akan aku lakukan? Ehmmm... kalau cuma mendengar suaranya di telepon saja, sepertinya itu belum cukup untuk mengobati rasa rinduku yang kronis suatu saat nanti. Kalau begitu biarkan saja deh, nanti biarlah menjadi urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah aku masih bisa menjaga hati ini untuknya meskipun aku dan Riyo terpisah oleh jarak dan waktu. (*)
Puzzle 5
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 02, 2010
/
Comments: (0)
Kudengar suara yang menggelitik gendang telingaku dari arah ruang tamu. Bukan suara gurauan, tawa, kelakar ataupun bertukar cerita, tapi isak tangis dan teriakan kemarahan yang menyayat hatiku. Meskipun kamarku letaknya cukup jauh dengan ruang tamu, tapi semuanya sangat jelas terdengar olehku. Rasanya aku ingin tuli untuk sejenak, berharap tidak bisa mendengarkan semua yang baru saja tertangkap oleh telingaku. Namun pada kenyataannya, aku memang sudah terlanjur mendengarnya. Dan kini di balik dinding ruang tamu, aku pun tergoda untuk tahu lebih banyak lagi. Tahu lebih banyak tentang apa yang dipertengkarkan oleh kedua orang tuaku.
Dalam diamku, pikiranku melayang jauh melihat kembali ke masa lalu. Aku hanya bisa terheran-heran saja, kenapa saat ini kudengar ayah begitu semangat memaki-maki ibu, mengeluarkan kata-kata yang merusak hati ibuku dan sesekali melakukan permainan tangan yang menurutku sangat kejam bahkan tidak manusiawi. Bagaimana mungkin seseorang yang dahulu pernah mengikrarkan CINTA kepada ibuku, sekarang melakukan semua itu? Bagaimana mungkin ayah menikahi ibu jika pada akhirnya ayah memperlakukan ibu seperti ini? Aku sungguh tidak mengerti, atau memang demikian cara ayah untuk menyampaikan rasa sayangnya sama ibu? Aku rasa bukan... Aku rasa ini bukan cinta dan ini juga bukan kasih sayang...Ini tak lebih dari hawa nafsu kemarahan.
Pranggggggggggggggggggggg.....!!!!!!!!!!!!!!
Apa itu yang pecah? Apa yang dilempar ayah? Apakah ayah melemparnya ke arah ibu? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa ibu baik-baik saja? Ya Tuhan begitu ingin rasanya aku melihat ibuku. Aku benar-benar ingin memastikan apakah ibuku baik-baik saja, tapi Tuhan... aku takut. Aku takut untuk menyaksikan semua itu. Aku juga takut kalau-kalau nanti, gantian aku yang jadi sasaran kemarahan ayah. Ya Tuhan... harus bagaimanakah aku sekarang? Apakah Engkau tidak bisa menyadarkan ayahku untuk berhenti menyakiti ibuku? Aku rasa... mungkin tidak untuk saat ini. Aku sungguh bingung, Tuhan, aku takut.... Sekarang ini, akulah anak yang paling tua di rumah. Memang seharusnya aku bisa melakukan sesuatu untuk menjadi penengah antara ayah dan ibu, tapi aku tidak punya keberanian ya Tuhan. Aku benar-benar takut. Jika aku saja setakut ini, bagaimana mungkin aku menyuruh adikku untuk mengambil alih tanggung jawabku. Tidak mungkin... itu tidak mungkin. Aku tak melihat adik-adikku sedari tadi, mereka ada di dalam kamarnya masing-masing. Mungkinkah di dalam kamar, mereka juga sama takutnya denganku??
Aku pun mulai tidak tahan mendengar suara ayahku yang makin meninggi diiringi oleh tangis ibuku yang penuh kesedihan. Dan aku pun berlari menuju kamarku. Aku memeluk bantalku dan sesekali memukulinya sambil membiarkan tangisku pecah di situ. Sungguh sedih rasanya... harus menyaksikan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan itu. Aku kembali bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ayah dan ibu harus bertengkar? Bukankah bertengkar itu kebiasaan seorang anak kecil? Lalu kenapa ayah dan ibu yang sudah sangat dewasa, masih perlu bertengkar? Kenapa ayah harus marah-marah sampai membuat ibu menangis? Dan kenapa ibu hanya diam saja dibentak-bentak seperti itu oleh ayah? Apakah ibu menerima kata-kata ayah yang sangat kasar itu begitu saja? Kenapa tidak ada perlawanan dari ibu untuk sekedar membela diri?
Jika kelak aku berumah tangga, apakah aku juga akan mengalami seperti itu? Apakah kelak aku juga akan bertengkar dengan suamiku? Lalu untuk apa manusia menikah jika pada akhirnya harus saling menyakiti? Apakah CINTA kini sudah tak cukup kuat untuk menghindarkan sebuah pertengkaran? Ya Tuhan... di manakah sesungguhnya kedamaian di dunia ini berada? Apakah tidak ada tempat untuk aku bisa menemukan kedamaian yang tanpa pertengkaran?
Tuhan... aku pikir berada di tengah keluarga adalah tempat yang paling damai di dunia. Tapi apakah jika keadaannya seperti ini, itu juga salah satu bentuk kedamaian? Aku rasa tidak... Aku mohon bantu aku ya Tuhan, hentikan pertengkaran ayah dan ibuku. Harus berapa lama lagi ibuku menangis sedih seperti tadi? Harus berapa lama lagi ayahku terus menyakiti hati ibuku? Tolonglah aku ya Tuhan, tolonglah aku...!!!!
Aku terus saja menangis dan mengeluarkan sederetan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku. Meskipun aku tahu, aku tidak akan mendapatkan jawabannya saat itu juga, tapi setidaknya aku bisa merasa sedikit lega setelah mengosongkan pikiranku dari pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga aku tak sempat untuk menilik jam di dinding, untuk tahu sudah berapa lama ayah dan ibu bertengkar. Sekarang sudah jam 7 malam, tapi rasanya seperti sudah jam 12 malam. Rumahku yang biasanya masih terdengar suara ayah, ibu, aku dan adik-adikku yang bersenda gurau... kini tak ubahnya seperti rumah tinggal yang tak berpenghuni. Hening, sepi, mencekam dan menyeramkan.
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku, karena jika tidak kulakukan maka aku tidak akan bisa belajar dengan tenang. Aku harus mengompres mataku yang sudah mulai membengkak dan membersihkan ingus yang muncul gara-gara aku menangis tadi. Sesekali telingaku mencari-cari sumber suara, untuk memastikan apakah pertengkaran ayah ibu sudah usai ataukah masih harus menunggu ke babak selanjutnya. Sepertinya sudah tidak terdengar suara sama sekali dari ruang tamu, tapi aku tidak tahu apa kabar dengan pertengkaran ayah dan ibu. Akhirnya untuk mengobati rasa penasaranku, aku mengendap-endap seperti pencuri, menuju ke ruang tamu. Aku mulai mengintip dari balik gorden jendela yang memisahkan ruang tamu dengan ruang makan. Mataku menelusur ke setiap penjuru ruang tamu dan ternyata................ KOSONG. Aku memastikan sekali lagi apakah benar ayah dan ibu sudah tidak ada lagi di ruang tamu dan hasilnya adalah memang benar sekarang tidak seorang pun berada di ruang tamu.
Syukurlah.... peperangan sudah berakhir. Kataku sambil mengelus dada. Aku kembali ke kamar dan duduk di depan meja belajar. Niatnya sih mau belajar, tapi kejadian tadi membuat pikiranku terbang ke mana-mana.
Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhhhhh... Kenapa aku tidak bisa konsentrasi sih? Huhhhhhh... Sekarang aku mencoret-coret buku yang ada di depanku untuk melampiaskan kekesalanku. Aku benci pada diriku sendiri kenapa aku masih saja memikirkan pertengkaran ayah dan ibu, bukankah perang sudah usai? Hai pikiran, kenapa sih kau ini? Apa maumu sebenarnya? Apa????
Kamu mau aku mencari cara untuk menyadarkan ayah ibuku?
Bagaimana caranya?
Aku harus memikirkannya sendiri?
Tapi aku tidak tahu apa yang bisa membuat ayah ibuku berhenti bertengkar. Mereka sudah terlalu sering bertengkar, bertengkar dan bertengkar. Mereka tidak pernah bosan untuk mengulanginya dan mengulanginya lagi. Lantas sekarang kamu memintaku untuk mencari cara untuk menghentikan pertengkaran itu? Itu sangat mustahil, mereka tidak akan mungkin berhenti bertengkar kalau bukan mereka sendiri yang menginginkannya dan mengupayakannya.
Huuuffffffffffpppp... kau memang payah, tapi baiklah aku akan coba pikirkan sekarang.
Dengan jari telunjuk di dahi, aku berlagak seperti sedang serius berpikir. Masih mending kalau aku segera menemukan jawabannya, tapi kali ini tidak ada sama sekali yang terbayang di pikiranku tentang apa yang sebaiknya kulakukan.
Aku pernah menonton sebuah sinetron. Di salah satu bagian ceritanya ada juga yang mengisahkan tentang pertengkaran orang tua. Sama denganku juga sih, sang anak yang melihatnya cuma bisa menangis di dalam kamar dan tidak berani berbuat apa-apa. Sampai akhirnya, anak itu memutuskan untuk.....................
Ya.... aku tahu sekarang. Mungkin aku bisa mencobanya, siapa tahu dengan begitu ayah dan ibu sadar kalau bertengkar di depan anak-anak itu bukanlah sesuatu yang baik. Kalau mereka bertengkar harusnya di dalam kamar dan tanpa sepengetahuan anak-anak. Akan lebih baik lagi kalau mereka tidak pernah bertengkar sama sekali. Baiklah, terima kasih sinetron... kau telah memberiku ilham dan sekarang aku akan mempraktekkannya. Apakah hasilnya nanti sama seperti di sinetron itu, entahlah... aku tidak akan tahu sebelum mencobanya sendiri. I WILL DO IT NOW.
Dan keesokan harinya....
"Aku nggak tahu... ke mana aku harus mencarimu? Semalam kamu nggak mengatakan dengan jelas, di mana sedang berada? Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kenapa kamu nggak mau dengerin kata-kataku? Apa sebenarnya yang kamu rasakan? Kenapa tidak kamu bagikan denganku seperti yang kau lakukan biasanya? Ya Tuhan... aku mohon, tolong kuatkan tubuh ini untuk mencarinya. Meskipun aku tidak tahu dia di mana, tapi biarkan hari ini aku terus mencarinya... Semoga aku bisa menemukan setidaknya sedikit petunjuk mengenai keberadaannya." (*)
Dalam diamku, pikiranku melayang jauh melihat kembali ke masa lalu. Aku hanya bisa terheran-heran saja, kenapa saat ini kudengar ayah begitu semangat memaki-maki ibu, mengeluarkan kata-kata yang merusak hati ibuku dan sesekali melakukan permainan tangan yang menurutku sangat kejam bahkan tidak manusiawi. Bagaimana mungkin seseorang yang dahulu pernah mengikrarkan CINTA kepada ibuku, sekarang melakukan semua itu? Bagaimana mungkin ayah menikahi ibu jika pada akhirnya ayah memperlakukan ibu seperti ini? Aku sungguh tidak mengerti, atau memang demikian cara ayah untuk menyampaikan rasa sayangnya sama ibu? Aku rasa bukan... Aku rasa ini bukan cinta dan ini juga bukan kasih sayang...Ini tak lebih dari hawa nafsu kemarahan.
Pranggggggggggggggggggggg.....!!!!!!!!!!!!!!
Apa itu yang pecah? Apa yang dilempar ayah? Apakah ayah melemparnya ke arah ibu? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa ibu baik-baik saja? Ya Tuhan begitu ingin rasanya aku melihat ibuku. Aku benar-benar ingin memastikan apakah ibuku baik-baik saja, tapi Tuhan... aku takut. Aku takut untuk menyaksikan semua itu. Aku juga takut kalau-kalau nanti, gantian aku yang jadi sasaran kemarahan ayah. Ya Tuhan... harus bagaimanakah aku sekarang? Apakah Engkau tidak bisa menyadarkan ayahku untuk berhenti menyakiti ibuku? Aku rasa... mungkin tidak untuk saat ini. Aku sungguh bingung, Tuhan, aku takut.... Sekarang ini, akulah anak yang paling tua di rumah. Memang seharusnya aku bisa melakukan sesuatu untuk menjadi penengah antara ayah dan ibu, tapi aku tidak punya keberanian ya Tuhan. Aku benar-benar takut. Jika aku saja setakut ini, bagaimana mungkin aku menyuruh adikku untuk mengambil alih tanggung jawabku. Tidak mungkin... itu tidak mungkin. Aku tak melihat adik-adikku sedari tadi, mereka ada di dalam kamarnya masing-masing. Mungkinkah di dalam kamar, mereka juga sama takutnya denganku??
Aku pun mulai tidak tahan mendengar suara ayahku yang makin meninggi diiringi oleh tangis ibuku yang penuh kesedihan. Dan aku pun berlari menuju kamarku. Aku memeluk bantalku dan sesekali memukulinya sambil membiarkan tangisku pecah di situ. Sungguh sedih rasanya... harus menyaksikan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan itu. Aku kembali bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ayah dan ibu harus bertengkar? Bukankah bertengkar itu kebiasaan seorang anak kecil? Lalu kenapa ayah dan ibu yang sudah sangat dewasa, masih perlu bertengkar? Kenapa ayah harus marah-marah sampai membuat ibu menangis? Dan kenapa ibu hanya diam saja dibentak-bentak seperti itu oleh ayah? Apakah ibu menerima kata-kata ayah yang sangat kasar itu begitu saja? Kenapa tidak ada perlawanan dari ibu untuk sekedar membela diri?
Jika kelak aku berumah tangga, apakah aku juga akan mengalami seperti itu? Apakah kelak aku juga akan bertengkar dengan suamiku? Lalu untuk apa manusia menikah jika pada akhirnya harus saling menyakiti? Apakah CINTA kini sudah tak cukup kuat untuk menghindarkan sebuah pertengkaran? Ya Tuhan... di manakah sesungguhnya kedamaian di dunia ini berada? Apakah tidak ada tempat untuk aku bisa menemukan kedamaian yang tanpa pertengkaran?
Tuhan... aku pikir berada di tengah keluarga adalah tempat yang paling damai di dunia. Tapi apakah jika keadaannya seperti ini, itu juga salah satu bentuk kedamaian? Aku rasa tidak... Aku mohon bantu aku ya Tuhan, hentikan pertengkaran ayah dan ibuku. Harus berapa lama lagi ibuku menangis sedih seperti tadi? Harus berapa lama lagi ayahku terus menyakiti hati ibuku? Tolonglah aku ya Tuhan, tolonglah aku...!!!!
Aku terus saja menangis dan mengeluarkan sederetan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku. Meskipun aku tahu, aku tidak akan mendapatkan jawabannya saat itu juga, tapi setidaknya aku bisa merasa sedikit lega setelah mengosongkan pikiranku dari pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga aku tak sempat untuk menilik jam di dinding, untuk tahu sudah berapa lama ayah dan ibu bertengkar. Sekarang sudah jam 7 malam, tapi rasanya seperti sudah jam 12 malam. Rumahku yang biasanya masih terdengar suara ayah, ibu, aku dan adik-adikku yang bersenda gurau... kini tak ubahnya seperti rumah tinggal yang tak berpenghuni. Hening, sepi, mencekam dan menyeramkan.
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku, karena jika tidak kulakukan maka aku tidak akan bisa belajar dengan tenang. Aku harus mengompres mataku yang sudah mulai membengkak dan membersihkan ingus yang muncul gara-gara aku menangis tadi. Sesekali telingaku mencari-cari sumber suara, untuk memastikan apakah pertengkaran ayah ibu sudah usai ataukah masih harus menunggu ke babak selanjutnya. Sepertinya sudah tidak terdengar suara sama sekali dari ruang tamu, tapi aku tidak tahu apa kabar dengan pertengkaran ayah dan ibu. Akhirnya untuk mengobati rasa penasaranku, aku mengendap-endap seperti pencuri, menuju ke ruang tamu. Aku mulai mengintip dari balik gorden jendela yang memisahkan ruang tamu dengan ruang makan. Mataku menelusur ke setiap penjuru ruang tamu dan ternyata................ KOSONG. Aku memastikan sekali lagi apakah benar ayah dan ibu sudah tidak ada lagi di ruang tamu dan hasilnya adalah memang benar sekarang tidak seorang pun berada di ruang tamu.
Syukurlah.... peperangan sudah berakhir. Kataku sambil mengelus dada. Aku kembali ke kamar dan duduk di depan meja belajar. Niatnya sih mau belajar, tapi kejadian tadi membuat pikiranku terbang ke mana-mana.
Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhhhhh... Kenapa aku tidak bisa konsentrasi sih? Huhhhhhh... Sekarang aku mencoret-coret buku yang ada di depanku untuk melampiaskan kekesalanku. Aku benci pada diriku sendiri kenapa aku masih saja memikirkan pertengkaran ayah dan ibu, bukankah perang sudah usai? Hai pikiran, kenapa sih kau ini? Apa maumu sebenarnya? Apa????
