Ternyata capek juga ya, duduk delapan jam di depan komputer. Lama-lama aku merasa bentuk wajahku ini menjadi kotak mengikuti bentuk monitor, jadi ketika di depannya aku seperti sedang bercermin. Ahhhh... aku mulai melantur rupanya. Tapi ini sudah menjadi bagian dari rutinitas harianku, berjuang demi sesuap nasi... Hahahahahaha... Mungkin kedengarannya terlalu berlebihan barangkali, namun kenyataannya memanglah demikian. Kini aku tengah mencoba peruntunganku di sebuah warung internet. Bukan sedang browsing, chatting atau downloading... tapi aku kini bertransformasi menjadi seorang customer service yang mesti memajang senyum setiap saat kepada tiap customer yang datang.
"Mau pakai, Mbak..."
"Silakan di bilik nomor 1, Mas."
Hihihihihihi... jangan berpikir yang macam-macam kalau membaca cuplikan percakapan barusan, karena mungkin Anda bisa sangat kecewa bila ternyata tak sesuai dengan apa yang ada di pikiran Anda hahahahaha.... Yup karena tidak ada hal yang macam-macam yang sedang terjadi antara aku dengan mas-mas itu, karena ternyata mas-mas itu datang untuk memakai akses internet sedangkan aku menunjukkan bilik yang bisa dipakai olehnya. Just it, no more!!
to be Continued :)
Puzzle 9
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 11, 2010
/
Comments: (1)
Semua kini tlah berubah... Manis menjadi asam, terang menjadi redup dan pagi berganti senja. Akankah kutemui esok hari canda tawamu, senyummu, tangismu, dan bayangmu di sampingku lagi??
Kini, aku sendirian... tak tahu kabar, tak tahu berita dan tak tahu seperti apa dirimu sekarang.
Yang aku pinta di hari ini adalah bisa kembali bersama-sama lagi, sedih bersama, tawa pun juga bersama. Kita mulai semuanya dari nol,,,,
Hanya tahun ini, aku tak bisa menghabiskan momen spesial bersamamu. Sedih??? Ya memang...
Itu yang kurasakan saat ini. Serasa ada salah satu tulangku terlepas dari persendianku.
Kini, aku sendirian... tak tahu kabar, tak tahu berita dan tak tahu seperti apa dirimu sekarang.
Yang aku pinta di hari ini adalah bisa kembali bersama-sama lagi, sedih bersama, tawa pun juga bersama. Kita mulai semuanya dari nol,,,,
Hanya tahun ini, aku tak bisa menghabiskan momen spesial bersamamu. Sedih??? Ya memang...
Itu yang kurasakan saat ini. Serasa ada salah satu tulangku terlepas dari persendianku.
Aku merindumu, aku menyayangimu dan aku mencintaimu...
Mungkin terkadang aku egois dan sesaat memikirkan kepentinganku sendiri untuk hidup dan cintaku. Tapi kenyataan yang menyadarkanku tentang cinta, cinta itu memberi dan mengasihi...
Selamat mengembara di dunia yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan....!!!
Mungkin terkadang aku egois dan sesaat memikirkan kepentinganku sendiri untuk hidup dan cintaku. Tapi kenyataan yang menyadarkanku tentang cinta, cinta itu memberi dan mengasihi...
Selamat mengembara di dunia yang penuh dengan sandiwara dan kemunafikan....!!!
Tersayat hatiku memandang deretan kata demi kata ini... Tangisku pun tak urung pecahlah akhirnya. Rasanya sudah lama sekali air mata ini tertahan di ragaku dan akhirnya tertumpah ruah juga membasahi pelataran pipiku. Tanpa dapat kuhindari, aku pun terisak pilu. Kurasakan rasa sakitnya, kurasakan pilu hatinya... karena begitu juga yang terjadi padaku. Rasa yang sama, sakit yang sama, rindu yang sama, keinginan yang sama... Aku tahu dengan benar, bagaimana rasanya? Jika aku masih bisa menyembunyikan semua rasaku di balik tawaku selama ini, namun sekarang aku tak cukup berdaya lagi... dan aku pun turut tergugu dalam pedih hatiku.
Meskipun aku tahu, hanya akan ada luka yang membekas... aku tak henti-hentinya membaca kembali bait demi bait untaian kata itu. Kelihatannya sangat sederhana tapi rasanya sangat menyakitkan. Sebuah ungkapan jujur dari sebuah hati, yang tak tersampaikan dengan sempurna. Sama denganku, bahkan dengan kata sekalipun aku tak sanggup menggambarkannya. Yang bisa kurasa hanya sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttt yang mendera-dera di sekujur tubuh ini. Sakit yang belum juga terobati dan semakin sakit tatkala kuingat... aku tak juga temukan jalan untuk aku kembali. Dan kudapati derai air mata ini semakin deras terasa... bahkan kedua tanganku tak berhasil untuk menghentikannya.
Telah cukup lama kita terpisah di antara ruang dan dalam selipan sang waktu. Jika aku kini tak memperlihatkan diriku padamu, bukan karena aku tak ingin bersua denganmu sekedar melepas rindu dan berbagi kasih. Aku sangat menyayangimu, aku sangat mencintaimu dan aku pun ingin sekali berjumpa denganmu. Memelukmu, bercanda denganmu, memarahimu dan bercengkerama dalam cerita bersamamu, sungguh aku ingin sekali mewujudkannya... Andai rasa ini bisa menjangkau dengan leluasa, aku tak perlu tunggu esok datang, aku pasti akan datang menghampirimu detik ini juga, namun apa daya semua tak semudah yang dibayangkan. Langkah ini tertahan oleh rantai yang membelenggu. Raga ini tersembunyi di balik temaram kisah yang terajut. Aku sungguh tak berdaya untuk menjangkaumu. Bukan karena kau yang terlampau jauh di sana tapi karena sekat pemisah yang terbentang terlalu tebal memisahkan kita.
Perjalanan ini masih terasa abu-abu bagiku. Entah kapan aku akan sampai... aku pun tak pernah tahu. Namun bila telah datang saatnya nanti.... Aku tak peduli harus berapa banyak lagi air mata yang akan kukeluarkan dari dua bola mata ini, aku pasti akan berlari dan menyongsongmu dengan segera. Aku tak peduli setajam apa kerikil yang akan menusuk telapak kakiku, aku pasti akan menggapaimu dengan kedua tanganmu. Aku pun juga tak peduli seberapa terik sang mentari akan membakar kulitku, aku takkan pernah membiarkan dunia memisahkan kita. Tidak untuk semua itu, karena aku sungguh merindukanmu. Aku ingin semuanya segera berlalu, agar aku bisa menjalani kehidupan ini bersamamu.
Aku mohon nantikanlah aku di singgasanamu. Maafkanlah aku untuk semua yang tak bisa kulakukan, untuk semua sakit yang menghantammu, untuk semua rindu yang menghujam hatimu, aku mohon maafkanlah aku. Semoga aku bisa segera melihat senyummu kembali merekah di bibirmu, meski kau tak pernah tahu, aku tak pernah meluputkanmu sebentar saja dari tangkapan panca inderaku. Ya Tuhan, aku mohon jagalah dia di sana dalam rangkulan tangan-Mu agar dia senantiasa mendapatkan damai yang hanya datang dari padaMu. Amin.
AKU SANGAT MERINDUKANMU...
Aku sangat ingin meneriakkan kalimat ini kepadamu, agar kau tahu bahwa aku tak berbeda denganmu kini. Tersiksa oleh rasa yang tak bisa tersampaikan. Ya... sakitnya melebihi sembilu yang mengiris raga, lebih dari itu semua. Ketika aku hanya bisa memandangmu dari kejauhan dan tak sanggup untuk merengkuhmu, ini adalah penyiksaan bagiku. Rasanya ingin melihatmu dari dekat tapi TAK BISA... Ingin sekali bercakap dan sekedar mendengar sepatah kata... namun itu juga TAK BISA. Tak tahan rasanya untuk menjabat tanganmu, tapi lagi-lagi AKU TAK BISA. Bayangkanlah... apa yang kurasakan saat ini? Hanya bisa menangis dan memimpikan semuanya itu menjadi nyata. Fyyyuuuuuhhhhhh.....!!!!!!!
Aku mungkin seorang pengecut, tapi biarpun demikian... pengecut seperti aku takkan rela membiarkan mereka menyakitimu sedikit pun. Aku takkan biarkan mereka membuatmu terluka hanya karena aku. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri, jika sampai itu terjadi. Dan akhirnya telah kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan ini, meski dengan langkah gontai, meski dengan kaki pincang dan hati yang telah terkoyak-koyak. Aku harus menyelesaikan perjalanan ini, hingga aku berhasil mendapatkan kembali dunia yang telah terampas dari padaku. Tunggulah aku... dan semoga Tuhan sudi mendengarkan rintihan ini hingga akhirnya Dia tunjukkan padaku jalan untuk aku kembali pulang. (*)
Puzzle 8
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 06, 2010
/
Comments: (0)
Aku punya teman sekelas namanya Andra. Aku memang belum begitu akrab dengannya, karena kelas ini baru saja dimulai. Aku tahu namanya Andra karena teman-teman seringkali menyebut nama itu. Bukan karena dia keren atau ganteng, bukan karena dia banyak bicara dan juga bukan karena dia paling pintar di kelas, kalian pasti tidak menduga kalau dia menjadi cukup populer di kelas kami karena warna kulitnya yang cukup gelap jika dibandingkan dengan teman-teman cowokku yang lain. Ya memang seperti itulah kenyataannya, karena kulit gelapnya itu, Andra selalu dijadikan bahan ejekan oleh teman-teman. Namun aku salut sama dia karena meskipun dia selalu jadi bahan ejekan, dia tetap PD aja dan nggak minder sama sekali. Malah kadang dia menjadikan ejekan itu sebagai bahan lucu-lucuan. Coba kalau aku yang ada di posisinya, mungkin aku tidak akan berani masuk sekolah atau bahkan memilih untuk pindah ke sekolah lain.
Kalau aku lihat-lihat, Andra punya selera humor yang tinggi, sehingga apa yang dia bilang hampir selalu bisa membuat tertawa orang-orang di sekelilingnya. Mungkin itu salah satu kelebihan Andra, di luar konteks warna kulitnya yang gelap, yang menjadikannya memiliki banyak teman. Setiap istirahat, pasti selalu aja ada anak dari kelas lain datang untuk mencarinya, meski hanya sekedar untuk say hello atau mengajaknya ke kantin. Rasanya aku jadi iri sama dia, karena sampai hari ini aku merasa tak punya teman. Aku memang hampir hafal semua nama teman-teman sekelasku, tapi aku masih merasa asing dengan mereka semua. Paling-paling aku ngobrol sama Anna, teman sebangkuku, atau nggak sama Fariz, yang kebetulan rumahnya bersebelahan denganku. Selain mereka berdua, paling aku cuma sebatas tahu aja. Sama halnya dengan Andra, aku sampai sekarang belum pernah sekalipun ngobrol dengannya. Meskipun warna kulitku setingkat lebih terang dibanding Andra, justru aku yang merasa nggak PD kalau ngobrol sama Andra, karena di mataku Andra itu termasuk jajaran orang-orang eksekutif hahahahaha... habisnya dia terkenal sih.
Suatu hari, Andra duduk di sebelah Fariz sedangkan tempat duduk Fariz tepat di belakangku. Fariz itu doyan banget godain aku, anaknya emang suka iseng sih, jadi aku nggak terlalu kaget dengan polah tingkah Fariz.
"Ndra, kamu dah tahu belum kalau dia tetanggaku lho..."
