RSS

Puzzle 5

Kudengar suara yang menggelitik gendang telingaku dari arah ruang tamu. Bukan suara gurauan, tawa, kelakar ataupun bertukar cerita, tapi isak tangis dan teriakan kemarahan yang menyayat hatiku. Meskipun kamarku letaknya cukup jauh dengan ruang tamu, tapi semuanya sangat jelas terdengar olehku. Rasanya aku ingin tuli untuk sejenak, berharap tidak bisa mendengarkan semua yang baru saja tertangkap oleh telingaku. Namun pada kenyataannya, aku memang sudah terlanjur mendengarnya. Dan kini di balik dinding ruang tamu, aku pun tergoda untuk tahu lebih banyak lagi. Tahu lebih banyak tentang apa yang dipertengkarkan oleh kedua orang tuaku.

Dalam diamku, pikiranku melayang jauh melihat kembali ke masa lalu. Aku hanya bisa terheran-heran saja, kenapa saat ini kudengar ayah begitu semangat memaki-maki ibu, mengeluarkan kata-kata yang merusak hati ibuku dan sesekali melakukan permainan tangan yang menurutku sangat kejam bahkan tidak manusiawi. Bagaimana mungkin seseorang yang dahulu pernah mengikrarkan CINTA kepada ibuku, sekarang melakukan semua itu? Bagaimana mungkin ayah menikahi ibu jika pada akhirnya ayah memperlakukan ibu seperti ini? Aku sungguh tidak mengerti, atau memang demikian cara ayah untuk menyampaikan rasa sayangnya sama ibu? Aku rasa bukan... Aku rasa ini bukan cinta dan ini juga bukan kasih sayang...Ini tak lebih dari hawa nafsu kemarahan.

Pranggggggggggggggggggggg.....!!!!!!!!!!!!!!

Apa itu yang pecah? Apa yang dilempar ayah? Apakah ayah melemparnya ke arah ibu? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa ibu baik-baik saja? Ya Tuhan begitu ingin rasanya aku melihat ibuku. Aku benar-benar ingin memastikan apakah ibuku baik-baik saja, tapi Tuhan... aku takut. Aku takut untuk menyaksikan semua itu. Aku juga takut kalau-kalau nanti, gantian aku yang jadi sasaran kemarahan ayah. Ya Tuhan... harus bagaimanakah aku sekarang? Apakah Engkau tidak bisa menyadarkan ayahku untuk berhenti menyakiti ibuku? Aku rasa... mungkin tidak untuk saat ini. Aku sungguh bingung, Tuhan, aku takut.... Sekarang ini, akulah anak yang paling tua di rumah. Memang seharusnya aku bisa melakukan sesuatu untuk menjadi penengah antara ayah dan ibu, tapi aku tidak punya keberanian ya Tuhan. Aku benar-benar takut. Jika aku saja setakut ini, bagaimana mungkin aku menyuruh adikku untuk mengambil alih tanggung jawabku. Tidak mungkin... itu tidak mungkin. Aku tak melihat adik-adikku sedari tadi, mereka ada di dalam kamarnya masing-masing. Mungkinkah di dalam kamar, mereka juga sama takutnya denganku??

Aku pun mulai tidak tahan mendengar suara ayahku yang makin meninggi diiringi oleh tangis ibuku yang penuh kesedihan. Dan aku pun berlari menuju kamarku. Aku memeluk bantalku dan sesekali memukulinya sambil membiarkan tangisku pecah di situ. Sungguh sedih rasanya... harus menyaksikan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan itu. Aku kembali bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ayah dan ibu harus bertengkar? Bukankah bertengkar itu kebiasaan seorang anak kecil? Lalu kenapa ayah dan ibu yang sudah sangat dewasa, masih perlu bertengkar? Kenapa ayah harus marah-marah sampai membuat ibu menangis? Dan kenapa ibu hanya diam saja dibentak-bentak seperti itu oleh ayah? Apakah ibu menerima kata-kata ayah yang sangat kasar itu begitu saja? Kenapa tidak ada perlawanan dari ibu untuk sekedar membela diri?

Jika kelak aku berumah tangga, apakah aku juga akan mengalami seperti itu? Apakah kelak aku juga akan bertengkar dengan suamiku? Lalu untuk apa manusia menikah jika pada akhirnya harus saling menyakiti? Apakah CINTA kini sudah tak cukup kuat untuk menghindarkan sebuah pertengkaran? Ya Tuhan... di manakah sesungguhnya kedamaian di dunia ini berada? Apakah tidak ada tempat untuk aku bisa menemukan kedamaian yang tanpa pertengkaran?

Tuhan... aku pikir berada di tengah keluarga adalah tempat yang paling damai di dunia. Tapi apakah jika keadaannya seperti ini, itu juga salah satu bentuk kedamaian? Aku rasa tidak... Aku mohon bantu aku ya Tuhan, hentikan pertengkaran ayah dan ibuku. Harus berapa lama lagi ibuku menangis sedih seperti tadi? Harus berapa lama lagi ayahku terus menyakiti hati ibuku? Tolonglah aku ya Tuhan, tolonglah aku...!!!!