Kamu mau aku mencari cara untuk menyadarkan ayah ibuku?
Bagaimana caranya?
Aku harus memikirkannya sendiri?
Tapi aku tidak tahu apa yang bisa membuat ayah ibuku berhenti bertengkar. Mereka sudah terlalu sering bertengkar, bertengkar dan bertengkar. Mereka tidak pernah bosan untuk mengulanginya dan mengulanginya lagi. Lantas sekarang kamu memintaku untuk mencari cara untuk menghentikan pertengkaran itu? Itu sangat mustahil, mereka tidak akan mungkin berhenti bertengkar kalau bukan mereka sendiri yang menginginkannya dan mengupayakannya.
Huuuffffffffffpppp... kau memang payah, tapi baiklah aku akan coba pikirkan sekarang.
Dengan jari telunjuk di dahi, aku berlagak seperti sedang serius berpikir. Masih mending kalau aku segera menemukan jawabannya, tapi kali ini tidak ada sama sekali yang terbayang di pikiranku tentang apa yang sebaiknya kulakukan.
Aku pernah menonton sebuah sinetron. Di salah satu bagian ceritanya ada juga yang mengisahkan tentang pertengkaran orang tua. Sama denganku juga sih, sang anak yang melihatnya cuma bisa menangis di dalam kamar dan tidak berani berbuat apa-apa. Sampai akhirnya, anak itu memutuskan untuk.....................
Ya.... aku tahu sekarang. Mungkin aku bisa mencobanya, siapa tahu dengan begitu ayah dan ibu sadar kalau bertengkar di depan anak-anak itu bukanlah sesuatu yang baik. Kalau mereka bertengkar harusnya di dalam kamar dan tanpa sepengetahuan anak-anak. Akan lebih baik lagi kalau mereka tidak pernah bertengkar sama sekali. Baiklah, terima kasih sinetron... kau telah memberiku ilham dan sekarang aku akan mempraktekkannya. Apakah hasilnya nanti sama seperti di sinetron itu, entahlah... aku tidak akan tahu sebelum mencobanya sendiri. I WILL DO IT NOW.
Dan keesokan harinya....
"Aku nggak tahu... ke mana aku harus mencarimu? Semalam kamu nggak mengatakan dengan jelas, di mana sedang berada? Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kenapa kamu nggak mau dengerin kata-kataku? Apa sebenarnya yang kamu rasakan? Kenapa tidak kamu bagikan denganku seperti yang kau lakukan biasanya? Ya Tuhan... aku mohon, tolong kuatkan tubuh ini untuk mencarinya. Meskipun aku tidak tahu dia di mana, tapi biarkan hari ini aku terus mencarinya... Semoga aku bisa menemukan setidaknya sedikit petunjuk mengenai keberadaannya." (*)
Puzzle 4
Diposting oleh
Puzzle of Me
on September 29, 2010
/
Comments: (0)
Jakarta... Tak kusangka sekarang di sinilah aku berdiam. Kota yang tak pernah terbayang sedikit pun di benakku untuk kujadikan tempat bernaung, namun ternyata takdir menuntunku sampai di kota ini. Kota yang penuh sesak manusia dengan segala kompleksitasnya, akhirnya aku tak bisa lagi mengelak darinya. Dahulu mungkin aku sering bertanya-tanya kenapa Jakarta menjadi kota favorit sebagai tempat untuk merantau dan mengadu nasib, kenapa setiap Sarjana yang baru lulus selalu antusias mencari pekerjaan di kota ini? Akhirnya aku tahu jawabannya, karena di sini segala sesuatu bisa jadi uang. Hal sekecil apapun selalu bisa dihargai dengan selembar uang, sehingga banyak orang terpikat dengan daya tarik itu. Namun tak begitu denganku, mencari uang bukanlah alasan aku berada di kota yang selalu identik dengan kemacetan ini, tapi aku sedang berusaha melarikan diri dari duniaku. Mengubur segala bentuk permasalahan yang kutinggalkan di kota asalku, sekedar mencari kedamaian dan keteduhan agar aku bisa melanjutkan hidupku. Aku telah lama kehilangan kenyamanan berada di kota asalku, entah kenapa langkah kaki ini membawaku sampai ke ibukota negara ini, yang pasti aku hanya menurutkan kata hatiku.
Ternyata menyenangkan juga menikmati kota Jakarta ketika Jakarta tertidur dari segala bentuk pluralitasnya. Masih bisa kurasakan udara yang sejuk bebas dari polusi kendaraan di pagi hari ini, tak jauh berbeda dengan kota asalku. Aku merasa seperti ratu jalanan, karena jalan ini sedang tidak dipenuhi kendaraan bermesin seperti ketika siang mulai datang. Andaikan setiap saat selalu bisa seperti ini, mungkin aku bisa mulai tergoda untuk menghabiskan hidupku berlama-lama di kota ini. Namun tentunya bukan sekarang, karena sekarang ini Jakarta hanyalah salah satu tempat persinggahan sementaraku. Jika aku mulai terusik dan tak lagi merasa aman, maka aku takkan berpikir dua kali lagi untuk segera beralih dari kota ini. Seperti kelinci yang melompat ke sana kemari, seperti itulah aku sekarang ini, berpindah dari kota yang satu ke kota yang lain sudah menjadi kesenangan baruku. Hidup di jalanan bukan lagi jadi hal yang menakutkan untukku, karena ternyata itu jauh lebih nikmat dibandingkan dengan hidup di balik terali besi. Yang pasti.... di Jakarta kini aku tengah merenda kisah baru di balik jeruji sang waktu. (*)
Ternyata menyenangkan juga menikmati kota Jakarta ketika Jakarta tertidur dari segala bentuk pluralitasnya. Masih bisa kurasakan udara yang sejuk bebas dari polusi kendaraan di pagi hari ini, tak jauh berbeda dengan kota asalku. Aku merasa seperti ratu jalanan, karena jalan ini sedang tidak dipenuhi kendaraan bermesin seperti ketika siang mulai datang. Andaikan setiap saat selalu bisa seperti ini, mungkin aku bisa mulai tergoda untuk menghabiskan hidupku berlama-lama di kota ini. Namun tentunya bukan sekarang, karena sekarang ini Jakarta hanyalah salah satu tempat persinggahan sementaraku. Jika aku mulai terusik dan tak lagi merasa aman, maka aku takkan berpikir dua kali lagi untuk segera beralih dari kota ini. Seperti kelinci yang melompat ke sana kemari, seperti itulah aku sekarang ini, berpindah dari kota yang satu ke kota yang lain sudah menjadi kesenangan baruku. Hidup di jalanan bukan lagi jadi hal yang menakutkan untukku, karena ternyata itu jauh lebih nikmat dibandingkan dengan hidup di balik terali besi. Yang pasti.... di Jakarta kini aku tengah merenda kisah baru di balik jeruji sang waktu. (*)
Puzzle 3
Diposting oleh
Puzzle of Me
/
Comments: (1)
"Kenapa sih pada ke sana semua ?"
"Lho kamu belum tahu ya? Ada anak baru di kelas kita ?"
"Anak baru? Masak sih? Laki-laki atau perempuan ?"
"Perempuanlah... lihatin aja tuh temen laki-laki kita pada berebut pengen kenalan sama dia. Kamu nggak mau ikutan kenalan sama anak baru itu ?"
"Enggak deh, entar kalau udah waktunya kenal juga kenal sendiri kok, nggak perlu ikut-ikutan heboh. Emang anaknya cantik ya sampai pada segitunya ?"
"Ehmm.. lumayan cantik sih anaknya, baik juga orangnya."
"Sejak kapan kamu kenal dia, bukannya dia baru masuk hari ini. Bagaimana mungkin kamu bisa langsung bilang kalau dia itu baik? Orang itu kalau pertama-tama mesti yang ditunjukin yang baik-baiknya dulu, belakangan baru deh kelihatan aslinya..."
"Eh kamu kenapa sih, kok sinis gitu nadanya? Kayaknya kamu nggak suka ya sama anak baru itu? Emang dia ada bikin salah apa sama kamu ?"
"Ah enggak juga... Cuma perasaan kamu aja. Aku biasa-biasa aja kok."
Sebenarnya kalau boleh jujur, aku memang tidak terlalu suka dengan kedatangan murid baru itu. Habisnya hampir semua perhatian teman-temanku tercurah sama dia. Sebelum lonceng tanda pelajaran dimulai itu dibunyikan, biasanya aku bermain sama teman-teman, main lompat tali, main gobag sodhor atau main sudah mandah. Tapi pagi ini, yang membuatku kesal adalah nggak ada seorang pun yang bisa aku ajakin main, karena semuanya pada pengen kenalan sama anak baru itu. Uhhhhh kenapa sih harus ada anak baru itu? Aku nggak mau ah kenalan sama dia... sepertinya dia akan mengambil perhatian teman-temanku... Sambil duduk di taman kelas, aku menggerutu sendirian, sampai akhirnya ada seorang temanku yang bernama Ista datang mendekatiku.
"Kamu ngapain duduk sendirian di sini ?"
"Ehmm... nggak papa."
"Sepertinya kamu sedang kesal ya? Ada apa emangnya ?"
Yang dibilang Ista barusan emang nggak salah sih, aku emang lagi kesal sama anak baru itu. Aku nggak tahu siapa namanya dan aku belum ada niat untuk mencari tahu. Yang jelas bagiku, dia tak ubahnya seperti seorang pengacau yang memporak-porandakan rutinitas harianku bersama temen-temen. Aku tahu kalau anak baru itu pasti nggak tahu apa-apa soal ini, tapi kenapa dia harus menyedot perhatian temen-temen? Kenapa temen-temen jadi terlihat sangat antusias sama dia? Di situlah letak kesalahannya. Mau dia tahu atau enggak, kepindahan dia ke sekolah ini tetep aja salah di mataku. TITIK NGGAK ADA KOMA.
"Masuk kelas yuk... Kamu pasti belum kenalan sama anak baru itu, ya kan ?"
Aduh Tuhan... kenapa Ista jadi ikutan terjangkit sindrom anak baru itu sih, pakai acara ngajakin aku masuk kelas cuma buat kenalan sama anak baru itu. Ihhhhhhh amit-amit deh, ogah aku... najis Inggris cuiiiiiiihhhh... Begitulah umpatku dalam hati. Kedengarannya kasar sih, tapi untung aja cuma dalam hati aku aja, jadi Ista nggak perlu tahu kalau ternyata aku sedang mengumpat anak baru itu.
"Kamu masuk aja duluan, aku nanti nyusul deh."
Begitulah aku berdalih, biar nggak kelihatan terlalu vulgar di mata Ista kalau aku sebenarnya nggak berminat untuk kenalan sama anak baru itu. Rasanya aku pengen hari ini diliburkan saja, aku mulai malas melanjutkan kelasku dengan seragam putih merahku ini. Aku pengen segera pulang dan berharap tidak bertemu dengan anak baru itu. Kedatangan anak baru di SD-ku yang tercinta ini sepertinya akan menjadi mimpi buruk bagiku.
Sepulang sekolah hari ini, aku langsung menuju kamarku. Aku terdiam sejenak dan mulai menerawang. Kejadian di sekolah hari ini membuatku teringat pada saat-saat aku berkumpul dengan saudara-saudara sepupuku sewaktu Lebaran datang. Ya memang mungkin sudah menjadi tradisi hampir semua keluarga di negara ini, bahwa ketika Lebaran hampir semua orang mudik atau pulang ke kampung halamannya. Biasanya kalau nenek dan kakek masih lengkap, mereka berkumpul di rumah nenek kakek. Tak berbeda jauh dengan tradisi di keluargaku. Setiap Lebaran datang, aku bersama keluarga datang berbondong-bondong ke rumah nenek kakek yang sebenarnya masih satu kota dengan rumahku. Di sana pasti sudah ada pakdhe budhe serta om dan tante yang lengkap dengan anak-anak mereka masing-masing. Ya... merekalah yang disebut dengan saudara-saudara sepupuku.
Keluarga nenek kakek menurutku termasuk keluarga besar, bukan karena badannya besar-besar tapi karena jumlah anggota keluarganya yang cukup banyak. Nenek kakek mempunyai 8 orang anak dengan 7 orang di antaranya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak-anak, sedangkan untuk anak nenek kakek yang paling bungsu, yang biasa aku panggil dengan sebuatan Om Arta, belum menikah pada waktu itu. Biasanya ada 2 kubu tercipta di sini, yang satu kubu golongan orang tua-tua dan satunya lagi kubu orang muda bercampur anak kecil. Hal itu lumrah terjadi karena memang tidak mudah untuk menyatukan obrolan antara orang tua, anak muda dan juga anak-anak. Namun karena anak mudanya hanya Om Arta saja, maka dia bergabung dengan anak-anak.
Om Arta selalu ikut bermain dengan kami, anak-anak yang masih kecil-kecil dan kami pun juga tidak merasa keberatan kalau Om Arta ikut bergabung, karena akan ada yang menjaga kami semua ketika kami sedang bermain. Namun aku merasa Om Arta itu pilih kasih, hanya dengan aku saja. Aku tidak cukup mengerti apakah itu cuma pikiranku saja atau memang demikian adanya. Contohnya saja begini, suatu hari Om Arta baru saja membeli kaset musik baru dan dia memamerkannya pada kami semua. Kami yang masih anak kecil, yang sebenarnya tidak terlalu paham juga kaset apa yang dibeli Om Arta, menunjukkan antusias seolah-olah kami tertarik dengan kaset itu dan ingin mendengarkannya. Tapi ketika Om Arta hendak memutar kaset itu di radio tape-nya, Om Arta tidak mengijinkan kami masuk ke dalam kamarnya sekaligus. Mungkin Om Arta ingin kami mendengarnya secara bergantian barangkali, biar tidak terlalu gaduh di dalamnya, begitulah yang ada di pikiranku saat itu. Akhirnya aku dan saudara-saudara sepupuku mengantri untuk mendapatkan giliran. Dan satu per satu dari kami pun pada akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kaset itu, terkecuali aku.
Iya benar... Semuanya sudah diajak masuk ke dalam kamar Om Arta dan sudah mendengar kaset itu, tapi sampai dengan Om Arta keluar dari kamarnya, hanya aku yang tak diberi kesempatan untuk mendengar kaset itu. Saat itulah pertama kalinya aku merasa bahwa aku ini tidak dianggap ada oleh Om Arta. Bahkan dengan tanpa merasa bersalah sedikit pun, Om Arta mengajak semua saudara sepupuku untuk main petak umpet di halaman setelah itu. Dan lagi-lagi aku tidak diajaknya turut bermain. Mungkin aku bisa saja menangis dan mengadu pada ayah atau ibu, tapi aku tidak melakukan itu. Aku berusaha berlari menyusul Om Arta dan merengek padanya,
"Bolehkah aku ikut bermain petak umpet juga, Om ?"
Tak kutunjukkan wajah memelas sedikit pun di depan Om Arta, tapi sebaliknya aku berusaha tersenyum semanis mungkin supaya Om Arta mengijinkan aku untuk ikut bermain. Entah karena kesengsem dengan senyumanku kah atau hanya karena lantaran kasihan padaku, aku tidak peduli, yang terpenting akhirnya Om Arta mengijinkanku untuk ikut bermain petak umpet bersama saudara-saudara sepupuku.
Sejak hari itu, sekali lagi aku mau bilang kalau aku mulai sadar bahwa tidak semua orang menganggap aku ini ada, salah satunya adalah Om Arta. Namun meskipun demikian, aku belum punya kuasa apa-apa untuk memberontak, aku hanya bisa bersikap manis bahkan lebih manis dari aku yang sebenarnya untuk dapat menarik simpati dari Om Arta. Selalu begitu tiap kali aku hendak turut bermain dengan mereka. Aku selalu harus cari muka dulu, entah itu ngebaik-baikin Om Arta atau apa sajalah yang bisa kulakukan akan aku tak lagi disingkirkan. Aku cukup bisa menerimanya sebagai sebuah kewajaran waktu itu. Tapi tidak untuk sekarang ini.... Apakah aku harus melakukan hal yang sama kepada anak baru itu? Apa perlu aku cari muka di depan dia, agar bisa mendapatkan atensi teman-temanku lagi? Ah rasanya... tidak akan kulakukan.
Mungkin aku mulai mengerti arti sebuah kata GENGSI. Dari situlah aku memutuskan untuk tidak berusaha mencari tahu lebih banyak tentang anak baru itu sebelum dia duluan yang mencari tahu tentang aku. Meskipun sekarang ini teman-teman lebih banyak memperhatikan dia ketimbang aku, aku tidak akan tunduk dan menyerah pada pesonanya. Itu janjiku pada diriku sendiri.
Keesokan harinya...