Oh My God, penting nggak sih kalau hal itu diceritain sama Andra? Bener-bener kurang kerjaan deh si Fariz itu. Aku yang mendengar perkataan Fariz barusan pun, langsung menoleh ke arah Fariz dan memasang tatapan penuh keanehan. Dan ketika aku sedang melihat ke arah Fariz, tahu nggak apa yang Fariz lakukan? Dia malah ngedip-ngedipin matanya gitu ke arahku. Sumpah deh.... genit banget dan pengen rasanya aku ketawa ngakak setelah melihatnya. Aku pun berbalik ke posisi semula sembari menahan tawa, karena waktu itu pelajaran sedang berlangsung, makanya aku simpan dulu ketawa ngakak-ku. Tak berapa lama kemudian, aku dengar Andra menanggapi.
"Trus kenapa emangnya ?"
Syukurin kamu, Fariz. Tengsin nggak kamu sekarang. Hahahahahaha... Rasanya puas sekali dengar Andra berkata demikian. Aku bisa bayangkan gimana wajah Fariz setelah itu. Biar tahu rasa dia hahahahaha... Aku tahu Andra memang tidak serius mengatakan itu, dia pasti hanya berusaha membalas Fariz yang selama ini doyan sekali mengejeknya.
"Emang kamu nggak malu ya, punya tetangga kayak bocah ini ?"
Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku bicara sama Andra. Aku suka gaya bicara dia. Datar, spontan, bisa bikin KO lawan bicaranya tapi nggak terlihat kalau sedang mengejek, mungkin kalau aku anak gaul Jakarta, aku bakal bilang gini sama Andra, "Ndra, gue suka gaya lo..." Wakakakakakakakak... tapi di kota Sukowati ini, bahasa seperti itu dilarang untuk dipakai. Kami kan putra-putri Sukowati yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa. Jadi untuk yang bergaya metropolis, sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
Setelah itu obrolan kami pun menjadi nyambung. Aku, Fariz dan Andra balas membalas kata satu dengan kata yang lain, sampai-sampai pelajaran Sejarah yang cukup membosankan itu bisa kami lalui tanpa rasa kantuk sedikitpun. Dan sejak saat itulah aku menjadi senang ngobrol sama Andra. Ngobrolin apa aja yang penting bisa kami obrolkan. Akhirnya aku tahu kenapa Andra mempunyai banyak teman, karena dia tahu bagaimana cara menempatkan dirinya dalam pertemanan dengan sangat baik. Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan tentang Andra tapi aku malu karena kalau aku cerita bisa-bisa akan semakin kelihatan betapa kuper-nya aku ini. Tapi rasanya kok nggak afdol ya kalau aku nggak cerita, kayak ada yang belum lengkap gitu.
Baiklah ini adalah rahasiaku. Jadi tolong jaga rahasia ini baik-baik karena kalau sampai tersebar ke mana-mana, berarti kalian telah dengan sangat tega mempermalukan diriku. Semoga kalian mengerti. Jadi begini ceritanya, maaf ya suaraku harus aku pelankan sedikit biar nggak ada orang lain yang dengar tentang ini. Ehmm... jadi rahasia yang ingin aku ceritakan adalah aku dan Andra itu sebenarnya satu sekolah sejak kami SMP. Tuingggg... tuinggg.. tuinggg... Tapi meskipun begitu, aku dan dia baru kenal pas kelas 2 SMA ini. Hahahahaha... parah kan kuper-ku??? Jadi... ssssssssssssssttttttttt.... jangan bilang siapa-siapa ya!!!
Tapi aku kesal sekali sama salah satu teman Andra. Dia juga teman sekelasku. Dia sama-sama populer kayak Andra. Kalau Andra populer di kalangan murid cowok, nah si gunung es ini populernya di kalangan murid cewek. Nggak papa dong kalau aku sampai menyebutnya si gunung es, habis orangnya sok cool gitu, bener-bener beda banget sama Andra. Andra jauh lebih friendly dan menyenangkan dijadikan teman, nah kalau si gunung es ini boro-boro deh jadi teman, dekat sama dia aja ogah. Aku akan memilih untuk menjauh kalau di situ ada dia. Aku nggak peduli seganteng apapun dia, selama dia sok keren di mataku, so aku anggak sudi temenan sama dia. Apesnya lagi teman-teman sekelas memilih dia untuk jadi partnerku dalam posisi sekretaris di kepengurusan kelas. Rasanya aku seperti mendapatkan mimpi buruk, bisa bareng sama dia. Bagaimana mungkin kami bisa bekerja sama dengan baik sedangkan sikapnya aja angkuh dan nggak bersahabat seperti itu? Ya Tuhan... bakal jadi apa nantinya aku ini.
"Ndra, kamu udah lama kenal sama anak itu ?"
"Anak itu? Siapa ?"
"Itu tuh... Cowok yang soknya selangit itu. Kamu temenan sama dia udah berapa lama ?"
"Oh... maksud kamu si Bara ?"
"Emang ada yang lain selain anak itu ?"
Tawa Andra pun pecah setelah aku mengakhiri bicaraku. Aku jadi bingung sendiri melihatnya, sembari berusaha mencari bagian mana yang lucu sehingga bisa sampai membuat Andra tertawa puas seperti itu. Dan sayangnya, aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari pernyataan dan pertanyaanku tadi.
"Kok malah ketawa sih? Apanya yang lucu ?"
"Mau tahu apa yang lucu... kamu itu yang lucu."
Hahhhh... kok jadi aku yang lucu? Memangnya aku ini badut Ancol yang mengenakan segala aksesorisnya sehingga bisa membuat Andra mengatakan aku ini lucu. Ini yang lucu sebenarnya siapa sih, aku atau Andra? Benar-benar membingungkan.
"Memangnya kenapa sama si Bara? Dia ngapain kamu sampai kamu segitu bencinya sama dia ?"
"Emang aku tadi bilang kalau aku benci sama anak itu, sepertinya enggak deh. Kamu tuh yang ngada-ada."
"Anak kecil juga tahu kali, kalau dari nada bicara kamu yang sinis itu udah jelaslah kalau kamu ilfeel sama si Bara. Aku baru setahun sih kenal sama dia, itupun karena kita teman sekelas. Ehmm.. dan menurutku Bara nggak sejelek apa yang ada di pikiran kamu deh."
"Ya jelaslah kamu ngomongnya begitu, dia kan teman kamu. Mana mungkin kamu jelek-jelekin dia di depan aku. Kayaknya aku bertanya sama orang yang salah deh."
"Wakakakkakakakakakakak..."
"Udah STOP ketawanya... Nggak lucu."
"Aku jadi penasaran, kenapa sih emangnya segitu bencinya kamu sama dia. Perasaan aku belum pernah lihat kamu bicara sama dia."
"Bicara sih emang belum pernah..."
"Trus? Apa dong alasannya ?"
"Bete aja ngelihatin sikapnya yang sok itu..."
"Hemmm... itu sih karena kamu belum kenal aja sama dia. Tapi kalau kamu dah kenal, aku yakin pandangan kamu itu akan berubah 360 derajat."
"Oh ya ???"
"Yeeee.... nggak percaya dibilangin. Bara tuh emang anaknya kayak gitu. Luarnya aja kelihatan angkuh, sok cool atau apalah, tapi sebenarnya baik orangnya, hampir sama gilanya kayak tetangga kamu itu."
"Masak ?"
"Besok deh kalau kamu dah kenal dia... baru kasih komentar. Lha ini, bicara aja belum pernah udah men-judge orang seenaknya."
Tapi Andra ada benarnya juga sih, aku memang belum terlalu kenal sama anak itu. Aku juga belum pernah bicara sama dia, harusnya aku nggak langsung memvonis anak itu dengan berbagai macam tuduhan dan prasangka. Ya sudahlah... terserah aja dia mau ngapain, toh juga bukan urusanku. Ya kan? Eh tunggu tunggu... kok jadi ngomongin si gunung es itu sih, bukannya tadi aku mau nyeritain tentang Andra? Wah wah wah... kayaknya sedang kacau berat nih, lebih baik kita tinggalkan dulu deh keruwetan di sini. Okay? See you... (*)
Kalau aku lihat-lihat, Andra punya selera humor yang tinggi, sehingga apa yang dia bilang hampir selalu bisa membuat tertawa orang-orang di sekelilingnya. Mungkin itu salah satu kelebihan Andra, di luar konteks warna kulitnya yang gelap, yang menjadikannya memiliki banyak teman. Setiap istirahat, pasti selalu aja ada anak dari kelas lain datang untuk mencarinya, meski hanya sekedar untuk say hello atau mengajaknya ke kantin. Rasanya aku jadi iri sama dia, karena sampai hari ini aku merasa tak punya teman. Aku memang hampir hafal semua nama teman-teman sekelasku, tapi aku masih merasa asing dengan mereka semua. Paling-paling aku ngobrol sama Anna, teman sebangkuku, atau nggak sama Fariz, yang kebetulan rumahnya bersebelahan denganku. Selain mereka berdua, paling aku cuma sebatas tahu aja. Sama halnya dengan Andra, aku sampai sekarang belum pernah sekalipun ngobrol dengannya. Meskipun warna kulitku setingkat lebih terang dibanding Andra, justru aku yang merasa nggak PD kalau ngobrol sama Andra, karena di mataku Andra itu termasuk jajaran orang-orang eksekutif hahahahaha... habisnya dia terkenal sih.
Suatu hari, Andra duduk di sebelah Fariz sedangkan tempat duduk Fariz tepat di belakangku. Fariz itu doyan banget godain aku, anaknya emang suka iseng sih, jadi aku nggak terlalu kaget dengan polah tingkah Fariz.
"Ndra, kamu dah tahu belum kalau dia tetanggaku lho..."
Oh My God, penting nggak sih kalau hal itu diceritain sama Andra? Bener-bener kurang kerjaan deh si Fariz itu. Aku yang mendengar perkataan Fariz barusan pun, langsung menoleh ke arah Fariz dan memasang tatapan penuh keanehan. Dan ketika aku sedang melihat ke arah Fariz, tahu nggak apa yang Fariz lakukan? Dia malah ngedip-ngedipin matanya gitu ke arahku. Sumpah deh.... genit banget dan pengen rasanya aku ketawa ngakak setelah melihatnya. Aku pun berbalik ke posisi semula sembari menahan tawa, karena waktu itu pelajaran sedang berlangsung, makanya aku simpan dulu ketawa ngakak-ku. Tak berapa lama kemudian, aku dengar Andra menanggapi.
"Trus kenapa emangnya ?"
Syukurin kamu, Fariz. Tengsin nggak kamu sekarang. Hahahahahaha... Rasanya puas sekali dengar Andra berkata demikian. Aku bisa bayangkan gimana wajah Fariz setelah itu. Biar tahu rasa dia hahahahaha... Aku tahu Andra memang tidak serius mengatakan itu, dia pasti hanya berusaha membalas Fariz yang selama ini doyan sekali mengejeknya.
"Emang kamu nggak malu ya, punya tetangga kayak bocah ini ?"
