RSS

Puzzle 4

Jakarta... Tak kusangka sekarang di sinilah aku berdiam. Kota yang tak pernah terbayang sedikit pun di benakku untuk kujadikan tempat bernaung, namun ternyata takdir menuntunku sampai di kota ini. Kota yang penuh sesak manusia dengan segala kompleksitasnya, akhirnya aku tak bisa lagi mengelak darinya. Dahulu mungkin aku sering bertanya-tanya kenapa Jakarta menjadi kota favorit sebagai tempat untuk merantau dan mengadu nasib, kenapa setiap Sarjana yang baru lulus selalu antusias mencari pekerjaan di kota ini? Akhirnya aku tahu jawabannya, karena di sini segala sesuatu bisa jadi uang. Hal sekecil apapun selalu bisa dihargai dengan selembar uang, sehingga banyak orang terpikat dengan daya tarik itu. Namun tak begitu denganku, mencari uang bukanlah alasan aku berada di kota yang selalu identik dengan kemacetan ini, tapi aku sedang berusaha melarikan diri dari duniaku. Mengubur segala bentuk permasalahan yang kutinggalkan di kota asalku, sekedar mencari kedamaian dan keteduhan agar aku bisa melanjutkan hidupku. Aku telah lama kehilangan kenyamanan berada di kota asalku, entah kenapa langkah kaki ini membawaku sampai ke ibukota negara ini, yang pasti aku hanya menurutkan kata hatiku.

Ternyata menyenangkan juga menikmati kota Jakarta ketika Jakarta tertidur dari segala bentuk pluralitasnya. Masih bisa kurasakan udara yang sejuk bebas dari polusi kendaraan di pagi hari ini, tak jauh berbeda dengan kota asalku. Aku merasa seperti ratu jalanan, karena jalan ini sedang tidak dipenuhi kendaraan bermesin seperti ketika siang mulai datang. Andaikan setiap saat selalu bisa seperti ini, mungkin aku bisa mulai tergoda untuk menghabiskan hidupku berlama-lama di kota ini. Namun tentunya bukan sekarang, karena sekarang ini Jakarta hanyalah salah satu tempat persinggahan sementaraku. Jika aku mulai terusik dan tak lagi merasa aman, maka aku takkan berpikir dua kali lagi untuk segera beralih dari kota ini. Seperti kelinci yang melompat ke sana kemari, seperti itulah aku sekarang ini, berpindah dari kota yang satu ke kota yang lain sudah menjadi kesenangan baruku. Hidup di jalanan bukan lagi jadi hal yang menakutkan untukku, karena ternyata itu jauh lebih nikmat dibandingkan dengan hidup di balik terali besi. Yang pasti.... di Jakarta kini aku tengah merenda kisah baru di balik jeruji sang waktu. (*)

Puzzle 3

"Kenapa sih pada ke sana semua ?"
"Lho kamu belum tahu ya? Ada anak baru di kelas kita ?"
"Anak baru? Masak sih? Laki-laki atau perempuan ?"
"Perempuanlah... lihatin aja tuh temen laki-laki kita pada berebut pengen kenalan sama dia. Kamu nggak mau ikutan kenalan sama anak baru itu ?"
"Enggak deh, entar kalau udah waktunya kenal juga kenal sendiri kok, nggak perlu ikut-ikutan heboh. Emang anaknya cantik ya sampai pada segitunya ?"
"Ehmm.. lumayan cantik sih anaknya, baik juga orangnya."
"Sejak kapan kamu kenal dia, bukannya dia baru masuk hari ini. Bagaimana mungkin kamu bisa langsung bilang kalau dia itu baik? Orang itu kalau pertama-tama mesti yang ditunjukin yang baik-baiknya dulu, belakangan baru deh kelihatan aslinya..."
"Eh kamu kenapa sih, kok sinis gitu nadanya? Kayaknya kamu nggak suka ya sama anak baru itu? Emang dia ada bikin salah apa sama kamu ?"
"Ah enggak juga... Cuma perasaan kamu aja. Aku biasa-biasa aja kok."

Sebenarnya kalau boleh jujur, aku memang tidak terlalu suka dengan kedatangan murid baru itu. Habisnya hampir semua perhatian teman-temanku tercurah sama dia. Sebelum lonceng tanda pelajaran dimulai itu dibunyikan, biasanya aku bermain sama teman-teman, main lompat tali, main gobag sodhor atau main sudah mandah. Tapi pagi ini, yang membuatku kesal adalah nggak ada seorang pun yang bisa aku ajakin main, karena semuanya pada pengen kenalan sama anak baru itu. Uhhhhh kenapa sih harus ada anak baru itu? Aku nggak mau ah kenalan sama dia... sepertinya dia akan mengambil perhatian teman-temanku... Sambil duduk di taman kelas, aku menggerutu sendirian, sampai akhirnya ada seorang temanku yang bernama Ista datang mendekatiku.

"Kamu ngapain duduk sendirian di sini ?"
"Ehmm... nggak papa."
"Sepertinya kamu sedang kesal ya? Ada apa emangnya ?"

Yang dibilang Ista barusan emang nggak salah sih, aku emang lagi kesal sama anak baru itu. Aku nggak tahu siapa namanya dan aku belum ada niat untuk mencari tahu. Yang jelas bagiku, dia tak ubahnya seperti seorang pengacau yang memporak-porandakan rutinitas harianku bersama temen-temen. Aku tahu kalau anak baru itu pasti nggak tahu apa-apa soal ini, tapi kenapa dia harus menyedot perhatian temen-temen? Kenapa temen-temen jadi terlihat sangat antusias sama dia? Di situlah letak kesalahannya. Mau dia tahu atau enggak, kepindahan dia ke sekolah ini tetep aja salah di mataku. TITIK NGGAK ADA KOMA.

"Masuk kelas yuk... Kamu pasti belum kenalan sama anak baru itu, ya kan ?"

Aduh Tuhan... kenapa Ista jadi ikutan terjangkit sindrom anak baru itu sih, pakai acara ngajakin aku masuk kelas cuma buat kenalan sama anak baru itu. Ihhhhhhh amit-amit deh, ogah aku... najis Inggris cuiiiiiiihhhh... Begitulah umpatku dalam hati. Kedengarannya kasar sih, tapi untung aja cuma dalam hati aku aja, jadi Ista nggak perlu tahu kalau ternyata aku sedang mengumpat anak baru itu.

"Kamu masuk aja duluan, aku nanti nyusul deh."

Begitulah aku berdalih, biar nggak kelihatan terlalu vulgar di mata Ista kalau aku sebenarnya nggak berminat untuk kenalan sama anak baru itu. Rasanya aku pengen hari ini diliburkan saja, aku mulai malas melanjutkan kelasku dengan seragam putih merahku ini. Aku pengen segera pulang dan berharap tidak bertemu dengan anak baru itu. Kedatangan anak baru di SD-ku yang tercinta ini sepertinya akan menjadi mimpi buruk bagiku.

Sepulang sekolah hari ini, aku langsung menuju kamarku. Aku terdiam sejenak dan mulai menerawang. Kejadian di sekolah hari ini membuatku teringat pada saat-saat aku berkumpul dengan saudara-saudara sepupuku sewaktu Lebaran datang. Ya memang mungkin sudah menjadi tradisi hampir semua keluarga di negara ini, bahwa ketika Lebaran hampir semua orang mudik atau pulang ke kampung halamannya. Biasanya kalau nenek dan kakek masih lengkap, mereka berkumpul di rumah nenek kakek. Tak berbeda jauh dengan tradisi di keluargaku. Setiap Lebaran datang, aku bersama keluarga datang berbondong-bondong ke rumah nenek kakek yang sebenarnya masih satu kota dengan rumahku. Di sana pasti sudah ada pakdhe budhe serta om dan tante yang lengkap dengan anak-anak mereka masing-masing. Ya... merekalah yang disebut dengan saudara-saudara sepupuku.

