RSS

Puzzle 4

Jakarta... Tak kusangka sekarang di sinilah aku berdiam. Kota yang tak pernah terbayang sedikit pun di benakku untuk kujadikan tempat bernaung, namun ternyata takdir menuntunku sampai di kota ini. Kota yang penuh sesak manusia dengan segala kompleksitasnya, akhirnya aku tak bisa lagi mengelak darinya. Dahulu mungkin aku sering bertanya-tanya kenapa Jakarta menjadi kota favorit sebagai tempat untuk merantau dan mengadu nasib, kenapa setiap Sarjana yang baru lulus selalu antusias mencari pekerjaan di kota ini? Akhirnya aku tahu jawabannya, karena di sini segala sesuatu bisa jadi uang. Hal sekecil apapun selalu bisa dihargai dengan selembar uang, sehingga banyak orang terpikat dengan daya tarik itu. Namun tak begitu denganku, mencari uang bukanlah alasan aku berada di kota yang selalu identik dengan kemacetan ini, tapi aku sedang berusaha melarikan diri dari duniaku. Mengubur segala bentuk permasalahan yang kutinggalkan di kota asalku, sekedar mencari kedamaian dan keteduhan agar aku bisa melanjutkan hidupku. Aku telah lama kehilangan kenyamanan berada di kota asalku, entah kenapa langkah kaki ini membawaku sampai ke ibukota negara ini, yang pasti aku hanya menurutkan kata hatiku.

Ternyata menyenangkan juga menikmati kota Jakarta ketika Jakarta tertidur dari segala bentuk pluralitasnya. Masih bisa kurasakan udara yang sejuk bebas dari polusi kendaraan di pagi hari ini, tak jauh berbeda dengan kota asalku. Aku merasa seperti ratu jalanan, karena jalan ini sedang tidak dipenuhi kendaraan bermesin seperti ketika siang mulai datang. Andaikan setiap saat selalu bisa seperti ini, mungkin aku bisa mulai tergoda untuk menghabiskan hidupku berlama-lama di kota ini. Namun tentunya bukan sekarang, karena sekarang ini Jakarta hanyalah salah satu tempat persinggahan sementaraku. Jika aku mulai terusik dan tak lagi merasa aman, maka aku takkan berpikir dua kali lagi untuk segera beralih dari kota ini. Seperti kelinci yang melompat ke sana kemari, seperti itulah aku sekarang ini, berpindah dari kota yang satu ke kota yang lain sudah menjadi kesenangan baruku. Hidup di jalanan bukan lagi jadi hal yang menakutkan untukku, karena ternyata itu jauh lebih nikmat dibandingkan dengan hidup di balik terali besi. Yang pasti.... di Jakarta kini aku tengah merenda kisah baru di balik jeruji sang waktu. (*)

0 komentar:

Posting Komentar