Dan saat itulah untuk pertama kalinya aku bicara sama Andra. Aku suka gaya bicara dia. Datar, spontan, bisa bikin KO lawan bicaranya tapi nggak terlihat kalau sedang mengejek, mungkin kalau aku anak gaul Jakarta, aku bakal bilang gini sama Andra, "Ndra, gue suka gaya lo..." Wakakakakakakakak... tapi di kota Sukowati ini, bahasa seperti itu dilarang untuk dipakai. Kami kan putra-putri Sukowati yang masih menjunjung tinggi budaya Jawa. Jadi untuk yang bergaya metropolis, sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
Setelah itu obrolan kami pun menjadi nyambung. Aku, Fariz dan Andra balas membalas kata satu dengan kata yang lain, sampai-sampai pelajaran Sejarah yang cukup membosankan itu bisa kami lalui tanpa rasa kantuk sedikitpun. Dan sejak saat itulah aku menjadi senang ngobrol sama Andra. Ngobrolin apa aja yang penting bisa kami obrolkan. Akhirnya aku tahu kenapa Andra mempunyai banyak teman, karena dia tahu bagaimana cara menempatkan dirinya dalam pertemanan dengan sangat baik. Sebenarnya ada yang ingin aku ceritakan tentang Andra tapi aku malu karena kalau aku cerita bisa-bisa akan semakin kelihatan betapa kuper-nya aku ini. Tapi rasanya kok nggak afdol ya kalau aku nggak cerita, kayak ada yang belum lengkap gitu.
Baiklah ini adalah rahasiaku. Jadi tolong jaga rahasia ini baik-baik karena kalau sampai tersebar ke mana-mana, berarti kalian telah dengan sangat tega mempermalukan diriku. Semoga kalian mengerti. Jadi begini ceritanya, maaf ya suaraku harus aku pelankan sedikit biar nggak ada orang lain yang dengar tentang ini. Ehmm... jadi rahasia yang ingin aku ceritakan adalah aku dan Andra itu sebenarnya satu sekolah sejak kami SMP. Tuingggg... tuinggg.. tuinggg... Tapi meskipun begitu, aku dan dia baru kenal pas kelas 2 SMA ini. Hahahahaha... parah kan kuper-ku??? Jadi... ssssssssssssssttttttttt.... jangan bilang siapa-siapa ya!!!
Tapi aku kesal sekali sama salah satu teman Andra. Dia juga teman sekelasku. Dia sama-sama populer kayak Andra. Kalau Andra populer di kalangan murid cowok, nah si gunung es ini populernya di kalangan murid cewek. Nggak papa dong kalau aku sampai menyebutnya si gunung es, habis orangnya sok cool gitu, bener-bener beda banget sama Andra. Andra jauh lebih friendly dan menyenangkan dijadikan teman, nah kalau si gunung es ini boro-boro deh jadi teman, dekat sama dia aja ogah. Aku akan memilih untuk menjauh kalau di situ ada dia. Aku nggak peduli seganteng apapun dia, selama dia sok keren di mataku, so aku anggak sudi temenan sama dia. Apesnya lagi teman-teman sekelas memilih dia untuk jadi partnerku dalam posisi sekretaris di kepengurusan kelas. Rasanya aku seperti mendapatkan mimpi buruk, bisa bareng sama dia. Bagaimana mungkin kami bisa bekerja sama dengan baik sedangkan sikapnya aja angkuh dan nggak bersahabat seperti itu? Ya Tuhan... bakal jadi apa nantinya aku ini.
"Ndra, kamu udah lama kenal sama anak itu ?"
"Anak itu? Siapa ?"
"Itu tuh... Cowok yang soknya selangit itu. Kamu temenan sama dia udah berapa lama ?"
"Oh... maksud kamu si Bara ?"
"Emang ada yang lain selain anak itu ?"
Tawa Andra pun pecah setelah aku mengakhiri bicaraku. Aku jadi bingung sendiri melihatnya, sembari berusaha mencari bagian mana yang lucu sehingga bisa sampai membuat Andra tertawa puas seperti itu. Dan sayangnya, aku sama sekali tidak menemukan sesuatu yang lucu dari pernyataan dan pertanyaanku tadi.
"Kok malah ketawa sih? Apanya yang lucu ?"
"Mau tahu apa yang lucu... kamu itu yang lucu."
Hahhhh... kok jadi aku yang lucu? Memangnya aku ini badut Ancol yang mengenakan segala aksesorisnya sehingga bisa membuat Andra mengatakan aku ini lucu. Ini yang lucu sebenarnya siapa sih, aku atau Andra? Benar-benar membingungkan.
"Memangnya kenapa sama si Bara? Dia ngapain kamu sampai kamu segitu bencinya sama dia ?"
"Emang aku tadi bilang kalau aku benci sama anak itu, sepertinya enggak deh. Kamu tuh yang ngada-ada."
"Anak kecil juga tahu kali, kalau dari nada bicara kamu yang sinis itu udah jelaslah kalau kamu ilfeel sama si Bara. Aku baru setahun sih kenal sama dia, itupun karena kita teman sekelas. Ehmm.. dan menurutku Bara nggak sejelek apa yang ada di pikiran kamu deh."
"Ya jelaslah kamu ngomongnya begitu, dia kan teman kamu. Mana mungkin kamu jelek-jelekin dia di depan aku. Kayaknya aku bertanya sama orang yang salah deh."
"Wakakakkakakakakakakak..."
"Udah STOP ketawanya... Nggak lucu."
"Aku jadi penasaran, kenapa sih emangnya segitu bencinya kamu sama dia. Perasaan aku belum pernah lihat kamu bicara sama dia."
"Bicara sih emang belum pernah..."
"Trus? Apa dong alasannya ?"
"Bete aja ngelihatin sikapnya yang sok itu..."
"Hemmm... itu sih karena kamu belum kenal aja sama dia. Tapi kalau kamu dah kenal, aku yakin pandangan kamu itu akan berubah 360 derajat."
"Oh ya ???"
"Yeeee.... nggak percaya dibilangin. Bara tuh emang anaknya kayak gitu. Luarnya aja kelihatan angkuh, sok cool atau apalah, tapi sebenarnya baik orangnya, hampir sama gilanya kayak tetangga kamu itu."
"Masak ?"
"Besok deh kalau kamu dah kenal dia... baru kasih komentar. Lha ini, bicara aja belum pernah udah men-judge orang seenaknya."
Tapi Andra ada benarnya juga sih, aku memang belum terlalu kenal sama anak itu. Aku juga belum pernah bicara sama dia, harusnya aku nggak langsung memvonis anak itu dengan berbagai macam tuduhan dan prasangka. Ya sudahlah... terserah aja dia mau ngapain, toh juga bukan urusanku. Ya kan? Eh tunggu tunggu... kok jadi ngomongin si gunung es itu sih, bukannya tadi aku mau nyeritain tentang Andra? Wah wah wah... kayaknya sedang kacau berat nih, lebih baik kita tinggalkan dulu deh keruwetan di sini. Okay? See you... (*)
Puzzle 7
Diposting oleh
Puzzle of Me
/
Comments: (0)
Aku terlahir di sebuah keluarga kecil. Ada ayah, ibu dan seorang kakak laki-lakiku. Bersama mereka, aku tinggal di petak kamar kecil sebuah rumah di suatu desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Rumah itu kepunyaan Mbah Kromo, begitu nenek tua itu biasa dipanggil orang-orang, termasuk ketika orang tuaku mengenalkannya padaku. Rumah Mbah Kromo dibentengi oleh kayu sebagai dindingnya, tapi kayu-kayu rumah itu sangat kokoh berdiri menopang atap-atap yang terbuat dari tanah liat. Dibilang sangat bagus, aku rasa tidak terlalu, malah cenderung lebih etnik kejawen dengan bentuk joglonya, tapi luasnya aku pikir belum ada yang menandingi. Mbah Kromo tinggal sendirian di rumah joglo itu, mungkin karena itu kali ya... beliau menerima aku bersama keluargaku untuk tinggal di rumahnya, menghuni salah satu kamar tidur yang tidak terlalu besar namun cukuplah untuk kami berempat.
Aku tak begitu dekat dengan Mbah Kromo itu, karena beliau galak, suka marah-marahin aku atau kakakku, seolah-olah beliau itu merasa berhak atas aku dan kakakku sebagai cucunya. Oleh karena itulah, aku dan kakakku lebih sering bermain di luar rumah ketimbang di rumah joglonya Mbah Kromo, takut dimarahi soalnya.
Ayahku lebih sering terlihat di rumah dibandingkan ibuku. Pagi-pagi aku lihat ibu sudah beranjak dari rumah dan baru terlihat lagi ketika hari hampir petang. Tiap ibu pergi, aku lihat beliau mententeng kain dan benang di tangannya, awalnya aku tak mengerti kenapa kain dan benang itu selalu memberatkan langkah ibu dari rumah dan setelah aku bertanya akhirnya aku tahu kalau ibu habiskan waktunya untuk bekerja di salah seorang juragan jahit yang tak jauh dari tempat tinggalku. Kalau ayahku, aku tidak tahu bekerja apa beliau, ibu hanya bilang kalau ayah belum mempunyai pekerjaan yang tetap, selalu berganti-ganti setiap harinya. Kadang hari ini bekerja seharian, kadang cuma setengah hari dan kadang malah sama sekali tidak bekerja, itulah yang ibu katakan padaku ketika mengartikan pekerjaan serabutan. Sering aku bertanya kenapa ayah dan ibu harus bekerja, kenapa tak habiskan waktu untuk menemani aku dan kakakku bermain di rumah saja, tapi dengan sabarnya ibu menjelaskan padaku kalau ayah ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk membeli beras, sayur, lauk pauk, baju, sabun mandi dan masih banyak yang lain hingga akhirnya aku, si kecil ini, sedikit lebih mengerti dunia orang dewasa.
Rumit sekali sepertinya kehidupan orang dewasa, sangat berbeda dengan keseharian aku dan kakakku. Tiap pagi setelah mandi, kami berdua sarapan, setelah itu kami pergi bermain dengan anak-anak tetangga seumuran kami, siangnya kami pulang untuk makan siang dan tidur siang, dan setelah bangun di sore hari, kami mandi dan bermain lagi sampai matahari tak kelihatan lagi di barat sana, barulah waktu itu kami pulang ke rumah untuk makan malam dan tidur. Begitu sederhana sekali hidupku dan kakakku, yang sangat berbeda dengan ayah ibuku. Hemmm... apakah nanti ketika aku menjadi dewasa, aku akan seperti ayah ibuku, menjalani kehidupan yang rumit dan tidak sederhana lagi?
"Nduk, kamu harus makan dulu cah ayu, nanti kan bisa main lagi. Ini sudah waktunya makan siang, ayo sekarang kamu ikut Ibu pulang."
Dengan tanpa memberiku sedikit kesempatan untuk berkata-kata, ibu langsung meraih tangan kananku dan ditariknya begitu saja keluar dari gerombolan teman-temanku. Begitu juga dengan kakakku, dia ikut diajak pulang sama ibu hanya saja ibu tidak menarik tangan kakakku seperti yang ibu lakukan padaku. Aku tahu hari sudah sangat siang dan waktu itu ibu memang sedang tidak pergi bekerja, makanya aku merasa jam mainku sedikit terganggu. Aku belum lapar, Ibu, aku masih ingin bermain, teman-temanku juga masih bermain dan mereka tidak pulang ke rumah untuk makan siang. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati waktu itu.
"Ya begitulah anak-anak kamu, Sri. Susah sekali kalau disuruh makan siang dan lebih susah lagi kalau sudah waktunya tidur siang."