Keluarga nenek kakek menurutku termasuk keluarga besar, bukan karena badannya besar-besar tapi karena jumlah anggota keluarganya yang cukup banyak. Nenek kakek mempunyai 8 orang anak dengan 7 orang di antaranya sudah berkeluarga dan sudah mempunyai anak-anak, sedangkan untuk anak nenek kakek yang paling bungsu, yang biasa aku panggil dengan sebuatan Om Arta, belum menikah pada waktu itu. Biasanya ada 2 kubu tercipta di sini, yang satu kubu golongan orang tua-tua dan satunya lagi kubu orang muda bercampur anak kecil. Hal itu lumrah terjadi karena memang tidak mudah untuk menyatukan obrolan antara orang tua, anak muda dan juga anak-anak. Namun karena anak mudanya hanya Om Arta saja, maka dia bergabung dengan anak-anak.

Om Arta selalu ikut bermain dengan kami, anak-anak yang masih kecil-kecil dan kami pun juga tidak merasa keberatan kalau Om Arta ikut bergabung, karena akan ada yang menjaga kami semua ketika kami sedang bermain. Namun aku merasa Om Arta itu pilih kasih, hanya dengan aku saja. Aku tidak cukup mengerti apakah itu cuma pikiranku saja atau memang demikian adanya. Contohnya saja begini, suatu hari Om Arta baru saja membeli kaset musik baru dan dia memamerkannya pada kami semua. Kami yang masih anak kecil, yang sebenarnya tidak terlalu paham juga kaset apa yang dibeli Om Arta, menunjukkan antusias seolah-olah kami tertarik dengan kaset itu dan ingin mendengarkannya. Tapi ketika Om Arta hendak memutar kaset itu di radio tape-nya, Om Arta tidak mengijinkan kami masuk ke dalam kamarnya sekaligus. Mungkin Om Arta ingin kami mendengarnya secara bergantian barangkali, biar tidak terlalu gaduh di dalamnya, begitulah yang ada di pikiranku saat itu. Akhirnya aku dan saudara-saudara sepupuku mengantri untuk mendapatkan giliran. Dan satu per satu dari kami pun pada akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan kaset itu, terkecuali aku.

Iya benar... Semuanya sudah diajak masuk ke dalam kamar Om Arta dan sudah mendengar kaset itu, tapi sampai dengan Om Arta keluar dari kamarnya, hanya aku yang tak diberi kesempatan untuk mendengar kaset itu. Saat itulah pertama kalinya aku merasa bahwa aku ini tidak dianggap ada oleh Om Arta. Bahkan dengan tanpa merasa bersalah sedikit pun, Om Arta mengajak semua saudara sepupuku untuk main petak umpet di halaman setelah itu. Dan lagi-lagi aku tidak diajaknya turut bermain. Mungkin aku bisa saja menangis dan mengadu pada ayah atau ibu, tapi aku tidak melakukan itu. Aku berusaha berlari menyusul Om Arta dan merengek padanya,

"Bolehkah aku ikut bermain petak umpet juga, Om ?"

Tak kutunjukkan wajah memelas sedikit pun di depan Om Arta, tapi sebaliknya aku berusaha tersenyum semanis mungkin supaya Om Arta mengijinkan aku untuk ikut bermain. Entah karena kesengsem dengan senyumanku kah atau hanya karena lantaran kasihan padaku, aku tidak peduli, yang terpenting akhirnya Om Arta mengijinkanku untuk ikut bermain petak umpet bersama saudara-saudara sepupuku.

Sejak hari itu, sekali lagi aku mau bilang kalau aku mulai sadar bahwa tidak semua orang menganggap aku ini ada, salah satunya adalah Om Arta. Namun meskipun demikian, aku belum punya kuasa apa-apa untuk memberontak, aku hanya bisa bersikap manis bahkan lebih manis dari aku yang sebenarnya untuk dapat menarik simpati dari Om Arta. Selalu begitu tiap kali aku hendak turut bermain dengan mereka. Aku selalu harus cari muka dulu, entah itu ngebaik-baikin Om Arta atau apa sajalah yang bisa kulakukan akan aku tak lagi disingkirkan. Aku cukup bisa menerimanya sebagai sebuah kewajaran waktu itu. Tapi tidak untuk sekarang ini.... Apakah aku harus melakukan hal yang sama kepada anak baru itu? Apa perlu aku cari muka di depan dia, agar bisa mendapatkan atensi teman-temanku lagi? Ah rasanya... tidak akan kulakukan.

Mungkin aku mulai mengerti arti sebuah kata GENGSI. Dari situlah aku memutuskan untuk tidak berusaha mencari tahu lebih banyak tentang anak baru itu sebelum dia duluan yang mencari tahu tentang aku. Meskipun sekarang ini teman-teman lebih banyak memperhatikan dia ketimbang aku, aku tidak akan tunduk dan menyerah pada pesonanya. Itu janjiku pada diriku sendiri.

Keesokan harinya...
Aku kembali mengayuh sepedaku menuju ke SD Negeri Plumbungan 2, salah satu sekolah dasar di keluarahan Plumbungan. Memang sih sekolahku tidak termasuk sekolah kota, tapi aku cukup senang bersekolah di situ karena ada halaman dan lapangan yang luas untuk tempat bermain yang leluasa. Ketika kami berolahraga, kami semua tidak perlu bingung mencari lahan karena kami sudah punya lapangan yang sangat luas. Kami bisa bermain kasti, lompat jauh, lompat tinggi, sepakbola, volly, lari sprint dan bahkan lari estafet, yang pasti kecuali renang lho, kalau yang satu itu sekolahku nggak punya kolam renang soalnya. Selain itu, sekolah kami pun jauh dari keramaian kota sehingga kami bisa belajar dengan tenang di sini. Rasanya menyenangkan sekali bisa sekolah di sini.

Tapi semuanya pasti akan terasa berbeda setelah kedatangan anak baru itu. Aku tidak tahu apakah masih akan menyenangkan bersekolah di sini?

"Wah ternyata lompatan kamu tinggi juga ya!! Hebat sekali kamu..."

Aku berhenti sejenak ketika aku hendak memasuki ruang kelas. Mataku tertuju pada teman-temanku yang sedang bermain lompat tali dengan anak baru itu dan baru saja aku mendengar mereka sedang memuji anak baru itu. Aku tidak sedang salah dengar, bahkan malah telingaku sangat jelas sekali mendengar pujian untuk anak baru itu karena suara teriakan teman-temanku yang sangat keras. Aku memandang iri kepada anak baru itu, karena dia mendapat begitu banyak perhatian dari teman-teman padahal baru 2 hari dia berada di sekolah ini.

"Cuman segitu aja, aku juga bisa..."

Aku bergumam sendiri untuk membuat diriku percaya diri lagi bahwa aku juga pasti bisa melakukan seperti yang anak baru itu lakukan. Tapi aku tidak akan bergabung bermain dengan teman-teman karena tali yang digunakan untuk bermain itu adalah tali milik anak baru itu.

"Aku nggak sudi main dengan anak baru itu.."

Sepulang sekolah, aku langsung meminta uang kepada ibu untuk membeli tali. Aku berlatih giat untuk melompati tali itu setinggi-tingginya, berharap aku bisa menunjukkan kepada teman-teman kalau aku pun tidak kalah dengan anak baru itu. Berulang kali aku mencoba melompat lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Meskipun semakin banyak keringat yang bercucuran dari tubuhku, rasanya aku tak mempedulikannya. Yang ingin aku lakukan adalah menjadi lebih baik dari anak baru itu dan aku akan menunjukkannya kepada teman-teman. Aku yakin teman-teman pasti akan kembali memperhatikanku jika aku bisa menjadi lebih hebat dari anak baru itu. Lihat saja nanti, anak baru, tunggu pembalasan dariku!!!