Aku kembali mengayuh sepedaku menuju ke SD Negeri Plumbungan 2, salah satu sekolah dasar di keluarahan Plumbungan. Memang sih sekolahku tidak termasuk sekolah kota, tapi aku cukup senang bersekolah di situ karena ada halaman dan lapangan yang luas untuk tempat bermain yang leluasa. Ketika kami berolahraga, kami semua tidak perlu bingung mencari lahan karena kami sudah punya lapangan yang sangat luas. Kami bisa bermain kasti, lompat jauh, lompat tinggi, sepakbola, volly, lari sprint dan bahkan lari estafet, yang pasti kecuali renang lho, kalau yang satu itu sekolahku nggak punya kolam renang soalnya. Selain itu, sekolah kami pun jauh dari keramaian kota sehingga kami bisa belajar dengan tenang di sini. Rasanya menyenangkan sekali bisa sekolah di sini.
Tapi semuanya pasti akan terasa berbeda setelah kedatangan anak baru itu. Aku tidak tahu apakah masih akan menyenangkan bersekolah di sini?
"Wah ternyata lompatan kamu tinggi juga ya!! Hebat sekali kamu..."
Aku berhenti sejenak ketika aku hendak memasuki ruang kelas. Mataku tertuju pada teman-temanku yang sedang bermain lompat tali dengan anak baru itu dan baru saja aku mendengar mereka sedang memuji anak baru itu. Aku tidak sedang salah dengar, bahkan malah telingaku sangat jelas sekali mendengar pujian untuk anak baru itu karena suara teriakan teman-temanku yang sangat keras. Aku memandang iri kepada anak baru itu, karena dia mendapat begitu banyak perhatian dari teman-teman padahal baru 2 hari dia berada di sekolah ini.
"Cuman segitu aja, aku juga bisa..."
Aku bergumam sendiri untuk membuat diriku percaya diri lagi bahwa aku juga pasti bisa melakukan seperti yang anak baru itu lakukan. Tapi aku tidak akan bergabung bermain dengan teman-teman karena tali yang digunakan untuk bermain itu adalah tali milik anak baru itu.
"Aku nggak sudi main dengan anak baru itu.."
Sepulang sekolah, aku langsung meminta uang kepada ibu untuk membeli tali. Aku berlatih giat untuk melompati tali itu setinggi-tingginya, berharap aku bisa menunjukkan kepada teman-teman kalau aku pun tidak kalah dengan anak baru itu. Berulang kali aku mencoba melompat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Meskipun semakin banyak keringat yang bercucuran dari tubuhku, rasanya aku tak mempedulikannya. Yang ingin aku lakukan adalah menjadi lebih baik dari anak baru itu dan aku akan menunjukkannya kepada teman-teman. Aku yakin teman-teman pasti akan kembali memperhatikanku jika aku bisa menjadi lebih hebat dari anak baru itu. Lihat saja nanti, anak baru, tunggu pembalasan dariku!!!
"Wah kamu bawa tali baru ya... Asyik nih, jadi ada 2 orang yang punya tali di kelas kita sekarang. Kamu dan juga Novia..."
Ohhh.. jadi nama anak baru itu Novia ya. Boleh juga namanya... tapi lihat saja, aku nggak akan ijinkan si Novia itu mencuri perhatian teman-temanku.
"Bagaimana kalau istirahat nanti kita main lompat tali bareng? Aku ikut main denganmu ya..."
"Aku juga ya... duhh nggak sabar pengen cepet-cepet istirahat."
"Iya nih, aku juga ikutan ya..."
Aku melirik ke arah Novia seakan ingin menunjukkan padanya bahwa aku mulai berhasil merebut kembali perhatian teman-teman yang dicuri olehnya. Perlahan-lahan kamu akan merasakan bagaimana rasanya diacuhkan oleh teman-teman seperti yang aku rasakan 2 hari kemarin. Itu pelajaran untuk kamu, Novia, biar kamu nggak seenak-enaknya di sini, jangan mentang-mentang kamu anak baru lantas kamu merasa pantas diperlakukan secara istimewa sama semua orang di sekolah ini. Pasti aku takkan membiarkannya begitu saja. Tatapan mataku semakin menajam ke arah Novia, aku bahkan nggak peduli Novia akan mengartikan seperti apa tatapanku yang seperti ini. Syukur syukur... dia bisa ngerti maksud yang tak tersampaikan dari kedua bola mataku ini.
Jam istirahat pun akhirnya tiba juga...
Teman-teman segera mencari tempat yang teduh dan mulai bersiap-siap untuk bermain lompat tali bersamaku. Mula-mula ada 5 orang yang ikut bermain, namun tak berapa lama kemudian satu per satu mulai berdatangan dan sudah ada 12 orang sekarang yang siap bermain lompat tali bersamaku. Di kelas totalnya ada 16 murid perempuan, jadi kesimpulannya hampir semuanya kini berada di pihakku, sedangkan sisanya aku lihat masih setia dengan Novia si anak baru itu.
"Waduh kenapa yang pegang tali kalian berdua sih? Jadinya tinggi banget kan sekarang... aduh aku nggak akan bisa melompat setinggi itu."
Inilah saatnya aku tunjukkan kepada teman-teman, kemampuanku yang sebenarnya yang tidak kalah dengan Novia.
"Tenang aja teman-teman, aku bisa kok melompatinya... nanti kalian 'bonceng' aku aja."
BONCENG itu istilah kami dalam permainan lompat tali ini. Maksudnya adalah ada salah satu dari kami yang harus bisa melompat tali dan setelah itu pemain yang lainnya tidak perlu melompat, mereka bisa diselamatkan oleh salah satu pemain yang berhasil melompati tali. Kurang lebih seperti itulah yang aku tawarkan kepada teman-teman yang mengaku menyerah untuk melompat, karena kebetulan yang memegang tali saat itu badannya tinggi-tinggi.
"Kamu yakin kalau kamu bisa ?"
"Akan aku coba..." Jawabku sambil tersenyum kepada salah seorang temanku.
"Baiklah kalau begitu, kami akan mendukungmu... Ayo kamu pasti bisa."
"Iya benar... kami mendukungmu, kamu pasti bisa."
Teriakan dukungan teman-teman membuat kepercayaan diriku semakin bertambah dan aku menjadi semakin yakin kalau aku pasti bisa melompati tali yang tinggi itu. Aku mulai memasang kuda-kuda bersiap-siap untuk lari sekencang mungkin dan melompat setinggi-tingginya dan huuuuuuuuuuuuuupppppppp..... akhirnya aku berhasil. Yihaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... YES...
"Wah kamu hebat..."
"Iya kamu hebat banget sih. Aku nggak nyangka kamu bisa melompat setinggi itu."
Dalam hati aku tertawa puas dan sambil melirik ke arah Novia yang ternyata sedari tadi sedang memperhatikan permainanku bersama teman-teman.
"Bagaimana Novia? Apakah kamu mau menyerah denganku? Apakah kamu mau mengakui kemampuanku sekarang? Makanya jangan pernah coba-coba ambil teman-teman dariku..." Kataku dalam hati sambil masih belum melepaskan lirikanku pada Novia.
"Sejak kapan kamu bisa melompat setinggi ini? Aku baru tahu lho..."
"Iya... padahal tadi itu tinggi sekali."
"Iya kamu bener-bener hebat, kami saja nggak bisa melompat setinggi kamu."
"Ternyata kamu lebih hebat dari Novia..."
"Iya aku setuju. Kemarin lompatan Novia juga tinggi banget, tapi nggak setinggi kamu hari ini."
Itulah yang aku tunggu dari kemarin-kemarin. Akhirnya sekarang teman-teman mengakui kalau lompatanku jauh lebih hebat dibandingkan Novia. Hufffppp ternyata nggak sia-sia aku berlatih kemarin. Kini teman-teman telah kembali padaku. Aku senang sekali. Novia, kamu harus mulai mengakui kalau aku lebih jago daripada kamu, jadi aku harap kamu nggak perlu sok-sokan pamer ke teman-teman, karena aku akan selalu mengalahkan kamu.
Ketika aku sudah lelah bermain lompat tali, akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengambil bekal minuman kami masing-masing. Namun tak sengaja aku mendengar ada tiga orang temanku yang sedang duduk di depan kelas sedang bergosip. Aku pun menjadi penasaran dan pura-pura berhenti di depan kelas tapi berlagak tidak sedang menguping pembicaraan mereka.
"Eh... eh... kalian tahu nggak, ada gosip baru nih."
"Gosip apaan emangnya ?"
"Itu si Fariz.. kabarnya kemarin ngirim surat buat Novia."
"Apa? Fariz kirim surat buat Novia. Kamu tahu dari mana ?"
"Aku denger dari Susi. Dia kan duduk sebangku dengan Novia dan si Fariz nitipin suratnya itu lewat Susi."
"Trus trus... isinya apaan ?"
"Iya.. isinya apaan, aku jadi penasaran."
"Pas aku tanyain ke Susi, dia bilang nggak tahu secara lengkap sih karena Novia cuma cerita kalau dalam suratnya itu si Fariz menyatakan perasaannya sama Novia."
"Apa??? Jadi Fariz suka sama Novia ?"
"Sssssssssssssttttt.... kamu jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya. Ntar kalau kedengeran sama yang lain gimana.. Ini rahasia tauuuuuuuuuuuuuu..."
"Maaf... maaf... aku kan nggak sengaja."
"Iya nih... Dasar kamu ini."
"Iya iya... aku kan sudah minta maaf."
"Lain kali ati-ati kalau mau ngomong..."
Ohhh.. jadi ceritanya Novia udah mulai menggaet hati temen-temen cowokku rupanya dan kali ini Fariz yang jadi korban pertamanya. Keterlaluan... ini nggak bisa aku biarkan. Fariz kan selama ini suka sama Ima, kenapa sekarang jadi pindah sama Novia, ini pasti ada yang nggak beres. Aku harus kasih tahu Ima soal ini.
"Apa???? Fariz nembak Novia? Kapan ?"
"Itu dia... aku juga kaget, Im. Aku baru aja denger dari Lia dan kawan-kawan kalau kemarin Fariz nitipin surat ke Susi buat Novia. Dan dari pengakuannya Susi, Fariz tuh suka sama Novia."
"Aku nggak nyangka... Fariz bisa setega itu sama aku."
"Im, kalau menurut aku... bukan Fariz yang salah, tapi ini pasti gara-gara Novia."
"Novia? Bagaimana mungkin kalau ini gara-gara Novia? Novia kan anak baru di sini ?"
"Emang kamu nggak ngelihat apa kelakukan Novia? Kamu nggak merhatiin gimana ganjennya dia sama temen-temen cowok kita? Okay.. sekarang emang baru Fariz yang jadi korbannya, lihat aja besok-besok semua temen cowok kita bakal diembat sama si Novia ganjen itu."
"Ah yang bener aja kamu. Masak sih sampai kayak gitu ?"
"Hemmmmm... kamu buktiin aja sendiri."
Mendengar Fariz ternyata suka sama Novia, membuat aku semakin benci sama dia. Baru saja kemarin dia mencuri perhatian teman-teman dariku, sekarang dia mulai menggaet teman-teman cowokku. Bagaimana aku nggak makin membencinya? Jangan-jangan dia punya rencana untuk jadi bunga kelas, jadi idola para cowok-cowok... Keterlaluan... aku takkan membiarkannya. Aku harus melakukan sesuatu, ya benar... aku harus memikirkan sesuatu untuk menghentikan jangan sampai hal itu benar-benar terjadi. Aku juga tidak pernah rela kalau Novia merebut teman-teman cowok yang disukai oleh teman-teman cewekku. Lihat saja Novia, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. (*)
"Lho kamu belum tahu ya? Ada anak baru di kelas kita ?"
"Anak baru? Masak sih? Laki-laki atau perempuan ?"
"Perempuanlah... lihatin aja tuh temen laki-laki kita pada berebut pengen kenalan sama dia. Kamu nggak mau ikutan kenalan sama anak baru itu ?"
"Enggak deh, entar kalau udah waktunya kenal juga kenal sendiri kok, nggak perlu ikut-ikutan heboh. Emang anaknya cantik ya sampai pada segitunya ?"
"Ehmm.. lumayan cantik sih anaknya, baik juga orangnya."
"Sejak kapan kamu kenal dia, bukannya dia baru masuk hari ini. Bagaimana mungkin kamu bisa langsung bilang kalau dia itu baik? Orang itu kalau pertama-tama mesti yang ditunjukin yang baik-baiknya dulu, belakangan baru deh kelihatan aslinya..."
"Eh kamu kenapa sih, kok sinis gitu nadanya? Kayaknya kamu nggak suka ya sama anak baru itu? Emang dia ada bikin salah apa sama kamu ?"
"Ah enggak juga... Cuma perasaan kamu aja. Aku biasa-biasa aja kok."
Sebenarnya kalau boleh jujur, aku memang tidak terlalu suka dengan kedatangan murid baru itu. Habisnya hampir semua perhatian teman-temanku tercurah sama dia. Sebelum lonceng tanda pelajaran dimulai itu dibunyikan, biasanya aku bermain sama teman-teman, main lompat tali, main gobag sodhor atau main sudah mandah. Tapi pagi ini, yang membuatku kesal adalah nggak ada seorang pun yang bisa aku ajakin main, karena semuanya pada pengen kenalan sama anak baru itu. Uhhhhh kenapa sih harus ada anak baru itu? Aku nggak mau ah kenalan sama dia... sepertinya dia akan mengambil perhatian teman-temanku... Sambil duduk di taman kelas, aku menggerutu sendirian, sampai akhirnya ada seorang temanku yang bernama Ista datang mendekatiku.
"Kamu ngapain duduk sendirian di sini ?"
"Ehmm... nggak papa."
"Sepertinya kamu sedang kesal ya? Ada apa emangnya ?"
Yang dibilang Ista barusan emang nggak salah sih, aku emang lagi kesal sama anak baru itu. Aku nggak tahu siapa namanya dan aku belum ada niat untuk mencari tahu. Yang jelas bagiku, dia tak ubahnya seperti seorang pengacau yang memporak-porandakan rutinitas harianku bersama temen-temen. Aku tahu kalau anak baru itu pasti nggak tahu apa-apa soal ini, tapi kenapa dia harus menyedot perhatian temen-temen? Kenapa temen-temen jadi terlihat sangat antusias sama dia? Di situlah letak kesalahannya. Mau dia tahu atau enggak, kepindahan dia ke sekolah ini tetep aja salah di mataku. TITIK NGGAK ADA KOMA.
"Masuk kelas yuk... Kamu pasti belum kenalan sama anak baru itu, ya kan ?"
Aduh Tuhan... kenapa Ista jadi ikutan terjangkit sindrom anak baru itu sih, pakai acara ngajakin aku masuk kelas cuma buat kenalan sama anak baru itu. Ihhhhhhh amit-amit deh, ogah aku... najis Inggris cuiiiiiiihhhh... Begitulah umpatku dalam hati. Kedengarannya kasar sih, tapi untung aja cuma dalam hati aku aja, jadi Ista nggak perlu tahu kalau ternyata aku sedang mengumpat anak baru itu.
"Kamu masuk aja duluan, aku nanti nyusul deh."
Begitulah aku berdalih, biar nggak kelihatan terlalu vulgar di mata Ista kalau aku sebenarnya nggak berminat untuk kenalan sama anak baru itu. Rasanya aku pengen hari ini diliburkan saja, aku mulai malas melanjutkan kelasku dengan seragam putih merahku ini. Aku pengen segera pulang dan berharap tidak bertemu dengan anak baru itu. Kedatangan anak baru di SD-ku yang tercinta ini sepertinya akan menjadi mimpi buruk bagiku.
Sepulang sekolah hari ini, aku langsung menuju kamarku. Aku terdiam sejenak dan mulai menerawang. Kejadian di sekolah hari ini membuatku teringat pada saat-saat aku berkumpul dengan saudara-saudara sepupuku sewaktu Lebaran datang. Ya memang mungkin sudah menjadi tradisi hampir semua keluarga di negara ini, bahwa ketika Lebaran hampir semua orang mudik atau pulang ke kampung halamannya. Biasanya kalau nenek dan kakek masih lengkap, mereka berkumpul di rumah nenek kakek. Tak berbeda jauh dengan tradisi di keluargaku. Setiap Lebaran datang, aku bersama keluarga datang berbondong-bondong ke rumah nenek kakek yang sebenarnya masih satu kota dengan rumahku. Di sana pasti sudah ada pakdhe budhe serta om dan tante yang lengkap dengan anak-anak mereka masing-masing. Ya... merekalah yang disebut dengan saudara-saudara sepupuku.
Keluarga nenek kakek menurutku termasuk keluarga besar, bukan karena badannya besar-besar tapi karena jumlah anggota keluarganya yang cukup banyak. Nenek kakek mempunyai 8 orang anak dengan 7 orang di antaranya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak-anak, sedangkan untuk anak nenek kakek yang paling bungsu, yang biasa aku panggil dengan sebuatan Om Arta, belum menikah pada waktu itu. Biasanya ada 2 kubu tercipta di sini, yang satu kubu golongan orang tua-tua dan satunya lagi kubu orang muda bercampur anak kecil. Hal itu lumrah terjadi karena memang tidak mudah untuk menyatukan obrolan antara orang tua, anak muda dan juga anak-anak. Namun karena anak mudanya hanya Om Arta saja, maka dia bergabung dengan anak-anak.
