Aaaarrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhh..... !!!! Kenapa semuanya jadi kacau begini sih? Bisa gawat kalau diterus-terusin seperti ini. Aduhhhh pusing kepalaku, rasanya seperti mau pecah... Sambil terus memegangi kepalaku, aku berjibaku sendiri di ruang kerjaku. Aku memandangi selembar kertas yang penuh dengan angka rupiah-rupiah yang tergeletak mengejekku di atas meja. Deadline semakin dekat sedangkan dana belum tersedia sama sekali. Harus bagaimanakah aku saat ini? Aku terus berusaha memutar otakku, mencoba mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang akhir-akhir ini datang bertubi-tubi dalam pekerjaanku. Tapi semakin gencar aku berpikir, semakin pening terasa di kepalaku. Adakah yang mau bertukar kepala denganku? Andai saja itu bisa kulakukan, mungkin aku bisa bernapas dengan lega untuk sejenak.
Keheninganku siang itu mulai terusik ketika pintu mulai berdecak. Seseorang di baliknya sedang mengetuk dan memberi tanda bahwa dia hendak masuk ke ruanganku.
"Ada apa, Bu, memanggil saya ?"
Ternyata staf keuanganku dan sekaligus sahabat baikku yang mengetuk pintu ruanganku barusan. Namanya Tya. Aku bersahabat baik dengannya sudah hampir 3 tahun. Dia bukan teman SMA atau teman kuliahku. Kami tak sengaja bertemu dalam sebuah kegiatan muda-mudi gereja 3 tahun yang lalu. Dan semenjak itu, kami berdua menjadi sangat akrab dan dekat. Sekarang ini Tya bekerja sebagai staf keuangan di kantorku, karena aku sendiri yang memintanya untuk membantuku mengurus masalah keuangan di kantor. Aku tidak akan sanggup jika harus mengurusnya sendiri, maka waktu itu aku mulai berpikir untuk mencari staf yang membantu pekerjaanku. Aku memilih Tya untuk menempati posisi keuangan, karena aku tidak bisa memberikan tanggung jawab ini kepada sembarang orang. Aku telah cukup kenal baik dengan Tya, karena selama ini aku lihat dia seorang yang profesional dan bertanggung jawab dalam setiap tugasnya. Kami memang sahabat baik jika berada di luar kantor, namun ketika di dalam kantor kami berusaha untuk seprofesional mungkin. Bukan bermaksud untuk membedakan status atau kedudukan, hanya saja kami berdua berusaha menempatkan diri pada posisi kami masing-masing. Aku sebagai atasan dan Tya adalah stafku.
"Besok kamu ikut saya ya ke CV Bumi Persada? Kita berangkat sekitar pukul 10.00."
"Baik, Bu. Ada lagi yang bisa saya bantu ?"
"Oh ya... bisa tolong ambilkan saya air putih ?"
"Baik, Bu, saya akan minta OB segera membawanya untuk Ibu."
"Terima kasih ya... Kamu boleh kembali bekerja kalau begitu."
Aku kembali menunduk dengan kedua tangan masih memegang erat kepalaku. Aku kembali hanyut dalam kebingunganku saat itu, sampai-sampai aku tidak sadar kalau ternyata Tya masih ada di ruanganku dan sekarang sedang memandangiku penuh tanda tanya.
"Ibu sakit ya ?"
Kata-kata itu sontak mengejutkanku dan membuatku sadar bahwa ternyata Tya belum beranjak sedari tadi. Dengan secepat kilat, aku mencoba merubah mimik mukaku, berusaha untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja dan tidak sedang terjadi apa-apa denganku saat itu. Semuanya kulakukan agar tidak membuat Tya berprasangka macam-macam dan berpikir yang tidak-tidak.
"Eh... kamu masih di sini? Saya pikir udah balik ke mejamu. Ehmm.. saya tidak apa-apa kok. Jangan khawatir..." Aku hiaskan seberkas senyuman di akhir kata-kataku barusan, agar semakin meyakinkan Tya bahwa aku memang baik-baik saja.
"Ibu yakin benar-benar tidak apa-apa ?"
"Memangnya saya terlihat gimana sih? Sudahlah kamu tenang saja.. I'm okay now."
"Oh baiklah kalau begitu saya kembali ke meja saya ya, Bu."
"Ya silakan... Jangan lupa air putihnya ya!"
"Baik, Bu."
Aku masih mempertahankan senyum terpaksaku sampai aku memastikan kalau kali ini Tya benar-benar sudah kembali ke mejanya. Dan sesaat kemudian, aku kembali menjadi diriku sendiri seperti semula. Tak berapa lama, aku lihat handphone-ku berdering.