Semakin menjengkelkan saja, Mbah Kromo ikut-ikutan mengadu sama ibu. Aku dan kakakku jadi makin empuk saja jadi sasaran kemarahan ibu. Kakakku sih kelihatannya cuek-cuek saja, beda dengan aku yang kentara sekali memperlihatkan kekesalanku, padahal aku yakin kalau sebenarnya kakakku juga sama kesalnya dengan aku, tapi kenapa ya dia terlihat biasa saja, apa karena dia laki-laki dan aku perempuan??? Entahlah... aku belum terlalu banyak ingin tahu tentang laki-laki ataupun perempuan, mungkin kapan-kapan saja aku cari tahunya, yang jelas siang ini aku kesal sekali. Disuruh pulang sama ibu saat aku masih asyik bermain dan parahnya lagi menu makan siang kali ini adalah sayur bayam dan wortel. Behhhhhhh... makanan yang paling aku benci, aku tidak suka, ibu, aku sudah sering mengatakannya pada ibu, tapi kenapa ibu selalu memberiku makanan itu?
"Nduk, bayam sama wortel itu baik untuk kesehatan kamu, biar kamu jadi sehat dan pintar."
Selalu saja jawaban seperti itu yang diucapkan ibu ketika aku berusaha untuk menolak makan makanan yang membuatku pengen muntah itu. Emangnya seberapa penting sih sehat atau pintar itu buat aku? Ibu tidak pernah menjelaskan hal itu padaku, jadi sah sah saja kalau aku merasa tidak butuh menjadi sehat dan pintar dengan syarat harus makan bayam atau wortel. Kalau aku boleh bilang, mungkin di dalam perutku ini ada daftar makanan yang tidak seharusnya aku makan, sedangkan bayam dan wortel itu termasuk di dalamnya, sehingga ketika aku mulai mengunyahnya seakan tertahan saja di dalam mulut dan ditolak mentah-mentah sama tubuhku.
"Nduk, jangan dimuntahkan dong...!!!!"
Nada bicara ibu mulai meninggi ketika melihat untuk kedua kalinya aku memuntahkan kunyahan bayam dan wortel keluar dari mulutku. Aku cuma bisa menangis sambil terus berusaha meyakinkan ibu kalau aku benar-benar tidak bisa memakan makanan itu, tapi ibu sepertinya tidak mau tahu, ibu terus menjejalkan makanan itu ke dalam mulutku. Hikzz... hikzz... hikzz...
"Kalau kamu tidak mau makan juga, ibu akan buatkan jamu buat kamu..."
Astaga... Jamu??? Makanan apalagi itu? Oh tidak... jamu itu kan makanan menyebalkan selanjutnya yang dibenci sama perutku, rasanya sangat pahit dan tidak enak. No no no no.... ampun ibu, ampun, aku tidak mau minum jamu, tapi aku juga tidak bisa melanjutkan makan bayam dan wortel. Tangisku semakin keras saja, mendengar kata jamu, melihat bayam dan wortel di hadapanku, hingga akhirnya ibu pun mulai merasa lelah untuk membujuk aku. Ibu beranjak dari sisiku dan entah ke mana beliau pergi, sedangkan aku masih melanjutkan tangisku. Aku tidak mau disalahkan apalagi dimarahi ketika aku tidak doyan sama bayam dan wortel seperti kakakku, itu bukan kemauan aku, aku sendiri juga tidak tahu kenapa perutku tidak bisa menerima makanan itu. Kenapa ibu tidak pernah mau mengerti? Kenapa ibu terus saja memaksaku?
Aku lihat ibu kembali datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Belum terlalu kelihatan di mataku, apa yang sedang ibu bawa. Namun semakin mendekat, semakin jelas bahwa ibu tengah memeram daun pepaya di dalam sebuah kain, yang aku tahu pasti rasanya pahit sekali dan itulah yang namanya jamu. Oh tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk.... Pada akhirnya peraman daun pepaya itu ibu jejalkan juga di mulutku tanpa ampun sedikitpun, meskipun tangisku semakin pecah dan keras membangunkan telinga-telinga yang mendengarnya. Terus menerus dijejalkan, dijejalkan dan semakin keras aku menangis, jamu sialan itu semakin masuk ke dalam mulutku. Ibu kenapa engkau begitu tega sama aku? Jamu itu sangat pahit, ibu, tolong hentikan siksaan ini untukku.
"Ibu tadi kan sudah bilang, kalau kamu makannya susah, ya udah kamu harus minum jamu ini. Ibu tidak mau kalau kamu sampai sakit gara-gara kamu tidak mau makan sayuran, Nduk."
Kakakku dan Mbah Kromo menyaksikan kejadian itu, tapi mereka hanya memandangiku saja, bahkan mereka tak beranjak sedikit pun dari tempat mereka berdiri untuk menolong aku. Jahaaaatttt... jaahhhaaaatt... hikzzz... hikzzz... hikzzz...
Aku lihat mata ibu berkaca-kaca waktu itu, tapi kenapa tidak sesuai dengan apa yang ibu lakukan padaku, yang seakan mengisyaratkan bahwa ibu tidak peduli dengan tangisku. Aku tidak mengerti kenapa ibu melakukan ini padaku, apa benar hanya karena tidak mau melihat aku sakit, lantas ibu tega berbuat seperti ini padaku? Ataukah ada alasan yang lain yang menjadikan ibu seperti terlihat terpaksa melakukan semua ini?
"Hei... ayo kita main lagi...!!!"
Aku cuma bisa memandangi temanku dan menggelengkan kepala menanggapi ajakannya baru saja. Aku masih takut kalau-kalau nanti ibu marah lagi sama aku dan menjejalkan jamu itu ke mulutku. Tidak... tidak... aku tidak mau, bahkan rasa pahitnya sampai sekarang saja masih terasa dan belum juga lepas dari kecap rasa lidahku. Air mataku menetes perlahan menyaksikan temanku berlalu dari hadapanku, sedang aku tidak bisa turut bermain bersama-sama dengan dia. Aku tengok ke belakang, ke arah dalam rumah... aku lihat kakakku sedang asyik main mobil-mobilannya sendiri, mobil-mobilan yang dibuat dari tangkai daun pisang. Siang hari itu pada akhirnya aku dan kakakku hanya di rumah saja.
"Kalian berdua.. ayo sekarang kalian tidur siang dulu...!!!"
Hemmm... belum selesai menghapus sisa air mata gara-gara bayam, wortel dan jamu pahit itu, aku sekarang harus segera berangkat tidur, menyebalkan sekali. Kebiasaan yang aku pikir semula lebih sederhana dari rutinitas orang dewasa, ternyata cukup membuatku tidak nyaman menikmati masa kecilku. Aku tidak ngantuk, kenapa aku harus tidur? Ini kan masih siang belum malam, kenapa aku selalu disuruh tidur? Sebenarnya apa sih yang dipikirkan orang dewasa itu tentang dunia anak kecil seperti aku ini? Tidak pernahkah mereka menjadi anak kecil dan hidup menjadi seorang anak kecil, sehingga begitu sulitnya mereka untuk mengerti duniaku, keinginanku sebagai seorang anak kecil?
Aku hanyalah anak kecil yang tidak terbiasa dengan aturan-aturan itu. Aku hanya ingin berekspresi sebebas mungkin menikmati masa kecilku. Aku tak cukup mengerti pemikiran orang dewasa tentang aku dan duniaku, aku hanya tak ingin dipaksa untuk menjadi dewasa terlalu cepat. Jika memang mereka pernah menjadi kecil seperti aku, aku minta perlakukanlah aku sesuai dengan masaku, dengan cara-cara yang mudah untuk aku mengerti sehingga bukan kekerasan atau kekasaran yang menyatukan duniaku dengan dunia orang dewasa. Aku hanya anak kecil, bagian kehidupan yang masih sangat dini dan belum banyak tahu tentang kehidupan. Aku menyadari hal itu... dan semoga orang-orang dewasa itu juga menyadari dirinya dengan penuh. (*)
Aku tak begitu dekat dengan Mbah Kromo itu, karena beliau galak, suka marah-marahin aku atau kakakku, seolah-olah beliau itu merasa berhak atas aku dan kakakku sebagai cucunya. Oleh karena itulah, aku dan kakakku lebih sering bermain di luar rumah ketimbang di rumah joglonya Mbah Kromo, takut dimarahi soalnya.
Ayahku lebih sering terlihat di rumah dibandingkan ibuku. Pagi-pagi aku lihat ibu sudah beranjak dari rumah dan baru terlihat lagi ketika hari hampir petang. Tiap ibu pergi, aku lihat beliau mententeng kain dan benang di tangannya, awalnya aku tak mengerti kenapa kain dan benang itu selalu memberatkan langkah ibu dari rumah dan setelah aku bertanya akhirnya aku tahu kalau ibu habiskan waktunya untuk bekerja di salah seorang juragan jahit yang tak jauh dari tempat tinggalku. Kalau ayahku, aku tidak tahu bekerja apa beliau, ibu hanya bilang kalau ayah belum mempunyai pekerjaan yang tetap, selalu berganti-ganti setiap harinya. Kadang hari ini bekerja seharian, kadang cuma setengah hari dan kadang malah sama sekali tidak bekerja, itulah yang ibu katakan padaku ketika mengartikan pekerjaan serabutan. Sering aku bertanya kenapa ayah dan ibu harus bekerja, kenapa tak habiskan waktu untuk menemani aku dan kakakku bermain di rumah saja, tapi dengan sabarnya ibu menjelaskan padaku kalau ayah ibu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk membeli beras, sayur, lauk pauk, baju, sabun mandi dan masih banyak yang lain hingga akhirnya aku, si kecil ini, sedikit lebih mengerti dunia orang dewasa.
Rumit sekali sepertinya kehidupan orang dewasa, sangat berbeda dengan keseharian aku dan kakakku. Tiap pagi setelah mandi, kami berdua sarapan, setelah itu kami pergi bermain dengan anak-anak tetangga seumuran kami, siangnya kami pulang untuk makan siang dan tidur siang, dan setelah bangun di sore hari, kami mandi dan bermain lagi sampai matahari tak kelihatan lagi di barat sana, barulah waktu itu kami pulang ke rumah untuk makan malam dan tidur. Begitu sederhana sekali hidupku dan kakakku, yang sangat berbeda dengan ayah ibuku. Hemmm... apakah nanti ketika aku menjadi dewasa, aku akan seperti ayah ibuku, menjalani kehidupan yang rumit dan tidak sederhana lagi?
"Nduk, kamu harus makan dulu cah ayu, nanti kan bisa main lagi. Ini sudah waktunya makan siang, ayo sekarang kamu ikut Ibu pulang."
Dengan tanpa memberiku sedikit kesempatan untuk berkata-kata, ibu langsung meraih tangan kananku dan ditariknya begitu saja keluar dari gerombolan teman-temanku. Begitu juga dengan kakakku, dia ikut diajak pulang sama ibu hanya saja ibu tidak menarik tangan kakakku seperti yang ibu lakukan padaku. Aku tahu hari sudah sangat siang dan waktu itu ibu memang sedang tidak pergi bekerja, makanya aku merasa jam mainku sedikit terganggu. Aku belum lapar, Ibu, aku masih ingin bermain, teman-temanku juga masih bermain dan mereka tidak pulang ke rumah untuk makan siang. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati waktu itu.
"Ya begitulah anak-anak kamu, Sri. Susah sekali kalau disuruh makan siang dan lebih susah lagi kalau sudah waktunya tidur siang."
