RSS

Puzzle 3

"Kenapa sih pada ke sana semua ?"
"Lho kamu belum tahu ya? Ada anak baru di kelas kita ?"
"Anak baru? Masak sih? Laki-laki atau perempuan ?"
"Perempuanlah... lihatin aja tuh temen laki-laki kita pada berebut pengen kenalan sama dia. Kamu nggak mau ikutan kenalan sama anak baru itu ?"
"Enggak deh, entar kalau udah waktunya kenal juga kenal sendiri kok, nggak perlu ikut-ikutan heboh. Emang anaknya cantik ya sampai pada segitunya ?"
"Ehmm.. lumayan cantik sih anaknya, baik juga orangnya."
"Sejak kapan kamu kenal dia, bukannya dia baru masuk hari ini. Bagaimana mungkin kamu bisa langsung bilang kalau dia itu baik? Orang itu kalau pertama-tama mesti yang ditunjukin yang baik-baiknya dulu, belakangan baru deh kelihatan aslinya..."
"Eh kamu kenapa sih, kok sinis gitu nadanya? Kayaknya kamu nggak suka ya sama anak baru itu? Emang dia ada bikin salah apa sama kamu ?"
"Ah enggak juga... Cuma perasaan kamu aja. Aku biasa-biasa aja kok."

Sebenarnya kalau boleh jujur, aku memang tidak terlalu suka dengan kedatangan murid baru itu. Habisnya hampir semua perhatian teman-temanku tercurah sama dia. Sebelum lonceng tanda pelajaran dimulai itu dibunyikan, biasanya aku bermain sama teman-teman, main lompat tali, main gobag sodhor atau main sudah mandah. Tapi pagi ini, yang membuatku kesal adalah nggak ada seorang pun yang bisa aku ajakin main, karena semuanya pada pengen kenalan sama anak baru itu. Uhhhhh kenapa sih harus ada anak baru itu? Aku nggak mau ah kenalan sama dia... sepertinya dia akan mengambil perhatian teman-temanku... Sambil duduk di taman kelas, aku menggerutu sendirian, sampai akhirnya ada seorang temanku yang bernama Ista datang mendekatiku.

"Kamu ngapain duduk sendirian di sini ?"
"Ehmm... nggak papa."
"Sepertinya kamu sedang kesal ya? Ada apa emangnya ?"

Yang dibilang Ista barusan emang nggak salah sih, aku emang lagi kesal sama anak baru itu. Aku nggak tahu siapa namanya dan aku belum ada niat untuk mencari tahu. Yang jelas bagiku, dia tak ubahnya seperti seorang pengacau yang memporak-porandakan rutinitas harianku bersama temen-temen. Aku tahu kalau anak baru itu pasti nggak tahu apa-apa soal ini, tapi kenapa dia harus menyedot perhatian temen-temen? Kenapa temen-temen jadi terlihat sangat antusias sama dia? Di situlah letak kesalahannya. Mau dia tahu atau enggak, kepindahan dia ke sekolah ini tetep aja salah di mataku. TITIK NGGAK ADA KOMA.

"Masuk kelas yuk... Kamu pasti belum kenalan sama anak baru itu, ya kan ?"

Aduh Tuhan... kenapa Ista jadi ikutan terjangkit sindrom anak baru itu sih, pakai acara ngajakin aku masuk kelas cuma buat kenalan sama anak baru itu. Ihhhhhhh amit-amit deh, ogah aku... najis Inggris cuiiiiiiihhhh... Begitulah umpatku dalam hati. Kedengarannya kasar sih, tapi untung aja cuma dalam hati aku aja, jadi Ista nggak perlu tahu kalau ternyata aku sedang mengumpat anak baru itu.

"Kamu masuk aja duluan, aku nanti nyusul deh."

Begitulah aku berdalih, biar nggak kelihatan terlalu vulgar di mata Ista kalau aku sebenarnya nggak berminat untuk kenalan sama anak baru itu. Rasanya aku pengen hari ini diliburkan saja, aku mulai malas melanjutkan kelasku dengan seragam putih merahku ini. Aku pengen segera pulang dan berharap tidak bertemu dengan anak baru itu. Kedatangan anak baru di SD-ku yang tercinta ini sepertinya akan menjadi mimpi buruk bagiku.