Om Arta selalu ikut bermain dengan kami, anak-anak yang masih kecil-kecil dan kami pun juga tidak merasa keberatan kalau Om Arta ikut bergabung, karena akan ada yang menjaga kami semua ketika kami sedang bermain. Namun aku merasa Om Arta itu pilih kasih, hanya dengan aku saja. Aku tidak cukup mengerti apakah itu cuma pikiranku saja atau memang demikian adanya. Contohnya saja begini, suatu hari Om Arta baru saja membeli kaset musik baru dan dia memamerkannya pada kami semua. Kami yang masih anak kecil, yang sebenarnya tidak terlalu paham juga kaset apa yang dibeli Om Arta, menunjukkan antusias seolah-olah kami tertarik dengan kaset itu dan ingin mendengarkannya. Tapi ketika Om Arta hendak memutar kaset itu di radio tape-nya, Om Arta tidak mengijinkan kami masuk ke dalam kamarnya sekaligus. Mungkin Om Arta ingin kami mendengarnya secara bergantian barangkali, biar tidak terlalu gaduh di dalamnya, begitulah yang ada di pikiranku saat itu. Akhirnya aku dan saudara-saudara sepupuku mengantri untuk mendapatkan giliran. Dan satu per satu dari kami pun pada akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kaset itu, terkecuali aku.
Iya benar... Semuanya sudah diajak masuk ke dalam kamar Om Arta dan sudah mendengar kaset itu, tapi sampai dengan Om Arta keluar dari kamarnya, hanya aku yang tak diberi kesempatan untuk mendengar kaset itu. Saat itulah pertama kalinya aku merasa bahwa aku ini tidak dianggap ada oleh Om Arta. Bahkan dengan tanpa merasa bersalah sedikit pun, Om Arta mengajak semua saudara sepupuku untuk main petak umpet di halaman setelah itu. Dan lagi-lagi aku tidak diajaknya turut bermain. Mungkin aku bisa saja menangis dan mengadu pada ayah atau ibu, tapi aku tidak melakukan itu. Aku berusaha berlari menyusul Om Arta dan merengek padanya,
"Bolehkah aku ikut bermain petak umpet juga, Om ?"
Tak kutunjukkan wajah memelas sedikit pun di depan Om Arta, tapi sebaliknya aku berusaha tersenyum semanis mungkin supaya Om Arta mengijinkan aku untuk ikut bermain. Entah karena kesengsem dengan senyumanku kah atau hanya karena lantaran kasihan padaku, aku tidak peduli, yang terpenting akhirnya Om Arta mengijinkanku untuk ikut bermain petak umpet bersama saudara-saudara sepupuku.
Sejak hari itu, sekali lagi aku mau bilang kalau aku mulai sadar bahwa tidak semua orang menganggap aku ini ada, salah satunya adalah Om Arta. Namun meskipun demikian, aku belum punya kuasa apa-apa untuk memberontak, aku hanya bisa bersikap manis bahkan lebih manis dari aku yang sebenarnya untuk dapat menarik simpati dari Om Arta. Selalu begitu tiap kali aku hendak turut bermain dengan mereka. Aku selalu harus cari muka dulu, entah itu ngebaik-baikin Om Arta atau apa sajalah yang bisa kulakukan akan aku tak lagi disingkirkan. Aku cukup bisa menerimanya sebagai sebuah kewajaran waktu itu. Tapi tidak untuk sekarang ini.... Apakah aku harus melakukan hal yang sama kepada anak baru itu? Apa perlu aku cari muka di depan dia, agar bisa mendapatkan atensi teman-temanku lagi? Ah rasanya... tidak akan kulakukan.
Mungkin aku mulai mengerti arti sebuah kata GENGSI. Dari situlah aku memutuskan untuk tidak berusaha mencari tahu lebih banyak tentang anak baru itu sebelum dia duluan yang mencari tahu tentang aku. Meskipun sekarang ini teman-teman lebih banyak memperhatikan dia ketimbang aku, aku tidak akan tunduk dan menyerah pada pesonanya. Itu janjiku pada diriku sendiri.
Keesokan harinya...
Aku kembali mengayuh sepedaku menuju ke SD Negeri Plumbungan 2, salah satu sekolah dasar di keluarahan Plumbungan. Memang sih sekolahku tidak termasuk sekolah kota, tapi aku cukup senang bersekolah di situ karena ada halaman dan lapangan yang luas untuk tempat bermain yang leluasa. Ketika kami berolahraga, kami semua tidak perlu bingung mencari lahan karena kami sudah punya lapangan yang sangat luas. Kami bisa bermain kasti, lompat jauh, lompat tinggi, sepakbola, volly, lari sprint dan bahkan lari estafet, yang pasti kecuali renang lho, kalau yang satu itu sekolahku nggak punya kolam renang soalnya. Selain itu, sekolah kami pun jauh dari keramaian kota sehingga kami bisa belajar dengan tenang di sini. Rasanya menyenangkan sekali bisa sekolah di sini.
Tapi semuanya pasti akan terasa berbeda setelah kedatangan anak baru itu. Aku tidak tahu apakah masih akan menyenangkan bersekolah di sini?
"Wah ternyata lompatan kamu tinggi juga ya!! Hebat sekali kamu..."
Aku berhenti sejenak ketika aku hendak memasuki ruang kelas. Mataku tertuju pada teman-temanku yang sedang bermain lompat tali dengan anak baru itu dan baru saja aku mendengar mereka sedang memuji anak baru itu. Aku tidak sedang salah dengar, bahkan malah telingaku sangat jelas sekali mendengar pujian untuk anak baru itu karena suara teriakan teman-temanku yang sangat keras. Aku memandang iri kepada anak baru itu, karena dia mendapat begitu banyak perhatian dari teman-teman padahal baru 2 hari dia berada di sekolah ini.
"Cuman segitu aja, aku juga bisa..."
Aku bergumam sendiri untuk membuat diriku percaya diri lagi bahwa aku juga pasti bisa melakukan seperti yang anak baru itu lakukan. Tapi aku tidak akan bergabung bermain dengan teman-teman karena tali yang digunakan untuk bermain itu adalah tali milik anak baru itu.
"Aku nggak sudi main dengan anak baru itu.."
Sepulang sekolah, aku langsung meminta uang kepada ibu untuk membeli tali. Aku berlatih giat untuk melompati tali itu setinggi-tingginya, berharap aku bisa menunjukkan kepada teman-teman kalau aku pun tidak kalah dengan anak baru itu. Berulang kali aku mencoba melompat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Meskipun semakin banyak keringat yang bercucuran dari tubuhku, rasanya aku tak mempedulikannya. Yang ingin aku lakukan adalah menjadi lebih baik dari anak baru itu dan aku akan menunjukkannya kepada teman-teman. Aku yakin teman-teman pasti akan kembali memperhatikanku jika aku bisa menjadi lebih hebat dari anak baru itu. Lihat saja nanti, anak baru, tunggu pembalasan dariku!!!
"Wah kamu bawa tali baru ya... Asyik nih, jadi ada 2 orang yang punya tali di kelas kita sekarang. Kamu dan juga Novia..."
Ohhh.. jadi nama anak baru itu Novia ya. Boleh juga namanya... tapi lihat saja, aku nggak akan ijinkan si Novia itu mencuri perhatian teman-temanku.
"Bagaimana kalau istirahat nanti kita main lompat tali bareng? Aku ikut main denganmu ya..."
"Aku juga ya... duhh nggak sabar pengen cepet-cepet istirahat."
"Iya nih, aku juga ikutan ya..."
Aku melirik ke arah Novia seakan ingin menunjukkan padanya bahwa aku mulai berhasil merebut kembali perhatian teman-teman yang dicuri olehnya. Perlahan-lahan kamu akan merasakan bagaimana rasanya diacuhkan oleh teman-teman seperti yang aku rasakan 2 hari kemarin. Itu pelajaran untuk kamu, Novia, biar kamu nggak seenak-enaknya di sini, jangan mentang-mentang kamu anak baru lantas kamu merasa pantas diperlakukan secara istimewa sama semua orang di sekolah ini. Pasti aku takkan membiarkannya begitu saja. Tatapan mataku semakin menajam ke arah Novia, aku bahkan nggak peduli Novia akan mengartikan seperti apa tatapanku yang seperti ini. Syukur syukur... dia bisa ngerti maksud yang tak tersampaikan dari kedua bola mataku ini.
Jam istirahat pun akhirnya tiba juga...
Teman-teman segera mencari tempat yang teduh dan mulai bersiap-siap untuk bermain lompat tali bersamaku. Mula-mula ada 5 orang yang ikut bermain, namun tak berapa lama kemudian satu per satu mulai berdatangan dan sudah ada 12 orang sekarang yang siap bermain lompat tali bersamaku. Di kelas totalnya ada 16 murid perempuan, jadi kesimpulannya hampir semuanya kini berada di pihakku, sedangkan sisanya aku lihat masih setia dengan Novia si anak baru itu.
"Waduh kenapa yang pegang tali kalian berdua sih? Jadinya tinggi banget kan sekarang... aduh aku nggak akan bisa melompat setinggi itu."
Inilah saatnya aku tunjukkan kepada teman-teman, kemampuanku yang sebenarnya yang tidak kalah dengan Novia.
"Tenang aja teman-teman, aku bisa kok melompatinya... nanti kalian 'bonceng' aku aja."
BONCENG itu istilah kami dalam permainan lompat tali ini. Maksudnya adalah ada salah satu dari kami yang harus bisa melompat tali dan setelah itu pemain yang lainnya tidak perlu melompat, mereka bisa diselamatkan oleh salah satu pemain yang berhasil melompati tali. Kurang lebih seperti itulah yang aku tawarkan kepada teman-teman yang mengaku menyerah untuk melompat, karena kebetulan yang memegang tali saat itu badannya tinggi-tinggi.
"Kamu yakin kalau kamu bisa ?"
"Akan aku coba..." Jawabku sambil tersenyum kepada salah seorang temanku.
"Baiklah kalau begitu, kami akan mendukungmu... Ayo kamu pasti bisa."
"Iya benar... kami mendukungmu, kamu pasti bisa."
Teriakan dukungan teman-teman membuat kepercayaan diriku semakin bertambah dan aku menjadi semakin yakin kalau aku pasti bisa melompati tali yang tinggi itu. Aku mulai memasang kuda-kuda bersiap-siap untuk lari sekencang mungkin dan melompat setinggi-tingginya dan huuuuuuuuuuuuuupppppppp..... akhirnya aku berhasil. Yihaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... YES...
"Wah kamu hebat..."
"Iya kamu hebat banget sih. Aku nggak nyangka kamu bisa melompat setinggi itu."
Dalam hati aku tertawa puas dan sambil melirik ke arah Novia yang ternyata sedari tadi sedang memperhatikan permainanku bersama teman-teman.
"Bagaimana Novia? Apakah kamu mau menyerah denganku? Apakah kamu mau mengakui kemampuanku sekarang? Makanya jangan pernah coba-coba ambil teman-teman dariku..." Kataku dalam hati sambil masih belum melepaskan lirikanku pada Novia.
"Sejak kapan kamu bisa melompat setinggi ini? Aku baru tahu lho..."
"Iya... padahal tadi itu tinggi sekali."
"Iya kamu bener-bener hebat, kami saja nggak bisa melompat setinggi kamu."
"Ternyata kamu lebih hebat dari Novia..."
"Iya aku setuju. Kemarin lompatan Novia juga tinggi banget, tapi nggak setinggi kamu hari ini."
Itulah yang aku tunggu dari kemarin-kemarin. Akhirnya sekarang teman-teman mengakui kalau lompatanku jauh lebih hebat dibandingkan Novia. Hufffppp ternyata nggak sia-sia aku berlatih kemarin. Kini teman-teman telah kembali padaku. Aku senang sekali. Novia, kamu harus mulai mengakui kalau aku lebih jago daripada kamu, jadi aku harap kamu nggak perlu sok-sokan pamer ke teman-teman, karena aku akan selalu mengalahkan kamu.
Ketika aku sudah lelah bermain lompat tali, akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengambil bekal minuman kami masing-masing. Namun tak sengaja aku mendengar ada tiga orang temanku yang sedang duduk di depan kelas sedang bergosip. Aku pun menjadi penasaran dan pura-pura berhenti di depan kelas tapi berlagak tidak sedang menguping pembicaraan mereka.
"Eh... eh... kalian tahu nggak, ada gosip baru nih."
"Gosip apaan emangnya ?"
"Itu si Fariz.. kabarnya kemarin ngirim surat buat Novia."
"Apa? Fariz kirim surat buat Novia. Kamu tahu dari mana ?"
"Aku denger dari Susi. Dia kan duduk sebangku dengan Novia dan si Fariz nitipin suratnya itu lewat Susi."
"Trus trus... isinya apaan ?"
"Iya.. isinya apaan, aku jadi penasaran."
"Pas aku tanyain ke Susi, dia bilang nggak tahu secara lengkap sih karena Novia cuma cerita kalau dalam suratnya itu si Fariz menyatakan perasaannya sama Novia."
"Apa??? Jadi Fariz suka sama Novia ?"
"Sssssssssssssttttt.... kamu jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya. Ntar kalau kedengeran sama yang lain gimana.. Ini rahasia tauuuuuuuuuuuuuu..."
"Maaf... maaf... aku kan nggak sengaja."
"Iya nih... Dasar kamu ini."
"Iya iya... aku kan sudah minta maaf."
"Lain kali ati-ati kalau mau ngomong..."
Ohhh.. jadi ceritanya Novia udah mulai menggaet hati temen-temen cowokku rupanya dan kali ini Fariz yang jadi korban pertamanya. Keterlaluan... ini nggak bisa aku biarkan. Fariz kan selama ini suka sama Ima, kenapa sekarang jadi pindah sama Novia, ini pasti ada yang nggak beres. Aku harus kasih tahu Ima soal ini.
"Apa???? Fariz nembak Novia? Kapan ?"
"Itu dia... aku juga kaget, Im. Aku baru aja denger dari Lia dan kawan-kawan kalau kemarin Fariz nitipin surat ke Susi buat Novia. Dan dari pengakuannya Susi, Fariz tuh suka sama Novia."
"Aku nggak nyangka... Fariz bisa setega itu sama aku."
"Im, kalau menurut aku... bukan Fariz yang salah, tapi ini pasti gara-gara Novia."
"Novia? Bagaimana mungkin kalau ini gara-gara Novia? Novia kan anak baru di sini ?"
"Emang kamu nggak ngelihat apa kelakukan Novia? Kamu nggak merhatiin gimana ganjennya dia sama temen-temen cowok kita? Okay.. sekarang emang baru Fariz yang jadi korbannya, lihat aja besok-besok semua temen cowok kita bakal diembat sama si Novia ganjen itu."
"Ah yang bener aja kamu. Masak sih sampai kayak gitu ?"
"Hemmmmm... kamu buktiin aja sendiri."
Mendengar Fariz ternyata suka sama Novia, membuat aku semakin benci sama dia. Baru saja kemarin dia mencuri perhatian teman-teman dariku, sekarang dia mulai menggaet teman-teman cowokku. Bagaimana aku nggak makin membencinya? Jangan-jangan dia punya rencana untuk jadi bunga kelas, jadi idola para cowok-cowok... Keterlaluan... aku takkan membiarkannya. Aku harus melakukan sesuatu, ya benar... aku harus memikirkan sesuatu untuk menghentikan jangan sampai hal itu benar-benar terjadi. Aku juga tidak pernah rela kalau Novia merebut teman-teman cowok yang disukai oleh teman-teman cewekku. Lihat saja Novia, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. (*)
Puzzle 2
Diposting oleh
Puzzle of Me
/
Comments: (2)
Aaaarrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhh..... !!!! Kenapa semuanya jadi kacau begini sih? Bisa gawat kalau diterus-terusin seperti ini. Aduhhhh pusing kepalaku, rasanya seperti mau pecah... Sambil terus memegangi kepalaku, aku berjibaku sendiri di ruang kerjaku. Aku memandangi selembar kertas yang penuh dengan angka rupiah-rupiah yang tergeletak mengejekku di atas meja. Deadline semakin dekat sedangkan dana belum tersedia sama sekali. Harus bagaimanakah aku saat ini? Aku terus berusaha memutar otakku, mencoba mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang akhir-akhir ini datang bertubi-tubi dalam pekerjaanku. Tapi semakin gencar aku berpikir, semakin pening terasa di kepalaku. Adakah yang mau bertukar kepala denganku? Andai saja itu bisa kulakukan, mungkin aku bisa bernapas dengan lega untuk sejenak.
Keheninganku siang itu mulai terusik ketika pintu mulai berdecak. Seseorang di baliknya sedang mengetuk dan memberi tanda bahwa dia hendak masuk ke ruanganku.
"Ada apa, Bu, memanggil saya ?"
