RSS

Puzzle 7

Aku terlahir di sebuah keluarga kecil. Ada ayah, ibu dan seorang kakak laki-lakiku. Bersama mereka, aku tinggal di petak kamar kecil sebuah rumah di suatu desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Rumah itu kepunyaan Mbah Kromo, begitu nenek tua itu biasa dipanggil orang-orang, termasuk ketika orang tuaku mengenalkannya padaku. Rumah Mbah Kromo dibentengi oleh kayu sebagai dindingnya, tapi kayu-kayu rumah itu sangat kokoh berdiri menopang atap-atap yang terbuat dari tanah liat. Dibilang sangat bagus, aku rasa tidak terlalu, malah cenderung lebih etnik kejawen dengan bentuk joglonya, tapi luasnya aku pikir belum ada yang menandingi. Mbah Kromo tinggal sendirian di rumah joglo itu, mungkin karena itu kali ya... beliau menerima aku bersama keluargaku untuk tinggal di rumahnya, menghuni salah satu kamar tidur yang tidak terlalu besar namun cukuplah untuk kami berempat.

Aku tak begitu dekat dengan Mbah Kromo itu, karena beliau galak, suka marah-marahin aku atau kakakku, seolah-olah beliau itu merasa berhak atas aku dan kakakku sebagai cucunya. Oleh karena itulah, aku dan kakakku lebih sering bermain di luar rumah ketimbang di rumah joglonya Mbah Kromo, takut dimarahi soalnya.

Ayahku lebih sering terlihat di rumah dibandingkan ibuku. Pagi-pagi aku lihat ibu sudah beranjak dari rumah dan baru terlihat lagi ketika hari hampir petang. Tiap ibu pergi, aku lihat beliau mententeng kain dan benang di tangannya, awalnya aku tak mengerti kenapa kain dan benang itu selalu memberatkan langkah ibu dari rumah dan setelah aku bertanya akhirnya aku tahu kalau ibu habiskan waktunya untuk bekerja di salah seorang juragan jahit yang tak jauh dari tempat tinggalku. Kalau ayahku, aku tidak tahu bekerja apa beliau, ibu hanya bilang kalau ayah belum mempunyai pekerjaan yang tetap, selalu berganti-ganti setiap harinya. Kadang hari ini bekerja seharian, kadang cuma setengah hari dan kadang malah sama sekali tidak bekerja, itulah yang ibu katakan padaku ketika mengartikan pekerjaan serabutan. Sering aku bertanya kenapa ayah dan ibu harus bekerja, kenapa tak habiskan waktu untuk menemani aku dan kakakku bermain di rumah saja, tapi dengan sabarnya ibu menjelaskan padaku kalau ayah ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk membeli beras, sayur, lauk pauk, baju, sabun mandi dan masih banyak yang lain hingga akhirnya aku, si kecil ini, sedikit lebih mengerti dunia orang dewasa.

Rumit sekali sepertinya kehidupan orang dewasa, sangat berbeda dengan keseharian aku dan kakakku. Tiap pagi setelah mandi, kami berdua sarapan, setelah itu kami pergi bermain dengan anak-anak tetangga seumuran kami, siangnya kami pulang untuk makan siang dan tidur siang, dan setelah bangun di sore hari, kami mandi dan bermain lagi sampai matahari tak kelihatan lagi di barat sana, barulah waktu itu kami pulang ke rumah untuk makan malam dan tidur. Begitu sederhana sekali hidupku dan kakakku, yang sangat berbeda dengan ayah ibuku. Hemmm... apakah nanti ketika aku menjadi dewasa, aku akan seperti ayah ibuku, menjalani kehidupan yang rumit dan tidak sederhana lagi?

"Nduk, kamu harus makan dulu cah ayu, nanti kan bisa main lagi. Ini sudah waktunya makan siang, ayo sekarang kamu ikut Ibu pulang."

Dengan tanpa memberiku sedikit kesempatan untuk berkata-kata, ibu langsung meraih tangan kananku dan ditariknya begitu saja keluar dari gerombolan teman-temanku. Begitu juga dengan kakakku, dia ikut diajak pulang sama ibu hanya saja ibu tidak menarik tangan kakakku seperti yang ibu lakukan padaku. Aku tahu hari sudah sangat siang dan waktu itu ibu memang sedang tidak pergi bekerja, makanya aku merasa jam mainku sedikit terganggu. Aku belum lapar, Ibu, aku masih ingin bermain, teman-temanku juga masih bermain dan mereka tidak pulang ke rumah untuk makan siang. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati waktu itu.