Sepulang sekolah hari ini, aku langsung menuju kamarku. Aku terdiam sejenak dan mulai menerawang. Kejadian di sekolah hari ini membuatku teringat pada saat-saat aku berkumpul dengan saudara-saudara sepupuku sewaktu Lebaran datang. Ya memang mungkin sudah menjadi tradisi hampir semua keluarga di negara ini, bahwa ketika Lebaran hampir semua orang mudik atau pulang ke kampung halamannya. Biasanya kalau nenek dan kakek masih lengkap, mereka berkumpul di rumah nenek kakek. Tak berbeda jauh dengan tradisi di keluargaku. Setiap Lebaran datang, aku bersama keluarga datang berbondong-bondong ke rumah nenek kakek yang sebenarnya masih satu kota dengan rumahku. Di sana pasti sudah ada pakdhe budhe serta om dan tante yang lengkap dengan anak-anak mereka masing-masing. Ya... merekalah yang disebut dengan saudara-saudara sepupuku.

Keluarga nenek kakek menurutku termasuk keluarga besar, bukan karena badannya besar-besar tapi karena jumlah anggota keluarganya yang cukup banyak. Nenek kakek mempunyai 8 orang anak dengan 7 orang di antaranya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak-anak, sedangkan untuk anak nenek kakek yang paling bungsu, yang biasa aku panggil dengan sebuatan Om Arta, belum menikah pada waktu itu. Biasanya ada 2 kubu tercipta di sini, yang satu kubu golongan orang tua-tua dan satunya lagi kubu orang muda bercampur anak kecil. Hal itu lumrah terjadi karena memang tidak mudah untuk menyatukan obrolan antara orang tua, anak muda dan juga anak-anak. Namun karena anak mudanya hanya Om Arta saja, maka dia bergabung dengan anak-anak.

Om Arta selalu ikut bermain dengan kami, anak-anak yang masih kecil-kecil dan kami pun juga tidak merasa keberatan kalau Om Arta ikut bergabung, karena akan ada yang menjaga kami semua ketika kami sedang bermain. Namun aku merasa Om Arta itu pilih kasih, hanya dengan aku saja. Aku tidak cukup mengerti apakah itu cuma pikiranku saja atau memang demikian adanya. Contohnya saja begini, suatu hari Om Arta baru saja membeli kaset musik baru dan dia memamerkannya pada kami semua. Kami yang masih anak kecil, yang sebenarnya tidak terlalu paham juga kaset apa yang dibeli Om Arta, menunjukkan antusias seolah-olah kami tertarik dengan kaset itu dan ingin mendengarkannya. Tapi ketika Om Arta hendak memutar kaset itu di radio tape-nya, Om Arta tidak mengijinkan kami masuk ke dalam kamarnya sekaligus. Mungkin Om Arta ingin kami mendengarnya secara bergantian barangkali, biar tidak terlalu gaduh di dalamnya, begitulah yang ada di pikiranku saat itu. Akhirnya aku dan saudara-saudara sepupuku mengantri untuk mendapatkan giliran. Dan satu per satu dari kami pun pada akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kaset itu, terkecuali aku.

Iya benar... Semuanya sudah diajak masuk ke dalam kamar Om Arta dan sudah mendengar kaset itu, tapi sampai dengan Om Arta keluar dari kamarnya, hanya aku yang tak diberi kesempatan untuk mendengar kaset itu. Saat itulah pertama kalinya aku merasa bahwa aku ini tidak dianggap ada oleh Om Arta. Bahkan dengan tanpa merasa bersalah sedikit pun, Om Arta mengajak semua saudara sepupuku untuk main petak umpet di halaman setelah itu. Dan lagi-lagi aku tidak diajaknya turut bermain. Mungkin aku bisa saja menangis dan mengadu pada ayah atau ibu, tapi aku tidak melakukan itu. Aku berusaha berlari menyusul Om Arta dan merengek padanya,

"Bolehkah aku ikut bermain petak umpet juga, Om ?"

Tak kutunjukkan wajah memelas sedikit pun di depan Om Arta, tapi sebaliknya aku berusaha tersenyum semanis mungkin supaya Om Arta mengijinkan aku untuk ikut bermain. Entah karena kesengsem dengan senyumanku kah atau hanya karena lantaran kasihan padaku, aku tidak peduli, yang terpenting akhirnya Om Arta mengijinkanku untuk ikut bermain petak umpet bersama saudara-saudara sepupuku.