"Halo, Bu Bos... Bagaimana kabar hari ini ?"
Suara yang sangat keras dan penuh semangat itu membuatku terpaksa harus menjauhkan sedikit handphone dari daun telingaku, ya paling tidak untuk mengamankan gendang telingaku dari ancaman frekuensi suara tak terkendali dari penelepon itu.
"Sangat kacau dan memusingkan..."
Begitulah kurang lebih aku menjawabnya. Singkat, lugas dan terpercaya... Eitsss... seperti sedang menirukan gaya presenter acara berita di televisi saja rupanya aku ini. Tapi aku tidak bermaksud apa-apa kok, hanya sedang mencoba menggambarkan tentang kata-kataku sendiri.
Orang di seberang sana yang sedang berbincang denganku adalah Luthfi. Dia juga salah satu teman dekatku. Seperti halnya Tya, aku dan Luthfi bukan teman SMA atau teman kuliah, tapi kami tidak bertemu dalam kegiatan gereja. Asal tahu saja, sampai saat itu aku belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Luthfi. Kami kenal di dunia maya, INTERNET. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah forum bisnis yang kami ikuti. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat chatting, e-mail, sms dan telepon. Meskipun hanya sebatas itu, kami sudah sangat dekat melebihi teman-teman dekatku di dunia nyata. Aku sudah banyak tahu tentang dia dan begitu juga dia sudah banyak tahu tentang aku. Aku suka cara berpikirnya dan cara dia menganalisa sesuatu. Aku bisa bilang, Luthfi adalah seorang yang cerdas dalam banyak hal. Maka dari itu, aku meminta dia untuk menjadi konsultanku. Tapi kami tak terlalu resmi atau kaku layaknya seorang pemilik perusahaan dengan seorang konsultannya. Kami selama ini berinteraksi secara santai dan nyaman dalam berkomunikasi. Malah kadang-kadang Luthfi bisa jadi konsultan pribadiku alias tempat curhatku xixixixixixi... Dan sebaliknya Luthfi pun kadang juga memintaku untuk mendengarkan curhatan-curhatan dia tentang banyak hal. Begitulah kira-kira hubungan kami berdua.
"Kacau kenapa memangnya? Santailah dikit... Hidup itu kan cuma sekali, ngapain dibikin pusing."
Begitulah Luthfi terdengar seperti sedang menghiburku atau malah menggodaku dengan logat Jakartanya. Terdengar sangat berbeda sekali dengan logat bicaraku yang kejawen, karena memang dia orang Jakarta asli. Tapi untung aja sama aku, dia tidak menggunakan istilah "lo.. gue" ala orang Jakarta dan so far... aku sudah cukup terbiasa dengan gaya bicaranya, karena hampir 24 jam, Luthfi selalu meneleponku. Bahkan kadang ketika kami sedang chatting pun, dia juga sambil meneleponku. Benar-benar parah ni orang... Udah kayak sama pacarnya aja wakakakakakakak.... Padahal kami tidak ada hubungan "pribadi" sama sekali, kami murni bersahabat dan sekaligus rekan bisnis. ;)
"Memangnya belum ada kabar sama sekali ya dari Pak Rian ?"
"Kalau sudah ada kabar, pastinya aku tidak akan sepusing ini dong, Mr. Luthfi..."
"Hahahahahahahaha.... santai aja kali, Buuuu..."
"Huppfffff...."
"Trus rencana kamu gimana ?"
"Besok aku mau datang ke kantornya. Aku mau minta kepastian dari mereka. Aku bisa digantung nih sama orang banyak kalau dana itu tidak segera cair..."
"Digantung??? Serem amat.... Okaylah kalo begitu, aku akan terus follow up Pak Rian dari sini. Nanti aku kabari gimana-gimananya. Oh ya... udah di kantor kamu sekarang ?"
"Kira-kira menurutmu gimana?"
"Yaaaa... dia malah balik nanya. Mau ngajakin tebak-tebakan nih ceritanya? Ntar jangan salahin aku lho, kalau aku telanjangi kamu dari sini...."
