Aku punya teman sekelas namanya Andra. Aku memang belum begitu akrab dengannya, karena kelas ini baru saja dimulai. Aku tahu namanya Andra karena teman-teman seringkali menyebut nama itu. Bukan karena dia keren atau ganteng, bukan karena dia banyak bicara dan juga bukan karena dia paling pintar di kelas, kalian pasti tidak menduga kalau dia menjadi cukup populer di kelas kami karena warna kulitnya yang cukup gelap jika dibandingkan dengan teman-teman cowokku yang lain. Ya memang seperti itulah kenyataannya, karena kulit gelapnya itu, Andra selalu dijadikan bahan ejekan oleh teman-teman. Namun aku salut sama dia karena meskipun dia selalu jadi bahan ejekan, dia tetap PD aja dan nggak minder sama sekali. Malah kadang dia menjadikan ejekan itu sebagai bahan lucu-lucuan. Coba kalau aku yang ada di posisinya, mungkin aku tidak akan berani masuk sekolah atau bahkan memilih untuk pindah ke sekolah lain.
Kalau aku lihat-lihat, Andra punya selera humor yang tinggi, sehingga apa yang dia bilang hampir selalu bisa membuat tertawa orang-orang di sekelilingnya. Mungkin itu salah satu kelebihan Andra, di luar konteks warna kulitnya yang gelap, yang menjadikannya memiliki banyak teman. Setiap istirahat, pasti selalu aja ada anak dari kelas lain datang untuk mencarinya, meski hanya sekedar untuk say hello atau mengajaknya ke kantin. Rasanya aku jadi iri sama dia, karena sampai hari ini aku merasa tak punya teman. Aku memang hampir hafal semua nama teman-teman sekelasku, tapi aku masih merasa asing dengan mereka semua. Paling-paling aku ngobrol sama Anna, teman sebangkuku, atau nggak sama Fariz, yang kebetulan rumahnya bersebelahan denganku. Selain mereka berdua, paling aku cuma sebatas tahu aja. Sama halnya dengan Andra, aku sampai sekarang belum pernah sekalipun ngobrol dengannya. Meskipun warna kulitku setingkat lebih terang dibanding Andra, justru aku yang merasa nggak PD kalau ngobrol sama Andra, karena di mataku Andra itu termasuk jajaran orang-orang eksekutif hahahahaha... habisnya dia terkenal sih.
Suatu hari, Andra duduk di sebelah Fariz sedangkan tempat duduk Fariz tepat di belakangku. Fariz itu doyan banget godain aku, anaknya emang suka iseng sih, jadi aku nggak terlalu kaget dengan polah tingkah Fariz.
"Ndra, kamu dah tahu belum kalau dia tetanggaku lho..."
Oh My God, penting nggak sih kalau hal itu diceritain sama Andra? Bener-bener kurang kerjaan deh si Fariz itu. Aku yang mendengar perkataan Fariz barusan pun, langsung menoleh ke arah Fariz dan memasang tatapan penuh keanehan. Dan ketika aku sedang melihat ke arah Fariz, tahu nggak apa yang Fariz lakukan? Dia malah ngedip-ngedipin matanya gitu ke arahku. Sumpah deh.... genit banget dan pengen rasanya aku ketawa ngakak setelah melihatnya. Aku pun berbalik ke posisi semula sembari menahan tawa, karena waktu itu pelajaran sedang berlangsung, makanya aku simpan dulu ketawa ngakak-ku. Tak berapa lama kemudian, aku dengar Andra menanggapi.
"Trus kenapa emangnya ?"
Syukurin kamu, Fariz. Tengsin nggak kamu sekarang. Hahahahahaha... Rasanya puas sekali dengar Andra berkata demikian. Aku bisa bayangkan gimana wajah Fariz setelah itu. Biar tahu rasa dia hahahahaha... Aku tahu Andra memang tidak serius mengatakan itu, dia pasti hanya berusaha membalas Fariz yang selama ini doyan sekali mengejeknya.
"Emang kamu nggak malu ya, punya tetangga kayak bocah ini ?"
Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku bicara sama Andra. Aku suka gaya bicara dia. Datar, spontan, bisa bikin KO lawan bicaranya tapi nggak terlihat kalau sedang mengejek, mungkin kalau aku anak gaul Jakarta, aku bakal bilang gini sama Andra, "Ndra, gue suka gaya lo..." Wakakakakakakakak... tapi di kota Sukowati ini, bahasa seperti itu dilarang untuk dipakai. Kami kan putra-putri Sukowati yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa. Jadi untuk yang bergaya metropolis, sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
Setelah itu obrolan kami pun menjadi nyambung. Aku, Fariz dan Andra balas membalas kata satu dengan kata yang lain, sampai-sampai pelajaran Sejarah yang cukup membosankan itu bisa kami lalui tanpa rasa kantuk sedikitpun. Dan sejak saat itulah aku menjadi senang ngobrol sama Andra. Ngobrolin apa aja yang penting bisa kami obrolkan. Akhirnya aku tahu kenapa Andra mempunyai banyak teman, karena dia tahu bagaimana cara menempatkan dirinya dalam pertemanan dengan sangat baik. Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan tentang Andra tapi aku malu karena kalau aku cerita bisa-bisa akan semakin kelihatan betapa kuper-nya aku ini. Tapi rasanya kok nggak afdol ya kalau aku nggak cerita, kayak ada yang belum lengkap gitu.