Sejak hari itu, sekali lagi aku mau bilang kalau aku mulai sadar bahwa tidak semua orang menganggap aku ini ada, salah satunya adalah Om Arta. Namun meskipun demikian, aku belum punya kuasa apa-apa untuk memberontak, aku hanya bisa bersikap manis bahkan lebih manis dari aku yang sebenarnya untuk dapat menarik simpati dari Om Arta. Selalu begitu tiap kali aku hendak turut bermain dengan mereka. Aku selalu harus cari muka dulu, entah itu ngebaik-baikin Om Arta atau apa sajalah yang bisa kulakukan akan aku tak lagi disingkirkan. Aku cukup bisa menerimanya sebagai sebuah kewajaran waktu itu. Tapi tidak untuk sekarang ini.... Apakah aku harus melakukan hal yang sama kepada anak baru itu? Apa perlu aku cari muka di depan dia, agar bisa mendapatkan atensi teman-temanku lagi? Ah rasanya... tidak akan kulakukan.

Mungkin aku mulai mengerti arti sebuah kata GENGSI. Dari situlah aku memutuskan untuk tidak berusaha mencari tahu lebih banyak tentang anak baru itu sebelum dia duluan yang mencari tahu tentang aku. Meskipun sekarang ini teman-teman lebih banyak memperhatikan dia ketimbang aku, aku tidak akan tunduk dan menyerah pada pesonanya. Itu janjiku pada diriku sendiri.

Keesokan harinya...
Aku kembali mengayuh sepedaku menuju ke SD Negeri Plumbungan 2, salah satu sekolah dasar di keluarahan Plumbungan. Memang sih sekolahku tidak termasuk sekolah kota, tapi aku cukup senang bersekolah di situ karena ada halaman dan lapangan yang luas untuk tempat bermain yang leluasa. Ketika kami berolahraga, kami semua tidak perlu bingung mencari lahan karena kami sudah punya lapangan yang sangat luas. Kami bisa bermain kasti, lompat jauh, lompat tinggi, sepakbola, volly, lari sprint dan bahkan lari estafet, yang pasti kecuali renang lho, kalau yang satu itu sekolahku nggak punya kolam renang soalnya. Selain itu, sekolah kami pun jauh dari keramaian kota sehingga kami bisa belajar dengan tenang di sini. Rasanya menyenangkan sekali bisa sekolah di sini.

Tapi semuanya pasti akan terasa berbeda setelah kedatangan anak baru itu. Aku tidak tahu apakah masih akan menyenangkan bersekolah di sini?

"Wah ternyata lompatan kamu tinggi juga ya!! Hebat sekali kamu..."

Aku berhenti sejenak ketika aku hendak memasuki ruang kelas. Mataku tertuju pada teman-temanku yang sedang bermain lompat tali dengan anak baru itu dan baru saja aku mendengar mereka sedang memuji anak baru itu. Aku tidak sedang salah dengar, bahkan malah telingaku sangat jelas sekali mendengar pujian untuk anak baru itu karena suara teriakan teman-temanku yang sangat keras. Aku memandang iri kepada anak baru itu, karena dia mendapat begitu banyak perhatian dari teman-teman padahal baru 2 hari dia berada di sekolah ini.

"Cuman segitu aja, aku juga bisa..."

Aku bergumam sendiri untuk membuat diriku percaya diri lagi bahwa aku juga pasti bisa melakukan seperti yang anak baru itu lakukan. Tapi aku tidak akan bergabung bermain dengan teman-teman karena tali yang digunakan untuk bermain itu adalah tali milik anak baru itu.

"Aku nggak sudi main dengan anak baru itu.."

Sepulang sekolah, aku langsung meminta uang kepada ibu untuk membeli tali. Aku berlatih giat untuk melompati tali itu setinggi-tingginya, berharap aku bisa menunjukkan kepada teman-teman kalau aku pun tidak kalah dengan anak baru itu. Berulang kali aku mencoba melompat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Meskipun semakin banyak keringat yang bercucuran dari tubuhku, rasanya aku tak mempedulikannya. Yang ingin aku lakukan adalah menjadi lebih baik dari anak baru itu dan aku akan menunjukkannya kepada teman-teman. Aku yakin teman-teman pasti akan kembali memperhatikanku jika aku bisa menjadi lebih hebat dari anak baru itu. Lihat saja nanti, anak baru, tunggu pembalasan dariku!!!

"Wah kamu bawa tali baru ya... Asyik nih, jadi ada 2 orang yang punya tali di kelas kita sekarang. Kamu dan juga Novia..."

Ohhh.. jadi nama anak baru itu Novia ya. Boleh juga namanya... tapi lihat saja, aku nggak akan ijinkan si Novia itu mencuri perhatian teman-temanku.

