Aku seorang gadis remaja. Umurku belum ada 17 tahun dan sekarang ini aku tengah duduk di bangku kelas 2 SMA. Rasanya aku patut berbangga hati, karena aku beruntung bisa masuk ke sekolah ini. Bagaimana tidak? Sekolahku ini adalah sekolah favorit pertama di kota kecilku. Aku jadi ingat ketika dulu aku sempat dimarahi oleh kakak-kakak kelasku, waktu aku mendaftarkan diri ke sekolah ini di hari terakhir. Aku pun juga tidak mau disalahkan karena waktu itu sebenarnya aku tidak berencana masuk ke sekolah ini. Aku punya cita-cita sekolah di kota besar dan keluar dari kotaku yang kecil ini. Aku sempat diantar oleh ayahku untuk mendaftar di salah satu SMA Negeri di Surakarta, aku juga sudah hampir mengisi formulir pendaftaran setelah guru di sana meyakinkan aku dan ayahku bahwa Nilai Ebtanas Murni (NEM)-ku mencukupi untuk pendaftar dari luar kota. Namun sesaat setelah aku duduk hendak mengisi formulir, ayahku tiba-tiba mendekatiku dan berkata demikian,
"Apa tidak sebaiknya formulir pendaftarannya kita bawa pulang saja ?"
"Kenapa dibawa pulang, Ayah ?" tanyaku penuh keheranan.
"Kalau dibawa ke rumah, kamu kan bisa leluasa ngisinya. Kamu juga punya banyak waktu untuk berbincang dengan Ibu dan juga Ayah."
Aku merasa heran dengan kata-kata ayah barusan. Orang yang paling semangat mendukungku sekolah ke Solo (nama lain Surakarta... udah pada tahu kan?) adalah ayahku, tapi sejenak aku melihat raut wajah ayah, aku merasa kalau ayah sepertinya sedang berusaha ingin mengatakan kalau ayah mulai ragu dengan keinginanku sekolah di Solo. Pada akhirnya aku pun tidak punya jawaban yang lain selain meng-iya-kan kemauan ayah, karena pikirku toh masih ada waktu beberapa hari untuk mengumpulkan formulir pendaftaran itu. Aku dan ayahpun pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, ayah sama sekali tidak membahas tentang calon sekolah baruku itu. Ayah hanya diam saja dan konsentrasi mengendarai mobilnya. Aku juga tak berani bertanya apa-apa sama ayah dan aku pun memilih untuk tidur dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Tak butuh lama untuk sampai ke kotaku dari kota Solo, hanya sekitar 45 menit saja jika jalanan tidak penuh sesak dengan kendaraan berat beroda empat. Jadi aku tidak perlu sampai harus bermimpi dalam tidurku siang hari itu. Aku turun dari mobil dan mulai melangkahkan kaki memasuki rumah, tentunya masih dengan seragam putih biruku yang kupakai sedari pagi tadi. Di ambang pintu, kulihat ibu dengan senyumnya yang menyambut kepulangan aku dan ayah. Setelah dekat dengan ibuku, aku pun meraih tangan ibu dan menciumnya seperti kebiasaanku yang sudah-sudah sejak aku kecil.
"Bagaimana tadi? Sudah dapat sekolah kan? Akhirnya kamu daftar ke SMA berapa ?"
Pertanyaan-pertanyaan ibu tak ubahnya seperti rentetan gerbong kereta api yang sambung menyambung dan tak terputus sampai-sampai aku bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Aku belum jadi daftar kok, Bu."
Cukup dengan satu kalimat itu, akhirnya aku menjawab pertanyaan ibu tadi. Aku pun bergegas menuju kamar untuk menghindari serbuan pertanyaan-pertanyaan ibu yang lain. Ibu pun menatapku penuh dengan tanda tanya dan membiarkanku berlalu begitu saja dari hadapannya seperti polisi yang membebaskan seorang tahanan tak bersalah dari selnya. Dan setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang sedang diperbincangkan ibu dan ayahku mengenai aku, karena aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku yang belum sempat bermimpi tadi.