Ternyata staf keuanganku dan sekaligus sahabat baikku yang mengetuk pintu ruanganku barusan. Namanya Tya. Aku bersahabat baik dengannya sudah hampir 3 tahun. Dia bukan teman SMA atau teman kuliahku. Kami tak sengaja bertemu dalam sebuah kegiatan muda-mudi gereja 3 tahun yang lalu. Dan semenjak itu, kami berdua menjadi sangat akrab dan dekat. Sekarang ini Tya bekerja sebagai staf keuangan di kantorku, karena aku sendiri yang memintanya untuk membantuku mengurus masalah keuangan di kantor. Aku tidak akan sanggup jika harus mengurusnya sendiri, maka waktu itu aku mulai berpikir untuk mencari staf yang membantu pekerjaanku. Aku memilih Tya untuk menempati posisi keuangan, karena aku tidak bisa memberikan tanggung jawab ini kepada sembarang orang. Aku telah cukup kenal baik dengan Tya, karena selama ini aku lihat dia seorang yang profesional dan bertanggung jawab dalam setiap tugasnya. Kami memang sahabat baik jika berada di luar kantor, namun ketika di dalam kantor kami berusaha untuk seprofesional mungkin. Bukan bermaksud untuk membedakan status atau kedudukan, hanya saja kami berdua berusaha menempatkan diri pada posisi kami masing-masing. Aku sebagai atasan dan Tya adalah stafku.
"Besok kamu ikut saya ya ke CV Bumi Persada? Kita berangkat sekitar pukul 10.00."
"Baik, Bu. Ada lagi yang bisa saya bantu ?"
"Oh ya... bisa tolong ambilkan saya air putih ?"
"Baik, Bu, saya akan minta OB segera membawanya untuk Ibu."
"Terima kasih ya... Kamu boleh kembali bekerja kalau begitu."
Aku kembali menunduk dengan kedua tangan masih memegang erat kepalaku. Aku kembali hanyut dalam kebingunganku saat itu, sampai-sampai aku tidak sadar kalau ternyata Tya masih ada di ruanganku dan sekarang sedang memandangiku penuh tanda tanya.
"Ibu sakit ya ?"
Kata-kata itu sontak mengejutkanku dan membuatku sadar bahwa ternyata Tya belum beranjak sedari tadi. Dengan secepat kilat, aku mencoba merubah mimik mukaku, berusaha untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja dan tidak sedang terjadi apa-apa denganku saat itu. Semuanya kulakukan agar tidak membuat Tya berprasangka macam-macam dan berpikir yang tidak-tidak.
"Eh... kamu masih di sini? Saya pikir udah balik ke mejamu. Ehmm.. saya tidak apa-apa kok. Jangan khawatir..." Aku hiaskan seberkas senyuman di akhir kata-kataku barusan, agar semakin meyakinkan Tya bahwa aku memang baik-baik saja.
"Ibu yakin benar-benar tidak apa-apa ?"
"Memangnya saya terlihat gimana sih? Sudahlah kamu tenang saja.. I'm okay now."
"Oh baiklah kalau begitu saya kembali ke meja saya ya, Bu."
"Ya silakan... Jangan lupa air putihnya ya!"
"Baik, Bu."
Aku masih mempertahankan senyum terpaksaku sampai aku memastikan kalau kali ini Tya benar-benar sudah kembali ke mejanya. Dan sesaat kemudian, aku kembali menjadi diriku sendiri seperti semula. Tak berapa lama, aku lihat handphone-ku berdering.
"Halo, Bu Bos... Bagaimana kabar hari ini ?"
Suara yang sangat keras dan penuh semangat itu membuatku terpaksa harus menjauhkan sedikit handphone dari daun telingaku, ya paling tidak untuk mengamankan gendang telingaku dari ancaman frekuensi suara tak terkendali dari penelepon itu.
"Sangat kacau dan memusingkan..."
Begitulah kurang lebih aku menjawabnya. Singkat, lugas dan terpercaya... Eitsss... seperti sedang menirukan gaya presenter acara berita di televisi saja rupanya aku ini. Tapi aku tidak bermaksud apa-apa kok, hanya sedang mencoba menggambarkan tentang kata-kataku sendiri.
Orang di seberang sana yang sedang berbincang denganku adalah Luthfi. Dia juga salah satu teman dekatku. Seperti halnya Tya, aku dan Luthfi bukan teman SMA atau teman kuliah, tapi kami tidak bertemu dalam kegiatan gereja. Asal tahu saja, sampai saat itu aku belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Luthfi. Kami kenal di dunia maya, INTERNET. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah forum bisnis yang kami ikuti. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat chatting, e-mail, sms dan telepon. Meskipun hanya sebatas itu, kami sudah sangat dekat melebihi teman-teman dekatku di dunia nyata. Aku sudah banyak tahu tentang dia dan begitu juga dia sudah banyak tahu tentang aku. Aku suka cara berpikirnya dan cara dia menganalisa sesuatu. Aku bisa bilang, Luthfi adalah seorang yang cerdas dalam banyak hal. Maka dari itu, aku meminta dia untuk menjadi konsultanku. Tapi kami tak terlalu resmi atau kaku layaknya seorang pemilik perusahaan dengan seorang konsultannya. Kami selama ini berinteraksi secara santai dan nyaman dalam berkomunikasi. Malah kadang-kadang Luthfi bisa jadi konsultan pribadiku alias tempat curhatku xixixixixixi... Dan sebaliknya Luthfi pun kadang juga memintaku untuk mendengarkan curhatan-curhatan dia tentang banyak hal. Begitulah kira-kira hubungan kami berdua.
"Kacau kenapa memangnya? Santailah dikit... Hidup itu kan cuma sekali, ngapain dibikin pusing."
Begitulah Luthfi terdengar seperti sedang menghiburku atau malah menggodaku dengan logat Jakartanya. Terdengar sangat berbeda sekali dengan logat bicaraku yang kejawen, karena memang dia orang Jakarta asli. Tapi untung aja sama aku, dia tidak menggunakan istilah "lo.. gue" ala orang Jakarta dan so far... aku sudah cukup terbiasa dengan gaya bicaranya, karena hampir 24 jam, Luthfi selalu meneleponku. Bahkan kadang ketika kami sedang chatting pun, dia juga sambil meneleponku. Benar-benar parah ni orang... Udah kayak sama pacarnya aja wakakakakakakak.... Padahal kami tidak ada hubungan "pribadi" sama sekali, kami murni bersahabat dan sekaligus rekan bisnis. ;)
"Memangnya belum ada kabar sama sekali ya dari Pak Rian ?"
"Kalau sudah ada kabar, pastinya aku tidak akan sepusing ini dong, Mr. Luthfi..."
"Hahahahahahahaha.... santai aja kali, Buuuu..."
"Huppfffff...."
"Trus rencana kamu gimana ?"
"Besok aku mau datang ke kantornya. Aku mau minta kepastian dari mereka. Aku bisa digantung nih sama orang banyak kalau dana itu tidak segera cair..."
"Digantung??? Serem amat.... Okaylah kalo begitu, aku akan terus follow up Pak Rian dari sini. Nanti aku kabari gimana-gimananya. Oh ya... udah di kantor kamu sekarang ?"
"Kira-kira menurutmu gimana?"
"Yaaaa... dia malah balik nanya. Mau ngajakin tebak-tebakan nih ceritanya? Ntar jangan salahin aku lho, kalau aku telanjangi kamu dari sini...."
Weitssss... aku mau ditelanjangi???? Tunggu dulu... jangan berpikir yang tidak-tidak dulu saudara-saudara... Maksud Luthfi mau menelanjangi itu bukan dalam arti yang sebenarnya. Perlu kalian ketahui, Luthfi itu doyan banget membaca orang hanya dari suaranya, gaya bicaranya dan kata-katanya, tapi maaf dia bukan dukun atau paranormal atau punya indra keenam dan sebagainya... No no no no... Dia hanya cerdas menganalisa sesuatu dari banyak hal yang dia tangkap, itulah kelebihan Luthfi yang membuatku nggak perlu pikir panjang memintanya jadi konsultan aku. Karena selama ini, hampir semua yang dia tebak dari aku, hampir 100% tepat dan itu sempat membuatku terkejut. Bagaimana mungkin dia bisa tahu sementara aku belum pernah menceritakannya? Cukup aneh tapi itu membuatku tertarik dengan kepribadiannya. Makanya aku selalu balik melempar pertanyaan tiap kali Luthfi bertanya sesuatu padaku, karena toh rugi juga kalau aku menjawab karena pada akhirnya Luthfi sebenarnya sudah tahu aku akan menjawab apa. Hal itu seringkali membuat aku sedikit cemas, kalau dia bisa membaca seluruh hal tentang aku seperti mau menelanjangiku saja rasanya.
"Jangan... jangan... nggak jadi tanya aja kalau gitu. Mending aku jawab aja deh daripada entar nyambung ke mana-mana, bisa repot sendiri aku..."
"Hahahahahahahaha...."
"Ya selamat menikmati kepuasan kamu deh... Aku sekarang udah di kantor trus lagi duduk pusing di ruanganku. Begitu sudah cukup Mr. Luthfi ?"
"Pasti sekarang ini kamu lagi duduk sambil ngelihatin jendela, trus di meja kamu ada....."
"STOOOOOOOOOPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Ucapku dengan setengah teriak berusaha menghentikan kata-kata Luthfi, sebelum terjadi sesuatu yang memang diinginkan Luthfi....
"Wakakakakakakakakak... Semoga ini bisa jadi shock therapy buat kamu, biar nggak cemberut pagi-pagi gini. Jangan kira aku nggak tahu berapa cm, bibir kamu manyun dari tadi.."
"Ya ya ya ya ya... It's enough, okay? Aku percaya kok kamu pasti tahu soal itu. But anyway... Thanks so much deh untuk hiburan paginya yang aku harap nggak terjadi lagi di pagi-pagi yang lain."
"Hahahahahahahaha..."
Begitulah jika aku sudah bercakap dengan Luthfi. Terdengar menyenangkan dan bisa bertahan bahkan sampai seharian penuh. Kalau itu sih biasa terjadi kalau pas lagi weekend, saat kami tidak sedang di kantor. Meskipun Luthfi sekarang ini menjadi konsultan aku, bukan berarti itu menjadi pekerjaan utamanya malah pekerjaan sampingannya yang enteng barangkali, karena di Jakarta sana, Luthfi juga seorang bos di perusahaannya sendiri. Umur kami tidak terpaut jauh, hanya beda 2 tahun saja... tentunya lebih tuaan dia ketimbang aku, tapi kami sama-sama punya ketertarikan yang sama untuk menjadi seorang entrepreneur dalam pekerjaan kami. Dengan demikian aku yang masih dibilang amatir di dunia entrepreneur setidaknya bisa mencuri ilmu juga dari dia yang lebih hebat di dunia entrepreneur.
Menjadi entrepreneur memang tidak semudah yang aku bayangkan. Mempunyai banyak karyawan tidak cukup menyenangkan seperti pemikiranku dahulu. Namun sekarang ini aku memang sedang bergelut di dunia ini dan ini adalah konsekuensi dari pilihan yang aku ambil. Senang atau tidak senang, puas atau tidak puas, mudah atau tidak mudah, aku terus berusaha melanjutkannya... sampai seterusnya, karena terlalu banyak mimpiku yang belum terealisasi hingga detik ini. Itu salah satu alasanku, sedangkan alasan yang lain adalah bahwa aku tidak pernah tahu berapa lama aku diberikan kesempatan hidup oleh Sang Maha Pencipta, maka dari itu selama kesempatan itu masih ada, aku akan terus berjalan, belajar, berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari kemarin. Apapun resiko dan keuntungannya, itu hanyalah bonus karena ada yang lebih penting dari semua hal itu yaitu PROSES. Tidak ada yang lebih berharga dibandingkan proses itu sendiri. Karena ketika kita berproses untuk mewujudkan sesuatu dan ketika kita telah berhasil mendapatkannya, maka semua yang kita dapatkan akan terasa biasa-biasa saja tetapi PROSES YANG KITA LEWATI untuk sampai ke situ menjadi SANGAT LUAR BIASA. (*)
Keheninganku siang itu mulai terusik ketika pintu mulai berdecak. Seseorang di baliknya sedang mengetuk dan memberi tanda bahwa dia hendak masuk ke ruanganku.
"Ada apa, Bu, memanggil saya ?"
Ternyata staf keuanganku dan sekaligus sahabat baikku yang mengetuk pintu ruanganku barusan. Namanya Tya. Aku bersahabat baik dengannya sudah hampir 3 tahun. Dia bukan teman SMA atau teman kuliahku. Kami tak sengaja bertemu dalam sebuah kegiatan muda-mudi gereja 3 tahun yang lalu. Dan semenjak itu, kami berdua menjadi sangat akrab dan dekat. Sekarang ini Tya bekerja sebagai staf keuangan di kantorku, karena aku sendiri yang memintanya untuk membantuku mengurus masalah keuangan di kantor. Aku tidak akan sanggup jika harus mengurusnya sendiri, maka waktu itu aku mulai berpikir untuk mencari staf yang membantu pekerjaanku. Aku memilih Tya untuk menempati posisi keuangan, karena aku tidak bisa memberikan tanggung jawab ini kepada sembarang orang. Aku telah cukup kenal baik dengan Tya, karena selama ini aku lihat dia seorang yang profesional dan bertanggung jawab dalam setiap tugasnya. Kami memang sahabat baik jika berada di luar kantor, namun ketika di dalam kantor kami berusaha untuk seprofesional mungkin. Bukan bermaksud untuk membedakan status atau kedudukan, hanya saja kami berdua berusaha menempatkan diri pada posisi kami masing-masing. Aku sebagai atasan dan Tya adalah stafku.
"Besok kamu ikut saya ya ke CV Bumi Persada? Kita berangkat sekitar pukul 10.00."
"Baik, Bu. Ada lagi yang bisa saya bantu ?"
"Oh ya... bisa tolong ambilkan saya air putih ?"
"Baik, Bu, saya akan minta OB segera membawanya untuk Ibu."
"Terima kasih ya... Kamu boleh kembali bekerja kalau begitu."
Aku kembali menunduk dengan kedua tangan masih memegang erat kepalaku. Aku kembali hanyut dalam kebingunganku saat itu, sampai-sampai aku tidak sadar kalau ternyata Tya masih ada di ruanganku dan sekarang sedang memandangiku penuh tanda tanya.
"Ibu sakit ya ?"
Kata-kata itu sontak mengejutkanku dan membuatku sadar bahwa ternyata Tya belum beranjak sedari tadi. Dengan secepat kilat, aku mencoba merubah mimik mukaku, berusaha untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja dan tidak sedang terjadi apa-apa denganku saat itu. Semuanya kulakukan agar tidak membuat Tya berprasangka macam-macam dan berpikir yang tidak-tidak.
"Eh... kamu masih di sini? Saya pikir udah balik ke mejamu. Ehmm.. saya tidak apa-apa kok. Jangan khawatir..." Aku hiaskan seberkas senyuman di akhir kata-kataku barusan, agar semakin meyakinkan Tya bahwa aku memang baik-baik saja.
"Ibu yakin benar-benar tidak apa-apa ?"
"Memangnya saya terlihat gimana sih? Sudahlah kamu tenang saja.. I'm okay now."
"Oh baiklah kalau begitu saya kembali ke meja saya ya, Bu."
"Ya silakan... Jangan lupa air putihnya ya!"
"Baik, Bu."
Aku masih mempertahankan senyum terpaksaku sampai aku memastikan kalau kali ini Tya benar-benar sudah kembali ke mejanya. Dan sesaat kemudian, aku kembali menjadi diriku sendiri seperti semula. Tak berapa lama, aku lihat handphone-ku berdering.
"Halo, Bu Bos... Bagaimana kabar hari ini ?"
Suara yang sangat keras dan penuh semangat itu membuatku terpaksa harus menjauhkan sedikit handphone dari daun telingaku, ya paling tidak untuk mengamankan gendang telingaku dari ancaman frekuensi suara tak terkendali dari penelepon itu.
"Sangat kacau dan memusingkan..."
Begitulah kurang lebih aku menjawabnya. Singkat, lugas dan terpercaya... Eitsss... seperti sedang menirukan gaya presenter acara berita di televisi saja rupanya aku ini. Tapi aku tidak bermaksud apa-apa kok, hanya sedang mencoba menggambarkan tentang kata-kataku sendiri.