Semakin menjengkelkan saja, Mbah Kromo ikut-ikutan mengadu sama ibu. Aku dan kakakku jadi makin empuk saja jadi sasaran kemarahan ibu. Kakakku sih kelihatannya cuek-cuek saja, beda dengan aku yang kentara sekali memperlihatkan kekesalanku, padahal aku yakin kalau sebenarnya kakakku juga sama kesalnya dengan aku, tapi kenapa ya dia terlihat biasa saja, apa karena dia laki-laki dan aku perempuan??? Entahlah... aku belum terlalu banyak ingin tahu tentang laki-laki ataupun perempuan, mungkin kapan-kapan saja aku cari tahunya, yang jelas siang ini aku kesal sekali. Disuruh pulang sama ibu saat aku masih asyik bermain dan parahnya lagi menu makan siang kali ini adalah sayur bayam dan wortel. Behhhhhhh... makanan yang paling aku benci, aku tidak suka, ibu, aku sudah sering mengatakannya pada ibu, tapi kenapa ibu selalu memberiku makanan itu?
"Nduk, bayam sama wortel itu baik untuk kesehatan kamu, biar kamu jadi sehat dan pintar."
Selalu saja jawaban seperti itu yang diucapkan ibu ketika aku berusaha untuk menolak makan makanan yang membuatku pengen muntah itu. Emangnya seberapa penting sih sehat atau pintar itu buat aku? Ibu tidak pernah menjelaskan hal itu padaku, jadi sah sah saja kalau aku merasa tidak butuh menjadi sehat dan pintar dengan syarat harus makan bayam atau wortel. Kalau aku boleh bilang, mungkin di dalam perutku ini ada daftar makanan yang tidak seharusnya aku makan, sedangkan bayam dan wortel itu termasuk di dalamnya, sehingga ketika aku mulai mengunyahnya seakan tertahan saja di dalam mulut dan ditolak mentah-mentah sama tubuhku.
"Nduk, jangan dimuntahkan dong...!!!!"
Nada bicara ibu mulai meninggi ketika melihat untuk kedua kalinya aku memuntahkan kunyahan bayam dan wortel keluar dari mulutku. Aku cuma bisa menangis sambil terus berusaha meyakinkan ibu kalau aku benar-benar tidak bisa memakan makanan itu, tapi ibu sepertinya tidak mau tahu, ibu terus menjejalkan makanan itu ke dalam mulutku. Hikzz... hikzz... hikzz...
"Kalau kamu tidak mau makan juga, ibu akan buatkan jamu buat kamu..."
Astaga... Jamu??? Makanan apalagi itu? Oh tidak... jamu itu kan makanan menyebalkan selanjutnya yang dibenci sama perutku, rasanya sangat pahit dan tidak enak. No no no no.... ampun ibu, ampun, aku tidak mau minum jamu, tapi aku juga tidak bisa melanjutkan makan bayam dan wortel. Tangisku semakin keras saja, mendengar kata jamu, melihat bayam dan wortel di hadapanku, hingga akhirnya ibu pun mulai merasa lelah untuk membujuk aku. Ibu beranjak dari sisiku dan entah ke mana beliau pergi, sedangkan aku masih melanjutkan tangisku. Aku tidak mau disalahkan apalagi dimarahi ketika aku tidak doyan sama bayam dan wortel seperti kakakku, itu bukan kemauan aku, aku sendiri juga tidak tahu kenapa perutku tidak bisa menerima makanan itu. Kenapa ibu tidak pernah mau mengerti? Kenapa ibu terus saja memaksaku?
Aku lihat ibu kembali datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Belum terlalu kelihatan di mataku, apa yang sedang ibu bawa. Namun semakin mendekat, semakin jelas bahwa ibu tengah memeram daun pepaya di dalam sebuah kain, yang aku tahu pasti rasanya pahit sekali dan itulah yang namanya jamu. Oh tidaaaaaaaaaaakkkkkkkkkk.... Pada akhirnya peraman daun pepaya itu ibu jejalkan juga di mulutku tanpa ampun sedikitpun, meskipun tangisku semakin pecah dan keras membangunkan telinga-telinga yang mendengarnya. Terus menerus dijejalkan, dijejalkan dan semakin keras aku menangis, jamu sialan itu semakin masuk ke dalam mulutku. Ibu kenapa engkau begitu tega sama aku? Jamu itu sangat pahit, ibu, tolong hentikan siksaan ini untukku.
"Ibu tadi kan sudah bilang, kalau kamu makannya susah, ya udah kamu harus minum jamu ini. Ibu tidak mau kalau kamu sampai sakit gara-gara kamu tidak mau makan sayuran, Nduk."
Kakakku dan Mbah Kromo menyaksikan kejadian itu, tapi mereka hanya memandangiku saja, bahkan mereka tak beranjak sedikit pun dari tempat mereka berdiri untuk menolong aku. Jahaaaatttt... jaahhhaaaatt... hikzzz... hikzzz... hikzzz...
Aku lihat mata ibu berkaca-kaca waktu itu, tapi kenapa tidak sesuai dengan apa yang ibu lakukan padaku, yang seakan mengisyaratkan bahwa ibu tidak peduli dengan tangisku. Aku tidak mengerti kenapa ibu melakukan ini padaku, apa benar hanya karena tidak mau melihat aku sakit, lantas ibu tega berbuat seperti ini padaku? Ataukah ada alasan yang lain yang menjadikan ibu seperti terlihat terpaksa melakukan semua ini?
"Hei... ayo kita main lagi...!!!"
Aku cuma bisa memandangi temanku dan menggelengkan kepala menanggapi ajakannya baru saja. Aku masih takut kalau-kalau nanti ibu marah lagi sama aku dan menjejalkan jamu itu ke mulutku. Tidak... tidak... aku tidak mau, bahkan rasa pahitnya sampai sekarang saja masih terasa dan belum juga lepas dari kecap rasa lidahku. Air mataku menetes perlahan menyaksikan temanku berlalu dari hadapanku, sedang aku tidak bisa turut bermain bersama-sama dengan dia. Aku tengok ke belakang, ke arah dalam rumah... aku lihat kakakku sedang asyik main mobil-mobilannya sendiri, mobil-mobilan yang dibuat dari tangkai daun pisang. Siang hari itu pada akhirnya aku dan kakakku hanya di rumah saja.
"Kalian berdua.. ayo sekarang kalian tidur siang dulu...!!!"
Hemmm... belum selesai menghapus sisa air mata gara-gara bayam, wortel dan jamu pahit itu, aku sekarang harus segera berangkat tidur, menyebalkan sekali. Kebiasaan yang aku pikir semula lebih sederhana dari rutinitas orang dewasa, ternyata cukup membuatku tidak nyaman menikmati masa kecilku. Aku tidak ngantuk, kenapa aku harus tidur? Ini kan masih siang belum malam, kenapa aku selalu disuruh tidur? Sebenarnya apa sih yang dipikirkan orang dewasa itu tentang dunia anak kecil seperti aku ini? Tidak pernahkah mereka menjadi anak kecil dan hidup menjadi seorang anak kecil, sehingga begitu sulitnya mereka untuk mengerti duniaku, keinginanku sebagai seorang anak kecil?
Aku hanyalah anak kecil yang tidak terbiasa dengan aturan-aturan itu. Aku hanya ingin berekspresi sebebas mungkin menikmati masa kecilku. Aku tak cukup mengerti pemikiran orang dewasa tentang aku dan duniaku, aku hanya tak ingin dipaksa untuk menjadi dewasa terlalu cepat. Jika memang mereka pernah menjadi kecil seperti aku, aku minta perlakukanlah aku sesuai dengan masaku, dengan cara-cara yang mudah untuk aku mengerti sehingga bukan kekerasan atau kekasaran yang menyatukan duniaku dengan dunia orang dewasa. Aku hanya anak kecil, bagian kehidupan yang masih sangat dini dan belum banyak tahu tentang kehidupan. Aku menyadari hal itu... dan semoga orang-orang dewasa itu juga menyadari dirinya dengan penuh. (*)
Puzzle 6
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 05, 2010
/
Comments: (0)
YES... Akhirnya kesampaian juga bisa kuliah di kota Pelajar ini. JOGJA, I'm Coming.....!!!! Aku akan menghabiskan hari-hariku di kotamu, semoga kau mau bersahabat denganku dan semoga kau mau mengukir kisah yang indah bersamaku sampai pada waktu yang tak terbatas.
"Kamu tidur di kosku aja ya? Aku sendirian nih..."
"Bukannya nanti, pada akhirnya kamu juga akan sendiri, Da..."
"Iya, tapi bukan untuk sekarang. Aku butuh beradaptasi dulu dengan lingkunganku. Ayolah... nanti lain kali gantian aku yang tidur di kontrakan kamu. Okay ?"
Aku kurang terlalu pandai untuk mengatakan sebuah penolakan meski dengan cara yang lebih halus sekalipun. Hingga yang terjadi adalah aku kembali menurutkan keinginan sahabatku yang satu ini, Arda namanya. Kami sama-sama melanjutkan pendidikan di kota Gudeg ini, tapi tidak satu kampus. Aku rasa kampus Arda jauh lebih bersahabat dalam hal biaya, dibandingkan dengan kampusku. Padahal aku pernah mendengar dari guruku waktu di SMA dulu, kalau kampusku yang sekarang ini adalah Kampus Kerakyatan. Kalau diartikan secara eksplisit, dengan membaca julukannya saja pasti semua orang akan langsung tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang berpihak kepada rakyat. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, mereka sama sekali tak berpihak pada kami, para rakyat, malah lebih cenderung memeras kami secara halus. Aku sendiri juga tidak begitu tahu bagaimana kondisi di singgasana pemerintahan sana, namun yang aku tidak habis pikir, apakah negeri ini terlalu 'pelit' untuk menyisihkan lembaran-lembaran rupiahnya untuk kami agar kami bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan kami untuk mempertahankan negeri ini kelak dari penjajah era modern. Tapi ya sudahlah, suaraku terlalu kecil untuk bisa terdengar sampai ke telinga raja di negeri ini, jadi mau tidak mau aku pun harus merelakan merasa dijajah oleh bangsa sendiri.
"Kamu dapat jatah berapa untuk seminggu ?"
Hehehehe... aku tertawa dalam hati. Pertanyaan Arda tidak terlalu sulit untuk dijawab, hanya tinggal menyebutkan deretan angka saja maka semua menjadi beres. Namun kenapa leherku seperti mendadak tercekik begini ya, seolah-olah pita suara dalam tubuhku memerintahku untuk tidak bersuara saat itu. Sehingga daripada aku harus bertengkar dengan seluruh pasukan organ di tubuhku, lebih baik aku mengalah saja.
"Ya sudahlah... Nggak usah dijawab saja, tapi semisal nanti uang sakumu ternyata tidak cukup untuk seminggu, kamu jangan sungkan-sungkan ya bilang sama aku. Aku masih punya tabungan yang bisa digunakan waktu darurat. Ya kita ini kan sama-sama hidup di perantauan, jauh dari orang tua. Satu-satunya keluarga ya teman kan? Makanya kita sebisa mungkin saling membantu."
Rupanya ini toh alasan Arda bertanya seperti tadi kepadaku. Aku nggak nyangka ternyata Arda begitu baik padaku, sehingga dia menawarkan bantuan bahkan sebelum aku memintanya. Syukurlah ternyata Tuhan memberikan aku seorang sahabat yang baik seperti Arda di tempat yang bagiku masih sangat baru ini. Terima kasih Tuhan, semoga senantiasa mengalir berkat dariMu untuk sahabatku, Arda. Amin.
