Semua kini tlah berubah... Manis menjadi asam, terang menjadi redup dan pagi berganti senja. Akankah kutemui esok hari canda tawamu, senyummu, tangismu, dan bayangmu di sampingku lagi??
Kini, aku sendirian... tak tahu kabar, tak tahu berita dan tak tahu seperti apa dirimu sekarang.
Yang aku pinta di hari ini adalah bisa kembali bersama-sama lagi, sedih bersama, tawa pun juga bersama. Kita mulai semuanya dari nol,,,,
Hanya tahun ini, aku tak bisa menghabiskan momen spesial bersamamu. Sedih??? Ya memang...
Itu yang kurasakan saat ini. Serasa ada salah satu tulangku terlepas dari persendianku.
Kini, aku sendirian... tak tahu kabar, tak tahu berita dan tak tahu seperti apa dirimu sekarang.
Yang aku pinta di hari ini adalah bisa kembali bersama-sama lagi, sedih bersama, tawa pun juga bersama. Kita mulai semuanya dari nol,,,,
Hanya tahun ini, aku tak bisa menghabiskan momen spesial bersamamu. Sedih??? Ya memang...
Itu yang kurasakan saat ini. Serasa ada salah satu tulangku terlepas dari persendianku.
Aku merindumu, aku menyayangimu dan aku mencintaimu...
Mungkin terkadang aku egois dan sesaat memikirkan kepentinganku sendiri untuk hidup dan cintaku. Tapi kenyataan yang menyadarkanku tentang cinta, cinta itu memberi dan mengasihi...
Selamat mengembara di dunia yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan....!!!
Mungkin terkadang aku egois dan sesaat memikirkan kepentinganku sendiri untuk hidup dan cintaku. Tapi kenyataan yang menyadarkanku tentang cinta, cinta itu memberi dan mengasihi...
Selamat mengembara di dunia yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan....!!!
Tersayat hatiku memandang deretan kata demi kata ini... Tangisku pun tak urung pecahlah akhirnya. Rasanya sudah lama sekali air mata ini tertahan di ragaku dan akhirnya tertumpah ruah juga membasahi pelataran pipiku. Tanpa dapat kuhindari, aku pun terisak pilu. Kurasakan rasa sakitnya, kurasakan pilu hatinya... karena begitu juga yang terjadi padaku. Rasa yang sama, sakit yang sama, rindu yang sama, keinginan yang sama... Aku tahu dengan benar, bagaimana rasanya? Jika aku masih bisa menyembunyikan semua rasaku di balik tawaku selama ini, namun sekarang aku tak cukup berdaya lagi... dan aku pun turut tergugu dalam pedih hatiku.
Meskipun aku tahu, hanya akan ada luka yang membekas... aku tak henti-hentinya membaca kembali bait demi bait untaian kata itu. Kelihatannya sangat sederhana tapi rasanya sangat menyakitkan. Sebuah ungkapan jujur dari sebuah hati, yang tak tersampaikan dengan sempurna. Sama denganku, bahkan dengan kata sekalipun aku tak sanggup menggambarkannya. Yang bisa kurasa hanya sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt yang mendera-dera di sekujur tubuh ini. Sakit yang belum juga terobati dan semakin sakit tatkala kuingat... aku tak juga temukan jalan untuk aku kembali. Dan kudapati derai air mata ini semakin deras terasa... bahkan kedua tanganku tak berhasil untuk menghentikannya.
Telah cukup lama kita terpisah di antara ruang dan dalam selipan sang waktu. Jika aku kini tak memperlihatkan diriku padamu, bukan karena aku tak ingin bersua denganmu sekedar melepas rindu dan berbagi kasih. Aku sangat menyayangimu, aku sangat mencintaimu dan aku pun ingin sekali berjumpa denganmu. Memelukmu, bercanda denganmu, memarahimu dan bercengkerama dalam cerita bersamamu, sungguh aku ingin sekali mewujudkannya... Andai rasa ini bisa menjangkau dengan leluasa, aku tak perlu tunggu esok datang, aku pasti akan datang menghampirimu detik ini juga, namun apa daya semua tak semudah yang dibayangkan. Langkah ini tertahan oleh rantai yang membelenggu. Raga ini tersembunyi di balik temaram kisah yang terajut. Aku sungguh tak berdaya untuk menjangkaumu. Bukan karena kau yang terlampau jauh di sana tapi karena sekat pemisah yang terbentang terlalu tebal memisahkan kita.
Perjalanan ini masih terasa abu-abu bagiku. Entah kapan aku akan sampai... aku pun tak pernah tahu. Namun bila telah datang saatnya nanti.... Aku tak peduli harus berapa banyak lagi air mata yang akan kukeluarkan dari dua bola mata ini, aku pasti akan berlari dan menyongsongmu dengan segera. Aku tak peduli setajam apa kerikil yang akan menusuk telapak kakiku, aku pasti akan menggapaimu dengan kedua tanganmu. Aku pun juga tak peduli seberapa terik sang mentari akan membakar kulitku, aku takkan pernah membiarkan dunia memisahkan kita. Tidak untuk semua itu, karena aku sungguh merindukanmu. Aku ingin semuanya segera berlalu, agar aku bisa menjalani kehidupan ini bersamamu.
Aku mohon nantikanlah aku di singgasanamu. Maafkanlah aku untuk semua yang tak bisa kulakukan, untuk semua sakit yang menghantammu, untuk semua rindu yang menghujam hatimu, aku mohon maafkanlah aku. Semoga aku bisa segera melihat senyummu kembali merekah di bibirmu, meski kau tak pernah tahu, aku tak pernah meluputkanmu sebentar saja dari tangkapan panca inderaku. Ya Tuhan, aku mohon jagalah dia di sana dalam rangkulan tangan-Mu agar dia senantiasa mendapatkan damai yang hanya datang dari padaMu. Amin.
AKU SANGAT MERINDUKANMU...
Aku sangat ingin meneriakkan kalimat ini kepadamu, agar kau tahu bahwa aku tak berbeda denganmu kini. Tersiksa oleh rasa yang tak bisa tersampaikan. Ya... sakitnya melebihi sembilu yang mengiris raga, lebih dari itu semua. Ketika aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan dan tak sanggup untuk merengkuhmu, ini adalah penyiksaan bagiku. Rasanya ingin melihatmu dari dekat tapi TAK BISA... Ingin sekali bercakap dan sekedar mendengar sepatah kata... namun itu juga TAK BISA. Tak tahan rasanya untuk menjabat tanganmu, tapi lagi-lagi AKU TAK BISA. Bayangkanlah... apa yang kurasakan saat ini? Hanya bisa menangis dan memimpikan semuanya itu menjadi nyata. Fyyyuuuuuhhhhhh.....!!!!!!!
Aku mungkin seorang pengecut, tapi biarpun demikian... pengecut seperti aku takkan rela membiarkan mereka menyakitimu sedikit pun. Aku takkan biarkan mereka membuatmu terluka hanya karena aku. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri, jika sampai itu terjadi. Dan akhirnya telah kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ini, meski dengan langkah gontai, meski dengan kaki pincang dan hati yang telah terkoyak-koyak. Aku harus menyelesaikan perjalanan ini, hingga aku berhasil mendapatkan kembali dunia yang telah terampas dari padaku. Tunggulah aku... dan semoga Tuhan sudi mendengarkan rintihan ini hingga akhirnya Dia tunjukkan padaku jalan untuk aku kembali pulang. (*)
1 komentar:
melangkahlah terus....
Posting Komentar