"Wah kamu bawa tali baru ya... Asyik nih, jadi ada 2 orang yang punya tali di kelas kita sekarang. Kamu dan juga Novia..."

Ohhh.. jadi nama anak baru itu Novia ya. Boleh juga namanya... tapi lihat saja, aku nggak akan ijinkan si Novia itu mencuri perhatian teman-temanku.

"Bagaimana kalau istirahat nanti kita main lompat tali bareng? Aku ikut main denganmu ya..."
"Aku juga ya... duhh nggak sabar pengen cepet-cepet istirahat."
"Iya nih, aku juga ikutan ya..."

Aku melirik ke arah Novia seakan ingin menunjukkan padanya bahwa aku mulai berhasil merebut kembali perhatian teman-teman yang dicuri olehnya. Perlahan-lahan kamu akan merasakan bagaimana rasanya diacuhkan oleh teman-teman seperti yang aku rasakan 2 hari kemarin. Itu pelajaran untuk kamu, Novia, biar kamu nggak seenak-enaknya di sini, jangan mentang-mentang kamu anak baru lantas kamu merasa pantas diperlakukan secara istimewa sama semua orang di sekolah ini. Pasti aku takkan membiarkannya begitu saja. Tatapan mataku semakin menajam ke arah Novia, aku bahkan nggak peduli Novia akan mengartikan seperti apa tatapanku yang seperti ini. Syukur syukur... dia bisa ngerti maksud yang tak tersampaikan dari kedua bola mataku ini.

Jam istirahat pun akhirnya tiba juga...
Teman-teman segera mencari tempat yang teduh dan mulai bersiap-siap untuk bermain lompat tali bersamaku. Mula-mula ada 5 orang yang ikut bermain, namun tak berapa lama kemudian satu per satu mulai berdatangan dan sudah ada 12 orang sekarang yang siap bermain lompat tali bersamaku. Di kelas totalnya ada 16 murid perempuan, jadi kesimpulannya hampir semuanya kini berada di pihakku, sedangkan sisanya aku lihat masih setia dengan Novia si anak baru itu.

"Waduh kenapa yang pegang tali kalian berdua sih? Jadinya tinggi banget kan sekarang... aduh aku nggak akan bisa melompat setinggi itu."

Inilah saatnya aku tunjukkan kepada teman-teman, kemampuanku yang sebenarnya yang tidak kalah dengan Novia.

"Tenang aja teman-teman, aku bisa kok melompatinya... nanti kalian 'bonceng' aku aja."

BONCENG itu istilah kami dalam permainan lompat tali ini. Maksudnya adalah ada salah satu dari kami yang harus bisa melompat tali dan setelah itu pemain yang lainnya tidak perlu melompat, mereka bisa diselamatkan oleh salah satu pemain yang berhasil melompati tali. Kurang lebih seperti itulah yang aku tawarkan kepada teman-teman yang mengaku menyerah untuk melompat, karena kebetulan yang memegang tali saat itu badannya tinggi-tinggi.

"Kamu yakin kalau kamu bisa ?"
"Akan aku coba..." Jawabku sambil tersenyum kepada salah seorang temanku.
"Baiklah kalau begitu, kami akan mendukungmu... Ayo kamu pasti bisa."
"Iya benar... kami mendukungmu, kamu pasti bisa."

Teriakan dukungan teman-teman membuat kepercayaan diriku semakin bertambah dan aku menjadi semakin yakin kalau aku pasti bisa melompati tali yang tinggi itu. Aku mulai memasang kuda-kuda bersiap-siap untuk lari sekencang mungkin dan melompat setinggi-tingginya dan huuuuuuuuuuuuuupppppppp..... akhirnya aku berhasil. Yihaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... YES...

"Wah kamu hebat..."
"Iya kamu hebat banget sih. Aku nggak nyangka kamu bisa melompat setinggi itu."

Dalam hati aku tertawa puas dan sambil melirik ke arah Novia yang ternyata sedari tadi sedang memperhatikan permainanku bersama teman-teman.

"Bagaimana Novia? Apakah kamu mau menyerah denganku? Apakah kamu mau mengakui kemampuanku sekarang? Makanya jangan pernah coba-coba ambil teman-teman dariku..." Kataku dalam hati sambil masih belum melepaskan lirikanku pada Novia.

"Sejak kapan kamu bisa melompat setinggi ini? Aku baru tahu lho..."
"Iya... padahal tadi itu tinggi sekali."
"Iya kamu bener-bener hebat, kami saja nggak bisa melompat setinggi kamu."
"Ternyata kamu lebih hebat dari Novia..."
"Iya aku setuju. Kemarin lompatan Novia juga tinggi banget, tapi nggak setinggi kamu hari ini."

Itulah yang aku tunggu dari kemarin-kemarin. Akhirnya sekarang teman-teman mengakui kalau lompatanku jauh lebih hebat dibandingkan Novia. Hufffppp ternyata nggak sia-sia aku berlatih kemarin. Kini teman-teman telah kembali padaku. Aku senang sekali. Novia, kamu harus mulai mengakui kalau aku lebih jago daripada kamu, jadi aku harap kamu nggak perlu sok-sokan pamer ke teman-teman, karena aku akan selalu mengalahkan kamu.

Ketika aku sudah lelah bermain lompat tali, akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk kembali ke kelas untuk mengambil bekal minuman kami masing-masing. Namun tak sengaja aku mendengar ada tiga orang temanku yang sedang duduk di depan kelas sedang bergosip. Aku pun menjadi penasaran dan pura-pura berhenti di depan kelas tapi berlagak tidak sedang menguping pembicaraan mereka.

"Eh... eh... kalian tahu nggak, ada gosip baru nih."
"Gosip apaan emangnya ?"
"Itu si Fariz.. kabarnya kemarin ngirim surat buat Novia."
"Apa? Fariz kirim surat buat Novia. Kamu tahu dari mana ?"
"Aku denger dari Susi. Dia kan duduk sebangku dengan Novia dan si Fariz nitipin suratnya itu lewat Susi."
"Trus trus... isinya apaan ?"
"Iya.. isinya apaan, aku jadi penasaran."
"Pas aku tanyain ke Susi, dia bilang nggak tahu secara lengkap sih karena Novia cuma cerita kalau dalam suratnya itu si Fariz menyatakan perasaannya sama Novia."
"Apa??? Jadi Fariz suka sama Novia ?"
"Sssssssssssssttttt.... kamu jangan kenceng-kenceng dong ngomongnya. Ntar kalau kedengeran sama yang lain gimana.. Ini rahasia tauuuuuuuuuuuuuu..."
"Maaf... maaf... aku kan nggak sengaja."
"Iya nih... Dasar kamu ini."
"Iya iya... aku kan sudah minta maaf."
"Lain kali ati-ati kalau mau ngomong..."

Ohhh.. jadi ceritanya Novia udah mulai menggaet hati temen-temen cowokku rupanya dan kali ini Fariz yang jadi korban pertamanya. Keterlaluan... ini nggak bisa aku biarkan. Fariz kan selama ini suka sama Ima, kenapa sekarang jadi pindah sama Novia, ini pasti ada yang nggak beres. Aku harus kasih tahu Ima soal ini.