"Ya begitulah anak-anak kamu, Sri. Susah sekali kalau disuruh makan siang dan lebih susah lagi kalau sudah waktunya tidur siang."

Semakin menjengkelkan saja, Mbah Kromo ikut-ikutan mengadu sama ibu. Aku dan kakakku jadi makin empuk saja jadi sasaran kemarahan ibu. Kakakku sih kelihatannya cuek-cuek saja, beda dengan aku yang kentara sekali memperlihatkan kekesalanku, padahal aku yakin kalau sebenarnya kakakku juga sama kesalnya dengan aku, tapi kenapa ya dia terlihat biasa saja, apa karena dia laki-laki dan aku perempuan??? Entahlah... aku belum terlalu banyak ingin tahu tentang laki-laki ataupun perempuan, mungkin kapan-kapan saja aku cari tahunya, yang jelas siang ini aku kesal sekali. Disuruh pulang sama ibu saat aku masih asyik bermain dan parahnya lagi menu makan siang kali ini adalah sayur bayam dan wortel. Behhhhhhh... makanan yang paling aku benci, aku tidak suka, ibu, aku sudah sering mengatakannya pada ibu, tapi kenapa ibu selalu memberiku makanan itu?

"Nduk, bayam sama wortel itu baik untuk kesehatan kamu, biar kamu jadi sehat dan pintar."

Selalu saja jawaban seperti itu yang diucapkan ibu ketika aku berusaha untuk menolak makan makanan yang membuatku pengen muntah itu. Emangnya seberapa penting sih sehat atau pintar itu buat aku? Ibu tidak pernah menjelaskan hal itu padaku, jadi sah sah saja kalau aku merasa tidak butuh menjadi sehat dan pintar dengan syarat harus makan bayam atau wortel. Kalau aku boleh bilang, mungkin di dalam perutku ini ada daftar makanan yang tidak seharusnya aku makan, sedangkan bayam dan wortel itu termasuk di dalamnya, sehingga ketika aku mulai mengunyahnya seakan tertahan saja di dalam mulut dan ditolak mentah-mentah sama tubuhku.

"Nduk, jangan dimuntahkan dong...!!!!"

Nada bicara ibu mulai meninggi ketika melihat untuk kedua kalinya aku memuntahkan kunyahan bayam dan wortel keluar dari mulutku. Aku cuma bisa menangis sambil terus berusaha meyakinkan ibu kalau aku benar-benar tidak bisa memakan makanan itu, tapi ibu sepertinya tidak mau tahu, ibu terus menjejalkan makanan itu ke dalam mulutku. Hikzz... hikzz... hikzz...

"Kalau kamu tidak mau makan juga, ibu akan buatkan jamu buat kamu..."

Astaga... Jamu??? Makanan apalagi itu? Oh tidak... jamu itu kan makanan menyebalkan selanjutnya yang dibenci sama perutku, rasanya sangat pahit dan tidak enak. No no no no.... ampun ibu, ampun, aku tidak mau minum jamu, tapi aku juga tidak bisa melanjutkan makan bayam dan wortel. Tangisku semakin keras saja, mendengar kata jamu, melihat bayam dan wortel di hadapanku, hingga akhirnya ibu pun mulai merasa lelah untuk membujuk aku. Ibu beranjak dari sisiku dan entah ke mana beliau pergi, sedangkan aku masih melanjutkan tangisku. Aku tidak mau disalahkan apalagi dimarahi ketika aku tidak doyan sama bayam dan wortel seperti kakakku, itu bukan kemauan aku, aku sendiri juga tidak tahu kenapa perutku tidak bisa menerima makanan itu. Kenapa ibu tidak pernah mau mengerti? Kenapa ibu terus saja memaksaku?

