RSS

Puzzle 6

YES... Akhirnya kesampaian juga bisa kuliah di kota Pelajar ini. JOGJA, I'm Coming.....!!!! Aku akan menghabiskan hari-hariku di kotamu, semoga kau mau bersahabat denganku dan semoga kau mau mengukir kisah yang indah bersamaku sampai pada waktu yang tak terbatas.

"Kamu tidur di kosku aja ya? Aku sendirian nih..."
"Bukannya nanti, pada akhirnya kamu juga akan sendiri, Da..."
"Iya, tapi bukan untuk sekarang. Aku butuh beradaptasi dulu dengan lingkunganku. Ayolah... nanti lain kali gantian aku yang tidur di kontrakan kamu. Okay ?"

Aku kurang terlalu pandai untuk mengatakan sebuah penolakan meski dengan cara yang lebih halus sekalipun. Hingga yang terjadi adalah aku kembali menurutkan keinginan sahabatku yang satu ini, Arda namanya. Kami sama-sama melanjutkan pendidikan di kota Gudeg ini, tapi tidak satu kampus. Aku rasa kampus Arda jauh lebih bersahabat dalam hal biaya, dibandingkan dengan kampusku. Padahal aku pernah mendengar dari guruku waktu di SMA dulu, kalau kampusku yang sekarang ini adalah Kampus Kerakyatan. Kalau diartikan secara eksplisit, dengan membaca julukannya saja pasti semua orang akan langsung tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang berpihak kepada rakyat. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, mereka sama sekali tak berpihak pada kami, para rakyat, malah lebih cenderung memeras kami secara halus. Aku sendiri juga tidak begitu tahu bagaimana kondisi di singgasana pemerintahan sana, namun yang aku tidak habis pikir, apakah negeri ini terlalu 'pelit' untuk menyisihkan lembaran-lembaran rupiahnya untuk kami agar kami bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan kami untuk mempertahankan negeri ini kelak dari penjajah era modern. Tapi ya sudahlah, suaraku terlalu kecil untuk bisa terdengar sampai ke telinga raja di negeri ini, jadi mau tidak mau aku pun harus merelakan merasa dijajah oleh bangsa sendiri.

"Kamu dapat jatah berapa untuk seminggu ?"

Hehehehe... aku tertawa dalam hati. Pertanyaan Arda tidak terlalu sulit untuk dijawab, hanya tinggal menyebutkan deretan angka saja maka semua menjadi beres. Namun kenapa leherku seperti mendadak tercekik begini ya, seolah-olah pita suara dalam tubuhku memerintahku untuk tidak bersuara saat itu. Sehingga daripada aku harus bertengkar dengan seluruh pasukan organ di tubuhku, lebih baik aku mengalah saja.

"Ya sudahlah... Nggak usah dijawab saja, tapi semisal nanti uang sakumu ternyata tidak cukup untuk seminggu, kamu jangan sungkan-sungkan ya bilang sama aku. Aku masih punya tabungan yang bisa digunakan waktu darurat. Ya kita ini kan sama-sama hidup di perantauan, jauh dari orang tua. Satu-satunya keluarga ya teman kan? Makanya kita sebisa mungkin saling membantu."

Rupanya ini toh alasan Arda bertanya seperti tadi kepadaku. Aku nggak nyangka ternyata Arda begitu baik padaku, sehingga dia menawarkan bantuan bahkan sebelum aku memintanya. Syukurlah ternyata Tuhan memberikan aku seorang sahabat yang baik seperti Arda di tempat yang bagiku masih sangat baru ini. Terima kasih Tuhan, semoga senantiasa mengalir berkat dariMu untuk sahabatku, Arda. Amin.

Hari-hari kami lalui bersama. Suka duka juga kami lewati berdua. Kami adalah dua orang sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain, juga saling menyemangati dan menguatkan. Andaikan salah seorang dari kami adalah seorang lelaki, mungkin kami sudah menjadi pasangan yang sangat romantis. Namun sayangnya tidaklah demikian, karena kami berdua adalah sesama hawa yang sedang mengikat tali persahabatan. Setiap hari jika tidak ada jam kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kos Arda, sekedar melepas lelah di sana atau bercerita omong kosong pun jadilah. Kadang kami berdua sampai tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk obrolan tentang film kesukaan kami berdua atau grup band favorit kami. Hahahaha... memang sempat terpikir bahwa kami kadang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal tapi itu bisa menyenangkan kami. Kami juga sama-sama penggila harga miring apalagi gratisan, benar-benar anak kuliahan banget deh. Jadi, setiap kami jalan-jalan ke tempat belanja yang sangat terkenal di kota Jogja, Malioboro, sudah pasti yang kami serbu adalah tempat yang menawarkan diskon atau potongan harga. Sedangkan kalau yang di emperan toko sepanjang jalan Malioboro, hanya penjual yang boleh ditawarlah yang akan kami hampiri. Yang jelas, kami berdua super irit, super ekonomis dan selektif sekali kalau sudah menyangkut soal harga.