"Apa???? Fariz nembak Novia? Kapan ?"
"Itu dia... aku juga kaget, Im. Aku baru aja denger dari Lia dan kawan-kawan kalau kemarin Fariz nitipin surat ke Susi buat Novia. Dan dari pengakuannya Susi, Fariz tuh suka sama Novia."
"Aku nggak nyangka... Fariz bisa setega itu sama aku."
"Im, kalau menurut aku... bukan Fariz yang salah, tapi ini pasti gara-gara Novia."
"Novia? Bagaimana mungkin kalau ini gara-gara Novia? Novia kan anak baru di sini ?"
"Emang kamu nggak ngelihat apa kelakukan Novia? Kamu nggak merhatiin gimana ganjennya dia sama temen-temen cowok kita? Okay.. sekarang emang baru Fariz yang jadi korbannya, lihat aja besok-besok semua temen cowok kita bakal diembat sama si Novia ganjen itu."
"Ah yang bener aja kamu. Masak sih sampai kayak gitu ?"
"Hemmmmm... kamu buktiin aja sendiri."

Mendengar Fariz ternyata suka sama Novia, membuat aku semakin benci sama dia. Baru saja kemarin dia mencuri perhatian teman-teman dariku, sekarang dia mulai menggaet teman-teman cowokku. Bagaimana aku nggak makin membencinya? Jangan-jangan dia punya rencana untuk jadi bunga kelas, jadi idola para cowok-cowok... Keterlaluan... aku takkan membiarkannya. Aku harus melakukan sesuatu, ya benar... aku harus memikirkan sesuatu untuk menghentikan jangan sampai hal itu benar-benar terjadi. Aku juga tidak pernah rela kalau Novia merebut teman-teman cowok yang disukai oleh teman-teman cewekku. Lihat saja Novia, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. (*)

Puzzle 2

Aaaarrrrrrrrrrrrrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhh..... !!!! Kenapa semuanya jadi kacau begini sih? Bisa gawat kalau diterus-terusin seperti ini. Aduhhhh pusing kepalaku, rasanya seperti mau pecah... Sambil terus memegangi kepalaku, aku berjibaku sendiri di ruang kerjaku. Aku memandangi selembar kertas yang penuh dengan angka rupiah-rupiah yang tergeletak mengejekku di atas meja. Deadline semakin dekat sedangkan dana belum tersedia sama sekali. Harus bagaimanakah aku saat ini? Aku terus berusaha memutar otakku, mencoba mencari jalan keluar dari masalah-masalah yang akhir-akhir ini datang bertubi-tubi dalam pekerjaanku. Tapi semakin gencar aku berpikir, semakin pening terasa di kepalaku. Adakah yang mau bertukar kepala denganku? Andai saja itu bisa kulakukan, mungkin aku bisa bernapas dengan lega untuk sejenak.

Keheninganku siang itu mulai terusik ketika pintu mulai berdecak. Seseorang di baliknya sedang mengetuk dan memberi tanda bahwa dia hendak masuk ke ruanganku.

"Ada apa, Bu, memanggil saya ?"

Ternyata staf keuanganku dan sekaligus sahabat baikku yang mengetuk pintu ruanganku barusan. Namanya Tya. Aku bersahabat baik dengannya sudah hampir 3 tahun. Dia bukan teman SMA atau teman kuliahku. Kami tak sengaja bertemu dalam sebuah kegiatan muda-mudi gereja 3 tahun yang lalu. Dan semenjak itu, kami berdua menjadi sangat akrab dan dekat. Sekarang ini Tya bekerja sebagai staf keuangan di kantorku, karena aku sendiri yang memintanya untuk membantuku mengurus masalah keuangan di kantor. Aku tidak akan sanggup jika harus mengurusnya sendiri, maka waktu itu aku mulai berpikir untuk mencari staf yang membantu pekerjaanku. Aku memilih Tya untuk menempati posisi keuangan, karena aku tidak bisa memberikan tanggung jawab ini kepada sembarang orang. Aku telah cukup kenal baik dengan Tya, karena selama ini aku lihat dia seorang yang profesional dan bertanggung jawab dalam setiap tugasnya. Kami memang sahabat baik jika berada di luar kantor, namun ketika di dalam kantor kami berusaha untuk seprofesional mungkin. Bukan bermaksud untuk membedakan status atau kedudukan, hanya saja kami berdua berusaha menempatkan diri pada posisi kami masing-masing. Aku sebagai atasan dan Tya adalah stafku.

"Besok kamu ikut saya ya ke CV Bumi Persada? Kita berangkat sekitar pukul 10.00."
"Baik, Bu. Ada lagi yang bisa saya bantu ?"
"Oh ya... bisa tolong ambilkan saya air putih ?"
"Baik, Bu, saya akan minta OB segera membawanya untuk Ibu."
"Terima kasih ya... Kamu boleh kembali bekerja kalau begitu."

Aku kembali menunduk dengan kedua tangan masih memegang erat kepalaku. Aku kembali hanyut dalam kebingunganku saat itu, sampai-sampai aku tidak sadar kalau ternyata Tya masih ada di ruanganku dan sekarang sedang memandangiku penuh tanda tanya.

"Ibu sakit ya ?"

Kata-kata itu sontak mengejutkanku dan membuatku sadar bahwa ternyata Tya belum beranjak sedari tadi. Dengan secepat kilat, aku mencoba merubah mimik mukaku, berusaha untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja dan tidak sedang terjadi apa-apa denganku saat itu. Semuanya kulakukan agar tidak membuat Tya berprasangka macam-macam dan berpikir yang tidak-tidak.

"Eh... kamu masih di sini? Saya pikir udah balik ke mejamu. Ehmm.. saya tidak apa-apa kok. Jangan khawatir..." Aku hiaskan seberkas senyuman di akhir kata-kataku barusan, agar semakin meyakinkan Tya bahwa aku memang baik-baik saja.

"Ibu yakin benar-benar tidak apa-apa ?"
"Memangnya saya terlihat gimana sih? Sudahlah kamu tenang saja.. I'm okay now."
"Oh baiklah kalau begitu saya kembali ke meja saya ya, Bu."
"Ya silakan... Jangan lupa air putihnya ya!"
"Baik, Bu."

Aku masih mempertahankan senyum terpaksaku sampai aku memastikan kalau kali ini Tya benar-benar sudah kembali ke mejanya. Dan sesaat kemudian, aku kembali menjadi diriku sendiri seperti semula. Tak berapa lama, aku lihat handphone-ku berdering.

"Halo, Bu Bos... Bagaimana kabar hari ini ?"

Suara yang sangat keras dan penuh semangat itu membuatku terpaksa harus menjauhkan sedikit handphone dari daun telingaku, ya paling tidak untuk mengamankan gendang telingaku dari ancaman frekuensi suara tak terkendali dari penelepon itu.

"Sangat kacau dan memusingkan..."

Begitulah kurang lebih aku menjawabnya. Singkat, lugas dan terpercaya... Eitsss... seperti sedang menirukan gaya presenter acara berita di televisi saja rupanya aku ini. Tapi aku tidak bermaksud apa-apa kok, hanya sedang mencoba menggambarkan tentang kata-kataku sendiri.