Keesokan harinya, aku belum punya rencana ke mana-mana dan dengan santai, aku melakukan rutinitas harianku seperti biasa tanpa harus takut terlambat pergi ke sekolah. Maklumlah hari itu kan masih liburan anak sekolah. Kalau ternyata di jalan raya depan rumahku banyak anak sekolah entah itu berseragam SD atau SMP berlalu lalang, aku rasa mereka bukan untuk pergi belajar ke sekolah tapi untuk mencari sekolah, sama seperti yang kulakukan kemarin ke kota Solo. Oh iya, semalam aku tidak keluar kamar sama sekali, makan malam juga di dalam kamar, dan ayah ibu juga tidak memanggilku keluar, kira-kira bagaimana ya nasib calon sekolah baruku kemarin. Aku juga belum menitikkan tinta setetespun di formulir pendaftaran sampai pagi ini, karena aku masih bingung mengartikan sikap ayah kemarin itu. Jangan-jangan ayah tidak mau lagi mendukungku masuk ke sekolah itu. Oh tidak... SMA Negeri 3 Solo kan salah satu sekolah favorit di kota Solo, rasanya sayang sekali kalau aku melewatkan kesempatan ini. Bukankah di sana aku akan mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sekolah di kota kecil ini???
"Dik, kamu beneran pengen sekolah ke Solo ?"
DIK... Begitulah ibu biasa memanggilku sehari-hari, mungkin karena aku yang masih kecil atau karena aku memang adik dari kakakku, makanya aku dipanggil seperti itu oleh ibu.
"Kenapa Ibu bertanya seperti itu ?"
"Ehmm... Ibu cuma pengen tahu aja seberapa besar sih keinginan kamu untuk sekolah ke Solo."
"Sebenernya aku pengen sekali bisa sekolah di Solo, apalagi di SMA Negeri 3 Solo. Itu kan salah satu sekolah favorit di Solo, Bu. Kemarin sih aku sempat ke SMA Negeri 1 Solo, tapi pendaftaran di sana sudah ditutup karena jumlah siswanya sudah terpenuhi. Makanya trus aku sama Ayah, cari informasi ke SMA 3 dan setelah guru di sana bilang NEM-ku memenuhi kriteria, akhirnya aku mau daftar di sana. Waktu aku keliling SMA 3, aku sudah membayangkan menjadi salah satu murid di sana sepertinya sangat menyenangkan. Tapi ketika Ayah tiba-tiba menyuruhku untuk membawa formulir pendaftarannya pulang, aku jadi khawatir kalau-kalau aku tidak boleh sekolah di sana."
"Dik, Ayah tidak bermaksud seperti itu. Ayah sama Ibu kemarin sudah membicarakan mengenai sekolah kamu. Apapun yang kamu anggap terbaik untuk diri kamu, Ayah dan Ibu pasti akan mendukungnya. Hanya saja, apa kamu sudah benar-benar memikirkan segala sesuatunya jika akhirnya nanti kamu benar-benar bersekolah di sana? Yang pasti kamu akan jauh dari Ayah dan Ibu, trus kamu tinggal sendiri di kos, belum lagi bagaimana dengan hidup kamu sehari-hari nantinya, bagaimana dengan pergaulan kamu di sana dan masih banyak yang lagi lainnya. Apa kamu sudah memikirkan semua itu ?"
Ibu memang benar sih, aku memang belum pernah berpikir sampai sejauh itu. Yang ada di kepalaku hanyalah menjadi seorang siswa salah satu sekolah favorit di kota Solo. Selama ini aku tidak pernah jauh dari kedua orang tuaku, setidaknya sampai aku lulus SMP. Kebutuhanku sehari-hari dan kebutuhan sekolahku selalu dipenuhi oleh kedua orangtuaku. Kira-kira apa aku siap ya jika semuanya berubah satu per satu? Aku harus hidup sendiri, mengurus diriku sendiri, menyiapkan kebutuhan sehari-hari juga sendiri dan ketika di kos, aku pun juga harus siap tanpa ayahku, ibuku, kakakku dan adik-adikku. Apa aku sudah siap dengan semua itu? Tapi aku tidak ingin memikirkannya dulu, membayangkannya saja membuat nyaliku ciut.