Weitssss... aku mau ditelanjangi???? Tunggu dulu... jangan berpikir yang tidak-tidak dulu saudara-saudara... Maksud Luthfi mau menelanjangi itu bukan dalam arti yang sebenarnya. Perlu kalian ketahui, Luthfi itu doyan banget membaca orang hanya dari suaranya, gaya bicaranya dan kata-katanya, tapi maaf dia bukan dukun atau paranormal atau punya indra keenam dan sebagainya... No no no no... Dia hanya cerdas menganalisa sesuatu dari banyak hal yang dia tangkap, itulah kelebihan Luthfi yang membuatku nggak perlu pikir panjang memintanya jadi konsultan aku. Karena selama ini, hampir semua yang dia tebak dari aku, hampir 100% tepat dan itu sempat membuatku terkejut. Bagaimana mungkin dia bisa tahu sementara aku belum pernah menceritakannya? Cukup aneh tapi itu membuatku tertarik dengan kepribadiannya. Makanya aku selalu balik melempar pertanyaan tiap kali Luthfi bertanya sesuatu padaku, karena toh rugi juga kalau aku menjawab karena pada akhirnya Luthfi sebenarnya sudah tahu aku akan menjawab apa. Hal itu seringkali membuat aku sedikit cemas, kalau dia bisa membaca seluruh hal tentang aku seperti mau menelanjangiku saja rasanya.
"Jangan... jangan... nggak jadi tanya aja kalau gitu. Mending aku jawab aja deh daripada entar nyambung ke mana-mana, bisa repot sendiri aku..."
"Hahahahahahahaha...."
"Ya selamat menikmati kepuasan kamu deh... Aku sekarang udah di kantor trus lagi duduk pusing di ruanganku. Begitu sudah cukup Mr. Luthfi ?"
"Pasti sekarang ini kamu lagi duduk sambil ngelihatin jendela, trus di meja kamu ada....."
"STOOOOOOOOOPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"
Ucapku dengan setengah teriak berusaha menghentikan kata-kata Luthfi, sebelum terjadi sesuatu yang memang diinginkan Luthfi....
"Wakakakakakakakakak... Semoga ini bisa jadi shock therapy buat kamu, biar nggak cemberut pagi-pagi gini. Jangan kira aku nggak tahu berapa cm, bibir kamu manyun dari tadi.."
"Ya ya ya ya ya... It's enough, okay? Aku percaya kok kamu pasti tahu soal itu. But anyway... Thanks so much deh untuk hiburan paginya yang aku harap nggak terjadi lagi di pagi-pagi yang lain."
"Hahahahahahahaha..."
Begitulah jika aku sudah bercakap dengan Luthfi. Terdengar menyenangkan dan bisa bertahan bahkan sampai seharian penuh. Kalau itu sih biasa terjadi kalau pas lagi weekend, saat kami tidak sedang di kantor. Meskipun Luthfi sekarang ini menjadi konsultan aku, bukan berarti itu menjadi pekerjaan utamanya malah pekerjaan sampingannya yang enteng barangkali, karena di Jakarta sana, Luthfi juga seorang bos di perusahaannya sendiri. Umur kami tidak terpaut jauh, hanya beda 2 tahun saja... tentunya lebih tuaan dia ketimbang aku, tapi kami sama-sama punya ketertarikan yang sama untuk menjadi seorang entrepreneur dalam pekerjaan kami. Dengan demikian aku yang masih dibilang amatir di dunia entrepreneur setidaknya bisa mencuri ilmu juga dari dia yang lebih hebat di dunia entrepreneur.
Menjadi entrepreneur memang tidak semudah yang aku bayangkan. Mempunyai banyak karyawan tidak cukup menyenangkan seperti pemikiranku dahulu. Namun sekarang ini aku memang sedang bergelut di dunia ini dan ini adalah konsekuensi dari pilihan yang aku ambil. Senang atau tidak senang, puas atau tidak puas, mudah atau tidak mudah, aku terus berusaha melanjutkannya... sampai seterusnya, karena terlalu banyak mimpiku yang belum terealisasi hingga detik ini. Itu salah satu alasanku, sedangkan alasan yang lain adalah bahwa aku tidak pernah tahu berapa lama aku diberikan kesempatan hidup oleh Sang Maha Pencipta, maka dari itu selama kesempatan itu masih ada, aku akan terus berjalan, belajar, berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari kemarin. Apapun resiko dan keuntungannya, itu hanyalah bonus karena ada yang lebih penting dari semua hal itu yaitu PROSES. Tidak ada yang lebih berharga dibandingkan proses itu sendiri. Karena ketika kita berproses untuk mewujudkan sesuatu dan ketika kita telah berhasil mendapatkannya, maka semua yang kita dapatkan akan terasa biasa-biasa saja tetapi PROSES YANG KITA LEWATI untuk sampai ke situ menjadi SANGAT LUAR BIASA. (*)
2 komentar:
hwahahahaha..
ketawa baca puzzLe ini :D
Pazza ngefans ya sama Mr. Luthfi???
wakakkkakak...
berarti Masumi boleh dunk buat aq ;)
Posting Komentar