Orang di seberang sana yang sedang berbincang denganku adalah Luthfi. Dia juga salah satu teman dekatku. Seperti halnya Tya, aku dan Luthfi bukan teman SMA atau teman kuliah, tapi kami tidak bertemu dalam kegiatan gereja. Asal tahu saja, sampai saat itu aku belum pernah bertatap muka secara langsung dengan Luthfi. Kami kenal di dunia maya, INTERNET. Kami tidak sengaja bertemu di sebuah forum bisnis yang kami ikuti. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat chatting, e-mail, sms dan telepon. Meskipun hanya sebatas itu, kami sudah sangat dekat melebihi teman-teman dekatku di dunia nyata. Aku sudah banyak tahu tentang dia dan begitu juga dia sudah banyak tahu tentang aku. Aku suka cara berpikirnya dan cara dia menganalisa sesuatu. Aku bisa bilang, Luthfi adalah seorang yang cerdas dalam banyak hal. Maka dari itu, aku meminta dia untuk menjadi konsultanku. Tapi kami tak terlalu resmi atau kaku layaknya seorang pemilik perusahaan dengan seorang konsultannya. Kami selama ini berinteraksi secara santai dan nyaman dalam berkomunikasi. Malah kadang-kadang Luthfi bisa jadi konsultan pribadiku alias tempat curhatku xixixixixixi... Dan sebaliknya Luthfi pun kadang juga memintaku untuk mendengarkan curhatan-curhatan dia tentang banyak hal. Begitulah kira-kira hubungan kami berdua.

"Kacau kenapa memangnya? Santailah dikit... Hidup itu kan cuma sekali, ngapain dibikin pusing."

Begitulah Luthfi terdengar seperti sedang menghiburku atau malah menggodaku dengan logat Jakartanya. Terdengar sangat berbeda sekali dengan logat bicaraku yang kejawen, karena memang dia orang Jakarta asli. Tapi untung aja sama aku, dia tidak menggunakan istilah "lo.. gue" ala orang Jakarta dan so far... aku sudah cukup terbiasa dengan gaya bicaranya, karena hampir 24 jam, Luthfi selalu meneleponku. Bahkan kadang ketika kami sedang chatting pun, dia juga sambil meneleponku. Benar-benar parah ni orang... Udah kayak sama pacarnya aja wakakakakakakak.... Padahal kami tidak ada hubungan "pribadi" sama sekali, kami murni bersahabat dan sekaligus rekan bisnis. ;)

"Memangnya belum ada kabar sama sekali ya dari Pak Rian ?"
"Kalau sudah ada kabar, pastinya aku tidak akan sepusing ini dong, Mr. Luthfi..."
"Hahahahahahahaha.... santai aja kali, Buuuu..."
"Huppfffff...."
"Trus rencana kamu gimana ?"
"Besok aku mau datang ke kantornya. Aku mau minta kepastian dari mereka. Aku bisa digantung nih sama orang banyak kalau dana itu tidak segera cair..."
"Digantung??? Serem amat.... Okaylah kalo begitu, aku akan terus follow up Pak Rian dari sini. Nanti aku kabari gimana-gimananya. Oh ya... udah di kantor kamu sekarang ?"
"Kira-kira menurutmu gimana?"
"Yaaaa... dia malah balik nanya. Mau ngajakin tebak-tebakan nih ceritanya? Ntar jangan salahin aku lho, kalau aku telanjangi kamu dari sini...."

Weitssss... aku mau ditelanjangi???? Tunggu dulu... jangan berpikir yang tidak-tidak dulu saudara-saudara... Maksud Luthfi mau menelanjangi itu bukan dalam arti yang sebenarnya. Perlu kalian ketahui, Luthfi itu doyan banget membaca orang hanya dari suaranya, gaya bicaranya dan kata-katanya, tapi maaf dia bukan dukun atau paranormal atau punya indra keenam dan sebagainya... No no no no... Dia hanya cerdas menganalisa sesuatu dari banyak hal yang dia tangkap, itulah kelebihan Luthfi yang membuatku nggak perlu pikir panjang memintanya jadi konsultan aku. Karena selama ini, hampir semua yang dia tebak dari aku, hampir 100% tepat dan itu sempat membuatku terkejut. Bagaimana mungkin dia bisa tahu sementara aku belum pernah menceritakannya? Cukup aneh tapi itu membuatku tertarik dengan kepribadiannya. Makanya aku selalu balik melempar pertanyaan tiap kali Luthfi bertanya sesuatu padaku, karena toh rugi juga kalau aku menjawab karena pada akhirnya Luthfi sebenarnya sudah tahu aku akan menjawab apa. Hal itu seringkali membuat aku sedikit cemas, kalau dia bisa membaca seluruh hal tentang aku seperti mau menelanjangiku saja rasanya.

"Jangan... jangan... nggak jadi tanya aja kalau gitu. Mending aku jawab aja deh daripada entar nyambung ke mana-mana, bisa repot sendiri aku..."
"Hahahahahahahaha...."
"Ya selamat menikmati kepuasan kamu deh... Aku sekarang udah di kantor trus lagi duduk pusing di ruanganku. Begitu sudah cukup Mr. Luthfi ?"
"Pasti sekarang ini kamu lagi duduk sambil ngelihatin jendela, trus di meja kamu ada....."
"STOOOOOOOOOPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Ucapku dengan setengah teriak berusaha menghentikan kata-kata Luthfi, sebelum terjadi sesuatu yang memang diinginkan Luthfi....

"Wakakakakakakakakak... Semoga ini bisa jadi shock therapy buat kamu, biar nggak cemberut pagi-pagi gini. Jangan kira aku nggak tahu berapa cm, bibir kamu manyun dari tadi.."
"Ya ya ya ya ya... It's enough, okay? Aku percaya kok kamu pasti tahu soal itu. But anyway... Thanks so much deh untuk hiburan paginya yang aku harap nggak terjadi lagi di pagi-pagi yang lain."
"Hahahahahahahaha..."

Begitulah jika aku sudah bercakap dengan Luthfi. Terdengar menyenangkan dan bisa bertahan bahkan sampai seharian penuh. Kalau itu sih biasa terjadi kalau pas lagi weekend, saat kami tidak sedang di kantor. Meskipun Luthfi sekarang ini menjadi konsultan aku, bukan berarti itu menjadi pekerjaan utamanya malah pekerjaan sampingannya yang enteng barangkali, karena di Jakarta sana, Luthfi juga seorang bos di perusahaannya sendiri. Umur kami tidak terpaut jauh, hanya beda 2 tahun saja... tentunya lebih tuaan dia ketimbang aku, tapi kami sama-sama punya ketertarikan yang sama untuk menjadi seorang entrepreneur dalam pekerjaan kami. Dengan demikian aku yang masih dibilang amatir di dunia entrepreneur setidaknya bisa mencuri ilmu juga dari dia yang lebih hebat di dunia entrepreneur.

Menjadi entrepreneur memang tidak semudah yang aku bayangkan. Mempunyai banyak karyawan tidak cukup menyenangkan seperti pemikiranku dahulu. Namun sekarang ini aku memang sedang bergelut di dunia ini dan ini adalah konsekuensi dari pilihan yang aku ambil. Senang atau tidak senang, puas atau tidak puas, mudah atau tidak mudah, aku terus berusaha melanjutkannya... sampai seterusnya, karena terlalu banyak mimpiku yang belum terealisasi hingga detik ini. Itu salah satu alasanku, sedangkan alasan yang lain adalah bahwa aku tidak pernah tahu berapa lama aku diberikan kesempatan hidup oleh Sang Maha Pencipta, maka dari itu selama kesempatan itu masih ada, aku akan terus berjalan, belajar, berusaha untuk menjadi yang lebih baik dari kemarin. Apapun resiko dan keuntungannya, itu hanyalah bonus karena ada yang lebih penting dari semua hal itu yaitu PROSES. Tidak ada yang lebih berharga dibandingkan proses itu sendiri. Karena ketika kita berproses untuk mewujudkan sesuatu dan ketika kita telah berhasil mendapatkannya, maka semua yang kita dapatkan akan terasa biasa-biasa saja tetapi PROSES YANG KITA LEWATI untuk sampai ke situ menjadi SANGAT LUAR BIASA. (*)