"Itu mungkin beberapa hal yang Ayah dan Ibu khawatirkan. Kamu masih terlalu kecil untuk hidup terpisah dari Ayah dan Ibu. Coba kamu pikirkan kembali dan jika pada akhirnya kamu memang benar-benar siap dengan segala konsekuensinya, baiklah Ayah dan Ibu tidak akan menghalangi keinginan kamu."
Ternyata memang benar dugaanku, sikap aneh ayah kemarin itu menandakan keragu-raguan dan kekhawatirannya jika aku sekolah di luar kota, di tempat yang jauh dari orang tuaku. Memang sih apa yang dikatakan ibu adalah sebuah nasihat bijaksana yang wajar dikatakan oleh orang tua kepada anaknya, tapi sekali lagi kalau boleh rasanya aku tidak ingin memikirkan segala sesuatu yang belum pernah aku bayangkan akan terjadi padaku, aku hanya ingin mewujudkan impianku saja jika itu diperbolehkan. Tetapi aku yakin, ayah dan ibu tidak akan mengijinkan aku jika aku hanya menurutkan keinginanku saja tanpa dibarengi pemikiran yang matang dan masak ala orang dewasa. Aku kan masih kecil, aku belum bisa kalau disuruh berpikir layaknya orang dewasa, sehingga mau tidak mau aku harus mendengar dan mengikuti kata-kata orang tuaku. Kalau sudah begitu, aku tidak punya alasan yang jitu untuk bisa menyanggah kata-kata ayah dan ibuku. Hal itulah yang akhirnya mengantarkan aku melangkahkan kaki ke sekolah yang aku sebut tadi sekolah favorit pertama di kota kecilku, SMA Negeri 1 Sragen.
Dengan mengayuh sepeda mini yang selalu menemaniku sejak aku masuk SMP, aku datang untuk mendaftarkan diri ke SMA 1, yang lebih terkenal dengan nama SMANSA (singkatan dari SMA Negeri Satu). Pagi itu aku datang seorang diri tanpa didampingi ayah dan ibu. Entahlah kenapa aku dibiarkan datang seorang diri, aku tidak tahu alasan ayah dan ibuku, yang aku tahu ayahku sudah berangkat pagi-pagi ke kantor dan ibuku pun pasti juga tidak akan bisa meninggalkan rumah karena harus menunggui usaha bengkel sepeda motornya. Yang jelas aku berbeda dengan anak-anak yang kulihat pagi itu, yang ditemani oleh ayahnya atau ibunya dan bahkan ada yang lengkap dengan ayah sekaligus ibunya. Rasanya aku iri dengan mereka, tapi ya sudahlah toh sekarang aku sudah sampai di SMANSA. Mustahil kan jika akhirnya aku kembali pulang hanya karena aku ingin ditemani ayahku atau ibuku, hemmm... buang-buang waktu, bisa-bisa pendaftarannya keburu ditutup karena hari itu adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru.
"Kak, boleh aku minta formulir pendaftarannya satu lembar ?"
"Lho... kamu baru daftar hari ini ?"
"Iya, Kak..."
"Memangnya sebelumnya kamu mendaftar di mana ?"