Orang di seberang sana yang sedang berbincang denganku adalah Luthfi. Dia juga salah satu teman dekatku. Seperti halnya Tya, aku dan Luthfi bukan teman SMA atau teman kuliah, tapi kami tidak bertemu dalam kegiatan gereja. Asal tahu saja, sampai saat itu aku belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Luthfi. Kami kenal di dunia maya, INTERNET. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah forum bisnis yang kami ikuti. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat chatting, e-mail, sms dan telepon. Meskipun hanya sebatas itu, kami sudah sangat dekat melebihi teman-teman dekatku di dunia nyata. Aku sudah banyak tahu tentang dia dan begitu juga dia sudah banyak tahu tentang aku. Aku suka cara berpikirnya dan cara dia menganalisa sesuatu. Aku bisa bilang, Luthfi adalah seorang yang cerdas dalam banyak hal. Maka dari itu, aku meminta dia untuk menjadi konsultanku. Tapi kami tak terlalu resmi atau kaku layaknya seorang pemilik perusahaan dengan seorang konsultannya. Kami selama ini berinteraksi secara santai dan nyaman dalam berkomunikasi. Malah kadang-kadang Luthfi bisa jadi konsultan pribadiku alias tempat curhatku xixixixixixi... Dan sebaliknya Luthfi pun kadang juga memintaku untuk mendengarkan curhatan-curhatan dia tentang banyak hal. Begitulah kira-kira hubungan kami berdua.
"Kacau kenapa memangnya? Santailah dikit... Hidup itu kan cuma sekali, ngapain dibikin pusing."
Begitulah Luthfi terdengar seperti sedang menghiburku atau malah menggodaku dengan logat Jakartanya. Terdengar sangat berbeda sekali dengan logat bicaraku yang kejawen, karena memang dia orang Jakarta asli. Tapi untung aja sama aku, dia tidak menggunakan istilah "lo.. gue" ala orang Jakarta dan so far... aku sudah cukup terbiasa dengan gaya bicaranya, karena hampir 24 jam, Luthfi selalu meneleponku. Bahkan kadang ketika kami sedang chatting pun, dia juga sambil meneleponku. Benar-benar parah ni orang... Udah kayak sama pacarnya aja wakakakakakakak.... Padahal kami tidak ada hubungan "pribadi" sama sekali, kami murni bersahabat dan sekaligus rekan bisnis. ;)
"Memangnya belum ada kabar sama sekali ya dari Pak Rian ?"
"Kalau sudah ada kabar, pastinya aku tidak akan sepusing ini dong, Mr. Luthfi..."
"Hahahahahahahaha.... santai aja kali, Buuuu..."
"Huppfffff...."
"Trus rencana kamu gimana ?"
"Besok aku mau datang ke kantornya. Aku mau minta kepastian dari mereka. Aku bisa digantung nih sama orang banyak kalau dana itu tidak segera cair..."
"Digantung??? Serem amat.... Okaylah kalo begitu, aku akan terus follow up Pak Rian dari sini. Nanti aku kabari gimana-gimananya. Oh ya... udah di kantor kamu sekarang ?"
"Kira-kira menurutmu gimana?"
"Yaaaa... dia malah balik nanya. Mau ngajakin tebak-tebakan nih ceritanya? Ntar jangan salahin aku lho, kalau aku telanjangi kamu dari sini...."
Weitssss... aku mau ditelanjangi???? Tunggu dulu... jangan berpikir yang tidak-tidak dulu saudara-saudara... Maksud Luthfi mau menelanjangi itu bukan dalam arti yang sebenarnya. Perlu kalian ketahui, Luthfi itu doyan banget membaca orang hanya dari suaranya, gaya bicaranya dan kata-katanya, tapi maaf dia bukan dukun atau paranormal atau punya indra keenam dan sebagainya... No no no no... Dia hanya cerdas menganalisa sesuatu dari banyak hal yang dia tangkap, itulah kelebihan Luthfi yang membuatku nggak perlu pikir panjang memintanya jadi konsultan aku. Karena selama ini, hampir semua yang dia tebak dari aku, hampir 100% tepat dan itu sempat membuatku terkejut. Bagaimana mungkin dia bisa tahu sementara aku belum pernah menceritakannya? Cukup aneh tapi itu membuatku tertarik dengan kepribadiannya. Makanya aku selalu balik melempar pertanyaan tiap kali Luthfi bertanya sesuatu padaku, karena toh rugi juga kalau aku menjawab karena pada akhirnya Luthfi sebenarnya sudah tahu aku akan menjawab apa. Hal itu seringkali membuat aku sedikit cemas, kalau dia bisa membaca seluruh hal tentang aku seperti mau menelanjangiku saja rasanya.
"Jangan... jangan... nggak jadi tanya aja kalau gitu. Mending aku jawab aja deh daripada entar nyambung ke mana-mana, bisa repot sendiri aku..."
"Hahahahahahahaha...."
"Ya selamat menikmati kepuasan kamu deh... Aku sekarang udah di kantor trus lagi duduk pusing di ruanganku. Begitu sudah cukup Mr. Luthfi ?"
"Pasti sekarang ini kamu lagi duduk sambil ngelihatin jendela, trus di meja kamu ada....."
"STOOOOOOOOOPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Ucapku dengan setengah teriak berusaha menghentikan kata-kata Luthfi, sebelum terjadi sesuatu yang memang diinginkan Luthfi....
"Wakakakakakakakakak... Semoga ini bisa jadi shock therapy buat kamu, biar nggak cemberut pagi-pagi gini. Jangan kira aku nggak tahu berapa cm, bibir kamu manyun dari tadi.."
"Ya ya ya ya ya... It's enough, okay? Aku percaya kok kamu pasti tahu soal itu. But anyway... Thanks so much deh untuk hiburan paginya yang aku harap nggak terjadi lagi di pagi-pagi yang lain."
"Hahahahahahahaha..."
Begitulah jika aku sudah bercakap dengan Luthfi. Terdengar menyenangkan dan bisa bertahan bahkan sampai seharian penuh. Kalau itu sih biasa terjadi kalau pas lagi weekend, saat kami tidak sedang di kantor. Meskipun Luthfi sekarang ini menjadi konsultan aku, bukan berarti itu menjadi pekerjaan utamanya malah pekerjaan sampingannya yang enteng barangkali, karena di Jakarta sana, Luthfi juga seorang bos di perusahaannya sendiri. Umur kami tidak terpaut jauh, hanya beda 2 tahun saja... tentunya lebih tuaan dia ketimbang aku, tapi kami sama-sama punya ketertarikan yang sama untuk menjadi seorang entrepreneur dalam pekerjaan kami. Dengan demikian aku yang masih dibilang amatir di dunia entrepreneur setidaknya bisa mencuri ilmu juga dari dia yang lebih hebat di dunia entrepreneur.
Menjadi entrepreneur memang tidak semudah yang aku bayangkan. Mempunyai banyak karyawan tidak cukup menyenangkan seperti pemikiranku dahulu. Namun sekarang ini aku memang sedang bergelut di dunia ini dan ini adalah konsekuensi dari pilihan yang aku ambil. Senang atau tidak senang, puas atau tidak puas, mudah atau tidak mudah, aku terus berusaha melanjutkannya... sampai seterusnya, karena terlalu banyak mimpiku yang belum terealisasi hingga detik ini. Itu salah satu alasanku, sedangkan alasan yang lain adalah bahwa aku tidak pernah tahu berapa lama aku diberikan kesempatan hidup oleh Sang Maha Pencipta, maka dari itu selama kesempatan itu masih ada, aku akan terus berjalan, belajar, berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari kemarin. Apapun resiko dan keuntungannya, itu hanyalah bonus karena ada yang lebih penting dari semua hal itu yaitu PROSES. Tidak ada yang lebih berharga dibandingkan proses itu sendiri. Karena ketika kita berproses untuk mewujudkan sesuatu dan ketika kita telah berhasil mendapatkannya, maka semua yang kita dapatkan akan terasa biasa-biasa saja tetapi PROSES YANG KITA LEWATI untuk sampai ke situ menjadi SANGAT LUAR BIASA. (*)
Puzzle 1
Diposting oleh
Puzzle of Me
/
Comments: (5)
Aku seorang gadis remaja. Umurku belum ada 17 tahun dan sekarang ini aku tengah duduk di bangku kelas 2 SMA. Rasanya aku patut berbangga hati, karena aku beruntung bisa masuk ke sekolah ini. Bagaimana tidak? Sekolahku ini adalah sekolah favorit pertama di kota kecilku. Aku jadi ingat ketika dulu aku sempat dimarahi oleh kakak-kakak kelasku, waktu aku mendaftarkan diri ke sekolah ini di hari terakhir. Aku pun juga tidak mau disalahkan karena waktu itu sebenarnya aku tidak berencana masuk ke sekolah ini. Aku punya cita-cita sekolah di kota besar dan keluar dari kotaku yang kecil ini. Aku sempat diantar oleh ayahku untuk mendaftar di salah satu SMA Negeri di Surakarta, aku juga sudah hampir mengisi formulir pendaftaran setelah guru di sana meyakinkan aku dan ayahku bahwa Nilai Ebtanas Murni (NEM)-ku mencukupi untuk pendaftar dari luar kota. Namun sesaat setelah aku duduk hendak mengisi formulir, ayahku tiba-tiba mendekatiku dan berkata demikian,
"Apa tidak sebaiknya formulir pendaftarannya kita bawa pulang saja ?"
"Kenapa dibawa pulang, Ayah ?" tanyaku penuh keheranan.
"Kalau dibawa ke rumah, kamu kan bisa leluasa ngisinya. Kamu juga punya banyak waktu untuk berbincang dengan Ibu dan juga Ayah."
Aku merasa heran dengan kata-kata ayah barusan. Orang yang paling semangat mendukungku sekolah ke Solo (nama lain Surakarta... udah pada tahu kan?) adalah ayahku, tapi sejenak aku melihat raut wajah ayah, aku merasa kalau ayah sepertinya sedang berusaha ingin mengatakan kalau ayah mulai ragu dengan keinginanku sekolah di Solo. Pada akhirnya aku pun tidak punya jawaban yang lain selain meng-iya-kan kemauan ayah, karena pikirku toh masih ada waktu beberapa hari untuk mengumpulkan formulir pendaftaran itu. Aku dan ayahpun pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, ayah sama sekali tidak membahas tentang calon sekolah baruku itu. Ayah hanya diam saja dan konsentrasi mengendarai mobilnya. Aku juga tak berani bertanya apa-apa sama ayah dan aku pun memilih untuk tidur dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Tak butuh lama untuk sampai ke kotaku dari kota Solo, hanya sekitar 45 menit saja jika jalanan tidak penuh sesak dengan kendaraan berat beroda empat. Jadi aku tidak perlu sampai harus bermimpi dalam tidurku siang hari itu. Aku turun dari mobil dan mulai melangkahkan kaki memasuki rumah, tentunya masih dengan seragam putih biruku yang kupakai sedari pagi tadi. Di ambang pintu, kulihat ibu dengan senyumnya yang menyambut kepulangan aku dan ayah. Setelah dekat dengan ibuku, aku pun meraih tangan ibu dan menciumnya seperti kebiasaanku yang sudah-sudah sejak aku kecil.
"Bagaimana tadi? Sudah dapat sekolah kan? Akhirnya kamu daftar ke SMA berapa ?"
Pertanyaan-pertanyaan ibu tak ubahnya seperti rentetan gerbong kereta api yang sambung menyambung dan tak terputus sampai-sampai aku bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Aku belum jadi daftar kok, Bu."
Cukup dengan satu kalimat itu, akhirnya aku menjawab pertanyaan ibu tadi. Aku pun bergegas menuju kamar untuk menghindari serbuan pertanyaan-pertanyaan ibu yang lain. Ibu pun menatapku penuh dengan tanda tanya dan membiarkanku berlalu begitu saja dari hadapannya seperti polisi yang membebaskan seorang tahanan tak bersalah dari selnya. Dan setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang sedang diperbincangkan ibu dan ayahku mengenai aku, karena aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku yang belum sempat bermimpi tadi.
Keesokan harinya, aku belum punya rencana ke mana-mana dan dengan santai, aku melakukan rutinitas harianku seperti biasa tanpa harus takut terlambat pergi ke sekolah. Maklumlah hari itu kan masih liburan anak sekolah. Kalau ternyata di jalan raya depan rumahku banyak anak sekolah entah itu berseragam SD atau SMP berlalu lalang, aku rasa mereka bukan untuk pergi belajar ke sekolah tapi untuk mencari sekolah, sama seperti yang kulakukan kemarin ke kota Solo. Oh iya, semalam aku tidak keluar kamar sama sekali, makan malam juga di dalam kamar, dan ayah ibu juga tidak memanggilku keluar, kira-kira bagaimana ya nasib calon sekolah baruku kemarin. Aku juga belum menitikkan tinta setetespun di formulir pendaftaran sampai pagi ini, karena aku masih bingung mengartikan sikap ayah kemarin itu. Jangan-jangan ayah tidak mau lagi mendukungku masuk ke sekolah itu. Oh tidak... SMA Negeri 3 Solo kan salah satu sekolah favorit di kota Solo, rasanya sayang sekali kalau aku melewatkan kesempatan ini. Bukankah di sana aku akan mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sekolah di kota kecil ini???
"Dik, kamu beneran pengen sekolah ke Solo ?"
DIK... Begitulah ibu biasa memanggilku sehari-hari, mungkin karena aku yang masih kecil atau karena aku memang adik dari kakakku, makanya aku dipanggil seperti itu oleh ibu.
"Kenapa Ibu bertanya seperti itu ?"
"Ehmm... Ibu cuma pengen tahu aja seberapa besar sih keinginan kamu untuk sekolah ke Solo."
"Sebenernya aku pengen sekali bisa sekolah di Solo, apalagi di SMA Negeri 3 Solo. Itu kan salah satu sekolah favorit di Solo, Bu. Kemarin sih aku sempat ke SMA Negeri 1 Solo, tapi pendaftaran di sana sudah ditutup karena jumlah siswanya sudah terpenuhi. Makanya trus aku sama Ayah, cari informasi ke SMA 3 dan setelah guru di sana bilang NEM-ku memenuhi kriteria, akhirnya aku mau daftar di sana. Waktu aku keliling SMA 3, aku sudah membayangkan menjadi salah satu murid di sana sepertinya sangat menyenangkan. Tapi ketika Ayah tiba-tiba menyuruhku untuk membawa formulir pendaftarannya pulang, aku jadi khawatir kalau-kalau aku tidak boleh sekolah di sana."
"Dik, Ayah tidak bermaksud seperti itu. Ayah sama Ibu kemarin sudah membicarakan mengenai sekolah kamu. Apapun yang kamu anggap terbaik untuk diri kamu, Ayah dan Ibu pasti akan mendukungnya. Hanya saja, apa kamu sudah benar-benar memikirkan segala sesuatunya jika akhirnya nanti kamu benar-benar bersekolah di sana? Yang pasti kamu akan jauh dari Ayah dan Ibu, trus kamu tinggal sendiri di kos, belum lagi bagaimana dengan hidup kamu sehari-hari nantinya, bagaimana dengan pergaulan kamu di sana dan masih banyak yang lagi lainnya. Apa kamu sudah memikirkan semua itu ?"
Ibu memang benar sih, aku memang belum pernah berpikir sampai sejauh itu. Yang ada di kepalaku hanyalah menjadi seorang siswa salah satu sekolah favorit di kota Solo. Selama ini aku tidak pernah jauh dari kedua orang tuaku, setidaknya sampai aku lulus SMP. Kebutuhanku sehari-hari dan kebutuhan sekolahku selalu dipenuhi oleh kedua orangtuaku. Kira-kira apa aku siap ya jika semuanya berubah satu per satu? Aku harus hidup sendiri, mengurus diriku sendiri, menyiapkan kebutuhan sehari-hari juga sendiri dan ketika di kos, aku pun juga harus siap tanpa ayahku, ibuku, kakakku dan adik-adikku. Apa aku sudah siap dengan semua itu? Tapi aku tidak ingin memikirkannya dulu, membayangkannya saja membuat nyaliku ciut.
"Itu mungkin beberapa hal yang Ayah dan Ibu khawatirkan. Kamu masih terlalu kecil untuk hidup terpisah dari Ayah dan Ibu. Coba kamu pikirkan kembali dan jika pada akhirnya kamu memang benar-benar siap dengan segala konsekuensinya, baiklah Ayah dan Ibu tidak akan menghalangi keinginan kamu."
Ternyata memang benar dugaanku, sikap aneh ayah kemarin itu menandakan keragu-raguan dan kekhawatirannya jika aku sekolah di luar kota, di tempat yang jauh dari orang tuaku. Memang sih apa yang dikatakan ibu adalah sebuah nasihat bijaksana yang wajar dikatakan oleh orang tua kepada anaknya, tapi sekali lagi kalau boleh rasanya aku tidak ingin memikirkan segala sesuatu yang belum pernah aku bayangkan akan terjadi padaku, aku hanya ingin mewujudkan impianku saja jika itu diperbolehkan. Tetapi aku yakin, ayah dan ibu tidak akan mengijinkan aku jika aku hanya menurutkan keinginanku saja tanpa dibarengi pemikiran yang matang dan masak ala orang dewasa. Aku kan masih kecil, aku belum bisa kalau disuruh berpikir layaknya orang dewasa, sehingga mau tidak mau aku harus mendengar dan mengikuti kata-kata orang tuaku. Kalau sudah begitu, aku tidak punya alasan yang jitu untuk bisa menyanggah kata-kata ayah dan ibuku. Hal itulah yang akhirnya mengantarkan aku melangkahkan kaki ke sekolah yang aku sebut tadi sekolah favorit pertama di kota kecilku, SMA Negeri 1 Sragen.