Puzzle 1

Aku seorang gadis remaja. Umurku belum ada 17 tahun dan sekarang ini aku tengah duduk di bangku kelas 2 SMA. Rasanya aku patut berbangga hati, karena aku beruntung bisa masuk ke sekolah ini. Bagaimana tidak? Sekolahku ini adalah sekolah favorit pertama di kota kecilku. Aku jadi ingat ketika dulu aku sempat dimarahi oleh kakak-kakak kelasku, waktu aku mendaftarkan diri ke sekolah ini di hari terakhir. Aku pun juga tidak mau disalahkan karena waktu itu sebenarnya aku tidak berencana masuk ke sekolah ini. Aku punya cita-cita sekolah di kota besar dan keluar dari kotaku yang kecil ini. Aku sempat diantar oleh ayahku untuk mendaftar di salah satu SMA Negeri di Surakarta, aku juga sudah hampir mengisi formulir pendaftaran setelah guru di sana meyakinkan aku dan ayahku bahwa Nilai Ebtanas Murni (NEM)-ku mencukupi untuk pendaftar dari luar kota. Namun sesaat setelah aku duduk hendak mengisi formulir, ayahku tiba-tiba mendekatiku dan berkata demikian,

"Apa tidak sebaiknya formulir pendaftarannya kita bawa pulang saja ?"
"Kenapa dibawa pulang, Ayah ?" tanyaku penuh keheranan.
"Kalau dibawa ke rumah, kamu kan bisa leluasa ngisinya. Kamu juga punya banyak waktu untuk berbincang dengan Ibu dan juga Ayah."

Aku merasa heran dengan kata-kata ayah barusan. Orang yang paling semangat mendukungku sekolah ke Solo (nama lain Surakarta... udah pada tahu kan?) adalah ayahku, tapi sejenak aku melihat raut wajah ayah, aku merasa kalau ayah sepertinya sedang berusaha ingin mengatakan kalau ayah mulai ragu dengan keinginanku sekolah di Solo. Pada akhirnya aku pun tidak punya jawaban yang lain selain meng-iya-kan kemauan ayah, karena pikirku toh masih ada waktu beberapa hari untuk mengumpulkan formulir pendaftaran itu. Aku dan ayahpun pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan, ayah sama sekali tidak membahas tentang calon sekolah baruku itu. Ayah hanya diam saja dan konsentrasi mengendarai mobilnya. Aku juga tak berani bertanya apa-apa sama ayah dan aku pun memilih untuk tidur dalam perjalanan pulang menuju rumah.

Tak butuh lama untuk sampai ke kotaku dari kota Solo, hanya sekitar 45 menit saja jika jalanan tidak penuh sesak dengan kendaraan berat beroda empat. Jadi aku tidak perlu sampai harus bermimpi dalam tidurku siang hari itu. Aku turun dari mobil dan mulai melangkahkan kaki memasuki rumah, tentunya masih dengan seragam putih biruku yang kupakai sedari pagi tadi. Di ambang pintu, kulihat ibu dengan senyumnya yang menyambut kepulangan aku dan ayah. Setelah dekat dengan ibuku, aku pun meraih tangan ibu dan menciumnya seperti kebiasaanku yang sudah-sudah sejak aku kecil.

"Bagaimana tadi? Sudah dapat sekolah kan? Akhirnya kamu daftar ke SMA berapa ?"

Pertanyaan-pertanyaan ibu tak ubahnya seperti rentetan gerbong kereta api yang sambung menyambung dan tak terputus sampai-sampai aku bingung harus menjawab yang mana dulu.

"Aku belum jadi daftar kok, Bu."

Cukup dengan satu kalimat itu, akhirnya aku menjawab pertanyaan ibu tadi. Aku pun bergegas menuju kamar untuk menghindari serbuan pertanyaan-pertanyaan ibu yang lain. Ibu pun menatapku penuh dengan tanda tanya dan membiarkanku berlalu begitu saja dari hadapannya seperti polisi yang membebaskan seorang tahanan tak bersalah dari selnya. Dan setelah itu, aku tidak tahu lagi apa yang sedang diperbincangkan ibu dan ayahku mengenai aku, karena aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku yang belum sempat bermimpi tadi.

Keesokan harinya, aku belum punya rencana ke mana-mana dan dengan santai, aku melakukan rutinitas harianku seperti biasa tanpa harus takut terlambat pergi ke sekolah. Maklumlah hari itu kan masih liburan anak sekolah. Kalau ternyata di jalan raya depan rumahku banyak anak sekolah entah itu berseragam SD atau SMP berlalu lalang, aku rasa mereka bukan untuk pergi belajar ke sekolah tapi untuk mencari sekolah, sama seperti yang kulakukan kemarin ke kota Solo. Oh iya, semalam aku tidak keluar kamar sama sekali, makan malam juga di dalam kamar, dan ayah ibu juga tidak memanggilku keluar, kira-kira bagaimana ya nasib calon sekolah baruku kemarin. Aku juga belum menitikkan tinta setetespun di formulir pendaftaran sampai pagi ini, karena aku masih bingung mengartikan sikap ayah kemarin itu. Jangan-jangan ayah tidak mau lagi mendukungku masuk ke sekolah itu. Oh tidak... SMA Negeri 3 Solo kan salah satu sekolah favorit di kota Solo, rasanya sayang sekali kalau aku melewatkan kesempatan ini. Bukankah di sana aku akan mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan sekolah di kota kecil ini???

"Dik, kamu beneran pengen sekolah ke Solo ?"

DIK... Begitulah ibu biasa memanggilku sehari-hari, mungkin karena aku yang masih kecil atau karena aku memang adik dari kakakku, makanya aku dipanggil seperti itu oleh ibu.

"Kenapa Ibu bertanya seperti itu ?"
"Ehmm... Ibu cuma pengen tahu aja seberapa besar sih keinginan kamu untuk sekolah ke Solo."
"Sebenernya aku pengen sekali bisa sekolah di Solo, apalagi di SMA Negeri 3 Solo. Itu kan salah satu sekolah favorit di Solo, Bu. Kemarin sih aku sempat ke SMA Negeri 1 Solo, tapi pendaftaran di sana sudah ditutup karena jumlah siswanya sudah terpenuhi. Makanya trus aku sama Ayah, cari informasi ke SMA 3 dan setelah guru di sana bilang NEM-ku memenuhi kriteria, akhirnya aku mau daftar di sana. Waktu aku keliling SMA 3, aku sudah membayangkan menjadi salah satu murid di sana sepertinya sangat menyenangkan. Tapi ketika Ayah tiba-tiba menyuruhku untuk membawa formulir pendaftarannya pulang, aku jadi khawatir kalau-kalau aku tidak boleh sekolah di sana."
"Dik, Ayah tidak bermaksud seperti itu. Ayah sama Ibu kemarin sudah membicarakan mengenai sekolah kamu. Apapun yang kamu anggap terbaik untuk diri kamu, Ayah dan Ibu pasti akan mendukungnya. Hanya saja, apa kamu sudah benar-benar memikirkan segala sesuatunya jika akhirnya nanti kamu benar-benar bersekolah di sana? Yang pasti kamu akan jauh dari Ayah dan Ibu, trus kamu tinggal sendiri di kos, belum lagi bagaimana dengan hidup kamu sehari-hari nantinya, bagaimana dengan pergaulan kamu di sana dan masih banyak yang lagi lainnya. Apa kamu sudah memikirkan semua itu ?"