Kenapa kakak ini langsung tahu ya kalau aku sebelumnya udah mencoba mendaftar di sekolah lain? Apakah kelihatan dari raut mukaku? Ah... rasanya tidak mungkin. Hebat sekali kakak ini, kalau bisa membacaku hanya dari raut mukaku saja. Akhirnya aku tidak menjawab apa-apa karena aku malu mengatakan yang sebenarnya. Kalau aku mengatakan kemarin sempat hampir mendaftar di SMA Negeri 3 Solo dan akhirnya nggak jadi, aku takut kalau kakak ini menganggapku anak yang bodoh yang ditolak oleh SMA Negeri 3 Solo sehingga baru daftar di SMANSA di hari terakhir pula. Padahal kenyataannya kan tidak seperti itu. Jadi alangkah baiknya kalau aku simpan saja cerita itu dan aku hadiahkan senyumku sebagai jawaban untuk kakak itu.
"Kebanyakan hari ini tuh pada mengundurkan diri apalagi yang NEM-nya berada di posisi-posisi rawan. Mereka memilih mendaftar ke SMA 2 atau 3 daripada nanti tidak diterima di sini. Nah ini aneh, saat orang pada memilih pindah, kamu malah baru mau daftar. Apa kamu tidak tahu kalau hari ini itu hari terakhir pendaftaran ?"
"Aku tahu kok, Kak. Justru karena hari ini adalah hari terakhir, makanya aku datang untuk mendaftar."
"Aku jadi penasaran... Coba sini aku lihat NEM kamu."
Aku pun menyerahkan selembar kertas yang berisikan nilai-nilai Ebtanas-ku waktu kelas 3 SMP kemarin. Dan sesaat setelah melihat lembaran kertas itu, mendadak raut muka kakak itu berubah menjadi aneh memandangku. Aduh... kenapa ya? Kenapa kakak memandangiku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan NEM-ku?
"Wah kamu ini bener-bener kelewatan deh. Kamu itu harusnya nggak berbuat seperti ini. Harusnya kamu daftar di hari pertama bukan di hari terakhir. Kamu tahu nggak, perbuatan kamu ini bisa merugikan orang lain. Dan yang lebih parah, kamu bisa membuat teman kamu yang lain tidak mendapat sekolah."
Lho... lho... lho... Kenapa kakak ini tiba-tiba memarahiku? Kenapa? Emangnya aku salah apa? Kenapa setelah melihat NEM-ku, kakak itu malah memarahiku, bukankah nilaiku tidak terlalu jelek untuk mendaftar di sekolah ini? Dan nggak hanya kakak itu saja yang memarahiku, seperti api yang menjalar ke mana-mana, teman-temannya jadi ikut melihat NEM-ku dan sesaat kemudian ikut-ikutan memarahiku juga. Aku jadi bingung, apa salahku, apa pula dosaku? (Hahahahahaha... andaikan aku sedang di atas panggung dan sedang berpuisi, mungkin kalimatku barusan akan terdengar lebih enak... hahahaha... Opppssss STOP!!!!) Akhirnya mimik wajahku pun berubah menjadi keruh dan berusaha menunjukkan kalau aku tidak terima diperlakukan seperti itu tanpa alasan yang bisa kumengerti.
"Memangnya kenapa, Kak? Bukannya pendaftaran siswa baru belum ditutup, berarti aku masih punya kesempatan kan untuk mendaftar di sini juga? Lantas salahku di mana ?"
"Salah kamu adalah nilai kamu itu terlalu bagus untuk mendaftar di hari terakhir..."
Hahhhh... Kakak bilang nilaiku terlalu bagus? Harusnya aku dipuji dong bukannya malah dapat omelan yang nggak menyenangkan sama sekali seperti itu. Heran deh aku... apa zaman udah berubah sekarang? Kalau dapat nilai bagus dapat cacian, tapi kalau nilainya jelek malah dipuji-puji, begitukah? Oh My God... kalau memang begitu kenapa harus ada sekolah, kenapa harus ada guru dan kenapa harus susah-susah belajar, tanpa semua itu aku rasa semua orang akan dengan mudah mendapatkan nilai jelek, jadi untuk apakah semua ini?