"Bagaimana kalau istirahat nanti kita main lompat tali bareng? Aku ikut main denganmu ya..."
"Aku juga ya... duhh nggak sabar pengen cepet-cepet istirahat."
"Iya nih, aku juga ikutan ya..."

Aku melirik ke arah Novia seakan ingin menunjukkan padanya bahwa aku mulai berhasil merebut kembali perhatian teman-teman yang dicuri olehnya. Perlahan-lahan kamu akan merasakan bagaimana rasanya diacuhkan oleh teman-teman seperti yang aku rasakan 2 hari kemarin. Itu pelajaran untuk kamu, Novia, biar kamu nggak seenak-enaknya di sini, jangan mentang-mentang kamu anak baru lantas kamu merasa pantas diperlakukan secara istimewa sama semua orang di sekolah ini. Pasti aku takkan membiarkannya begitu saja. Tatapan mataku semakin menajam ke arah Novia, aku bahkan nggak peduli Novia akan mengartikan seperti apa tatapanku yang seperti ini. Syukur syukur... dia bisa ngerti maksud yang tak tersampaikan dari kedua bola mataku ini.

Jam istirahat pun akhirnya tiba juga...
Teman-teman segera mencari tempat yang teduh dan mulai bersiap-siap untuk bermain lompat tali bersamaku. Mula-mula ada 5 orang yang ikut bermain, namun tak berapa lama kemudian satu per satu mulai berdatangan dan sudah ada 12 orang sekarang yang siap bermain lompat tali bersamaku. Di kelas totalnya ada 16 murid perempuan, jadi kesimpulannya hampir semuanya kini berada di pihakku, sedangkan sisanya aku lihat masih setia dengan Novia si anak baru itu.

"Waduh kenapa yang pegang tali kalian berdua sih? Jadinya tinggi banget kan sekarang... aduh aku nggak akan bisa melompat setinggi itu."

Inilah saatnya aku tunjukkan kepada teman-teman, kemampuanku yang sebenarnya yang tidak kalah dengan Novia.

"Tenang aja teman-teman, aku bisa kok melompatinya... nanti kalian 'bonceng' aku aja."

BONCENG itu istilah kami dalam permainan lompat tali ini. Maksudnya adalah ada salah satu dari kami yang harus bisa melompat tali dan setelah itu pemain yang lainnya tidak perlu melompat, mereka bisa diselamatkan oleh salah satu pemain yang berhasil melompati tali. Kurang lebih seperti itulah yang aku tawarkan kepada teman-teman yang mengaku menyerah untuk melompat, karena kebetulan yang memegang tali saat itu badannya tinggi-tinggi.

"Kamu yakin kalau kamu bisa ?"
"Akan aku coba..." Jawabku sambil tersenyum kepada salah seorang temanku.
"Baiklah kalau begitu, kami akan mendukungmu... Ayo kamu pasti bisa."
"Iya benar... kami mendukungmu, kamu pasti bisa."

Teriakan dukungan teman-teman membuat kepercayaan diriku semakin bertambah dan aku menjadi semakin yakin kalau aku pasti bisa melompati tali yang tinggi itu. Aku mulai memasang kuda-kuda bersiap-siap untuk lari sekencang mungkin dan melompat setinggi-tingginya dan huuuuuuuuuuuuuupppppppp..... akhirnya aku berhasil. Yihaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... YES...

"Wah kamu hebat..."
"Iya kamu hebat banget sih. Aku nggak nyangka kamu bisa melompat setinggi itu."

Dalam hati aku tertawa puas dan sambil melirik ke arah Novia yang ternyata sedari tadi sedang memperhatikan permainanku bersama teman-teman.

"Bagaimana Novia? Apakah kamu mau menyerah denganku? Apakah kamu mau mengakui kemampuanku sekarang? Makanya jangan pernah coba-coba ambil teman-teman dariku..." Kataku dalam hati sambil masih belum melepaskan lirikanku pada Novia.

"Sejak kapan kamu bisa melompat setinggi ini? Aku baru tahu lho..."
"Iya... padahal tadi itu tinggi sekali."
"Iya kamu bener-bener hebat, kami saja nggak bisa melompat setinggi kamu."
"Ternyata kamu lebih hebat dari Novia..."
"Iya aku setuju. Kemarin lompatan Novia juga tinggi banget, tapi nggak setinggi kamu hari ini."