Dengan mengayuh sepeda mini yang selalu menemaniku sejak aku masuk SMP, aku datang untuk mendaftarkan diri ke SMA 1, yang lebih terkenal dengan nama SMANSA (singkatan dari SMA Negeri Satu). Pagi itu aku datang seorang diri tanpa didampingi ayah dan ibu. Entahlah kenapa aku dibiarkan datang seorang diri, aku tidak tahu alasan ayah dan ibuku, yang aku tahu ayahku sudah berangkat pagi-pagi ke kantor dan ibuku pun pasti juga tidak akan bisa meninggalkan rumah karena harus menunggui usaha bengkel sepeda motornya. Yang jelas aku berbeda dengan anak-anak yang kulihat pagi itu, yang ditemani oleh ayahnya atau ibunya dan bahkan ada yang lengkap dengan ayah sekaligus ibunya. Rasanya aku iri dengan mereka, tapi ya sudahlah toh sekarang aku sudah sampai di SMANSA. Mustahil kan jika akhirnya aku kembali pulang hanya karena aku ingin ditemani ayahku atau ibuku, hemmm... buang-buang waktu, bisa-bisa pendaftarannya keburu ditutup karena hari itu adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru.
"Kak, boleh aku minta formulir pendaftarannya satu lembar ?"
"Lho... kamu baru daftar hari ini ?"
"Iya, Kak..."
"Memangnya sebelumnya kamu mendaftar di mana ?"
Kenapa kakak ini langsung tahu ya kalau aku sebelumnya udah mencoba mendaftar di sekolah lain? Apakah kelihatan dari raut mukaku? Ah... rasanya tidak mungkin. Hebat sekali kakak ini, kalau bisa membacaku hanya dari raut mukaku saja. Akhirnya aku tidak menjawab apa-apa karena aku malu mengatakan yang sebenarnya. Kalau aku mengatakan kemarin sempat hampir mendaftar di SMA Negeri 3 Solo dan akhirnya nggak jadi, aku takut kalau kakak ini menganggapku anak yang bodoh yang ditolak oleh SMA Negeri 3 Solo sehingga baru daftar di SMANSA di hari terakhir pula. Padahal kenyataannya kan tidak seperti itu. Jadi alangkah baiknya kalau aku simpan saja cerita itu dan aku hadiahkan senyumku sebagai jawaban untuk kakak itu.
"Kebanyakan hari ini tuh pada mengundurkan diri apalagi yang NEM-nya berada di posisi-posisi rawan. Mereka memilih mendaftar ke SMA 2 atau 3 daripada nanti tidak diterima di sini. Nah ini aneh, saat orang pada memilih pindah, kamu malah baru mau daftar. Apa kamu tidak tahu kalau hari ini itu hari terakhir pendaftaran ?"
"Aku tahu kok, Kak. Justru karena hari ini adalah hari terakhir, makanya aku datang untuk mendaftar."
"Aku jadi penasaran... Coba sini aku lihat NEM kamu."
Aku pun menyerahkan selembar kertas yang berisikan nilai-nilai Ebtanas-ku waktu kelas 3 SMP kemarin. Dan sesaat setelah melihat lembaran kertas itu, mendadak raut muka kakak itu berubah menjadi aneh memandangku. Aduh... kenapa ya? Kenapa kakak memandangiku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan NEM-ku?
"Wah kamu ini bener-bener kelewatan deh. Kamu itu harusnya nggak berbuat seperti ini. Harusnya kamu daftar di hari pertama bukan di hari terakhir. Kamu tahu nggak, perbuatan kamu ini bisa merugikan orang lain. Dan yang lebih parah, kamu bisa membuat teman kamu yang lain tidak mendapat sekolah."
Lho... lho... lho... Kenapa kakak ini tiba-tiba memarahiku? Kenapa? Emangnya aku salah apa? Kenapa setelah melihat NEM-ku, kakak itu malah memarahiku, bukankah nilaiku tidak terlalu jelek untuk mendaftar di sekolah ini? Dan nggak hanya kakak itu saja yang memarahiku, seperti api yang menjalar ke mana-mana, teman-temannya jadi ikut melihat NEM-ku dan sesaat kemudian ikut-ikutan memarahiku juga. Aku jadi bingung, apa salahku, apa pula dosaku? (Hahahahahaha... andaikan aku sedang di atas panggung dan sedang berpuisi, mungkin kalimatku barusan akan terdengar lebih enak... hahahaha... Opppssss STOP!!!!) Akhirnya mimik wajahku pun berubah menjadi keruh dan berusaha menunjukkan kalau aku tidak terima diperlakukan seperti itu tanpa alasan yang bisa kumengerti.
"Memangnya kenapa, Kak? Bukannya pendaftaran siswa baru belum ditutup, berarti aku masih punya kesempatan kan untuk mendaftar di sini juga? Lantas salahku di mana ?"
"Salah kamu adalah nilai kamu itu terlalu bagus untuk mendaftar di hari terakhir..."
Hahhhh... Kakak bilang nilaiku terlalu bagus? Harusnya aku dipuji dong bukannya malah dapat omelan yang nggak menyenangkan sama sekali seperti itu. Heran deh aku... apa zaman udah berubah sekarang? Kalau dapat nilai bagus dapat cacian, tapi kalau nilainya jelek malah dipuji-puji, begitukah? Oh My God... kalau memang begitu kenapa harus ada sekolah, kenapa harus ada guru dan kenapa harus susah-susah belajar, tanpa semua itu aku rasa semua orang akan dengan mudah mendapatkan nilai jelek, jadi untuk apakah semua ini?
"Kamu tahu dengan nilai kamu yang seperti ini, kamu akan dengan mudah berada dalam urutan teratas daftar siswa yang akan diterima. Dengan begitu, secara otomatis kamu akan dengan mudah juga menggeser nilai-nilai di bawah kamu. Dan yang menjadi korban di sini adalah teman-temanmu yang nilainya ada di posisi kritis. Coba kamu bayangkan, hari ini adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru. Aku rasa banyak siswa yang berada di posisi kritis berharap tidak ada lagi siswa baru yang mendaftar hari ini, agar posisinya tidak terancam dan masih punya harapan diterima di sekolah ini. Karena kalau mereka dinyatakan tidak diterima hari ini, bisa dipastikan mereka sudah tidak bisa mendaftarkan diri ke SMA Negeri yang lain dan hanya punya kesempatan sekolah di sekolah non-negeri. Apa kamu nggak kasihan sama mereka ?"
Astaga... aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Sungguh... aku tidak punya niat untuk merugikan siswa lain seperti yang kakak bilang barusan. Aku memang benar-benar baru siap mendaftar ke sini hari ini, karena kemarin-kemarin aku masih berharap ayah ibu mau berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk sekolah di Solo. Makanya ketika semalam ternyata tidak ada tanda-tanda perubahan keputusan ayah dan ibu, mau tidak mau aku harus mendaftar ke sini, karena kalau tidak, aku bisa kehilangan kesempatan bersekolah di sekolah negeri. Sungguh kakak, aku tidak punya niat sejahat itu sama mereka yang nilainya di bawah aku. Aku memang tidak berpikir sampai ke situ dan seandainya ada pilihan yang lain, aku bersedia kok untuk mengambil pilihan yang lain itu, jika memang dengan mendaftar di sini, aku dianggap merugikan orang lain :(
Aku tertunduk lesu merasa bersalah... dan mungkin kakak itu bisa melihat aku yang benar-benar merasa bersalah dan tidak sengaja melakukan semua ini.
"Ya sudahlah... anggap saja ini keberuntungan kamu... Ini formulirnya dan segera isi formulirnya lalu serahkan ke ruang pojok itu. Di sana nanti ada yang akan membantu kamu."
Akhirnya lega juga... aku terbebas dari penghakiman kakak-kakak itu. Aku pun bisa melenggang dengan santai masuk ke ruang kelas pengumpulan formulir. Tapi aku belum mau mengumpulkan formulirnya, kan belum diisi... aku mau cari tempat duduk dulu trus mengisi formulirnya, baru deh dikumpulin. Begitulah ceritaku ketika aku hendak memasuki sekolah ini. Pengalaman yang tak terlupakan olehku yang pada akhirnya menjadi pelajaran berharga juga untukku.
Dan tak terasa setahun pertama di sekolah ini akhirnya lewat sudah. Banyak sekali cerita yang sudah terukir selama setahun kemarin. Aku bersyukur karena selama ini aku mendapatkan guru-guru yang hebat dalam mengajar sehingga aku bisa mengikuti pelajaran kelas 1 SMA dengan cukup baik. Hasil belajarku pun selama setahun kemarin sangat memuaskan. Di caturwulan pertama, aku mendapatkan juara kelas, tapi sayangnya aku tidak sendirian. Ada 2 orang yang mendapatkan juara kelas, aku salah satunya dan seorang teman cowokku yang bernama Aji.
Kalian tahu, secara fisik Aji itu anak yang cukup tampan. Kulitnya putih dan penampilannya rapi, dia cukup sopan untuk ukuran seorang cowok. Selain itu, dia anak yang humoris karena aku sering melihatnya bercanda dengan teman-teman yang lain. Tapi jujur, aku tidak terlalu sering bicara dengan dia, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari. Aku merasa kurang nyaman dekat-dekat dengan dia. Mau tahu alasannya kenapa? Alasan pertama, karena dia termasuk cowok yang tampan. Alasan kedua, karena aku dengar dia adalah murid yang lulus SMP dengan NEM tertinggi se-Kabupaten Sragen. Kedua alasan itulah yang membuatku merasa nggak nyaman dengannya.
Apa? Aku aneh? Mungkin memang benar, aku aneh karena alasan yang aku kemukakan tadi. Tapi emang seperti itulah adanya, entah sejak kapan aku sendiri tidak menyadarinya kalau berada di dekat cowok yang tampan itu membuatku risih. Aku risih karena dengan demikian akan sangat terlihat perbedaan yang cukup signifikan. Ada cowok ganteng dan di sebelahnya ada cewek 'jelek'. Biarlah aku menyebutnya dengan kata 'jelek' saja, meskipun terdengar sangat kasar, tapi kata itu lebih mudah untuk menggambarkan kondisi wajahku. Aku memang mengakui hal itu, tapi aku tidak bermaksud untuk tidak mensyukuri hasil ciptaan Sang Maha Kuasa. Aku hanya mencoba untuk berkata jujur saja. Aku justru akan marah jika ada yang mengatakan aku ini cantik, karena itu aku anggap sebagai penghinaan yang sangat kejam. Bagaimana tidak? Dengan mengatakan aku cantik, berarti kalian telah membuat aku terbuai dalam fatamorgana impian. Iya kalau aku nanti bisa tersadar kembali, kalau akhirnya aku nggak pernah sadar dan kebablasan, gimana hayo?? Apa itu tidak kejam? Kejam sekali bukan? Nah kurang lebih begitulah alasan kenapa aku benci (maaf jika aku terlalu vulgar mengatakannya) berada di dekat cowok yang tampan alias ganteng atau apalah sebutannya.
Alasan kedua, ya jelaslah... dari kecil aku sudah terbiasa untuk selalu berusaha menjadi pemenang atau juara, meskipun nggak selalu kesampaian juga sih hehehe.. Tapi jiwa itu seperti mendarah daging di diriku. Aku selalu berusaha mendapatkan posisi tertinggi dalam segala hal, karena kalau aku tidak demikian, tidak akan ada orang yang mengenalku. Aku akan tenggelam dan orang tidak akan tahu tentang aku, karena menurutku tidak ada hal lain yang bisa dibanggakan selain prestasiku. Okaylah aku ulangi sekali lagi, aku bukan cewek yang cantik, aku ini sangat egois, mana mungkin ada yang mau berteman denganku kalau aku tidak punya keistimewaan apapun, makanya aku harus jadi anak yang pandai dan selalu berusaha jadi juara, agar tidak ada yang merendahkanku dan mereka mau menghargai aku serta menganggap aku ini ada. EKSISTANSI, sebuah pengakuan dari orang lain, mungkin itulah aku menyebutnya sebagai sesuatu yang aku kejar. Jadi ketika aku merasa mulai ada saingan atau lawan, aku tidak akan mungkin bisa merasa nyaman berdekat-dekat dengan dia, karena dia mengancam eksistansi-ku. Dan karena itulah, aku berjuang dan belajar lebih keras lagi sehingga akhirnya aku bisa mendapatkan predikat juara kelas tunggal di caturwulan kedua dan ketiga. Puas sekali rasanya aku waktu itu. Jerih payahku selama setahun tidak berakhir dengan sia-sia dan aku bisa dengan bangga menceritakannya kepada kalian semua. Dengan berbekal kebanggaan itulah, aku kini melanjutkan langkahku di tahun kedua di sekolah yang sama tapi dengan teman-teman yang berbeda. (*)
"Apa tidak sebaiknya formulir pendaftarannya kita bawa pulang saja ?"
"Kenapa dibawa pulang, Ayah ?" tanyaku penuh keheranan.
"Kalau dibawa ke rumah, kamu kan bisa leluasa ngisinya. Kamu juga punya banyak waktu untuk berbincang dengan Ibu dan juga Ayah."
Aku merasa heran dengan kata-kata ayah barusan. Orang yang paling semangat mendukungku sekolah ke Solo (nama lain Surakarta... udah pada tahu kan?) adalah ayahku, tapi sejenak aku melihat raut wajah ayah, aku merasa kalau ayah sepertinya sedang berusaha ingin mengatakan kalau ayah mulai ragu dengan keinginanku sekolah di Solo. Pada akhirnya aku pun tidak punya jawaban yang lain selain meng-iya-kan kemauan ayah, karena pikirku toh masih ada waktu beberapa hari untuk mengumpulkan formulir pendaftaran itu. Aku dan ayahpun pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, ayah sama sekali tidak membahas tentang calon sekolah baruku itu. Ayah hanya diam saja dan konsentrasi mengendarai mobilnya. Aku juga tak berani bertanya apa-apa sama ayah dan aku pun memilih untuk tidur dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Tak butuh lama untuk sampai ke kotaku dari kota Solo, hanya sekitar 45 menit saja jika jalanan tidak penuh sesak dengan kendaraan berat beroda empat. Jadi aku tidak perlu sampai harus bermimpi dalam tidurku siang hari itu. Aku turun dari mobil dan mulai melangkahkan kaki memasuki rumah, tentunya masih dengan seragam putih biruku yang kupakai sedari pagi tadi. Di ambang pintu, kulihat ibu dengan senyumnya yang menyambut kepulangan aku dan ayah. Setelah dekat dengan ibuku, aku pun meraih tangan ibu dan menciumnya seperti kebiasaanku yang sudah-sudah sejak aku kecil.
"Bagaimana tadi? Sudah dapat sekolah kan? Akhirnya kamu daftar ke SMA berapa ?"
Pertanyaan-pertanyaan ibu tak ubahnya seperti rentetan gerbong kereta api yang sambung menyambung dan tak terputus sampai-sampai aku bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Aku belum jadi daftar kok, Bu."
Cukup dengan satu kalimat itu, akhirnya aku menjawab pertanyaan ibu tadi. Aku pun bergegas menuju kamar untuk menghindari serbuan pertanyaan-pertanyaan ibu yang lain. Ibu pun menatapku penuh dengan tanda tanya dan membiarkanku berlalu begitu saja dari hadapannya seperti polisi yang membebaskan seorang tahanan tak bersalah dari selnya. Dan setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang sedang diperbincangkan ibu dan ayahku mengenai aku, karena aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku yang belum sempat bermimpi tadi.
Keesokan harinya, aku belum punya rencana ke mana-mana dan dengan santai, aku melakukan rutinitas harianku seperti biasa tanpa harus takut terlambat pergi ke sekolah. Maklumlah hari itu kan masih liburan anak sekolah. Kalau ternyata di jalan raya depan rumahku banyak anak sekolah entah itu berseragam SD atau SMP berlalu lalang, aku rasa mereka bukan untuk pergi belajar ke sekolah tapi untuk mencari sekolah, sama seperti yang kulakukan kemarin ke kota Solo. Oh iya, semalam aku tidak keluar kamar sama sekali, makan malam juga di dalam kamar, dan ayah ibu juga tidak memanggilku keluar, kira-kira bagaimana ya nasib calon sekolah baruku kemarin. Aku juga belum menitikkan tinta setetespun di formulir pendaftaran sampai pagi ini, karena aku masih bingung mengartikan sikap ayah kemarin itu. Jangan-jangan ayah tidak mau lagi mendukungku masuk ke sekolah itu. Oh tidak... SMA Negeri 3 Solo kan salah satu sekolah favorit di kota Solo, rasanya sayang sekali kalau aku melewatkan kesempatan ini. Bukankah di sana aku akan mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sekolah di kota kecil ini???
"Dik, kamu beneran pengen sekolah ke Solo ?"
DIK... Begitulah ibu biasa memanggilku sehari-hari, mungkin karena aku yang masih kecil atau karena aku memang adik dari kakakku, makanya aku dipanggil seperti itu oleh ibu.