"Kamu tahu dengan nilai kamu yang seperti ini, kamu akan dengan mudah berada dalam urutan teratas daftar siswa yang akan diterima. Dengan begitu, secara otomatis kamu akan dengan mudah juga menggeser nilai-nilai di bawah kamu. Dan yang menjadi korban di sini adalah teman-temanmu yang nilainya ada di posisi kritis. Coba kamu bayangkan, hari ini adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru. Aku rasa banyak siswa yang berada di posisi kritis berharap tidak ada lagi siswa baru yang mendaftar hari ini, agar posisinya tidak terancam dan masih punya harapan diterima di sekolah ini. Karena kalau mereka dinyatakan tidak diterima hari ini, bisa dipastikan mereka sudah tidak bisa mendaftarkan diri ke SMA Negeri yang lain dan hanya punya kesempatan sekolah di sekolah non-negeri. Apa kamu nggak kasihan sama mereka ?"
Astaga... aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Sungguh... aku tidak punya niat untuk merugikan siswa lain seperti yang kakak bilang barusan. Aku memang benar-benar baru siap mendaftar ke sini hari ini, karena kemarin-kemarin aku masih berharap ayah ibu mau berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk sekolah di Solo. Makanya ketika semalam ternyata tidak ada tanda-tanda perubahan keputusan ayah dan ibu, mau tidak mau aku harus mendaftar ke sini, karena kalau tidak, aku bisa kehilangan kesempatan bersekolah di sekolah negeri. Sungguh kakak, aku tidak punya niat sejahat itu sama mereka yang nilainya di bawah aku. Aku memang tidak berpikir sampai ke situ dan seandainya ada pilihan yang lain, aku bersedia kok untuk mengambil pilihan yang lain itu, jika memang dengan mendaftar di sini, aku dianggap merugikan orang lain :(
Aku tertunduk lesu merasa bersalah... dan mungkin kakak itu bisa melihat aku yang benar-benar merasa bersalah dan tidak sengaja melakukan semua ini.
"Ya sudahlah... anggap saja ini keberuntungan kamu... Ini formulirnya dan segera isi formulirnya lalu serahkan ke ruang pojok itu. Di sana nanti ada yang akan membantu kamu."
Akhirnya lega juga... aku terbebas dari penghakiman kakak-kakak itu. Aku pun bisa melenggang dengan santai masuk ke ruang kelas pengumpulan formulir. Tapi aku belum mau mengumpulkan formulirnya, kan belum diisi... aku mau cari tempat duduk dulu trus mengisi formulirnya, baru deh dikumpulin. Begitulah ceritaku ketika aku hendak memasuki sekolah ini. Pengalaman yang tak terlupakan olehku yang pada akhirnya menjadi pelajaran berharga juga untukku.
Dan tak terasa setahun pertama di sekolah ini akhirnya lewat sudah. Banyak sekali cerita yang sudah terukir selama setahun kemarin. Aku bersyukur karena selama ini aku mendapatkan guru-guru yang hebat dalam mengajar sehingga aku bisa mengikuti pelajaran kelas 1 SMA dengan cukup baik. Hasil belajarku pun selama setahun kemarin sangat memuaskan. Di caturwulan pertama, aku mendapatkan juara kelas, tapi sayangnya aku tidak sendirian. Ada 2 orang yang mendapatkan juara kelas, aku salah satunya dan seorang teman cowokku yang bernama Aji.
Kalian tahu, secara fisik Aji itu anak yang cukup tampan. Kulitnya putih dan penampilannya rapi, dia cukup sopan untuk ukuran seorang cowok. Selain itu, dia anak yang humoris karena aku sering melihatnya bercanda dengan teman-teman yang lain. Tapi jujur, aku tidak terlalu sering bicara dengan dia, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari. Aku merasa kurang nyaman dekat-dekat dengan dia. Mau tahu alasannya kenapa? Alasan pertama, karena dia termasuk cowok yang tampan. Alasan kedua, karena aku dengar dia adalah murid yang lulus SMP dengan NEM tertinggi se-Kabupaten Sragen. Kedua alasan itulah yang membuatku merasa nggak nyaman dengannya.