Hari-hari kami lalui bersama. Suka duka juga kami lewati berdua. Kami adalah dua orang sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain, juga saling menyemangati dan menguatkan. Andaikan salah seorang dari kami adalah seorang lelaki, mungkin kami sudah menjadi pasangan yang sangat romantis. Namun sayangnya tidaklah demikian, karena kami berdua adalah sesama hawa yang sedang mengikat tali persahabatan. Setiap hari jika tidak ada jam kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kos Arda, sekedar melepas lelah di sana atau bercerita omong kosong pun jadilah. Kadang kami berdua sampai tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk obrolan tentang film kesukaan kami berdua atau grup band favorit kami. Hahahaha... memang sempat terpikir bahwa kami kadang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal tapi itu bisa menyenangkan kami. Kami juga sama-sama penggila harga miring apalagi gratisan, benar-benar anak kuliahan banget deh. Jadi, setiap kami jalan-jalan ke tempat belanja yang sangat terkenal di kota Jogja, Malioboro, sudah pasti yang kami serbu adalah tempat yang menawarkan diskon atau potongan harga. Sedangkan kalau yang di emperan toko sepanjang jalan Malioboro, hanya penjual yang boleh ditawarlah yang akan kami hampiri. Yang jelas, kami berdua super irit, super ekonomis dan selektif sekali kalau sudah menyangkut soal harga.
"Eh kamu udah tahu kosnya Riyo belum ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Pasti kosnya Riyo juga tak jauh dari sini dong, kenapa nggak suruh Riyo-nya ke sini aja, kan seru kalau rame-rame."
Ah... sepertinya ide Arda boleh juga tuh untuk dicoba, lagian aku juga sudah lama tak bertemu dengan Riyo. Dengan tanpa perlu berpikir panjang lagi, sebuah pesan singkat pun akhirnya kukirimkan ke telepon genggam milik Riyo. Sambil menunggu balasan dari Riyo, aku mulai terhanyut dalam lamunan. Aku sudah mulai membayangkan kalau-kalau nanti aku akan ketemu dengan Riyo. Alangkah bahagianya jika aku bisa mengobati kerinduanku ini. Tapi aku bingung, kira-kira kalau nanti aku ketemu Riyo, apa yang harus aku katakan padanya. Aku harus mulai memikirkan akan bicara apa nanti sama Riyo dan aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hei... kamu kenapa sih kok kelihatannya bingung gitu? Gimana, Riyo udah balas belum ?"
Malu rasanya karena ternyata Arda menyadari kebingunganku saat itu. Aku, Arda dan Riyo berasal dari kota yang sama, kami juga berasal dari SMA yang sama. Jadi tidak aneh rasanya kalau Arda pun cukup mengenal Riyo dengan baik. Apalagi Arda itu kalau sudah bicara, susah sekali dihentikan ataupun disela... kalau diibaratkan sebagai kereta, mungkin dia lebih mirip dengan kereta api express yang super cepat barangkali. Hahahahahaha.... tapi dia punya kelebihan yang selalu membuat iri banyak cewek, termasuk aku salah satunya.Ya.... apalagi kalau bukan parasnya yang cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Kalau aku disandingkan dengan dia, behhhhhh.... seperti langit dan bumi. Langit kan cerah tuh nah sedangkan bumi (tanah) itu kan gelap. Begitulah kira-kira atau kalau mengambil salah satu iklan di televisi, kami berdua mungkin seperti saudara kembar yang sedang mengiklankan hand & body lotion, trus ada kata-kata iklannya sebagai berikut,
"Kulit Shanti tak seputih Shinta.........."
Dan memang kuakui, aku tak memiliki kulit putih seperti yang dimiliki Arda. Wajahku juga sangat pas-pasan, tapi sekarang ini aku lebih beruntung dibandingkan Arda, karena aku punya Riyo, sedangkan Arda masih sendiri. Kadang aku merasa aneh juga melihat Arda, begitu banyak cowok yang mendekatinya tapi tak satupun mampu menarik hatinya. Seperti apa sih cowok yang dicari Arda?
"Yah sayang sekali... Riyo nggak bisa datang ke sini sekarang."
"Lho memangnya kenapa ?"
"Ternyata tempat tinggal Riyo tuh jauh dari sini, Da. Dia seharian ini sudah capek sekali di kampus, makanya sekarang dia mau istirahat. Lagian nanti malam dia harus membantu saudaranya di Laundry, soalnya dia nggak enak kalau nggak ikut bantu-bantu. Dia kan sekarang ini masih numpang di rumah saudaranya itu. Jadi ya mau gimana lagi."
"Kenapa Riyo nggak kos sendiri aja sih, kan lebih leluasa mau ngapa-ngapain."
"Dulu sih Riyo juga pernah bilang mau kos sendiri, tapi ibunya meminta dia untuk tinggal di tempat saudaranya itu buat sementara aja. Kata ibunya sih, nggak enak sama saudaranya itu, karena dia pernah menawarkan Riyo untuk tinggal bersamanya."
Rasanya kecewa juga tidak bisa ketemu dengan Riyo sore itu, tapi aku harus berusaha mengerti keadaan Riyo saat ini. Kalau aku di posisi Riyo, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Saat ini Riyo memang tidak sebebas aku yang bisa ke sana kemari dengan leluasa, karena Riyo harus menjaga perasaan saudaranya itu. Yah.. mungkin memang belum waktunya saja untuk ketemu, lain kali pasti bisa ketemu. Tapi kalau dipikir-pikir.... lain kalinya itu kapan ya? Gimana kalau aku keburu tidak bisa menahan rasa rinduku? Apa yang akan aku lakukan? Ehmmm... kalau cuma mendengar suaranya di telepon saja, sepertinya itu belum cukup untuk mengobati rasa rinduku yang kronis suatu saat nanti. Kalau begitu biarkan saja deh, nanti biarlah menjadi urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah aku masih bisa menjaga hati ini untuknya meskipun aku dan Riyo terpisah oleh jarak dan waktu. (*)
"Kamu tidur di kosku aja ya? Aku sendirian nih..."
"Bukannya nanti, pada akhirnya kamu juga akan sendiri, Da..."
"Iya, tapi bukan untuk sekarang. Aku butuh beradaptasi dulu dengan lingkunganku. Ayolah... nanti lain kali gantian aku yang tidur di kontrakan kamu. Okay ?"
Aku kurang terlalu pandai untuk mengatakan sebuah penolakan meski dengan cara yang lebih halus sekalipun. Hingga yang terjadi adalah aku kembali menurutkan keinginan sahabatku yang satu ini, Arda namanya. Kami sama-sama melanjutkan pendidikan di kota Gudeg ini, tapi tidak satu kampus. Aku rasa kampus Arda jauh lebih bersahabat dalam hal biaya, dibandingkan dengan kampusku. Padahal aku pernah mendengar dari guruku waktu di SMA dulu, kalau kampusku yang sekarang ini adalah Kampus Kerakyatan. Kalau diartikan secara eksplisit, dengan membaca julukannya saja pasti semua orang akan langsung tahu bahwa tempat itu adalah tempat yang berpihak kepada rakyat. Namun pada kenyataannya tidaklah demikian, mereka sama sekali tak berpihak pada kami, para rakyat, malah lebih cenderung memeras kami secara halus. Aku sendiri juga tidak begitu tahu bagaimana kondisi di singgasana pemerintahan sana, namun yang aku tidak habis pikir, apakah negeri ini terlalu 'pelit' untuk menyisihkan lembaran-lembaran rupiahnya untuk kami agar kami bisa melanjutkan perjuangan para pahlawan kami untuk mempertahankan negeri ini kelak dari penjajah era modern. Tapi ya sudahlah, suaraku terlalu kecil untuk bisa terdengar sampai ke telinga raja di negeri ini, jadi mau tidak mau aku pun harus merelakan merasa dijajah oleh bangsa sendiri.
"Kamu dapat jatah berapa untuk seminggu ?"
Hehehehe... aku tertawa dalam hati. Pertanyaan Arda tidak terlalu sulit untuk dijawab, hanya tinggal menyebutkan deretan angka saja maka semua menjadi beres. Namun kenapa leherku seperti mendadak tercekik begini ya, seolah-olah pita suara dalam tubuhku memerintahku untuk tidak bersuara saat itu. Sehingga daripada aku harus bertengkar dengan seluruh pasukan organ di tubuhku, lebih baik aku mengalah saja.
"Ya sudahlah... Nggak usah dijawab saja, tapi semisal nanti uang sakumu ternyata tidak cukup untuk seminggu, kamu jangan sungkan-sungkan ya bilang sama aku. Aku masih punya tabungan yang bisa digunakan waktu darurat. Ya kita ini kan sama-sama hidup di perantauan, jauh dari orang tua. Satu-satunya keluarga ya teman kan? Makanya kita sebisa mungkin saling membantu."
Rupanya ini toh alasan Arda bertanya seperti tadi kepadaku. Aku nggak nyangka ternyata Arda begitu baik padaku, sehingga dia menawarkan bantuan bahkan sebelum aku memintanya. Syukurlah ternyata Tuhan memberikan aku seorang sahabat yang baik seperti Arda di tempat yang bagiku masih sangat baru ini. Terima kasih Tuhan, semoga senantiasa mengalir berkat dariMu untuk sahabatku, Arda. Amin.
Hari-hari kami lalui bersama. Suka duka juga kami lewati berdua. Kami adalah dua orang sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain, juga saling menyemangati dan menguatkan. Andaikan salah seorang dari kami adalah seorang lelaki, mungkin kami sudah menjadi pasangan yang sangat romantis. Namun sayangnya tidaklah demikian, karena kami berdua adalah sesama hawa yang sedang mengikat tali persahabatan. Setiap hari jika tidak ada jam kuliah, aku selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kos Arda, sekedar melepas lelah di sana atau bercerita omong kosong pun jadilah. Kadang kami berdua sampai tidak sadar telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk obrolan tentang film kesukaan kami berdua atau grup band favorit kami. Hahahaha... memang sempat terpikir bahwa kami kadang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal tapi itu bisa menyenangkan kami. Kami juga sama-sama penggila harga miring apalagi gratisan, benar-benar anak kuliahan banget deh. Jadi, setiap kami jalan-jalan ke tempat belanja yang sangat terkenal di kota Jogja, Malioboro, sudah pasti yang kami serbu adalah tempat yang menawarkan diskon atau potongan harga. Sedangkan kalau yang di emperan toko sepanjang jalan Malioboro, hanya penjual yang boleh ditawarlah yang akan kami hampiri. Yang jelas, kami berdua super irit, super ekonomis dan selektif sekali kalau sudah menyangkut soal harga.
"Eh kamu udah tahu kosnya Riyo belum ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Pasti kosnya Riyo juga tak jauh dari sini dong, kenapa nggak suruh Riyo-nya ke sini aja, kan seru kalau rame-rame."
Ah... sepertinya ide Arda boleh juga tuh untuk dicoba, lagian aku juga sudah lama tak bertemu dengan Riyo. Dengan tanpa perlu berpikir panjang lagi, sebuah pesan singkat pun akhirnya kukirimkan ke telepon genggam milik Riyo. Sambil menunggu balasan dari Riyo, aku mulai terhanyut dalam lamunan. Aku sudah mulai membayangkan kalau-kalau nanti aku akan ketemu dengan Riyo. Alangkah bahagianya jika aku bisa mengobati kerinduanku ini. Tapi aku bingung, kira-kira kalau nanti aku ketemu Riyo, apa yang harus aku katakan padanya. Aku harus mulai memikirkan akan bicara apa nanti sama Riyo dan aku nggak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Hei... kamu kenapa sih kok kelihatannya bingung gitu? Gimana, Riyo udah balas belum ?"