"Kenapa Ibu bertanya seperti itu ?"
"Ehmm... Ibu cuma pengen tahu aja seberapa besar sih keinginan kamu untuk sekolah ke Solo."
"Sebenernya aku pengen sekali bisa sekolah di Solo, apalagi di SMA Negeri 3 Solo. Itu kan salah satu sekolah favorit di Solo, Bu. Kemarin sih aku sempat ke SMA Negeri 1 Solo, tapi pendaftaran di sana sudah ditutup karena jumlah siswanya sudah terpenuhi. Makanya trus aku sama Ayah, cari informasi ke SMA 3 dan setelah guru di sana bilang NEM-ku memenuhi kriteria, akhirnya aku mau daftar di sana. Waktu aku keliling SMA 3, aku sudah membayangkan menjadi salah satu murid di sana sepertinya sangat menyenangkan. Tapi ketika Ayah tiba-tiba menyuruhku untuk membawa formulir pendaftarannya pulang, aku jadi khawatir kalau-kalau aku tidak boleh sekolah di sana."
"Dik, Ayah tidak bermaksud seperti itu. Ayah sama Ibu kemarin sudah membicarakan mengenai sekolah kamu. Apapun yang kamu anggap terbaik untuk diri kamu, Ayah dan Ibu pasti akan mendukungnya. Hanya saja, apa kamu sudah benar-benar memikirkan segala sesuatunya jika akhirnya nanti kamu benar-benar bersekolah di sana? Yang pasti kamu akan jauh dari Ayah dan Ibu, trus kamu tinggal sendiri di kos, belum lagi bagaimana dengan hidup kamu sehari-hari nantinya, bagaimana dengan pergaulan kamu di sana dan masih banyak yang lagi lainnya. Apa kamu sudah memikirkan semua itu ?"
Ibu memang benar sih, aku memang belum pernah berpikir sampai sejauh itu. Yang ada di kepalaku hanyalah menjadi seorang siswa salah satu sekolah favorit di kota Solo. Selama ini aku tidak pernah jauh dari kedua orang tuaku, setidaknya sampai aku lulus SMP. Kebutuhanku sehari-hari dan kebutuhan sekolahku selalu dipenuhi oleh kedua orangtuaku. Kira-kira apa aku siap ya jika semuanya berubah satu per satu? Aku harus hidup sendiri, mengurus diriku sendiri, menyiapkan kebutuhan sehari-hari juga sendiri dan ketika di kos, aku pun juga harus siap tanpa ayahku, ibuku, kakakku dan adik-adikku. Apa aku sudah siap dengan semua itu? Tapi aku tidak ingin memikirkannya dulu, membayangkannya saja membuat nyaliku ciut.
"Itu mungkin beberapa hal yang Ayah dan Ibu khawatirkan. Kamu masih terlalu kecil untuk hidup terpisah dari Ayah dan Ibu. Coba kamu pikirkan kembali dan jika pada akhirnya kamu memang benar-benar siap dengan segala konsekuensinya, baiklah Ayah dan Ibu tidak akan menghalangi keinginan kamu."
Ternyata memang benar dugaanku, sikap aneh ayah kemarin itu menandakan keragu-raguan dan kekhawatirannya jika aku sekolah di luar kota, di tempat yang jauh dari orang tuaku. Memang sih apa yang dikatakan ibu adalah sebuah nasihat bijaksana yang wajar dikatakan oleh orang tua kepada anaknya, tapi sekali lagi kalau boleh rasanya aku tidak ingin memikirkan segala sesuatu yang belum pernah aku bayangkan akan terjadi padaku, aku hanya ingin mewujudkan impianku saja jika itu diperbolehkan. Tetapi aku yakin, ayah dan ibu tidak akan mengijinkan aku jika aku hanya menurutkan keinginanku saja tanpa dibarengi pemikiran yang matang dan masak ala orang dewasa. Aku kan masih kecil, aku belum bisa kalau disuruh berpikir layaknya orang dewasa, sehingga mau tidak mau aku harus mendengar dan mengikuti kata-kata orang tuaku. Kalau sudah begitu, aku tidak punya alasan yang jitu untuk bisa menyanggah kata-kata ayah dan ibuku. Hal itulah yang akhirnya mengantarkan aku melangkahkan kaki ke sekolah yang aku sebut tadi sekolah favorit pertama di kota kecilku, SMA Negeri 1 Sragen.
Dengan mengayuh sepeda mini yang selalu menemaniku sejak aku masuk SMP, aku datang untuk mendaftarkan diri ke SMA 1, yang lebih terkenal dengan nama SMANSA (singkatan dari SMA Negeri Satu). Pagi itu aku datang seorang diri tanpa didampingi ayah dan ibu. Entahlah kenapa aku dibiarkan datang seorang diri, aku tidak tahu alasan ayah dan ibuku, yang aku tahu ayahku sudah berangkat pagi-pagi ke kantor dan ibuku pun pasti juga tidak akan bisa meninggalkan rumah karena harus menunggui usaha bengkel sepeda motornya. Yang jelas aku berbeda dengan anak-anak yang kulihat pagi itu, yang ditemani oleh ayahnya atau ibunya dan bahkan ada yang lengkap dengan ayah sekaligus ibunya. Rasanya aku iri dengan mereka, tapi ya sudahlah toh sekarang aku sudah sampai di SMANSA. Mustahil kan jika akhirnya aku kembali pulang hanya karena aku ingin ditemani ayahku atau ibuku, hemmm... buang-buang waktu, bisa-bisa pendaftarannya keburu ditutup karena hari itu adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru.
"Kak, boleh aku minta formulir pendaftarannya satu lembar ?"
"Lho... kamu baru daftar hari ini ?"
"Iya, Kak..."
"Memangnya sebelumnya kamu mendaftar di mana ?"
Kenapa kakak ini langsung tahu ya kalau aku sebelumnya udah mencoba mendaftar di sekolah lain? Apakah kelihatan dari raut mukaku? Ah... rasanya tidak mungkin. Hebat sekali kakak ini, kalau bisa membacaku hanya dari raut mukaku saja. Akhirnya aku tidak menjawab apa-apa karena aku malu mengatakan yang sebenarnya. Kalau aku mengatakan kemarin sempat hampir mendaftar di SMA Negeri 3 Solo dan akhirnya nggak jadi, aku takut kalau kakak ini menganggapku anak yang bodoh yang ditolak oleh SMA Negeri 3 Solo sehingga baru daftar di SMANSA di hari terakhir pula. Padahal kenyataannya kan tidak seperti itu. Jadi alangkah baiknya kalau aku simpan saja cerita itu dan aku hadiahkan senyumku sebagai jawaban untuk kakak itu.
"Kebanyakan hari ini tuh pada mengundurkan diri apalagi yang NEM-nya berada di posisi-posisi rawan. Mereka memilih mendaftar ke SMA 2 atau 3 daripada nanti tidak diterima di sini. Nah ini aneh, saat orang pada memilih pindah, kamu malah baru mau daftar. Apa kamu tidak tahu kalau hari ini itu hari terakhir pendaftaran ?"
"Aku tahu kok, Kak. Justru karena hari ini adalah hari terakhir, makanya aku datang untuk mendaftar."
"Aku jadi penasaran... Coba sini aku lihat NEM kamu."
Aku pun menyerahkan selembar kertas yang berisikan nilai-nilai Ebtanas-ku waktu kelas 3 SMP kemarin. Dan sesaat setelah melihat lembaran kertas itu, mendadak raut muka kakak itu berubah menjadi aneh memandangku. Aduh... kenapa ya? Kenapa kakak memandangiku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan NEM-ku?
"Wah kamu ini bener-bener kelewatan deh. Kamu itu harusnya nggak berbuat seperti ini. Harusnya kamu daftar di hari pertama bukan di hari terakhir. Kamu tahu nggak, perbuatan kamu ini bisa merugikan orang lain. Dan yang lebih parah, kamu bisa membuat teman kamu yang lain tidak mendapat sekolah."
Lho... lho... lho... Kenapa kakak ini tiba-tiba memarahiku? Kenapa? Emangnya aku salah apa? Kenapa setelah melihat NEM-ku, kakak itu malah memarahiku, bukankah nilaiku tidak terlalu jelek untuk mendaftar di sekolah ini? Dan nggak hanya kakak itu saja yang memarahiku, seperti api yang menjalar ke mana-mana, teman-temannya jadi ikut melihat NEM-ku dan sesaat kemudian ikut-ikutan memarahiku juga. Aku jadi bingung, apa salahku, apa pula dosaku? (Hahahahahaha... andaikan aku sedang di atas panggung dan sedang berpuisi, mungkin kalimatku barusan akan terdengar lebih enak... hahahaha... Opppssss STOP!!!!) Akhirnya mimik wajahku pun berubah menjadi keruh dan berusaha menunjukkan kalau aku tidak terima diperlakukan seperti itu tanpa alasan yang bisa kumengerti.
"Memangnya kenapa, Kak? Bukannya pendaftaran siswa baru belum ditutup, berarti aku masih punya kesempatan kan untuk mendaftar di sini juga? Lantas salahku di mana ?"
"Salah kamu adalah nilai kamu itu terlalu bagus untuk mendaftar di hari terakhir..."
Hahhhh... Kakak bilang nilaiku terlalu bagus? Harusnya aku dipuji dong bukannya malah dapat omelan yang nggak menyenangkan sama sekali seperti itu. Heran deh aku... apa zaman udah berubah sekarang? Kalau dapat nilai bagus dapat cacian, tapi kalau nilainya jelek malah dipuji-puji, begitukah? Oh My God... kalau memang begitu kenapa harus ada sekolah, kenapa harus ada guru dan kenapa harus susah-susah belajar, tanpa semua itu aku rasa semua orang akan dengan mudah mendapatkan nilai jelek, jadi untuk apakah semua ini?
"Kamu tahu dengan nilai kamu yang seperti ini, kamu akan dengan mudah berada dalam urutan teratas daftar siswa yang akan diterima. Dengan begitu, secara otomatis kamu akan dengan mudah juga menggeser nilai-nilai di bawah kamu. Dan yang menjadi korban di sini adalah teman-temanmu yang nilainya ada di posisi kritis. Coba kamu bayangkan, hari ini adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru. Aku rasa banyak siswa yang berada di posisi kritis berharap tidak ada lagi siswa baru yang mendaftar hari ini, agar posisinya tidak terancam dan masih punya harapan diterima di sekolah ini. Karena kalau mereka dinyatakan tidak diterima hari ini, bisa dipastikan mereka sudah tidak bisa mendaftarkan diri ke SMA Negeri yang lain dan hanya punya kesempatan sekolah di sekolah non-negeri. Apa kamu nggak kasihan sama mereka ?"
Astaga... aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Sungguh... aku tidak punya niat untuk merugikan siswa lain seperti yang kakak bilang barusan. Aku memang benar-benar baru siap mendaftar ke sini hari ini, karena kemarin-kemarin aku masih berharap ayah ibu mau berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk sekolah di Solo. Makanya ketika semalam ternyata tidak ada tanda-tanda perubahan keputusan ayah dan ibu, mau tidak mau aku harus mendaftar ke sini, karena kalau tidak, aku bisa kehilangan kesempatan bersekolah di sekolah negeri. Sungguh kakak, aku tidak punya niat sejahat itu sama mereka yang nilainya di bawah aku. Aku memang tidak berpikir sampai ke situ dan seandainya ada pilihan yang lain, aku bersedia kok untuk mengambil pilihan yang lain itu, jika memang dengan mendaftar di sini, aku dianggap merugikan orang lain :(
Aku tertunduk lesu merasa bersalah... dan mungkin kakak itu bisa melihat aku yang benar-benar merasa bersalah dan tidak sengaja melakukan semua ini.
"Ya sudahlah... anggap saja ini keberuntungan kamu... Ini formulirnya dan segera isi formulirnya lalu serahkan ke ruang pojok itu. Di sana nanti ada yang akan membantu kamu."
Akhirnya lega juga... aku terbebas dari penghakiman kakak-kakak itu. Aku pun bisa melenggang dengan santai masuk ke ruang kelas pengumpulan formulir. Tapi aku belum mau mengumpulkan formulirnya, kan belum diisi... aku mau cari tempat duduk dulu trus mengisi formulirnya, baru deh dikumpulin. Begitulah ceritaku ketika aku hendak memasuki sekolah ini. Pengalaman yang tak terlupakan olehku yang pada akhirnya menjadi pelajaran berharga juga untukku.
Dan tak terasa setahun pertama di sekolah ini akhirnya lewat sudah. Banyak sekali cerita yang sudah terukir selama setahun kemarin. Aku bersyukur karena selama ini aku mendapatkan guru-guru yang hebat dalam mengajar sehingga aku bisa mengikuti pelajaran kelas 1 SMA dengan cukup baik. Hasil belajarku pun selama setahun kemarin sangat memuaskan. Di caturwulan pertama, aku mendapatkan juara kelas, tapi sayangnya aku tidak sendirian. Ada 2 orang yang mendapatkan juara kelas, aku salah satunya dan seorang teman cowokku yang bernama Aji.
Kalian tahu, secara fisik Aji itu anak yang cukup tampan. Kulitnya putih dan penampilannya rapi, dia cukup sopan untuk ukuran seorang cowok. Selain itu, dia anak yang humoris karena aku sering melihatnya bercanda dengan teman-teman yang lain. Tapi jujur, aku tidak terlalu sering bicara dengan dia, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari. Aku merasa kurang nyaman dekat-dekat dengan dia. Mau tahu alasannya kenapa? Alasan pertama, karena dia termasuk cowok yang tampan. Alasan kedua, karena aku dengar dia adalah murid yang lulus SMP dengan NEM tertinggi se-Kabupaten Sragen. Kedua alasan itulah yang membuatku merasa nggak nyaman dengannya.
Apa? Aku aneh? Mungkin memang benar, aku aneh karena alasan yang aku kemukakan tadi. Tapi emang seperti itulah adanya, entah sejak kapan aku sendiri tidak menyadarinya kalau berada di dekat cowok yang tampan itu membuatku risih. Aku risih karena dengan demikian akan sangat terlihat perbedaan yang cukup signifikan. Ada cowok ganteng dan di sebelahnya ada cewek 'jelek'. Biarlah aku menyebutnya dengan kata 'jelek' saja, meskipun terdengar sangat kasar, tapi kata itu lebih mudah untuk menggambarkan kondisi wajahku. Aku memang mengakui hal itu, tapi aku tidak bermaksud untuk tidak mensyukuri hasil ciptaan Sang Maha Kuasa. Aku hanya mencoba untuk berkata jujur saja. Aku justru akan marah jika ada yang mengatakan aku ini cantik, karena itu aku anggap sebagai penghinaan yang sangat kejam. Bagaimana tidak? Dengan mengatakan aku cantik, berarti kalian telah membuat aku terbuai dalam fatamorgana impian. Iya kalau aku nanti bisa tersadar kembali, kalau akhirnya aku nggak pernah sadar dan kebablasan, gimana hayo?? Apa itu tidak kejam? Kejam sekali bukan? Nah kurang lebih begitulah alasan kenapa aku benci (maaf jika aku terlalu vulgar mengatakannya) berada di dekat cowok yang tampan alias ganteng atau apalah sebutannya.
Alasan kedua, ya jelaslah... dari kecil aku sudah terbiasa untuk selalu berusaha menjadi pemenang atau juara, meskipun nggak selalu kesampaian juga sih hehehe.. Tapi jiwa itu seperti mendarah daging di diriku. Aku selalu berusaha mendapatkan posisi tertinggi dalam segala hal, karena kalau aku tidak demikian, tidak akan ada orang yang mengenalku. Aku akan tenggelam dan orang tidak akan tahu tentang aku, karena menurutku tidak ada hal lain yang bisa dibanggakan selain prestasiku. Okaylah aku ulangi sekali lagi, aku bukan cewek yang cantik, aku ini sangat egois, mana mungkin ada yang mau berteman denganku kalau aku tidak punya keistimewaan apapun, makanya aku harus jadi anak yang pandai dan selalu berusaha jadi juara, agar tidak ada yang merendahkanku dan mereka mau menghargai aku serta menganggap aku ini ada. EKSISTANSI, sebuah pengakuan dari orang lain, mungkin itulah aku menyebutnya sebagai sesuatu yang aku kejar. Jadi ketika aku merasa mulai ada saingan atau lawan, aku tidak akan mungkin bisa merasa nyaman berdekat-dekat dengan dia, karena dia mengancam eksistansi-ku. Dan karena itulah, aku berjuang dan belajar lebih keras lagi sehingga akhirnya aku bisa mendapatkan predikat juara kelas tunggal di caturwulan kedua dan ketiga. Puas sekali rasanya aku waktu itu. Jerih payahku selama setahun tidak berakhir dengan sia-sia dan aku bisa dengan bangga menceritakannya kepada kalian semua. Dengan berbekal kebanggaan itulah, aku kini melanjutkan langkahku di tahun kedua di sekolah yang sama tapi dengan teman-teman yang berbeda. (*)