"Eh kamu udah tahu kosnya Riyo belum ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Pasti kosnya Riyo juga tak jauh dari sini dong, kenapa nggak suruh Riyo-nya ke sini aja, kan seru kalau rame-rame."

Ah... sepertinya ide Arda boleh juga tuh untuk dicoba, lagian aku juga sudah lama tak bertemu dengan Riyo. Dengan tanpa perlu berpikir panjang lagi, sebuah pesan singkat pun akhirnya kukirimkan ke telepon genggam milik Riyo. Sambil menunggu balasan dari Riyo, aku mulai terhanyut dalam lamunan. Aku sudah mulai membayangkan kalau-kalau nanti aku akan ketemu dengan Riyo. Alangkah bahagianya jika aku bisa mengobati kerinduanku ini. Tapi aku bingung, kira-kira kalau nanti aku ketemu Riyo, apa yang harus aku katakan padanya. Aku harus mulai memikirkan akan bicara apa nanti sama Riyo dan aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Hei... kamu kenapa sih kok kelihatannya bingung gitu? Gimana, Riyo udah balas belum ?"

Malu rasanya karena ternyata Arda menyadari kebingunganku saat itu. Aku, Arda dan Riyo berasal dari kota yang sama, kami juga berasal dari SMA yang sama. Jadi tidak aneh rasanya kalau Arda pun cukup mengenal Riyo dengan baik. Apalagi Arda itu kalau sudah bicara, susah sekali dihentikan ataupun disela... kalau diibaratkan sebagai kereta, mungkin dia lebih mirip dengan kereta api express yang super cepat barangkali. Hahahahahaha.... tapi dia punya kelebihan yang selalu membuat iri banyak cewek, termasuk aku salah satunya.Ya.... apalagi kalau bukan parasnya yang cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Kalau aku disandingkan dengan dia, behhhhhh.... seperti langit dan bumi. Langit kan cerah tuh nah sedangkan bumi (tanah) itu kan gelap. Begitulah kira-kira atau kalau mengambil salah satu iklan di televisi, kami berdua mungkin seperti saudara kembar yang sedang mengiklankan hand & body lotion, trus ada kata-kata iklannya sebagai berikut,

"Kulit Shanti tak seputih Shinta.........."

Dan memang kuakui, aku tak memiliki kulit putih seperti yang dimiliki Arda. Wajahku juga sangat pas-pasan, tapi sekarang ini aku lebih beruntung dibandingkan Arda, karena aku punya Riyo, sedangkan Arda masih sendiri. Kadang aku merasa aneh juga melihat Arda, begitu banyak cowok yang mendekatinya tapi tak satupun mampu menarik hatinya. Seperti apa sih cowok yang dicari Arda?

"Yah sayang sekali... Riyo nggak bisa datang ke sini sekarang."
"Lho memangnya kenapa ?"
"Ternyata tempat tinggal Riyo tuh jauh dari sini, Da. Dia seharian ini sudah capek sekali di kampus, makanya sekarang dia mau istirahat. Lagian nanti malam dia harus membantu saudaranya di Laundry, soalnya dia nggak enak kalau nggak ikut bantu-bantu. Dia kan sekarang ini masih numpang di rumah saudaranya itu. Jadi ya mau gimana lagi."
"Kenapa Riyo nggak kos sendiri aja sih, kan lebih leluasa mau ngapa-ngapain."
"Dulu sih Riyo juga pernah bilang mau kos sendiri, tapi ibunya meminta dia untuk tinggal di tempat saudaranya itu buat sementara aja. Kata ibunya sih, nggak enak sama saudaranya itu, karena dia pernah menawarkan Riyo untuk tinggal bersamanya."

Rasanya kecewa juga tidak bisa ketemu dengan Riyo sore itu, tapi aku harus berusaha mengerti keadaan Riyo saat ini. Kalau aku di posisi Riyo, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Saat ini Riyo memang tidak sebebas aku yang bisa ke sana kemari dengan leluasa, karena Riyo harus menjaga perasaan saudaranya itu. Yah.. mungkin memang belum waktunya saja untuk ketemu, lain kali pasti bisa ketemu. Tapi kalau dipikir-pikir.... lain kalinya itu kapan ya? Gimana kalau aku keburu tidak bisa menahan rasa rinduku? Apa yang akan aku lakukan? Ehmmm... kalau cuma mendengar suaranya di telepon saja, sepertinya itu belum cukup untuk mengobati rasa rinduku yang kronis suatu saat nanti. Kalau begitu biarkan saja deh, nanti biarlah menjadi urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah aku masih bisa menjaga hati ini untuknya meskipun aku dan Riyo terpisah oleh jarak dan waktu. (*)

0 komentar:

Posting Komentar