Apa? Aku aneh? Mungkin memang benar, aku aneh karena alasan yang aku kemukakan tadi. Tapi emang seperti itulah adanya, entah sejak kapan aku sendiri tidak menyadarinya kalau berada di dekat cowok yang tampan itu membuatku risih. Aku risih karena dengan demikian akan sangat terlihat perbedaan yang cukup signifikan. Ada cowok ganteng dan di sebelahnya ada cewek 'jelek'. Biarlah aku menyebutnya dengan kata 'jelek' saja, meskipun terdengar sangat kasar, tapi kata itu lebih mudah untuk menggambarkan kondisi wajahku. Aku memang mengakui hal itu, tapi aku tidak bermaksud untuk tidak mensyukuri hasil ciptaan Sang Maha Kuasa. Aku hanya mencoba untuk berkata jujur saja. Aku justru akan marah jika ada yang mengatakan aku ini cantik, karena itu aku anggap sebagai penghinaan yang sangat kejam. Bagaimana tidak? Dengan mengatakan aku cantik, berarti kalian telah membuat aku terbuai dalam fatamorgana impian. Iya kalau aku nanti bisa tersadar kembali, kalau akhirnya aku nggak pernah sadar dan kebablasan, gimana hayo?? Apa itu tidak kejam? Kejam sekali bukan? Nah kurang lebih begitulah alasan kenapa aku benci (maaf jika aku terlalu vulgar mengatakannya) berada di dekat cowok yang tampan alias ganteng atau apalah sebutannya.
Alasan kedua, ya jelaslah... dari kecil aku sudah terbiasa untuk selalu berusaha menjadi pemenang atau juara, meskipun nggak selalu kesampaian juga sih hehehe.. Tapi jiwa itu seperti mendarah daging di diriku. Aku selalu berusaha mendapatkan posisi tertinggi dalam segala hal, karena kalau aku tidak demikian, tidak akan ada orang yang mengenalku. Aku akan tenggelam dan orang tidak akan tahu tentang aku, karena menurutku tidak ada hal lain yang bisa dibanggakan selain prestasiku. Okaylah aku ulangi sekali lagi, aku bukan cewek yang cantik, aku ini sangat egois, mana mungkin ada yang mau berteman denganku kalau aku tidak punya keistimewaan apapun, makanya aku harus jadi anak yang pandai dan selalu berusaha jadi juara, agar tidak ada yang merendahkanku dan mereka mau menghargai aku serta menganggap aku ini ada. EKSISTANSI, sebuah pengakuan dari orang lain, mungkin itulah aku menyebutnya sebagai sesuatu yang aku kejar. Jadi ketika aku merasa mulai ada saingan atau lawan, aku tidak akan mungkin bisa merasa nyaman berdekat-dekat dengan dia, karena dia mengancam eksistansi-ku. Dan karena itulah, aku berjuang dan belajar lebih keras lagi sehingga akhirnya aku bisa mendapatkan predikat juara kelas tunggal di caturwulan kedua dan ketiga. Puas sekali rasanya aku waktu itu. Jerih payahku selama setahun tidak berakhir dengan sia-sia dan aku bisa dengan bangga menceritakannya kepada kalian semua. Dengan berbekal kebanggaan itulah, aku kini melanjutkan langkahku di tahun kedua di sekolah yang sama tapi dengan teman-teman yang berbeda. (*)
5 komentar:
ijin simak yaa.. :)
kirain Tiara jatuh hati sama Lawan itu.. ^^
.paZZa.
Hellowwww Pazza... that's not ME..
ini cuma karangan fiksi saja...
jadi jangan kira AKU adalah saia..
*nah lho bingung kan??*
hwahahahaa..
iyaa deh iyaa ..
untung cepet di kasih tahu.. :p
jadi sudah tidak punya senjata untuk menjahiliku kan huwahahahahahha :D
Posting Komentar