Aku terus saja menangis dan mengeluarkan sederetan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku. Meskipun aku tahu, aku tidak akan mendapatkan jawabannya saat itu juga, tapi setidaknya aku bisa merasa sedikit lega setelah mengosongkan pikiranku dari pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga aku tak sempat untuk menilik jam di dinding, untuk tahu sudah berapa lama ayah dan ibu bertengkar. Sekarang sudah jam 7 malam, tapi rasanya seperti sudah jam 12 malam. Rumahku yang biasanya masih terdengar suara ayah, ibu, aku dan adik-adikku yang bersenda gurau... kini tak ubahnya seperti rumah tinggal yang tak berpenghuni. Hening, sepi, mencekam dan menyeramkan.

Aku membuka pintu kamarku dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku, karena jika tidak kulakukan maka aku tidak akan bisa belajar dengan tenang. Aku harus mengompres mataku yang sudah mulai membengkak dan membersihkan ingus yang muncul gara-gara aku menangis tadi. Sesekali telingaku mencari-cari sumber suara, untuk memastikan apakah pertengkaran ayah ibu sudah usai ataukah masih harus menunggu ke babak selanjutnya. Sepertinya sudah tidak terdengar suara sama sekali dari ruang tamu, tapi aku tidak tahu apa kabar dengan pertengkaran ayah dan ibu. Akhirnya untuk mengobati rasa penasaranku, aku mengendap-endap seperti pencuri, menuju ke ruang tamu. Aku mulai mengintip dari balik gorden jendela yang memisahkan ruang tamu dengan ruang makan. Mataku menelusur ke setiap penjuru ruang tamu dan ternyata................ KOSONG. Aku memastikan sekali lagi apakah benar ayah dan ibu sudah tidak ada lagi di ruang tamu dan hasilnya adalah memang benar sekarang tidak seorang pun berada di ruang tamu.

Syukurlah.... peperangan sudah berakhir. Kataku sambil mengelus dada. Aku kembali ke kamar dan duduk di depan meja belajar. Niatnya sih mau belajar, tapi kejadian tadi membuat pikiranku terbang ke mana-mana.

Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhhhhh... Kenapa aku tidak bisa konsentrasi sih? Huhhhhhh... Sekarang aku  mencoret-coret buku yang ada di depanku untuk melampiaskan kekesalanku. Aku benci pada diriku sendiri kenapa aku masih saja memikirkan pertengkaran ayah dan ibu, bukankah perang sudah usai? Hai pikiran, kenapa sih kau ini? Apa maumu sebenarnya? Apa????

Kamu mau aku mencari cara untuk menyadarkan ayah ibuku?
Bagaimana caranya?
Aku harus memikirkannya sendiri?
Tapi aku tidak tahu apa yang bisa membuat ayah ibuku berhenti bertengkar. Mereka sudah terlalu sering bertengkar, bertengkar dan bertengkar. Mereka tidak pernah bosan untuk mengulanginya dan mengulanginya lagi. Lantas sekarang kamu memintaku untuk mencari cara untuk menghentikan pertengkaran itu? Itu sangat mustahil, mereka tidak akan mungkin berhenti bertengkar kalau bukan mereka sendiri yang menginginkannya dan mengupayakannya.
Huuuffffffffffpppp... kau memang payah, tapi baiklah aku akan coba pikirkan sekarang.

Dengan jari telunjuk di dahi, aku berlagak seperti sedang serius berpikir. Masih mending kalau aku segera menemukan jawabannya, tapi kali ini tidak ada sama sekali yang terbayang di pikiranku tentang apa yang sebaiknya kulakukan.

Aku pernah menonton sebuah sinetron. Di salah satu bagian ceritanya ada juga yang mengisahkan tentang pertengkaran orang tua. Sama denganku juga sih, sang anak yang melihatnya cuma bisa menangis di dalam kamar dan tidak berani berbuat apa-apa. Sampai akhirnya, anak itu memutuskan untuk.....................

Ya.... aku tahu sekarang. Mungkin aku bisa mencobanya, siapa tahu dengan begitu ayah dan ibu sadar kalau bertengkar di depan anak-anak itu bukanlah sesuatu yang baik. Kalau mereka bertengkar harusnya di dalam kamar dan tanpa sepengetahuan anak-anak. Akan lebih baik lagi kalau mereka tidak pernah bertengkar sama sekali. Baiklah, terima kasih sinetron... kau telah memberiku ilham dan sekarang aku akan mempraktekkannya. Apakah hasilnya nanti sama seperti di sinetron itu, entahlah... aku tidak akan tahu sebelum mencobanya sendiri. I WILL DO IT NOW.

Dan keesokan harinya....

"Aku nggak tahu... ke mana aku harus mencarimu? Semalam kamu nggak mengatakan dengan jelas, di mana sedang berada? Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kenapa kamu nggak mau dengerin kata-kataku? Apa sebenarnya yang kamu rasakan? Kenapa tidak kamu bagikan denganku seperti yang kau lakukan biasanya? Ya Tuhan... aku mohon, tolong kuatkan tubuh ini untuk mencarinya. Meskipun aku tidak tahu dia di mana, tapi biarkan hari ini aku terus mencarinya... Semoga aku bisa menemukan setidaknya sedikit petunjuk mengenai keberadaannya." (*)

0 komentar:

Posting Komentar