Aku lihat ibu kembali datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Belum terlalu kelihatan di mataku, apa yang sedang ibu bawa. Namun semakin mendekat, semakin jelas bahwa ibu tengah memeram daun pepaya di dalam sebuah kain, yang aku tahu pasti rasanya pahit sekali dan itulah yang namanya jamu. Oh tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk.... Pada akhirnya peraman daun pepaya itu ibu jejalkan juga di mulutku tanpa ampun sedikitpun, meskipun tangisku semakin pecah dan keras membangunkan telinga-telinga yang mendengarnya. Terus menerus dijejalkan, dijejalkan dan semakin keras aku menangis, jamu sialan itu semakin masuk ke dalam mulutku. Ibu kenapa engkau begitu tega sama aku? Jamu itu sangat pahit, ibu, tolong hentikan siksaan ini untukku.

"Ibu tadi kan sudah bilang, kalau kamu makannya susah, ya udah kamu harus minum jamu ini. Ibu tidak mau kalau kamu sampai sakit gara-gara kamu tidak mau makan sayuran, Nduk."

Kakakku dan Mbah Kromo menyaksikan kejadian itu, tapi mereka hanya memandangiku saja, bahkan mereka tak beranjak sedikit pun dari tempat mereka berdiri untuk menolong aku. Jahaaaatttt... jaahhhaaaatt... hikzzz... hikzzz... hikzzz...

Aku lihat mata ibu berkaca-kaca waktu itu, tapi kenapa tidak sesuai dengan apa yang ibu lakukan padaku, yang seakan mengisyaratkan bahwa ibu tidak peduli dengan tangisku. Aku tidak mengerti kenapa ibu melakukan ini padaku, apa benar hanya karena tidak mau melihat aku sakit, lantas ibu tega berbuat seperti ini padaku? Ataukah ada alasan yang lain yang menjadikan ibu seperti terlihat terpaksa melakukan semua ini?

"Hei... ayo kita main lagi...!!!"

Aku cuma bisa memandangi temanku dan menggelengkan kepala menanggapi ajakannya baru saja. Aku masih takut kalau-kalau nanti ibu marah lagi sama aku dan menjejalkan jamu itu ke mulutku. Tidak... tidak... aku tidak mau, bahkan rasa pahitnya sampai sekarang saja masih terasa dan belum juga lepas dari kecap rasa lidahku. Air mataku menetes perlahan menyaksikan temanku berlalu dari hadapanku, sedang aku tidak bisa turut bermain bersama-sama dengan dia. Aku tengok ke belakang, ke arah dalam rumah... aku lihat kakakku sedang asyik main mobil-mobilannya sendiri, mobil-mobilan yang dibuat dari tangkai daun pisang. Siang hari itu pada akhirnya aku dan kakakku hanya di rumah saja.

"Kalian berdua.. ayo sekarang kalian tidur siang dulu...!!!"

Hemmm... belum selesai menghapus sisa air mata gara-gara bayam, wortel dan jamu pahit itu, aku sekarang harus segera berangkat tidur, menyebalkan sekali. Kebiasaan yang aku pikir semula lebih sederhana dari rutinitas orang dewasa, ternyata cukup membuatku tidak nyaman menikmati masa kecilku. Aku tidak ngantuk, kenapa aku harus tidur? Ini kan masih siang belum malam, kenapa aku selalu disuruh tidur? Sebenarnya apa sih yang dipikirkan orang dewasa itu tentang dunia anak kecil seperti aku ini? Tidak pernahkah mereka menjadi anak kecil dan hidup menjadi seorang anak kecil, sehingga begitu sulitnya mereka untuk mengerti duniaku, keinginanku sebagai seorang anak kecil?

Aku hanyalah anak kecil yang tidak terbiasa dengan aturan-aturan itu. Aku hanya ingin berekspresi sebebas mungkin menikmati masa kecilku. Aku tak cukup mengerti pemikiran orang dewasa tentang aku dan duniaku, aku hanya tak ingin dipaksa untuk menjadi dewasa terlalu cepat. Jika memang mereka pernah menjadi kecil seperti aku, aku minta perlakukanlah aku sesuai dengan masaku, dengan cara-cara yang mudah untuk aku mengerti sehingga bukan kekerasan atau kekasaran yang menyatukan duniaku dengan dunia orang dewasa. Aku hanya anak kecil, bagian kehidupan yang masih sangat dini dan belum banyak tahu tentang kehidupan. Aku menyadari hal itu... dan semoga orang-orang dewasa itu juga menyadari dirinya dengan penuh. (*)

0 komentar:

Posting Komentar