Baiklah ini adalah rahasiaku. Jadi tolong jaga rahasia ini baik-baik karena kalau sampai tersebar ke mana-mana, berarti kalian telah dengan sangat tega mempermalukan diriku. Semoga kalian mengerti. Jadi begini ceritanya, maaf ya suaraku harus aku pelankan sedikit biar nggak ada orang lain yang dengar tentang ini. Ehmm... jadi rahasia yang ingin aku ceritakan adalah aku dan Andra itu sebenarnya satu sekolah sejak kami SMP. Tuingggg... tuinggg.. tuinggg... Tapi meskipun begitu, aku dan dia baru kenal pas kelas 2 SMA ini. Hahahahaha... parah kan kuper-ku??? Jadi... ssssssssssssssttttttttt.... jangan bilang siapa-siapa ya!!!
Tapi aku kesal sekali sama salah satu teman Andra. Dia juga teman sekelasku. Dia sama-sama populer kayak Andra. Kalau Andra populer di kalangan murid cowok, nah si gunung es ini populernya di kalangan murid cewek. Nggak papa dong kalau aku sampai menyebutnya si gunung es, habis orangnya sok cool gitu, bener-bener beda banget sama Andra. Andra jauh lebih friendly dan menyenangkan dijadikan teman, nah kalau si gunung es ini boro-boro deh jadi teman, dekat sama dia aja ogah. Aku akan memilih untuk menjauh kalau di situ ada dia. Aku nggak peduli seganteng apapun dia, selama dia sok keren di mataku, so aku anggak sudi temenan sama dia. Apesnya lagi teman-teman sekelas memilih dia untuk jadi partnerku dalam posisi sekretaris di kepengurusan kelas. Rasanya aku seperti mendapatkan mimpi buruk, bisa bareng sama dia. Bagaimana mungkin kami bisa bekerja sama dengan baik sedangkan sikapnya aja angkuh dan nggak bersahabat seperti itu? Ya Tuhan... bakal jadi apa nantinya aku ini.
"Ndra, kamu udah lama kenal sama anak itu ?"
"Anak itu? Siapa ?"
"Itu tuh... Cowok yang soknya selangit itu. Kamu temenan sama dia udah berapa lama ?"
"Oh... maksud kamu si Bara ?"
"Emang ada yang lain selain anak itu ?"
Tawa Andra pun pecah setelah aku mengakhiri bicaraku. Aku jadi bingung sendiri melihatnya, sembari berusaha mencari bagian mana yang lucu sehingga bisa sampai membuat Andra tertawa puas seperti itu. Dan sayangnya, aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari pernyataan dan pertanyaanku tadi.
"Kok malah ketawa sih? Apanya yang lucu ?"
"Mau tahu apa yang lucu... kamu itu yang lucu."
Hahhhh... kok jadi aku yang lucu? Memangnya aku ini badut Ancol yang mengenakan segala aksesorisnya sehingga bisa membuat Andra mengatakan aku ini lucu. Ini yang lucu sebenarnya siapa sih, aku atau Andra? Benar-benar membingungkan.
"Memangnya kenapa sama si Bara? Dia ngapain kamu sampai kamu segitu bencinya sama dia ?"
"Emang aku tadi bilang kalau aku benci sama anak itu, sepertinya enggak deh. Kamu tuh yang ngada-ada."
"Anak kecil juga tahu kali, kalau dari nada bicara kamu yang sinis itu udah jelaslah kalau kamu ilfeel sama si Bara. Aku baru setahun sih kenal sama dia, itupun karena kita teman sekelas. Ehmm.. dan menurutku Bara nggak sejelek apa yang ada di pikiran kamu deh."
"Ya jelaslah kamu ngomongnya begitu, dia kan teman kamu. Mana mungkin kamu jelek-jelekin dia di depan aku. Kayaknya aku bertanya sama orang yang salah deh."
"Wakakakkakakakakakakak..."
"Udah STOP ketawanya... Nggak lucu."
"Aku jadi penasaran, kenapa sih emangnya segitu bencinya kamu sama dia. Perasaan aku belum pernah lihat kamu bicara sama dia."
"Bicara sih emang belum pernah..."
"Trus? Apa dong alasannya ?"
"Bete aja ngelihatin sikapnya yang sok itu..."
"Hemmm... itu sih karena kamu belum kenal aja sama dia. Tapi kalau kamu dah kenal, aku yakin pandangan kamu itu akan berubah 360 derajat."
"Oh ya ???"
"Yeeee.... nggak percaya dibilangin. Bara tuh emang anaknya kayak gitu. Luarnya aja kelihatan angkuh, sok cool atau apalah, tapi sebenarnya baik orangnya, hampir sama gilanya kayak tetangga kamu itu."
"Masak ?"
"Besok deh kalau kamu dah kenal dia... baru kasih komentar. Lha ini, bicara aja belum pernah udah men-judge orang seenaknya."
Tapi Andra ada benarnya juga sih, aku memang belum terlalu kenal sama anak itu. Aku juga belum pernah bicara sama dia, harusnya aku nggak langsung memvonis anak itu dengan berbagai macam tuduhan dan prasangka. Ya sudahlah... terserah aja dia mau ngapain, toh juga bukan urusanku. Ya kan? Eh tunggu tunggu... kok jadi ngomongin si gunung es itu sih, bukannya tadi aku mau nyeritain tentang Andra? Wah wah wah... kayaknya sedang kacau berat nih, lebih baik kita tinggalkan dulu deh keruwetan di sini. Okay? See you... (*)
0 komentar:
Posting Komentar