Ibu memang benar sih, aku memang belum pernah berpikir sampai sejauh itu. Yang ada di kepalaku hanyalah menjadi seorang siswa salah satu sekolah favorit di kota Solo. Selama ini aku tidak pernah jauh dari kedua orang tuaku, setidaknya sampai aku lulus SMP. Kebutuhanku sehari-hari dan kebutuhan sekolahku selalu dipenuhi oleh kedua orangtuaku. Kira-kira apa aku siap ya jika semuanya berubah satu per satu? Aku harus hidup sendiri, mengurus diriku sendiri, menyiapkan kebutuhan sehari-hari juga sendiri dan ketika di kos, aku pun juga harus siap tanpa ayahku, ibuku, kakakku dan adik-adikku. Apa aku sudah siap dengan semua itu? Tapi aku tidak ingin memikirkannya dulu, membayangkannya saja membuat nyaliku ciut.

"Itu mungkin beberapa hal yang Ayah dan Ibu khawatirkan. Kamu masih terlalu kecil untuk hidup terpisah dari Ayah dan Ibu. Coba kamu pikirkan kembali dan jika pada akhirnya kamu memang benar-benar siap dengan segala konsekuensinya, baiklah Ayah dan Ibu tidak akan menghalangi keinginan kamu."

Ternyata memang benar dugaanku, sikap aneh ayah kemarin itu menandakan keragu-raguan dan kekhawatirannya jika aku sekolah di luar kota, di tempat yang jauh dari orang tuaku. Memang sih apa yang dikatakan ibu adalah sebuah nasihat bijaksana yang wajar dikatakan oleh orang tua kepada anaknya, tapi sekali lagi kalau boleh rasanya aku tidak ingin memikirkan segala sesuatu yang belum pernah aku bayangkan akan terjadi padaku, aku hanya ingin mewujudkan impianku saja jika itu diperbolehkan. Tetapi aku yakin, ayah dan ibu tidak akan mengijinkan aku jika aku hanya menurutkan keinginanku saja tanpa dibarengi pemikiran yang matang dan masak ala orang dewasa. Aku kan masih kecil, aku belum bisa kalau disuruh berpikir layaknya orang dewasa, sehingga mau tidak mau aku harus mendengar dan mengikuti kata-kata orang tuaku. Kalau sudah begitu, aku tidak punya alasan yang jitu untuk bisa menyanggah kata-kata ayah dan ibuku. Hal itulah yang akhirnya mengantarkan aku melangkahkan kaki ke sekolah yang aku sebut tadi sekolah favorit pertama di kota kecilku, SMA Negeri 1 Sragen.

Dengan mengayuh sepeda mini yang selalu menemaniku sejak aku masuk SMP, aku datang untuk mendaftarkan diri ke SMA 1, yang lebih terkenal dengan nama SMANSA (singkatan dari SMA Negeri Satu). Pagi itu aku datang seorang diri tanpa didampingi ayah dan ibu. Entahlah kenapa aku dibiarkan datang seorang diri, aku tidak tahu alasan ayah dan ibuku, yang aku tahu ayahku sudah berangkat pagi-pagi ke kantor dan ibuku pun pasti juga tidak akan bisa meninggalkan rumah karena harus menunggui usaha bengkel sepeda motornya. Yang jelas aku berbeda dengan anak-anak yang kulihat pagi itu, yang ditemani oleh ayahnya atau ibunya dan bahkan ada yang lengkap dengan ayah sekaligus ibunya. Rasanya aku iri dengan mereka, tapi ya sudahlah toh sekarang aku sudah sampai di SMANSA. Mustahil kan jika akhirnya aku kembali pulang hanya karena aku ingin ditemani ayahku atau ibuku, hemmm... buang-buang waktu, bisa-bisa pendaftarannya keburu ditutup karena hari itu adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru.

"Kak, boleh aku minta formulir pendaftarannya satu lembar ?"
"Lho... kamu baru daftar hari ini ?"
"Iya, Kak..."
"Memangnya sebelumnya kamu mendaftar di mana ?"

Kenapa kakak ini langsung tahu ya kalau aku sebelumnya udah mencoba mendaftar di sekolah lain? Apakah kelihatan dari raut mukaku? Ah... rasanya tidak mungkin. Hebat sekali kakak ini, kalau bisa membacaku hanya dari raut mukaku saja. Akhirnya aku tidak menjawab apa-apa karena aku malu mengatakan yang sebenarnya. Kalau aku mengatakan kemarin sempat hampir mendaftar di SMA Negeri 3 Solo dan akhirnya nggak jadi, aku takut kalau kakak ini menganggapku anak yang bodoh yang ditolak oleh SMA Negeri 3 Solo sehingga baru daftar di SMANSA di hari terakhir pula. Padahal kenyataannya kan tidak seperti itu. Jadi alangkah baiknya kalau aku simpan saja cerita itu dan aku hadiahkan senyumku sebagai jawaban untuk kakak itu.

"Kebanyakan hari ini tuh pada mengundurkan diri apalagi yang NEM-nya berada di posisi-posisi rawan. Mereka memilih mendaftar ke SMA 2 atau 3 daripada nanti tidak diterima di sini. Nah ini aneh, saat orang pada memilih pindah, kamu malah baru mau daftar. Apa kamu tidak tahu kalau hari ini itu hari terakhir pendaftaran ?"
"Aku tahu kok, Kak. Justru karena hari ini adalah hari terakhir, makanya aku datang untuk mendaftar."
"Aku jadi penasaran... Coba sini aku lihat NEM kamu."

Aku pun menyerahkan selembar kertas yang berisikan nilai-nilai Ebtanas-ku waktu kelas 3 SMP kemarin. Dan sesaat setelah melihat lembaran kertas itu, mendadak raut muka kakak itu berubah menjadi aneh memandangku. Aduh... kenapa ya? Kenapa kakak memandangiku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan NEM-ku?

"Wah kamu ini bener-bener kelewatan deh. Kamu itu harusnya nggak berbuat seperti ini. Harusnya kamu daftar di hari pertama bukan di hari terakhir. Kamu tahu nggak, perbuatan kamu ini bisa merugikan orang lain. Dan yang lebih parah, kamu bisa membuat teman kamu yang lain tidak mendapat sekolah."

Lho... lho... lho... Kenapa kakak ini tiba-tiba memarahiku? Kenapa? Emangnya aku salah apa? Kenapa setelah melihat NEM-ku, kakak itu malah memarahiku, bukankah nilaiku tidak terlalu jelek untuk mendaftar di sekolah ini? Dan nggak hanya kakak itu saja yang memarahiku, seperti api yang menjalar ke mana-mana, teman-temannya jadi ikut melihat NEM-ku dan sesaat kemudian ikut-ikutan memarahiku juga. Aku jadi bingung, apa salahku, apa pula dosaku? (Hahahahahaha... andaikan aku sedang di atas panggung dan sedang berpuisi, mungkin kalimatku barusan akan terdengar lebih enak... hahahaha... Opppssss STOP!!!!) Akhirnya mimik wajahku pun berubah menjadi keruh dan berusaha menunjukkan kalau aku tidak terima diperlakukan seperti itu tanpa alasan yang bisa kumengerti.

"Memangnya kenapa, Kak? Bukannya pendaftaran siswa baru belum ditutup, berarti aku masih punya kesempatan kan untuk mendaftar di sini juga? Lantas salahku di mana ?"
"Salah kamu adalah nilai kamu itu terlalu bagus untuk mendaftar di hari terakhir..."

Hahhhh... Kakak bilang nilaiku terlalu bagus? Harusnya aku dipuji dong bukannya malah dapat omelan yang nggak menyenangkan sama sekali seperti itu. Heran deh aku... apa zaman udah berubah sekarang? Kalau dapat nilai bagus dapat cacian, tapi kalau nilainya jelek malah dipuji-puji, begitukah? Oh My God... kalau memang begitu kenapa harus ada sekolah, kenapa harus ada guru dan kenapa harus susah-susah belajar, tanpa semua itu aku rasa semua orang akan dengan mudah mendapatkan nilai jelek, jadi untuk apakah semua ini?