Malu rasanya karena ternyata Arda menyadari kebingunganku saat itu. Aku, Arda dan Riyo berasal dari kota yang sama, kami juga berasal dari SMA yang sama. Jadi tidak aneh rasanya kalau Arda pun cukup mengenal Riyo dengan baik. Apalagi Arda itu kalau sudah bicara, susah sekali dihentikan ataupun disela... kalau diibaratkan sebagai kereta, mungkin dia lebih mirip dengan kereta api express yang super cepat barangkali. Hahahahahaha.... tapi dia punya kelebihan yang selalu membuat iri banyak cewek, termasuk aku salah satunya.Ya.... apalagi kalau bukan parasnya yang cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Kalau aku disandingkan dengan dia, behhhhhh.... seperti langit dan bumi. Langit kan cerah tuh nah sedangkan bumi (tanah) itu kan gelap. Begitulah kira-kira atau kalau mengambil salah satu iklan di televisi, kami berdua mungkin seperti saudara kembar yang sedang mengiklankan hand & body lotion, trus ada kata-kata iklannya sebagai berikut,
"Kulit Shanti tak seputih Shinta.........."
Dan memang kuakui, aku tak memiliki kulit putih seperti yang dimiliki Arda. Wajahku juga sangat pas-pasan, tapi sekarang ini aku lebih beruntung dibandingkan Arda, karena aku punya Riyo, sedangkan Arda masih sendiri. Kadang aku merasa aneh juga melihat Arda, begitu banyak cowok yang mendekatinya tapi tak satupun mampu menarik hatinya. Seperti apa sih cowok yang dicari Arda?
"Yah sayang sekali... Riyo nggak bisa datang ke sini sekarang."
"Lho memangnya kenapa ?"
"Ternyata tempat tinggal Riyo tuh jauh dari sini, Da. Dia seharian ini sudah capek sekali di kampus, makanya sekarang dia mau istirahat. Lagian nanti malam dia harus membantu saudaranya di Laundry, soalnya dia nggak enak kalau nggak ikut bantu-bantu. Dia kan sekarang ini masih numpang di rumah saudaranya itu. Jadi ya mau gimana lagi."
"Kenapa Riyo nggak kos sendiri aja sih, kan lebih leluasa mau ngapa-ngapain."
"Dulu sih Riyo juga pernah bilang mau kos sendiri, tapi ibunya meminta dia untuk tinggal di tempat saudaranya itu buat sementara aja. Kata ibunya sih, nggak enak sama saudaranya itu, karena dia pernah menawarkan Riyo untuk tinggal bersamanya."
Rasanya kecewa juga tidak bisa ketemu dengan Riyo sore itu, tapi aku harus berusaha mengerti keadaan Riyo saat ini. Kalau aku di posisi Riyo, aku mungkin juga akan melakukan hal yang sama. Saat ini Riyo memang tidak sebebas aku yang bisa ke sana kemari dengan leluasa, karena Riyo harus menjaga perasaan saudaranya itu. Yah.. mungkin memang belum waktunya saja untuk ketemu, lain kali pasti bisa ketemu. Tapi kalau dipikir-pikir.... lain kalinya itu kapan ya? Gimana kalau aku keburu tidak bisa menahan rasa rinduku? Apa yang akan aku lakukan? Ehmmm... kalau cuma mendengar suaranya di telepon saja, sepertinya itu belum cukup untuk mengobati rasa rinduku yang kronis suatu saat nanti. Kalau begitu biarkan saja deh, nanti biarlah menjadi urusan nanti, yang terpenting sekarang adalah aku masih bisa menjaga hati ini untuknya meskipun aku dan Riyo terpisah oleh jarak dan waktu. (*)
Puzzle 5
Diposting oleh
Puzzle of Me
on Oktober 02, 2010
/
Comments: (0)
Kudengar suara yang menggelitik gendang telingaku dari arah ruang tamu. Bukan suara gurauan, tawa, kelakar ataupun bertukar cerita, tapi isak tangis dan teriakan kemarahan yang menyayat hatiku. Meskipun kamarku letaknya cukup jauh dengan ruang tamu, tapi semuanya sangat jelas terdengar olehku. Rasanya aku ingin tuli untuk sejenak, berharap tidak bisa mendengarkan semua yang baru saja tertangkap oleh telingaku. Namun pada kenyataannya, aku memang sudah terlanjur mendengarnya. Dan kini di balik dinding ruang tamu, aku pun tergoda untuk tahu lebih banyak lagi. Tahu lebih banyak tentang apa yang dipertengkarkan oleh kedua orang tuaku.
Dalam diamku, pikiranku melayang jauh melihat kembali ke masa lalu. Aku hanya bisa terheran-heran saja, kenapa saat ini kudengar ayah begitu semangat memaki-maki ibu, mengeluarkan kata-kata yang merusak hati ibuku dan sesekali melakukan permainan tangan yang menurutku sangat kejam bahkan tidak manusiawi. Bagaimana mungkin seseorang yang dahulu pernah mengikrarkan CINTA kepada ibuku, sekarang melakukan semua itu? Bagaimana mungkin ayah menikahi ibu jika pada akhirnya ayah memperlakukan ibu seperti ini? Aku sungguh tidak mengerti, atau memang demikian cara ayah untuk menyampaikan rasa sayangnya sama ibu? Aku rasa bukan... Aku rasa ini bukan cinta dan ini juga bukan kasih sayang...Ini tak lebih dari hawa nafsu kemarahan.
Pranggggggggggggggggggggg.....!!!!!!!!!!!!!!
Apa itu yang pecah? Apa yang dilempar ayah? Apakah ayah melemparnya ke arah ibu? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa ibu baik-baik saja? Ya Tuhan begitu ingin rasanya aku melihat ibuku. Aku benar-benar ingin memastikan apakah ibuku baik-baik saja, tapi Tuhan... aku takut. Aku takut untuk menyaksikan semua itu. Aku juga takut kalau-kalau nanti, gantian aku yang jadi sasaran kemarahan ayah. Ya Tuhan... harus bagaimanakah aku sekarang? Apakah Engkau tidak bisa menyadarkan ayahku untuk berhenti menyakiti ibuku? Aku rasa... mungkin tidak untuk saat ini. Aku sungguh bingung, Tuhan, aku takut.... Sekarang ini, akulah anak yang paling tua di rumah. Memang seharusnya aku bisa melakukan sesuatu untuk menjadi penengah antara ayah dan ibu, tapi aku tidak punya keberanian ya Tuhan. Aku benar-benar takut. Jika aku saja setakut ini, bagaimana mungkin aku menyuruh adikku untuk mengambil alih tanggung jawabku. Tidak mungkin... itu tidak mungkin. Aku tak melihat adik-adikku sedari tadi, mereka ada di dalam kamarnya masing-masing. Mungkinkah di dalam kamar, mereka juga sama takutnya denganku??
Aku pun mulai tidak tahan mendengar suara ayahku yang makin meninggi diiringi oleh tangis ibuku yang penuh kesedihan. Dan aku pun berlari menuju kamarku. Aku memeluk bantalku dan sesekali memukulinya sambil membiarkan tangisku pecah di situ. Sungguh sedih rasanya... harus menyaksikan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan itu. Aku kembali bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ayah dan ibu harus bertengkar? Bukankah bertengkar itu kebiasaan seorang anak kecil? Lalu kenapa ayah dan ibu yang sudah sangat dewasa, masih perlu bertengkar? Kenapa ayah harus marah-marah sampai membuat ibu menangis? Dan kenapa ibu hanya diam saja dibentak-bentak seperti itu oleh ayah? Apakah ibu menerima kata-kata ayah yang sangat kasar itu begitu saja? Kenapa tidak ada perlawanan dari ibu untuk sekedar membela diri?
Jika kelak aku berumah tangga, apakah aku juga akan mengalami seperti itu? Apakah kelak aku juga akan bertengkar dengan suamiku? Lalu untuk apa manusia menikah jika pada akhirnya harus saling menyakiti? Apakah CINTA kini sudah tak cukup kuat untuk menghindarkan sebuah pertengkaran? Ya Tuhan... di manakah sesungguhnya kedamaian di dunia ini berada? Apakah tidak ada tempat untuk aku bisa menemukan kedamaian yang tanpa pertengkaran?
Tuhan... aku pikir berada di tengah keluarga adalah tempat yang paling damai di dunia. Tapi apakah jika keadaannya seperti ini, itu juga salah satu bentuk kedamaian? Aku rasa tidak... Aku mohon bantu aku ya Tuhan, hentikan pertengkaran ayah dan ibuku. Harus berapa lama lagi ibuku menangis sedih seperti tadi? Harus berapa lama lagi ayahku terus menyakiti hati ibuku? Tolonglah aku ya Tuhan, tolonglah aku...!!!!
Aku terus saja menangis dan mengeluarkan sederetan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku. Meskipun aku tahu, aku tidak akan mendapatkan jawabannya saat itu juga, tapi setidaknya aku bisa merasa sedikit lega setelah mengosongkan pikiranku dari pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga aku tak sempat untuk menilik jam di dinding, untuk tahu sudah berapa lama ayah dan ibu bertengkar. Sekarang sudah jam 7 malam, tapi rasanya seperti sudah jam 12 malam. Rumahku yang biasanya masih terdengar suara ayah, ibu, aku dan adik-adikku yang bersenda gurau... kini tak ubahnya seperti rumah tinggal yang tak berpenghuni. Hening, sepi, mencekam dan menyeramkan.
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku, karena jika tidak kulakukan maka aku tidak akan bisa belajar dengan tenang. Aku harus mengompres mataku yang sudah mulai membengkak dan membersihkan ingus yang muncul gara-gara aku menangis tadi. Sesekali telingaku mencari-cari sumber suara, untuk memastikan apakah pertengkaran ayah ibu sudah usai ataukah masih harus menunggu ke babak selanjutnya. Sepertinya sudah tidak terdengar suara sama sekali dari ruang tamu, tapi aku tidak tahu apa kabar dengan pertengkaran ayah dan ibu. Akhirnya untuk mengobati rasa penasaranku, aku mengendap-endap seperti pencuri, menuju ke ruang tamu. Aku mulai mengintip dari balik gorden jendela yang memisahkan ruang tamu dengan ruang makan. Mataku menelusur ke setiap penjuru ruang tamu dan ternyata................ KOSONG. Aku memastikan sekali lagi apakah benar ayah dan ibu sudah tidak ada lagi di ruang tamu dan hasilnya adalah memang benar sekarang tidak seorang pun berada di ruang tamu.
Syukurlah.... peperangan sudah berakhir. Kataku sambil mengelus dada. Aku kembali ke kamar dan duduk di depan meja belajar. Niatnya sih mau belajar, tapi kejadian tadi membuat pikiranku terbang ke mana-mana.
Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhhhhh... Kenapa aku tidak bisa konsentrasi sih? Huhhhhhh... Sekarang aku mencoret-coret buku yang ada di depanku untuk melampiaskan kekesalanku. Aku benci pada diriku sendiri kenapa aku masih saja memikirkan pertengkaran ayah dan ibu, bukankah perang sudah usai? Hai pikiran, kenapa sih kau ini? Apa maumu sebenarnya? Apa????
Kamu mau aku mencari cara untuk menyadarkan ayah ibuku?
Bagaimana caranya?
Aku harus memikirkannya sendiri?
Tapi aku tidak tahu apa yang bisa membuat ayah ibuku berhenti bertengkar. Mereka sudah terlalu sering bertengkar, bertengkar dan bertengkar. Mereka tidak pernah bosan untuk mengulanginya dan mengulanginya lagi. Lantas sekarang kamu memintaku untuk mencari cara untuk menghentikan pertengkaran itu? Itu sangat mustahil, mereka tidak akan mungkin berhenti bertengkar kalau bukan mereka sendiri yang menginginkannya dan mengupayakannya.