Itulah yang aku tunggu dari kemarin-kemarin. Akhirnya sekarang teman-teman mengakui kalau lompatanku jauh lebih hebat dibandingkan Novia. Hufffppp ternyata nggak sia-sia aku berlatih kemarin. Kini teman-teman telah kembali padaku. Aku senang sekali. Novia, kamu harus mulai mengakui kalau aku lebih jago daripada kamu, jadi aku harap kamu nggak perlu sok-sokan pamer ke teman-teman, karena aku akan selalu mengalahkan kamu.

Ketika aku sudah lelah bermain lompat tali, akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengambil bekal minuman kami masing-masing. Namun tak sengaja aku mendengar ada tiga orang temanku yang sedang duduk di depan kelas sedang bergosip. Aku pun menjadi penasaran dan pura-pura berhenti di depan kelas tapi berlagak tidak sedang menguping pembicaraan mereka.

"Eh... eh... kalian tahu nggak, ada gosip baru nih."
"Gosip apaan emangnya ?"
"Itu si Fariz.. kabarnya kemarin ngirim surat buat Novia."
"Apa? Fariz kirim surat buat Novia. Kamu tahu dari mana ?"
"Aku denger dari Susi. Dia kan duduk sebangku dengan Novia dan si Fariz nitipin suratnya itu lewat Susi."
"Trus trus... isinya apaan ?"
"Iya.. isinya apaan, aku jadi penasaran."
"Pas aku tanyain ke Susi, dia bilang nggak tahu secara lengkap sih karena Novia cuma cerita kalau dalam suratnya itu si Fariz menyatakan perasaannya sama Novia."
"Apa??? Jadi Fariz suka sama Novia ?"
"Sssssssssssssttttt.... kamu jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya. Ntar kalau kedengeran sama yang lain gimana.. Ini rahasia tauuuuuuuuuuuuuu..."
"Maaf... maaf... aku kan nggak sengaja."
"Iya nih... Dasar kamu ini."
"Iya iya... aku kan sudah minta maaf."
"Lain kali ati-ati kalau mau ngomong..."

Ohhh.. jadi ceritanya Novia udah mulai menggaet hati temen-temen cowokku rupanya dan kali ini Fariz yang jadi korban pertamanya. Keterlaluan... ini nggak bisa aku biarkan. Fariz kan selama ini suka sama Ima, kenapa sekarang jadi pindah sama Novia, ini pasti ada yang nggak beres. Aku harus kasih tahu Ima soal ini.

"Apa???? Fariz nembak Novia? Kapan ?"
"Itu dia... aku juga kaget, Im. Aku baru aja denger dari Lia dan kawan-kawan kalau kemarin Fariz nitipin surat ke Susi buat Novia. Dan dari pengakuannya Susi, Fariz tuh suka sama Novia."
"Aku nggak nyangka... Fariz bisa setega itu sama aku."
"Im, kalau menurut aku... bukan Fariz yang salah, tapi ini pasti gara-gara Novia."
"Novia? Bagaimana mungkin kalau ini gara-gara Novia? Novia kan anak baru di sini ?"
"Emang kamu nggak ngelihat apa kelakukan Novia? Kamu nggak merhatiin gimana ganjennya dia sama temen-temen cowok kita? Okay.. sekarang emang baru Fariz yang jadi korbannya, lihat aja besok-besok semua temen cowok kita bakal diembat sama si Novia ganjen itu."
"Ah yang bener aja kamu. Masak sih sampai kayak gitu ?"
"Hemmmmm... kamu buktiin aja sendiri."

Mendengar Fariz ternyata suka sama Novia, membuat aku semakin benci sama dia. Baru saja kemarin dia mencuri perhatian teman-teman dariku, sekarang dia mulai menggaet teman-teman cowokku. Bagaimana aku nggak makin membencinya? Jangan-jangan dia punya rencana untuk jadi bunga kelas, jadi idola para cowok-cowok... Keterlaluan... aku takkan membiarkannya. Aku harus melakukan sesuatu, ya benar... aku harus memikirkan sesuatu untuk menghentikan jangan sampai hal itu benar-benar terjadi. Aku juga tidak pernah rela kalau Novia merebut teman-teman cowok yang disukai oleh teman-teman cewekku. Lihat saja Novia, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. (*)

1 komentar:

wanti mengatakan...

bagus bagus dan bagus sista, two thumbs up d, knapa nggk cb dirilis k media aja, aku suka skali pilihan ktny jg bagus. ayo buat karya2 yg lain lg. aku tunggu smangat y sista

Posting Komentar