"Kamu tahu dengan nilai kamu yang seperti ini, kamu akan dengan mudah berada dalam urutan teratas daftar siswa yang akan diterima. Dengan begitu, secara otomatis kamu akan dengan mudah juga menggeser nilai-nilai di bawah kamu. Dan yang menjadi korban di sini adalah teman-temanmu yang nilainya ada di posisi kritis. Coba kamu bayangkan, hari ini adalah hari terakhir pendaftaran siswa baru. Aku rasa banyak siswa yang berada di posisi kritis berharap tidak ada lagi siswa baru yang mendaftar hari ini, agar posisinya tidak terancam dan masih punya harapan diterima di sekolah ini. Karena kalau mereka dinyatakan tidak diterima hari ini, bisa dipastikan mereka sudah tidak bisa mendaftarkan diri ke SMA Negeri yang lain dan hanya punya kesempatan sekolah di sekolah non-negeri. Apa kamu nggak kasihan sama mereka ?"

Astaga... aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Sungguh... aku tidak punya niat untuk merugikan siswa lain seperti yang kakak bilang barusan. Aku memang benar-benar baru siap mendaftar ke sini hari ini, karena kemarin-kemarin aku masih berharap ayah ibu mau berubah pikiran dan mengijinkan aku untuk sekolah di Solo. Makanya ketika semalam ternyata tidak ada tanda-tanda perubahan keputusan ayah dan ibu, mau tidak mau aku harus mendaftar ke sini, karena kalau tidak, aku bisa kehilangan kesempatan bersekolah di sekolah negeri. Sungguh kakak, aku tidak punya niat sejahat itu sama mereka yang nilainya di bawah aku. Aku memang tidak berpikir sampai ke situ dan seandainya ada pilihan yang lain, aku bersedia kok untuk mengambil pilihan yang lain itu, jika memang dengan mendaftar di sini, aku dianggap merugikan orang lain :(
Aku tertunduk lesu merasa bersalah... dan mungkin kakak itu bisa melihat aku yang benar-benar merasa bersalah dan tidak sengaja melakukan semua ini.

"Ya sudahlah... anggap saja ini keberuntungan kamu... Ini formulirnya dan segera isi formulirnya lalu serahkan ke ruang pojok itu. Di sana nanti ada yang akan membantu kamu."

Akhirnya lega juga... aku terbebas dari penghakiman kakak-kakak itu. Aku pun bisa melenggang dengan santai masuk ke ruang kelas pengumpulan formulir. Tapi aku belum mau mengumpulkan formulirnya, kan belum diisi... aku mau cari tempat duduk dulu trus mengisi formulirnya, baru deh dikumpulin. Begitulah ceritaku ketika aku hendak memasuki sekolah ini. Pengalaman yang tak terlupakan olehku yang pada akhirnya menjadi pelajaran berharga juga untukku.

Dan tak terasa setahun pertama di sekolah ini akhirnya lewat sudah. Banyak sekali cerita yang sudah terukir selama setahun kemarin. Aku bersyukur karena selama ini aku mendapatkan guru-guru yang hebat dalam mengajar sehingga aku bisa mengikuti pelajaran kelas 1 SMA dengan cukup baik. Hasil belajarku pun selama setahun kemarin sangat memuaskan. Di caturwulan pertama, aku mendapatkan juara kelas, tapi sayangnya aku tidak sendirian. Ada 2 orang yang mendapatkan juara kelas, aku salah satunya dan seorang teman cowokku yang bernama Aji.

Kalian tahu, secara fisik Aji itu anak yang cukup tampan. Kulitnya putih dan penampilannya rapi, dia cukup sopan untuk ukuran seorang cowok. Selain itu, dia anak yang humoris karena aku sering melihatnya bercanda dengan teman-teman yang lain. Tapi jujur, aku tidak terlalu sering bicara dengan dia, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari. Aku merasa kurang nyaman dekat-dekat dengan dia. Mau tahu alasannya kenapa? Alasan pertama, karena dia termasuk cowok yang tampan. Alasan kedua, karena aku dengar dia adalah murid yang lulus SMP dengan NEM tertinggi se-Kabupaten Sragen. Kedua alasan itulah yang membuatku merasa nggak nyaman dengannya.

Apa? Aku aneh? Mungkin memang benar, aku aneh karena alasan yang aku kemukakan tadi. Tapi emang seperti itulah adanya, entah sejak kapan aku sendiri tidak menyadarinya kalau berada di dekat cowok yang tampan itu membuatku risih. Aku risih karena dengan demikian akan sangat terlihat perbedaan yang cukup signifikan. Ada cowok ganteng dan di sebelahnya ada cewek 'jelek'. Biarlah aku menyebutnya dengan kata 'jelek' saja, meskipun terdengar sangat kasar, tapi kata itu lebih mudah untuk menggambarkan kondisi wajahku. Aku memang mengakui hal itu, tapi aku tidak bermaksud untuk tidak mensyukuri hasil ciptaan Sang Maha Kuasa. Aku hanya mencoba untuk berkata jujur saja. Aku justru akan marah jika ada yang mengatakan aku ini cantik, karena itu aku anggap sebagai penghinaan yang sangat kejam. Bagaimana tidak? Dengan mengatakan aku cantik, berarti kalian telah membuat aku terbuai dalam fatamorgana impian. Iya kalau aku nanti bisa tersadar kembali, kalau akhirnya aku nggak pernah sadar dan kebablasan, gimana hayo?? Apa itu tidak kejam? Kejam sekali bukan? Nah kurang lebih begitulah alasan kenapa aku benci (maaf jika aku terlalu vulgar mengatakannya) berada di dekat cowok yang tampan alias ganteng atau apalah sebutannya.

Alasan kedua, ya jelaslah... dari kecil aku sudah terbiasa untuk selalu berusaha menjadi pemenang atau juara, meskipun nggak selalu kesampaian juga sih hehehe.. Tapi jiwa itu seperti mendarah daging di diriku. Aku selalu berusaha mendapatkan posisi tertinggi dalam segala hal, karena kalau aku tidak demikian, tidak akan ada orang yang mengenalku. Aku akan tenggelam dan orang tidak akan tahu tentang aku, karena menurutku tidak ada hal lain yang bisa dibanggakan selain prestasiku. Okaylah aku ulangi sekali lagi, aku bukan cewek yang cantik, aku ini sangat egois, mana mungkin ada yang mau berteman denganku kalau aku tidak punya keistimewaan apapun, makanya aku harus jadi anak yang pandai dan selalu berusaha jadi juara, agar tidak ada yang merendahkanku dan mereka mau menghargai aku serta menganggap aku ini ada. EKSISTANSI, sebuah pengakuan dari orang lain, mungkin itulah aku menyebutnya sebagai sesuatu yang aku kejar. Jadi ketika aku merasa mulai ada saingan atau lawan, aku tidak akan mungkin bisa merasa nyaman berdekat-dekat dengan dia, karena dia mengancam eksistansi-ku. Dan karena itulah, aku berjuang dan belajar lebih keras lagi sehingga akhirnya aku bisa mendapatkan predikat juara kelas tunggal di caturwulan kedua dan ketiga. Puas sekali rasanya aku waktu itu. Jerih payahku selama setahun tidak berakhir dengan sia-sia dan aku bisa dengan bangga menceritakannya kepada kalian semua. Dengan berbekal kebanggaan itulah, aku kini melanjutkan langkahku di tahun kedua di sekolah yang sama tapi dengan teman-teman yang berbeda. (*)