Huuuffffffffffpppp... kau memang payah, tapi baiklah aku akan coba pikirkan sekarang.
Dengan jari telunjuk di dahi, aku berlagak seperti sedang serius berpikir. Masih mending kalau aku segera menemukan jawabannya, tapi kali ini tidak ada sama sekali yang terbayang di pikiranku tentang apa yang sebaiknya kulakukan.
Aku pernah menonton sebuah sinetron. Di salah satu bagian ceritanya ada juga yang mengisahkan tentang pertengkaran orang tua. Sama denganku juga sih, sang anak yang melihatnya cuma bisa menangis di dalam kamar dan tidak berani berbuat apa-apa. Sampai akhirnya, anak itu memutuskan untuk.....................
Ya.... aku tahu sekarang. Mungkin aku bisa mencobanya, siapa tahu dengan begitu ayah dan ibu sadar kalau bertengkar di depan anak-anak itu bukanlah sesuatu yang baik. Kalau mereka bertengkar harusnya di dalam kamar dan tanpa sepengetahuan anak-anak. Akan lebih baik lagi kalau mereka tidak pernah bertengkar sama sekali. Baiklah, terima kasih sinetron... kau telah memberiku ilham dan sekarang aku akan mempraktekkannya. Apakah hasilnya nanti sama seperti di sinetron itu, entahlah... aku tidak akan tahu sebelum mencobanya sendiri. I WILL DO IT NOW.
Dan keesokan harinya....
"Aku nggak tahu... ke mana aku harus mencarimu? Semalam kamu nggak mengatakan dengan jelas, di mana sedang berada? Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kenapa kamu nggak mau dengerin kata-kataku? Apa sebenarnya yang kamu rasakan? Kenapa tidak kamu bagikan denganku seperti yang kau lakukan biasanya? Ya Tuhan... aku mohon, tolong kuatkan tubuh ini untuk mencarinya. Meskipun aku tidak tahu dia di mana, tapi biarkan hari ini aku terus mencarinya... Semoga aku bisa menemukan setidaknya sedikit petunjuk mengenai keberadaannya." (*)
Dalam diamku, pikiranku melayang jauh melihat kembali ke masa lalu. Aku hanya bisa terheran-heran saja, kenapa saat ini kudengar ayah begitu semangat memaki-maki ibu, mengeluarkan kata-kata yang merusak hati ibuku dan sesekali melakukan permainan tangan yang menurutku sangat kejam bahkan tidak manusiawi. Bagaimana mungkin seseorang yang dahulu pernah mengikrarkan CINTA kepada ibuku, sekarang melakukan semua itu? Bagaimana mungkin ayah menikahi ibu jika pada akhirnya ayah memperlakukan ibu seperti ini? Aku sungguh tidak mengerti, atau memang demikian cara ayah untuk menyampaikan rasa sayangnya sama ibu? Aku rasa bukan... Aku rasa ini bukan cinta dan ini juga bukan kasih sayang...Ini tak lebih dari hawa nafsu kemarahan.
Pranggggggggggggggggggggg.....!!!!!!!!!!!!!!
Apa itu yang pecah? Apa yang dilempar ayah? Apakah ayah melemparnya ke arah ibu? Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa ibu baik-baik saja? Ya Tuhan begitu ingin rasanya aku melihat ibuku. Aku benar-benar ingin memastikan apakah ibuku baik-baik saja, tapi Tuhan... aku takut. Aku takut untuk menyaksikan semua itu. Aku juga takut kalau-kalau nanti, gantian aku yang jadi sasaran kemarahan ayah. Ya Tuhan... harus bagaimanakah aku sekarang? Apakah Engkau tidak bisa menyadarkan ayahku untuk berhenti menyakiti ibuku? Aku rasa... mungkin tidak untuk saat ini. Aku sungguh bingung, Tuhan, aku takut.... Sekarang ini, akulah anak yang paling tua di rumah. Memang seharusnya aku bisa melakukan sesuatu untuk menjadi penengah antara ayah dan ibu, tapi aku tidak punya keberanian ya Tuhan. Aku benar-benar takut. Jika aku saja setakut ini, bagaimana mungkin aku menyuruh adikku untuk mengambil alih tanggung jawabku. Tidak mungkin... itu tidak mungkin. Aku tak melihat adik-adikku sedari tadi, mereka ada di dalam kamarnya masing-masing. Mungkinkah di dalam kamar, mereka juga sama takutnya denganku??
Aku pun mulai tidak tahan mendengar suara ayahku yang makin meninggi diiringi oleh tangis ibuku yang penuh kesedihan. Dan aku pun berlari menuju kamarku. Aku memeluk bantalku dan sesekali memukulinya sambil membiarkan tangisku pecah di situ. Sungguh sedih rasanya... harus menyaksikan pemandangan yang sangat tidak mengenakkan itu. Aku kembali bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ayah dan ibu harus bertengkar? Bukankah bertengkar itu kebiasaan seorang anak kecil? Lalu kenapa ayah dan ibu yang sudah sangat dewasa, masih perlu bertengkar? Kenapa ayah harus marah-marah sampai membuat ibu menangis? Dan kenapa ibu hanya diam saja dibentak-bentak seperti itu oleh ayah? Apakah ibu menerima kata-kata ayah yang sangat kasar itu begitu saja? Kenapa tidak ada perlawanan dari ibu untuk sekedar membela diri?
Jika kelak aku berumah tangga, apakah aku juga akan mengalami seperti itu? Apakah kelak aku juga akan bertengkar dengan suamiku? Lalu untuk apa manusia menikah jika pada akhirnya harus saling menyakiti? Apakah CINTA kini sudah tak cukup kuat untuk menghindarkan sebuah pertengkaran? Ya Tuhan... di manakah sesungguhnya kedamaian di dunia ini berada? Apakah tidak ada tempat untuk aku bisa menemukan kedamaian yang tanpa pertengkaran?
Tuhan... aku pikir berada di tengah keluarga adalah tempat yang paling damai di dunia. Tapi apakah jika keadaannya seperti ini, itu juga salah satu bentuk kedamaian? Aku rasa tidak... Aku mohon bantu aku ya Tuhan, hentikan pertengkaran ayah dan ibuku. Harus berapa lama lagi ibuku menangis sedih seperti tadi? Harus berapa lama lagi ayahku terus menyakiti hati ibuku? Tolonglah aku ya Tuhan, tolonglah aku...!!!!
Aku terus saja menangis dan mengeluarkan sederetan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku. Meskipun aku tahu, aku tidak akan mendapatkan jawabannya saat itu juga, tapi setidaknya aku bisa merasa sedikit lega setelah mengosongkan pikiranku dari pertanyaan-pertanyaan itu. Hingga aku tak sempat untuk menilik jam di dinding, untuk tahu sudah berapa lama ayah dan ibu bertengkar. Sekarang sudah jam 7 malam, tapi rasanya seperti sudah jam 12 malam. Rumahku yang biasanya masih terdengar suara ayah, ibu, aku dan adik-adikku yang bersenda gurau... kini tak ubahnya seperti rumah tinggal yang tak berpenghuni. Hening, sepi, mencekam dan menyeramkan.
Aku membuka pintu kamarku dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukaku, karena jika tidak kulakukan maka aku tidak akan bisa belajar dengan tenang. Aku harus mengompres mataku yang sudah mulai membengkak dan membersihkan ingus yang muncul gara-gara aku menangis tadi. Sesekali telingaku mencari-cari sumber suara, untuk memastikan apakah pertengkaran ayah ibu sudah usai ataukah masih harus menunggu ke babak selanjutnya. Sepertinya sudah tidak terdengar suara sama sekali dari ruang tamu, tapi aku tidak tahu apa kabar dengan pertengkaran ayah dan ibu. Akhirnya untuk mengobati rasa penasaranku, aku mengendap-endap seperti pencuri, menuju ke ruang tamu. Aku mulai mengintip dari balik gorden jendela yang memisahkan ruang tamu dengan ruang makan. Mataku menelusur ke setiap penjuru ruang tamu dan ternyata................ KOSONG. Aku memastikan sekali lagi apakah benar ayah dan ibu sudah tidak ada lagi di ruang tamu dan hasilnya adalah memang benar sekarang tidak seorang pun berada di ruang tamu.
Syukurlah.... peperangan sudah berakhir. Kataku sambil mengelus dada. Aku kembali ke kamar dan duduk di depan meja belajar. Niatnya sih mau belajar, tapi kejadian tadi membuat pikiranku terbang ke mana-mana.
Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrgggggggghhhhhh... Kenapa aku tidak bisa konsentrasi sih? Huhhhhhh... Sekarang aku mencoret-coret buku yang ada di depanku untuk melampiaskan kekesalanku. Aku benci pada diriku sendiri kenapa aku masih saja memikirkan pertengkaran ayah dan ibu, bukankah perang sudah usai? Hai pikiran, kenapa sih kau ini? Apa maumu sebenarnya? Apa????
Kamu mau aku mencari cara untuk menyadarkan ayah ibuku?
Bagaimana caranya?
Aku harus memikirkannya sendiri?
Tapi aku tidak tahu apa yang bisa membuat ayah ibuku berhenti bertengkar. Mereka sudah terlalu sering bertengkar, bertengkar dan bertengkar. Mereka tidak pernah bosan untuk mengulanginya dan mengulanginya lagi. Lantas sekarang kamu memintaku untuk mencari cara untuk menghentikan pertengkaran itu? Itu sangat mustahil, mereka tidak akan mungkin berhenti bertengkar kalau bukan mereka sendiri yang menginginkannya dan mengupayakannya.
Huuuffffffffffpppp... kau memang payah, tapi baiklah aku akan coba pikirkan sekarang.
Dengan jari telunjuk di dahi, aku berlagak seperti sedang serius berpikir. Masih mending kalau aku segera menemukan jawabannya, tapi kali ini tidak ada sama sekali yang terbayang di pikiranku tentang apa yang sebaiknya kulakukan.
Aku pernah menonton sebuah sinetron. Di salah satu bagian ceritanya ada juga yang mengisahkan tentang pertengkaran orang tua. Sama denganku juga sih, sang anak yang melihatnya cuma bisa menangis di dalam kamar dan tidak berani berbuat apa-apa. Sampai akhirnya, anak itu memutuskan untuk.....................
Ya.... aku tahu sekarang. Mungkin aku bisa mencobanya, siapa tahu dengan begitu ayah dan ibu sadar kalau bertengkar di depan anak-anak itu bukanlah sesuatu yang baik. Kalau mereka bertengkar harusnya di dalam kamar dan tanpa sepengetahuan anak-anak. Akan lebih baik lagi kalau mereka tidak pernah bertengkar sama sekali. Baiklah, terima kasih sinetron... kau telah memberiku ilham dan sekarang aku akan mempraktekkannya. Apakah hasilnya nanti sama seperti di sinetron itu, entahlah... aku tidak akan tahu sebelum mencobanya sendiri. I WILL DO IT NOW.
Dan keesokan harinya....
"Aku nggak tahu... ke mana aku harus mencarimu? Semalam kamu nggak mengatakan dengan jelas, di mana sedang berada? Kenapa kamu harus melakukan semua ini? Kenapa kamu nggak mau dengerin kata-kataku? Apa sebenarnya yang kamu rasakan? Kenapa tidak kamu bagikan denganku seperti yang kau lakukan biasanya? Ya Tuhan... aku mohon, tolong kuatkan tubuh ini untuk mencarinya. Meskipun aku tidak tahu dia di mana, tapi biarkan hari ini aku terus mencarinya... Semoga aku bisa menemukan setidaknya sedikit petunjuk mengenai keberadaannya." (*)